
"Amora. Aku mau minta bantuan kamu boleh."
"Minta bantuan seperti apa yang kamu mau."
"Gini aku dan Daniel sudah tidak memiliki hubungan apapun. Kamu mau tidak membantu aku menyelediki hidup Daniel sekarang. Ada hal lain yang membuat aku memutuskan Daniel begitu saja. Aku merasa aneh dengan sikap Daniel beberapa bulan ini. Komunikasi kita juga merenggang. Waktu itu aku melihat Daniel dan perempuan lain sedang berkencan di salah satu restoran langganan aku. Aku pikir itu rekan kerjanya tapi saat aku amati mereka terlihat begitu mesra." Ujarnya
Jantung Amora berdetak begitu cepat. Apa itu dirinya, dirinya pernah berkencan dengan Daniel di restoran starlight langganan Renata. Huhu didinya tidak tahu Renata melihat itu.
"Mungkin saja itu sepupu jauhnya. Nih yang aku gak suka dari kamu Renata. Kamu selalu menduga perempuan di dekat Daniel selingan atau selingkuhan Daniel. Aku udah pernah berpesan sama kamu jangan jadi perempuan overthinking. Gak baik tahu...mau sampai kapan kamu begini terus. Kemauan kamu memutuskan Daniel sudah kamu lakukan lalu kamu akan menjalin hubungan dengan Daniel kembali. Itu gila! harusnya kamu pertahankan jangan malah memutuskan." Omelnya tanpa sadar iya sudah gregetan dengan kebodohan sahabatnya.
"Aku kalut Amora, aku benar-benar tidak bisa melakukan apapun kecuali menyerah. Aku juga baru saja mendapatkan musibah besar."
"Musibah yang gimana? kenapa kamu tidak cerita sama aku sih? kamu anggap aku siapa kamu?" Amora memberikan pertanyaan berbondong-bondong untuk Renata.
"Aku tidak mau membuat kamu khawatir sama aku. Jadi minggu-minggu lalu aku menemui orang yang tidak aku kenal. Orang itu mengirimkan chat ke aku minta ketemuan. Kamu tahu aku orangnya penasaran banget terus aku mau aja menemui orang itu. Aku datang ke tempat yang sudah di booking oleh orang itu. Club malam tempatnya, aku datang sendirian tanpa di temani siapapun. Sebelum kejadian aku sedari siang sudah punya feeling gak enak. Seperti akan terjadi sesuatu sama aku."
"Lalu aku ke sana terus aku menunggu orang itu. Beberapa menit berlalu orang itu tidak muncul juga. Waktu dia chat, dia bilang katanya dia salah satu penggemar aku. Aku antusias ingin bertemu dia karena begitu misterius. Aku di sana menunggu lama sampai akhirnya ada laki-laki asing yang mendekat lalu basa-basi sama aku. Awalnya aku risih dan tidak aku ladenin tapi perlahan-lahan aku merasakan pusing sesudah minum Vodka. Laki-laki asing itu tiba-tiba menyentuh tubuh aku lalu membawa aku pergi. Laki-laki itu membawa aku ke sebuah kamar. Aku ketakutan bahkan aku berusaha memberontak agak terlepas. Sampai dimana kejadian pelecehan terjadi! aku marah saat tahu orang itu melecehkan aku bahkan merenggut kesucian aku. Kesucian yang harusnya aku berikan untuk Daniel seketika lenyap karena orang itu. Dari situ aku sudah sadar bahwa aku di jebak. Siapa yang begitu jahat sama aku sampai aku mengalami kejadian tidak mengenakan. Dia boleh benci aku tapi jangan membuat masa depan aku hancur." Sambungnya
'Tanpa kamu tahu itu semua aku dan dia. Itu rencana aku dan dia untuk memisahkan kamu dan Daniel. Rencana itu berjalan lancar bahkan aku berharap kamu hamil anak laki-laki yang melecehkan kamu. Maaf aku melakukan itu sama kamu. Aku akan bertanggung jawab dengan konsekuensi besar yang akan terjadi saat kamu tahu kejahatan aku.'
Amora menenangkan Renata yang menangis.
"Sabar ya semuanya sudah terjadi. Kamu harus ikhlas, anggap saja itu musibah besar. Lain kali jangan terlalu percaya sama orang tidak dikenal. Renata kalau ada apa-apa kamu cerita sama aku jangan diam saja. Aku tidak mau kamu kenapa-napa. Kamu tahu kak Kenan menyalahkan aku. Aku di tuduh ini itu sama kak Kenan gara-gara perubahan dalam diri kamu." Amora mengungkapkan Kakak sahabatnya yang sudah berani menuduhnya ini itu.
Renata cukup terkejut. "Yang benar..." Amora mengangguk.
"Aku tidak tahu apa-apa loh tentang perubahan kamu. Kamu berubah drastis terus kak Kenan menuduh aku membuat kamu berubah." Renata mengepalkan tangannya
Renata paling tidak suka ada yang menuduh Amora. Renata sudah menganggap Amora saudarinya sendiri. Amora itu keluarganya, Renata akan pasang jika ada yang berani membuat Amora sedih walaupun orang itu orang terdekatnya.
"Kamu tenang saja aku akan tegur kak Kenan." Amora menggeleng
"Biarkan saja mungkin aku lagi apes. Yang penting kamu jangan berubah jadi orang pendiam. Keluarga kamu merasakan keanehan kamu loh. Kamu itu orangnya ceria kok tiba-tiba berubah jadi orang pendiam. Aku awalnya tidak tahu, terus aku di kasih amanat sama kak Kenan agar mau bertanya sama kamu. Eh kamu malah menceritakan dulu sama aku."
"Maklumi lah aku syok."
__ADS_1
***
"Tadi kamu bertemu Renata." Amora mengangguk
"Dia belum hamil juga."
"Belum. Hubungan intim sekali doang harus dua tau tiga kali. Usaha kalau mau membuat Renata hamil."
"Jebak lagi lah."
"Susah! Renata tidak mungkin kau di bodohi lagi."
"Bius," celetuk dia ke mereka berdua.
Dia itu sebenarnya siapa?
"Kasih obat tidur dosis tinggi. Saya bawa dia ke apartemen saya dan melakukan si sana. Setelah melakukan itu, saya akan membawa dia ke rumahnya."
Amora dan dia berpandangan lalu mengangguk.
"Tenang saja itu urusan saya."
Begitu licik ya mefeka bertiga tega melukai hidup Renata. Renata orang baik harusnya mereka jaga bukan malah mereka rusak begitu teganya.
Setelah bertemu mereka Amora langsung pamit pulang. Jangan sampai iya pulang suaminya sudah lebih dulu di apartemen. Nanti Daniel makin curiga dengannya.
Ceklek
"Khem, dari mana?!"
"Maaf. Aku baru saja menjenguk salah satu saudara jauh aku. Sudah lama tidak bertemu dengan saudara aku." Jawabnya bohong
"Saudara? hahaha kamu pikir saya tidak tahu tentang kamu. Bukannya saudara kamu tidak mau berurusan dengan kamu. Kamu di buang mereka, bahkan saudara jauh kamu saja tidak menginginkan kamu." Hina Daniel ke Amora begitu sadis.
Jleb
__ADS_1
"Kamu tidak tahu siapa yang masih peduli dengan aku. Aku memang tidak diharapkan sama mereka semua. Tapi masih ada yang peduli dengan aku bahkan masih ada yang menjaga aku dari jarak jauh. Kamu benar...aku tidak diinginkan mereka. Aku sadar diri aku itu buruk." Daniel diam seketika mendengar ucapan ketus istrinya. Daniel tahu Amora tersinggung dengan hinaan darinya. Siapa yang tidak tersinggung jika di hina.
"Aku capek mau istirahat." Amora berlalu meninggalkan Daniel di ruang tamu.
"****!" umpatnya.
Tidak salah ucapan aku itu fakta. Padahal 'itu permulaan buat aku membuat kamu ingin lepas dari aku lalu aku kembali menjalin hubungan bersama Renata. Hanya Renata yang mengisi hati aku bukan kamu Amora. Dasar wanita murahan, benalu, tidak tahu malu.'
'Hubungan aku dan Renata putus karena kehadiran kamu. Apa perlu aku bunuh kamu! sialan kamu Amora.'
Daniel melenggang menyusul Amora ke kamar. Daniel membuka pintu kamarnya lalu melihat Amora tengkurap di ranjang. Belum juga mandi padahal tubuhnya banyak keringat. Sangat menjijikan...
Daniel menendang kaki Amora. Amora tersentak lalu berdiri karena terkejut.
"Apa yang kamu lakukan, Daniel."
"Mandi sana! lihat tubuh kamu berkeringat. Saya jijik melihat kamu yang langsung tiduran di ranjang milik saya."
"Jijik..."
"Dari kapan kamu jijik sama aku hah?! bahkan kamu mau saja menjilat cairan milik aku." Kekehnya
Lihat wajah Daniel sudah memerah menahan malu mendengar ucapan frontal istrinya.
"Itu beda bukan kemauan saya."
"Kemauan kamu lah lagian siapa yang menyuruh kamu menjilatnya." Amora ngacir masuk ke kamar mandi.
"Makin kurang ajar kamu sama saya Amora." Teriak Daniel
Amora mengingat kejadian kemarin kemarin saat dirinya terbentur karena bertengkar dengan sang suami. Daniel langsung membawanya ke rumah sakit. Setelah itu iya sadar, untung dirinya tidak apa-apa hanya terluka biasa. Dirinya belum di takdirkan meninggal sebelum bahagia. Kembali ke topik...
Amora mengabaikan teriakan suaminya. Jangan pedulikan teriakan itu Amora. Jijik katanya? itu kemauan Daniel bukan Amora yang menyuruhnya. Dasar brengsek! tetap sabar di gempuran suami gak tahu diri.
Akan ada kebahagiaan dalam hidup kamu Amora. Kamu sudah berhasil menyingkirkan Renata dari suami kamu.
__ADS_1
To be continued