
Kedua sejoli yang tadi malam baru saja bergelut di ranjang membual mata. Daniel mengerjapkan matanya beberapa kali lalu melihat kamar asing ini. Matanya membola melihat keadaan tubuhnya yang telanjang tidak memakai baju sama sekali. Daniel menoleh ke samping kirinya. Tersentak melihat ada Amora bahkan tubuh Amora sama-sama polos sepertinya.
Daniel beranjak dari ranjang lalu mengingat kembali aksi Amora tadi malam saat menggodanya menggunakan tubuh murahannya. Daniel ingat semua lalu iya pun tergoda sampai merenggut kesucian milik Amora.
"Ini salah! AMORA WANITA SIALAN." Teriak ya begitu keras
Amora tersenyum ke arahnya sambil membuka selimut. Tidak malu lagi bertelanjang di hadapan Daniel. Untuk apa malu tadi malam dirinya sudah melihat tubuh indah milik Daniel.
"Kenapa? mau lagi bergelut di ranjang bersama aku. Kamu beruntung memiliki aku sayang. Kamu tahu...aku masih suci dan kamu laki-laki yang mengambil kesucian aku. Kamu sudah menjadi milik aku begitupun dengan aku milik kamu."
"Aku bahagia merasakan kenikmatan yang kamu berikan untuk aku. Tidak sia-sia aku menjebak kamu di apartemen aku lalu menggoda kamu dengan begitu ganas. Lihat sekarang diri kamu sayang. Kamu bahkan menikmati percintaan kita berdua. Jangan jadi laki-laki munafik ya." Kekehnya
Daniel menggeram. "Biadab kamu Amora! perbuatan gila kamu membuat aku merasa bersalah dengan Renata. Hanya dia yang boleh menyentuh aku bukan kamu. Saya akan membalas perbuatan kamu Amora. Kamu pikir saya akan memaafkan kelakuan biadab kamu tadi malah hah! tidak, saya akan lebih licik dari kamu." Sentak Daniel lalu memunguti semua bajunya lalu pergi ke arah kamar mandi.
Renata, maaf ya tunangan kamu sudah tidur sama aku.
Ting Tong
Dahinya mengernyit saat mendengar suara bel apartemennya berbunyi. Dengan malas Amora beranjak dari ranjang lalu memakai baju seadanya. Berjalan ke arah depan untuk membuka pintu apartemen.
"Good morning guys." Seru Renata datang bersama James.
****! dia datang ke sini pagi-pagi mau apa. Seru juga kalau dia tahu tunangannya di sini baru saja memadu kasih dengan aku.
James tersenyum ke arahnya.
"Baru bangun tidur ya kamu." Amora mengangguk
"Kamu gak suruh kita masuk nih."
"Mau masuk?"
"Pakai tanya ya mau lah. Aku udah capek berduri terus." Jawabnya
"Silahkan masuk cantik dan ganteng. Maaf ya apartemen aku berantakan. Kalian di sini dulu aku mau mandi sebentar."
Amora berlari ke arah kamarnya lalu mengunci pintu kamarnya.
"Jangan keluar...di luar ada Renata sama James. Keluar gak papa sih yang penting mental kamu kuat." Celetuk Amora ke Daniel baru saja keluar dari kamar mandi.
"Kamu menyuruh Renata ke sini."
__ADS_1
'Nih orang di kasih tahu kok malah nuduh aku yang tidak-tidak. Tidak terima kasih apa karena aku kasih tahu ada Renata di sini.'
"Gini yah, aku kasih tahu kamu mereka di sini biar kamu tidak kelabakan mencari alasan membuat mereka percaya. Sehari kamu harus percaya sama aku. Okay aku membuat kesalahan sama kamu tapi kamu juga akhirnya mau."
"Awas ya kamu membuat Renata tahu kejadian tadi malam. Hidup kamu makin hancur Amora." Daniel mulai mengancam seorang Amora. Ancaman itu tidak membuatnya takut sama sekali. Takut karena hidupnya hancur tidak mungkin.
"Terserah ancaman kamu tetap aku terdiam dengan baik. Sebaiknya kamu di kamar aja ya. Aku mau mandi terus keluar menemui mereka." Amora langsung ngacir ke kamar mandi meninggalkan Daniel.
Daniel mengambil handphonenya lalu mengecek ada email masuk atau tidak. Bingung mau pergi atau tidak. Mereka masih berada di apartemen Amora.
Ceklek
Amora baru saja selesai mandi sudah berpakaian juga. Berjalan santai ke arah Daniel lalu mengecup bibirnya.
Daniel mendorong Amora ke lantai.
"Jangan pernah menyentuh saya lagi Amora. Belum cukup ya menikmati anggota tubuh saya sampai kamu terbuai. Murahan! ingat ya Amora...kamu wanita murahan yang pernah saya kenal dengan baik." Amora meremas bajunya dengan kuat untuk meredam emosinya. Kenapa Daniel selalu menolak kecupan yang iya berikan cuma-cuma.
"Mendingan kamu temui mereka berdua dan suruh mereka keluar dari apartemen kamu."
"Iya." Amora memilik menemui mereka berdua di ruang tamu.
Renata menoleh melihat ke Amora yang sudah segar. Renata merasa aneh dengan jalan Amora.
"Bobok apaan sih."
"Udah gak perawan kamu kok jalannya gitu. Cara jalan kamu seperti orang sudah di perawanin." Amora memasang wajah super panik tapi bisa menetralkan kepanikannya dengan baik.
"Oh itu...jatuh di kamar mandi tadi malam. Iya aku tadi malam jatuh dan kaki aku sakit dua-duanya. Makanya cara jalan aku begitu." Jelasnya berusaha membuat si Renata percaya.
"Ceroboh ya kamu...btw kamu tahu calon suami aku dimana."
Lah dia menjadi calon suami alias tunangannya dimana.
"Gak tahu. Di sini yang menjadi calon istrinya kamu bukan aku. Mana tahu calon suami kamu dimana."
"Bos Daniel tidak ke kantor atau pulang ke rumahnya. Saya sudah mencari di apartemennya juga tapi tidak ada. Bisa saja kamu tahu karena kamu sekertarisnya." Timpal James kepadanya dengan tampang super datar.
Apa iya James mulai curiga dengannya. Curiga jika bosnya dan dirinya miliki hubungan tersembunyi. Bagus tuh orang tahu biar ada kesempatan memiliki Daniel lebih besar lagi. Dia harus menjadi sekutu aku.
"Mungkin aja bos Daniel ada kerjaan penting dan belum sempat mengabari kalian. Aku tidak tahu karena ini di luar kantor."
__ADS_1
Bruk
Mereka mendengar suara benturan keras dari kamar Amora. Amora mencoba tenang tidak terlihat ketakutan.
"Kamu di apartemen sendirian atau ada orang lain?" pertanyaan intimidasi dari Renata.
"Hahaha aku sendirian lah ya kali ada orang lagi. Aku cek dulu ya."
Dia membuat ulah apa si dalam kamar aku.
Pintu terbuka lalu di tutup lagi.
"Kamu meletakkan guling di lantai. Aku jatuh karena guling itu." Omel bosnya
"Ya ampun mana aku tahu. Tadi malam kamu yang membuang guling ke lantai."
"Daniel. Jangan membuat aku panik di depan. Aku tega loh jadi orang bisa saja aku membongkar semua kejadian tadi malam sama mereka berdua. Sudah siap bilang ke Renata kamu sudah menodai aku hah." Ancaman jitu darinya membuat bosnya bungkam.
"Aku tidak main-main dengan ucapan aku ini."
Amora melengos pergi lalu menemui mereka lagi.
"Aku udah bilang tidak ada siapa-siapa. Sebelum keluar membuka pintu apartemen aku meletakkan guling di pinggiran sofa jadi ya gulingnya atuh karena tidak seimbang."
Renata percaya tidak untuk James. James tidak percaya sama sekali dengan Amora. Gelagat Amora itu aneh sejak tadi bahkan berkata sambil menatap ke arah lain. Renata begitu bodohnya percaya dengan ucapan Amora.
"Heem...kita jadi kan ke mall hari ini." Amora mengangguk
"Ke kantor kerja bukan ke mall." Sindir James
"Amora mau menemani aku mencari gaun ya kan Amora." Lagi-lagi dirinya mengangguk saja seperti orang bodoh.
James mendengus lalu keluar dari apartemennya.
"Kamu ke basemant aja dulu aku mau ganti pakaian nanti aku menyusul kamu ke basemant." Renata setuju lalu pergi ke basemant. Kepergian mereka dari apartemennya membuatnya lega.
Daniel keluar dari kamar lalu melirik sinis ke arahnya. "Jangan berharap dengan saya Amora. Saya tidak akan tertarik sama kamu. Lebih baik kamu mencari laki-laki lain yang masih single." Bisiknya
Aku tetap akan memiliki kamu Daniel Mehendra.
Ancaman aku tidak main-main Daniel.
__ADS_1
To be continued