
"Ikut saya sekarang juga!" Daniel menyeret sang istri ke kamarnya. Meneliti penampilan sang istri yang begitu seksi dan membahana.
"Kenapa sih? bukannya kamu suka aku seperti ini."
"Tidak pernah berkata seperti itu. Kamu boleh mengenakan pakaian seksi hanya di depan saya saja selebihnya tidak. Mereka menatap nafsu ke arah kamu. Javier tidak berkedip melihat penampilan kamu."
"Tubuh kamu hanya milik saya seorang."
'Sebentar lagi tubuh ini hanya milik aku saja. Ku tidak berhak atas tubuh aku lagi.'
Amora mengangguk. "Sudah terlanjur aku memakai pakaian seperti ini. Kamu maklumi saja, hanya malam ini. Aku memakai pakaian ini untuk kamu bukan untuk orang lain." Amora mengelus jambang di rahang sang suami.
Daniel memanglingkan wajahnya ke arah lain. Belum siap berhubungan intim di saat banyak orang di rumah ini. Takutnya mereka curiga dan berakhir mengintip.
"Mau di sini aja atau keluar dan bergabung bersama yang lain."
"Di sini dulu. Jangan berkeliaran kemana-mana, kamu harus stay di samping aku."
"Manis banget kamu sekarang jadi tambah..." iya menjeda kalimatnya.
"Tambah apa?" penasaran Daniel.
"Tambah gila!"
"Gak masuk akal ucapan kamu sama yang tadi. Sini duduk di sini," ajaknya agar iya mau duduk di pangkuan sang suami.
Amora duduk di pangkuan sang suami. Lalu memeluk tubuh bagian depan sang suami dan menghirup maskulin di tubuh sang suami. Harum banget sudah lama tidak menghirup maskulin tubuh sang suami tercinta.
"Love you..."
"Too."
Plukk
"Jawab yang romantis jangan hanya too saja." Protes Amora
"Yang penting aku balas ucapan cinta kamu."
"Terserah kamu saja lah, kehilangan aku jangan nangis."
"Dih... seperti mau pergi saja."
"Memang,"
"Gak boleh." Karang Daniel
"Ada Renata sama kamu ngapain larang aku pergi. Seminggu ini kamu enjoy bersama Renata tanpa memikirkan atau menelepon aku sama sekali."
"Kamu memperlakukan aku seperti orang asing. Padahal kita masih berstatus suami istri. Tapi ya sudahlah, maklum saja kamu belum bisa memilih antara aku dan Renata."
Greppp
"Maaf, aku pecundang buat kamu."
"It's okay aku paham kok."
"Aku jadi kamu juga akan menjadi orang yang pecundang. Sulit memilih yang terbaik untuk hidup kamu."
Pria itu tidak suka wanitanya bicara seperti itu. Pria itu memeluk erat tubuh sang wanitanya. Iya tidak mau Amora pergi, Amora itu hidupnya. Iya terpisah seminggu lebih dengan Amora saja sudah uring-uringan. Mau menelepon tapi handphonenya selalu di pinjam Renata. Mau minta bantuan tapi Renata selalu merecokinya dengan alasan Amora sedang sibuk dengan pria lain.
Jadi serba salah?
"Maafin aku ya." Amora mengangguk
'Aku melukai kamu terus kamu langsung memaafkan aku.'
"Aku sudah membuat keputusan buat hidup aku dan pendamping aku di kemudian hari. Kamu akan tahu aku memilih kamu atau Renata."
'Percuma kamu memilih aku, aku akan tetap berpisah dengan kamu. Semuanya sudah terlambat! aku capek dengan semuanya. Aku capek di manfaatkan terus oleh James. Aku merelakan kamu dan Renata bersatu.'
Cup
Cup
Cup
Daniel mengecup seluruh wajah sang istri. Menenggelamkan wajahnya di tengkuk leher sang istri. Wangi tubuh sang istri adalah candunya. Iya tidak mau kehilangan Amora apapun yang terjadi. Selamanya Amora hanya milik Daniel Mehendra. Iya sudah jatuh cinta dan sayang ke Amora Sandra.
***
Tok Tok Tok
Pintu kamarnya di ketuk berulang kali. Amora membuka matanya, ahh tadi iya memang tiduran di ranjang bersama sang suami. Iya beranjak dari ranjang lalu membuka pintu kamar.
"Kak, ayok kumpul di halaman rumah. Semua orang sudah menunggu kalian." Ucap Alina sopan
"Astaghfirullah aku lupa. Maaf ya, aku sama Daniel malah tidur." Alina tersenyum senang mereka kembali dekat lagi.
__ADS_1
"Kamu ke sana dulu aja ya. Aku bangunin Daniel terus langsung nyusul."
"Siap kak." Alina kembali ke lantai bawah menuju halaman rumah yang sudah di sulap indah. Banyak lampu kelap-kelip terpasang di sudut halaman yang biasa di jadikan tempat bersantai.
Pukkk
Pukkk
Pukkk
Alina terus memeluk pipi sang suami. Membangunkan suaminya membutuhkan ekstra kesabaran yang cukup.
"Sayang aku ngantuk."
"Please bangun dong. Semua orang menunggu kita di halaman. Kamu malah ajak aku tidur sampai lupa kita semua mau barbeque."
Srett
Daniel menarik tangan sang istri. Amora jatuh ke depan tubuhnya. Daniel belum mau membuka matanya. Masih memejamkan matanya sambil bergumam tidak jelas. 5 menit kemudian keduanya sudah sama-sama turun dari ranjang lalu keluar kamar. Sebelum itu, Amora kembali memakai make-up lagi dan menyemprotkan parfum ke tubuhnya.
Daniel menggandeng sang istri ke arah tempat diadakannya barbeque.
"Maaf kita terlambat," seru Daniel.
"AMORA." Ketiga orang itu terkejut melihat keberadaan Amora di rumah calon besan mereka. Amora juga terkejut melihat ada keluarga Renata di sini.
Renata meremas jemarinya tanda iya tidak suka dengan keberadaan Amora saat ini.
Renata menarik tangan calon suaminya.
"Kamu kenapa sama dia?!" tanyanya mengintimidasi.
"Kenapa kamu bilang?! Amora istri saya."
"Daniel jangan sekarang aku mohon. Mereka belum tahu tentang kamu." Lirihnya
"Kalau begitu kamu kasih tahu mereka." Ucapnya santai lalu iya memeluk pinggang sang istri.
Cup
"Ayok ke sana sama yang lain."
Kedua orang tua Renata tidak tahu apa yang terjadi. Mereka mendekati sang anak dan bertanya. Tidak ada jawaban dari sang anak, Renata memilih bungkam.
Daniel memakaikan syal ke tubuh sang istri. Udara malam begitu dingin, iya mana tega membiarkan istrinya kedinginan. Apa lagi dengan pakaian seksi, sudahlah iya rela istrinya malam ini memakai pakaian laknat itu.
Acara barbeque sudah dimulai sejak tadi. Daniel inisiatif memanggang daging untuk sang istri. Amora sedang bercanda bersama sepupu sang suami. Mereka mengobrol lucu lalu membuat parodi yang sedang viral di media sosial.
Sedari tadi mereka memendam umpatan kasar.
Sementara Kenan menatap nanar ke arah pasangan suami istri itu. Mereka terlihat serasi, Daniel tidak malu mengumbar kemesraannya di hadapan orang banyak. Amora menikmati suasana yang membuat sang adik sedih.
"Minggir, sayang aku mau kamu panggang udang itu buat aku." Pintanya
"Minta tolong sana sama dia." Tunjuk Daniel ke arah sepupunya.
"Kamu mau apa?"
"Gak. Aku maunya kamu Daniel bukan dia."
"Dia udah baik bertanya sama kamu. Hargai dia Renata, kamu tidak melihat aku sedang memanggang daging buat istri aku."
"Dia bisa sendiri jangan kamu manjakan."
"Tidak salah aku memanjakan istri aku."
"Sadar diri sama status." Sindir Zanetti muak melihat tingkah murahan si Renata.
"Stop! sebaiknya kamu panggang udang buat Renata. Siapa tahu Renata lagi ngidam." Amora melerai adu bac*t eh adu mulut mereka.
"Sayang," Amora mengangguk lalu tersenyum tidak apa-apa.
"Lihat Amora baik sama kamu tapi kamu malah tidak tahu diri. Ikhlaskan Daniel bahagia sama Amora. Benalu banget hidup kamu!" sewot Atarik.
"Diam kamu!!!" bentak Renata.
"Udah jangan pada ribut. Aku ke sana ya sama Diandra."
"Jangan jauh-jauh, sayang."
Amora mengangguk lalu menyusul Diandra ke arah dapur. Diam-diam Kenan mengikuti langkah jenjang Amora ke arah dapur. Kenan lebih dulu menarik lengannya dan membawa Amora ke pojokan.
"Kak,"
"Lihat sendiri tadi kamu membuat adik saya gak ada harga dirinya."
"Tinggalkan Daniel atau akan saya buat Daniel mati di tangan saya. Biar kamu atau Renata tidak merebutkan Daniel."
__ADS_1
"Jangan! hanya malam ini saja kak. Setalah itu aku akan meninggalkan Daniel. Aku sudah mengikhlaskan Daniel buat Renata, kak."
"Saya akan menikahi kamu setelah itu." Amora menggeleng tidak mau
"Saya tidak akan menjalin hubungan dengan siapapun setelah itu." Tolaknya
Greppp
"Saya cinta sama kamu!"
Bughh
Atarik datang lalu menendang tulang kering bagian kaki Kenan.
"Jangan kasar sama perempuan!" serunya.
Tadinya pria itu mau ke dapur ambil bir eh malah melihat kekasaran Kenan kepada Amora. Banyak pasang mata melihat kericuhan itu, Daniel berlari ke arah istrinya.
"Jaga dan lindungi istri kamu dari dia. Dia kasar," peringat Atarik ke sepupunya.
"Kamu gak papa sayang? Kenan kasarin kamu gimana?" tanya suaminya beruntun.
"Cuman tarik tangan aku keras terus mencelakai pergelangan aku erat." Jawab Amora pura-pura ketakutan.
****! umpat kasar Daniel. Daniel ingin membalas dendam tapi di cegah Atarik.
"Kembali ke sana saja dan abaikan keberadaan dia." Danial dan Amora setuju lalu mereka kembali ke tempat tadi.
Skip
Malam semakin larut, Amora menyenderkan kepalanya di bahu sang suami. Renata sudah tiduran di pa*a sepupu Daniel. Kedua orang tuanya pulang lebih dulu karena ada urusan penting. Kenan juga sudah pulang sejak 1 jam yang lalu.
Daniel mengusap rambut panjang sang istri yang lembut dan harum.
"Anteng gini kan cantik gak jelek."
"Siapa?"
"Renata." Dia mendelik tidak suka ada yang memuji wanitanya.
"Enak ya tidur di situ. Nanti ada yang cemburu."
"Tidak ada yang cemburu, di antara mereka sudah ada pasangan masing-masing."
"Emmhhh," lenguh Renata membuka mata sebentar lalu kembali tidur lagi.
Entah kenapa Daniel rela Renata bahagia bersama sepupunya. Dulu Daniel memang sangat mencintai Renata tapi tidak untuk sekarang. Cintanya hanya untuk Amora. Kesalahan Amora di masa lalu sudah iya lupakan. Yang lalu biarlah berlalu, iya mau memulai hidup bahagia bersama sang istri selamanya.
00.30 mereka memilih begadang di halaman itu. Semua perempuan sudah tidur menggunakan pangkuan para pria. Renata bangun sejak beberapa menit yang lalu.
"Daniel, aku masih ada rasa cinta sama kamu. Kamu sebelumnya udah janji sama aku."
"Lancar banget ngomong begitu di depan pria yang menghamili kamu dan menawarkan kamu sebuah kebahagiaan." Sindir Javier
"Bukan urusan kamu dan kamu tidak perlu ikut campur."
Mereka tidak tahu Amora sudah bangun. Iya ingin mendengar ucapan Daniel tadi sebelum acara ini dimulai. Saat mereka masih berafa di kamar.
"Aku mau ngomong penting sama kamu. Aku sudah memikirkan baik-baik tentang hidup aku dan pasangan yang menjadi pendamping aku selamanya."
Deggg
ini lah momen paling ditunggu mereka semua.
"Aku--"
"Aku apa?"
"Aku memilih Amora menjadi pasangan aku di masa depan."
Jlebbb
Tetesan air mata Renata jatuh begitu saja. Mendengar jawaban Daniel yang sangat menyakitkan.
"Aku tidak mau bohong lagi, Renata. Cinta aku dan hati aku sudah untuk Amora bukan kamu lagi. Selama beberapa minggu aku dekat sama kamu bukan karena cinta tapi karena kasihan. Aku tidak tega sama kamu." Iya tidak menyadari para perempuan sudah bangun.
Tubuh Renata gemetar mendengar itu. Air matanya tidak berhenti sejak tadi. Sungguh kabar yang mengejutkan untuknya.
Atarik dan Javier membantu Renata menopang tubuhnya yang sudah mulai lunglai. Amora maju lalu ingin memegang lengan Renata, Renata sudah dulu tumbang ke rumputan.
"RENATA," teriak mereka.
"Menyakitkan." Ucap Diandra
Memang sangat menyakitkan tapi Daniel harus melakukan itu. Iya tidak mau Renata terus-terusan mengejar cintanya.
Atarik dan Javier menggendong Renata lalu membawa Renata ke kamar tamu. Amora dengan gemetar menghubungi dokter kandungan agar datang ke sini. Orang tua Daniel syok melihat keadaan Renata. Renata melemah sekarang, mereka saling terkejut melihat wajah pucat Renata.
__ADS_1
Akhirnya Daniel memilih Amora bukan Renata.
To be continued