
"Apa yang kamu lakukan?!"
"Apa yang kamu lakukan, heh situ yang membuat gue jadi begini. Nih lihat tubuh gue penuh noda karena lo. Lo kalau jalan yang santai dong, nih lihat tubuh gue kotor."
"Lebay," cibir pria itu.
"Yang lo katain lebay gue gitu." Pria itu mengangguk
"Penghinaan! gue gak lebay yang lo bilang tadi. Minta maaf atau gue teriak terus bilang lo mau memperkosa gue." Pria itu mendelik
Plukk
"Gak takut dosa hah, ngomong gitu sekali lagi akan saya kasih tendangan bebas."
"Hadeh tentangan bebas emang situ lagi main bola." Cibir perempuan yang memakai dress seksi.
Perempuan itu mendekati sang pria lalu menghirup bau tidak sedap alias bau busuk.
"Pfffft hahaha tubuh lo bau busuk. Lo gak mandi ya, hahaha sumpah busuk banget. Mendingan lo mandi sana biar wangi. Sekoga gue gak ketemu lo lagi. Ganteng-ganteng kok bau busuk."
"Astaghfirullah itu mulut kalau ngomong suka benar. Eh, astaghfirullah kenapa tubuh saya jadi bau gini. Apa efek tadi buang sampai! sungguh memalukan." Pria itu kembali masuk ke dalam rumah.
Ekhemmm
"Dari mana nih kok bau tubuh kamu." Mamahnya datang lalu menutup hidung rapat-rapat.
"Gara-gara sampah itu yang aku buang."
"Alasan saja, saja mandi terus turun ke sini buat makan malam. Nanti ada teman Mamah ke sini sama anaknya."
"Mah, aku masih punya istri jangan menjodohkan aku sama anak teman Mamah." Mamah ketawa saja tanpa mengatakan apapun.
'Mamah masih tahu batasan agar tidak mengatur hidup kamu, Niel. Mamah malah berdoa kamu dan Amora bertemu kembali lalu hidup bahagia selamanya. Mana mungkin Mamah membiarkan kamu bahagia bersama perempuan lain. Hanya Amora mantu kesayangan Mamah dan hanya Amora yang menjadi istri kamu.'
'Mamah hanya mau kamu tetap tenang selagi Mamah tahu keberadaan istri kamu. Maaf ya, Mamah belum mau kasih tahu kamu keberadaan istri kamu. Mamah ingin tahu perjuangan kamu menemukan istri kamu.'
Di kamar Daniel langsung mandi setelah itu membuka laptop. Terpampang foto cantik sang istri lalu iya kandang sampai puas.
"Miss you baby," lirihnya. Tersenyum mengingat kenangan iya bersama sang istri. Rasa kehilangan saat tahu sang istri pergi meninggalkannya demi kebahagiaan mantan sahabatnya.
Baru ditinggal 5 hari sudah membuatnya uring-uringan. Pasalnya mereka tidak akan bertemu kapan. Iya tidak akan menyerah mencari keberadaan sang istri. Masih gigih mencari dimana Amora berada, walaupun harus ke ujung dunia sekalipun. Sungguh real bucin memang ada.
"Aku mau makan malam dulu ya. Kamu harus makan juga di mana pun kamu berada. Aku merindukan kamu selalu, kita akan bertemu suatu saat nanti." Ucapnya memandangi foto sang istri lagi dan lagi. Setelah itu iya keluar kamar dan menuruni anak tangga.
"Mah, masak apa hari ini. Aku mencium bau udang goreng."
"Kesukaan kamu itu. Sengaja buat buat kamu semangat menjalani hidup. Niel tetap semangat ya, suatu saat bakal ketemu sama istri lagi."
Daniel menundukkan wajahnya. "Aku rindu banget mah sama Amora. Amora lagi apa ya sekarang. Amora rindu aku juga gak sih. Nomor handphonenya gak aktif apa ganti nomor. Andai aku gak jadi pria pengecut! aku menyesal banget." Penyesalan selalu datang di akhir kisah cinta. Ini belum berakhir Daniel masih berlanjut.
Ting Tong
"Kamu duduk sendirian dulu Mamah mau buka pintu. Siapa tahu teman Mamah sama anaknya datang."
Mamah berjalan membuka pintu rumah dan benar temannya dan anaknya sudah datang.
"Aduh teman aku ini tambah cantik ya walaupun sudah berumur."
"Kamu juga cantik banget. Hem, Lidya juga cantik."
"Makasih Tante," balas Lidya.
"Ayok masuk ke dalam dan langsung makan malam ya. Suami aku lagi di luar kota. Adanya aku sama ank aku, anggota keluarga yang lain lagi liburan jadi rumah sepi."
"It's okay yang penting makan terus kenyang.*
"Ih Mamah jangan bikin malu."
"Loh kok malu...fakta itu ya kan jeng."
"Betul banget itu hehehe."
__ADS_1
"Niel," panggil Mamahnya.
"Iya mah." Daniel menoleh ke belakang dan melihat gadis yang tadi mengatainya sebelum pergi.
'Oh jadi dia anak teman Mamah.'
'Dia pria bau busuk tadi. Astaga dunia ini memang sempit, ya.'
"Niel. Ini ada Tante Indah sama Lidya anaknya yang cantik dan manis."
Daniel mengulurkan tangannya untuk menyalami wanita paruh baru bernama Indah lalu bersalaman dengan gadis yang bernama Lidya. Barbar dari raut wajah gadis itu.
"Anak Tante cantik banget ya sampai kamu lihatin terus." Godanya
"Cantik tapi masih cantik istri saya."
"Istri? kamu sudah menikah, saya gak tahu jeng anak kamu udah nikah." Lihat raut wajah Mamahnya yang gugup.
"Nikah sederhana yang penting bahagia."
"Oh gitu, ayok silahkan duduk jeng. Nikmati ya selagi membuat perut kenyang." Para Ibu-ibu memang satu frekuensi. Suka bercanda dan bergosip.
"Btw istri lo mana? gue mau kenalan siapa tahu mau temenan sama gue?" tanya Lidya.
"Hah, itu..."
"Istri Daniel lagi jenguk sepupu di luar negeri. Ya kan Daniel," Daniel hanya mengangguk. Semoga mereka percaya dengan jawaban Mamahnya.
"Owalah pantesan gak kelihatan ya orangnya. Cantik gak jeng menantunya, harusnya aku duluan ya mendekatkan anak aku sama anak kamu biar kita besanan." Suasana menjadi hening lalu Mamahnya membuka suara.
"Jodoh gak ada yang tahu, jeng. Kita baru ketemu bulan ini kan. Lagian situ pindah-pindah kota sih. Gak pernah ketemu terus jarang ngobrol bareng. Daniel anakku ini susah jatuh cinta sama perempuan yang aku kenali. Harusnya iya cari sendiri, Niel cinta banget sama istrinya." Jelas sang Mamah membuat Daniel cukup lega.
Mereka tidak boleh tahu tentang hubungannya dan sang istri, batinnya.
Makan malam selesai lalu mereka kembali mengobrol di ruang tamu sampai larut malam. Pukul 22.00 malam mereka pulang dan kapan-kapan mereka yang akan mengajak keluarga Daniel makan malam di rumah mereka.
Rumah mereka dekat kok, saling berhadapan. Baru pindah maklumi saja.
"Amora. This is my friend Emir Ozkan, he's originally from Istanbul. Isn't this my friend handsome?"
"Yes." Setuju Amora
"This Emir is Amora, my friend from Indonesia."
"Nice to meet you Amora, very beautiful your beautiful face." Ucap pria tampan yang bernama Emir.
"Thank you."
Drettt
Handphone Amora berbunyi...
"Excuse me, I need to pick up the phone first."
"Okay."
Amora bergegas keluar dari cafe itu lalu mengangkat telepon dari Atarik.
"How are you?"
"I'm okay. Why?"
"Saya yakin kamu tidak akan tega mendengar cerita dari saya. Yesterday your husband was furious Amora! Daniel is frustrated with your departure. You know...we all got hit by his tantrum, Daniel even had the heart to bombard Javier face until he was battered. Sungguh gila suami kamu, Losing you made his life messy but under control because of our promise to seek your whereabouts. Dia begitu mencintai kamu." Jelas Atarik membuat dirinya meneteskan air mata.
"Atarik...aku gak siap ketemu Daniel. Aku sudah nyaman di sini, mungkin kita akan bertemu entah kapan itu. Honestly, I'm also very frustrated with the relationship. But...for Renata and her child. Kamu paham maksud aku."
"Iya saya paham." Balas Atarik
"Saya tutup teleponnya ya. Kalau ada apa-apa kabari saya. Oh iya jangan terlalu dekat sama teman baru kamu. Saya merasa teman dekat kamu bisa saja memanfaatkan kamu."
"Aku selalu ingat pesan kamu. Makasih sudah mau menjaga rahasia keberadaan aku."
__ADS_1
Telepon selesai iya kembali ke dalam cafe lalu mendengar obrolan mereka sebentar. Iya belum bergabung dengan mereka tapi iya mendengar obrolan mereka untuk mengetahui apa yang mereka bicarakan tentang dirinya.
"I'm interested in your new friend. I want to get closer to him, you know I fall in love easily. Maybe I will fall in love with him."
"Not!"
"You already have a fiancé."
"Ayluy will not know, I also do not love him. Me and him are betrothed you know."
"Sorry I can't help you."
'Ozge makasih sudah menolaknya.'
Jakarta, Indonesia
"Hai pria busuk! kita bertemu kembali, semoga kita tidak bertemu itu basi pada akhirnya kita bertemu."
"Ada apa!" serunya.
"Galak banget, btw gue masih penasaran sama istri lo seperti apa. Jelek ya! tapi lo bilangnya cantik banget."
"Istri saya memang sangat cantik bahkan lebih cantik dari kamu."
Jlebbb
Sungguh menghunus ke hatimu Lidya. Lidya tidak tersinggung sama sekali. Gadis berusia 21 tahun itu tertawa terbahak-bahak.
"Gue gak cantik banget sih, fakta tapi gue jago goyang."
"Goyang apa?" tanya Daniel cukup ambigu dengan kata goyang.
"Goyang dumang, goyang itik, goyang bang jali dan goyang apapun." Jawabnya begitu receh
Daniel memijat pelipisnya lalu iya lirik gadis itu. Gadis itu sedang menjilati lollipop.
"Masih kuliah ya," gadis itu mengangguk.
"Pantesan." Gumamnya
"DANIEL." Daniel membalikkan tubuhnya lalu melihat ada sepupunya datang.
"Hemmm."
"Selingkuh, ya?" Daniel menggeleng.
"Kenalin Lidya anak teman Mamah. Itu rumahnya, mana mungkin saya selingkuh. Jangan ngaco kamu, Lidya ini Zanetti dan Javier sepupu saya."
"Ya ampun ganteng-ganteng banget dan wangi tentunya." Heboh gadis itu sambil berjingkrak.
"Jaga image sebagai gadis mahal dong." Sindir Daniel
"Gak peduli yang penting happy. Ganteng perkenalkan nama aku Lidya biasa di panggil sayang."
"Zanetti."
"Javier."
"Uwahhhj namanya bagus ya seperti orangnya. Kapan-kapan mampir ke rumah aku yang itu. Nanti aku kasih cemilan banyak." Ujar gadis itu malu-malu tapi mau.
Kedua pria itu menatap aneh ke gadis itu. Tingkahnya berbeda jika sedang bersama Daniel. Tadi jutek sekarang centil gak ketulungan.
"LIDYA YA AMPUN NAK! ITU BH KAMU NYANGSANG DI PAGAR RUMAH." Teriak Mamahnya dari atas balkon.
Sontak keempat orang itu menatap ke arah pagar. ****! Lidya mengumpat kasar melihat ada BH miliknya tersangkut di pagar. Malu jelas, lihat ketiga pria dihadapannya. Mereka ikutan malu, bH berwarna pink cerah bertengger di pagar rumah.
"MEMALUKAN!!! SAYANG-SAYANGNYA AKU KECUALI SITU! AKU PULANG DULU, BH AKU JANGAN DILIHATIN MELULU." Gadis itu ngacir mengambil BH miliknya lalu masuk ke rumah.
"Prik,"
To be continued
__ADS_1