
Amora baru saja mengetahui suaminya sudah siuman. Iya membiarkan Renata menemani sang suami yang sakit sehabis kecelakaan. Sedangkan dirinya kenapa tidak ke sana? iya ingin membebaskan mereka tanpa ada dirinya. Iya lelah...lelah dengan semuanya, lelah dengan hubungan ini. Bahagia dari mana? makin tersiksa, Daniel belum memilih antara iya dan Renata. Daniel masih plin plan, sungguh egois.
"Kamu kok diam saja."
"Aku haru menangis sambil memohon."
"Tidak ada perjuangan gitu, lalu buat apa kamu mempertahankan hubungan dengan Daniel selama ini. Minta dia menikahi Renata sebelum Renata menikah sama Daniel." Omel James
"Terserah merska mau menikah atau tidak. Aku sudah menyerah James! aku tidak akan mengurusi hidup mereka satu-satu. Hidup aku makin hancur, aku lelah juga." James berdecak kesal
"Kena setan apa kamu!"
"Percuma aku jahat sama Renata. Aku tetap kalah, ujung-ujungnya aku yang kena imbasnya. Kamu tahu semua orang memang memberikan aku support tapi beda dengan suami aku. Suami aku lebih unggul membela Renata."
"Berusaha jangan menyerah,"
"Gak tahu. Aku pengin hidup damai seperti dulu lagi."
"Balas dendam masa lalu Renata, gimana?!"
"Itu beda lagi. Balas dendam kalau Renata sudah hamil besar."
"Masih lama bego!"
"Kok kasar,"
"Tidak bisa diandalkan banget. Harus ada saya biar kamu tetap balas dendam."
Amora mendengus kesal. "Renata semakin berani sama aku. Renata sama sekali tidak takut sama ancaman aku. Ancaman aku selalu meleset sama dia. Belum lagi Kenan, dia tahu aku berusaha menghancurkan Renata. Aku melakukan itu juga ada sebabnya...kamu tahu itu." Iya mencurahkan semua obrolannya dengan si Kenan itu. Malapetaka untuknya mengobrol bersama Kenan.
"Kita akan membicarakan ini lagi. Ayok ikut saya..."
"Astaga! mau di bawa kemana."
"Nanti kamu tahu."
Mereka memasuki mobil lalu mobil mulai berjalan. Jalan menuju rumah sakit Medika Jaya, oh Tuhan... James malah membawanya ke tempat suaminya. Malas bertemu kedua orang itu.
20 menit berlalu mereka sampai di sebuah rumah sakit besar lalu keluar dari mobil. James terus menggandeng iya takut kalau iya kabur, sungguh niat sekali kamu James.
Tok Tok Tok
"Masuk saja pintu tidak di kunci."
Ceklek
Oh my good, semua orang berkumpul.
Mereka menyapa yang lain sedangkan Amora tersenyum ramah. Alina maju lalu menghampiri Amora dan membawa Amora ke brankar untuk menghampiri sang suami.
Daniel menatap sengit James, melihat James menggandeng istrinya. Tidak takut iya marah atau apa, enjoy saja menggandeng sang istri.
"Gimana keadaan kamu,"
"Baik."
Ekhemmm
"Canggung banget kalian...kalian suami istri jangan canggung. Anggap saja kita semua angin lalu kalian bisa bermesraan." Ledek Zanetti
"Hah..."
"Loading lama memang," cibir James.
"James!" tegur Daniel.
"Maaf bos," cengir James.
Renata merasa tidak di anggap di sini. Kedatangan mereka berdua membuatnya seperti angin lalu. Lihat sepupu Daniel langsung menyambut Amora lalu mengajak Amora bercengkerama tanpa mengajak dirinya. Renata mengambil buah jeruk lalu mengupas dan menyuapi Daniel.
'Maaf Amora, kali ini aku mau yang terbaik untuk hidup aku. Aku mau menikah dengan Daniel tanpa halangan apapun dari kamu maupun yang lain.'
"Manis gak jeruk yang aku kupas tadi." Daniel mengangguk
"Besok aku buatin puding coklat buat kamu. Sudah lama loh, aku gak buat puding buat kamu. Kamu kan suka banget sama puding buatan aku."
"Hem,"
"Kamu jangan cuek-cuek sama aku. Dulu kamu tidak pernah cuek sama aku, jangan berubah hanya karena orang lain ya. Kamu udah janji sama aku. Kamu mau membahagiakan aku, kamu lebih memilih aku karena kamu mencintai aku."
"Ren..."
__ADS_1
"Kamu tidak senang aku bilang begitu! kamu marah."
"Lihat situasi dan kondisi."
"Maaf,"
"Hargai mereka semua, ya."
"Jika mau di hargai, seharusnya mereka juga menghargai aku. Akhir-akhir ini mereka jahat sama aku. Mereka sering menyindir aku lewat kalimat kasar mereka. Kamu tahu...setelah mereka tahu kamu punya istri, mereka semakin mendukung kamu dan istri kamu. Lalu aku gimana, aku yang berhak memiliki kamu. Aku mau egois demi hidup aku! aku tidak mau kalah. Mungkin aku plin plan untuk melepaskan kamu. Aku mengaku salah, tapi aku sadar seharusnya aku tidak boleh menyerah."
James menyikut lengan Amora.
"Seperti itu perjuangan kamu mempertahankan hubungan." Bisiknya
"Bisa nggak membicarakan itu di lain waktu. Lihat Daniel lagi sakit," sindir Javier.
"Diam!" Atarik membuka suara.
"Di sini yang salah bukan Renata tapi dalang yang menjebak Renata. Harusnya kamu simpati sama Renata, dari permasalahan yang terjadi sama kalian. Saya lebih simpati sama Renata. Kenapa? Renata korbannya bukan tersangka seperti Amora."
"Atarik!"
"Itu fakta bro, lo salah menyalahkan orang. Renata tidak tahu apapun kecuali tentang masa lalunya."
"Kayanya kita semua butuh refreshing. Menghilangkan kepenatan, selama ini kalian semua selalu saja menghadapi masalah lalu saya inisiatif mengajak kalian semua liburan."
"Liburan yang kamu pikirkan."
"Lagian ngapain menghadapi masalah gak bermutu. Udah putus ya udah jangan menjanjikan menikah. Masuk tahu...lagian harusnya kalian melanjutkan kehidupan ke depannya dengan pasangan masing-masing. Renata ikhlaskan Daniel untuk Amora. Kamu minta tanggung jawab sama dia. Amora jangan lagi balas dendam dan kamu Daniel, khusus buat kamu ya. Jangan lagi menjanjikan apapun sama Renata, belajar mencintai Amora dengan tulus tanpa embel-embel apapun. Bisa kalian melakukan itu semua. Jangan egois atau gengsi. Hidup kalian itu masih berlanjut."
"Balas dendam kalian kubur dalam-dalam. Bisa gak! harusnya bisa." Lanjut Javier
"Kalau begini terus...sama saja kalian saling menyakiti satu sama lain. Cinta segitiga kalian sudah usai, ayok lanjutkan hidup bahagia."
"INTINYA SALING MEMAAFKAN JANGAN MEMBENCI."
"Belajar mencintai jangan selingkuh atau menjadi penggoda."
"Dia juga siap menikahi kamu Renata. Dia Papah buat anak kamu, anak kandung kalian berdua. Jangan mengharapkan Daniel menjadi suami sekaligus Papah untuk anak kamu. Kamu jangan lupa Renata, Papah kandung anak kamu di depan mata kamu belum mati sama sekali. Masih sehat bahkan waras, kamu beruntung bukan malah menjauh."
Jlebb...
Jadi siapa kira-kira yang menghamili Renata. Ada Javier, Atarik, dan juga Zanetti. Kalian pasti penasaran siapa laki-laki yang berani bekerja sama dengan Amora dan James untuk menjebak Renata lalu menghamili Renata.
Itu semua akan terungkap nanti?
Balik ke topik...
"Aku gak rela menikah sama dia."
"Why?"
"Daniel yang lebih pantas menjadi suami aku."
"Renata! saya mohon jangan egois!"
"Okay...aku tidak akan balas dendam tapi jangan halangi aku memiliki Daniel lagi. Kita dulu baik-baik saja, kehadiran Amora menghancurkan semua. Aku ingin kamu merasakan apa yang aku rasakan. Kehilangan seseorang yang berarti di hidup kamu. Lalu kamu dijebak di situasi menghamili anak orang lain. Gimana perasaan kamu, antara stress dan frustasi! pasti kamu tidak akan bertanggung jawab begitu saja."
'Sialan kamu Renata! kenapa jadi aku yang kena imbasnya? aku mencoba mendamaikan mereka bertiga lalu ucapan Renata membuat aku kena skakmat. Jika itu terjadi, gimana nasib aku. Bertanggung jawab atau mempertahankan seseorang yang berarti untuk hidup aku.'
"Ternyata rumit hidup kalian semua. Aku pamit," Atarik pamit pulang, pusing memikirkan hidup mereka. Padahal banyak jalan keluar tapi mereka tetap saja egois.
"Aku juga pamit, kamu cepat sembuh." Amora keluar dari ruangan pengap ini.
Amora berlari untuk menggapai tangan Atarik.
"Tidak ada niatan apapun."
"Niatan apa?"
"Mengejar cinta seperti aku."
"Gak, makasih..."
"Kisah cinta kamu membingungkan. Aku pusing berada di tengah-tengah kalian semua." Amora menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
"Tenang saja. Akan ada saatnya aku punya tambatan hati seperti kamu."
Mereka pulang bersama karena Amora di ajak pulang bersama oleh Atarik. Umur mereka beda 2 tahun, Atarik lebih tua dari Amora. Atarik itu seorang pengusaha sukses sekaligus chef terkenal. Pintar memasak, beruntung yang menjadi istri dari Atarik.
Skip
__ADS_1
3 hari berlalu Daniel sudah di rawat lalu dokter sudah memperbolehkan Daniel pulang. Daniel pulang ke rumah orang tuanya. Ada Renata juga di sana. Renata masih stay bersama Daniel. Menemani Daniel sekaligus mencari perhatian semua orang agar iya di sanjung. Bertahan agar tidak menjelekkan nama baik Amora. Ingin sekali iya melakukan itu, bersabar saja.
Renata membantu Daniel membaringkan tubuhnya di ranjang lalu iya menyelimuti Daniel. Daniel tersenyum sambil mengucapkan terima kasih. Andai Amora di sini, batin Daniel.
Daniel takut Amora menyerah lalu mengajak iya berpisah. Belum siap dan tidak akan pernah mau sampai kapanpun. Jujur iya sudah ketergantungan sama Amora. Amora itu cekatan dan bisa diandalkan beda sama Renata.
Amora itu lebih peka dari Renata. Apa yang iya mau pasti Amora tahu sebelum iya memberitahu.
"Jangan sakit lagi ya," Daniel mengangguk.
"Aku sakit karena kecelakaan bukan karena sakit demam."
"Iya. Makanya bawa mobil hati-hati jangan ngebut segala."
"Iya."
"Renata. Kamu pulang dulu aja. Aku gak tega melihat wajah kamu pucat seperti itu. Pikirkan kondisi kamu dan anak kamu. Di rumah ini banyak orang, aku tidak sendirian seperti di apartemen kecuali ada istri aku."
"Tapi---"
"Pikirkan kesehatan kamu...anak kamu membutuhkan nutrisi juga."
"Ya udah aku pulang dulu. Aku akan datang lagi menjenguk kamu, ya."
"Iya. Aku suruh sepupu aku antarkan kamu pulang."
"Daniel, jangan, aku gak mau."
"Aku pulang sendiri aja."
"Turuti apa yang aku mau."
5 menit kemudian iya sudah berada di teras rumah orang tua Daniel. Iya tidak sendirian ada sepupu Daniel yang akan mengantarkan iya pulang. Siang-siang begini enaknya makan yang segar-segar, es krim contohnya.
Mereka berdua masuk ke mobil. Tiba-tiba Renata memegang lengan laki-laki itu lalu menunjuk ke penjual es krim.
"Ngidam."
"Iya."
"Jangan sungkan minta apapun sama saya. Saya berhak menuruti apa yang kamu mau. Jangan merasa sendirian, saya gak mau anak saya ileran."
Renata memukul lengan laki-laki itu.
"Tega banget doa'in anaknya gitu."
"Saya bilang bukan doa'in."
"Nanti mampir ke McD juga ya." Laki-laki itu mengangguk lalu tangan kirinya terulur menyentuh perutnya yang membuncit.
"Mau apa aja terserah kamu."
Menunggu beberapa menit sampai mereka sampai di kedai es krim.
"Wah aku harus beli banyak nih." Serunya
Laki-laki di sampingnya tersenyum melihat Renata antusias memilih rasa es krim. Mau yang cokelat dan vanilla dan rasa lainnya.
Setelah memilih langsung di bayar lalu di makan di mobil saja. Renata yang dewasa kembali seperti Renata yang anak kecil. Malam es krim belepotan kemana-mana, tidak peduli bajunya terkena noda es krim.
"Dek, Mamah kamu lahap banget makan es krimnya."
"Ini itu enak. Aku jarang makan es krim tahu."
"Iya, makanya sering sama saya. Nanti saya ajakan makan es krim tapi tidak setiap hari."
"Makan duren boleh gak sih?"
"Jangan terlalu banyak. Semakin banyak makan duren, perut dalam jadi panas."
"Sok tahu..."
"Gini-gini saya belajar untuk mengetahui apa yang boleh dan tidak boleh untuk Ibu hamil."
Udah siap punya anak."
"Astaghfirullah, Renata. Saya siap lahir batin punya anak."
Rentaa hanya terkekeh, masih tidak menyangka anaknya punya Papah kandung seperti laki-laki di sampingnya. Cuek banget tapi perhatian dan penyayang.
To be continued
__ADS_1