
Amora berjalan mengendap-endap saat memasuki vila. Jangan sampai Kenan melihatnya pulang dari luar. Amora melihat ke sekitar villanya sudah sepi berarti Kenan sudah tidur.
"Dari mana kamu?"
Suara Kenan membuyarkan arah pandangnya lalu memberhentikan langkahnya. Amora membalikkan badannya dan tersenyum kikuk ke arah Kenan.
"Habis dari teras tadi, kak." Jawab Amora sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
"Aku baru saja dari teras kenapa tidak melihat kamu."
"Masa sih? padahal sedari tadi aku jalan-jalan di teras bolak-balik masa tidak melihat."
"Kenapa bibir kamu bengkak?"
Sebuah pertanyaan gila. "Oh ini tadi ada semut yang gigit bibir aku sampai begini makanya aku langsung masuk ke dalam." Jelasnya
"Dari tadi sore kamu aneh. Aku tidak tahu kamu sedang menyembunyikan apa. Intinya kamu itu aneh," Kenan menyebut dirinya aneh. Anehnya dimana lagi pula terserah iya mau dari mana.
"Gini ya kak... Kakak kenapa sih terlalu ingin tahu aku dari mana. Terserah aku mau kemana itu urusan aku bukan urusan Kakak. Kakak bukan siapa-siapa aku. Maksud aku, Kakak bukan pacar atau suami aku loh. Tidak berhak menginterogasi aku ini itu. Jaga batasan bisa! di sini aku mengajak Kakak liburan untuk bersenang-senang tanpa mencampuri urusan masing-masing." Setelah itu Amora masuk ke dalam kamarnya.
Keman mematung di ruang tamu. Pandangan matanya mengarah ke Amora yang sudah masuk ke dalam kamarnya.
"Apa salah aku khawatir sama kamu... Amora." Lirih Kenan
"Aku takut kamu kenapa-napa di luar sana. Kamu pendatang baru di sini." Imbuhnya
Sementara Amora duduk di ranjang lalu menghembuskan nafasnya. Mencerna setia pertanyaan yang Kenan tanyakan untuknya. Sialan! Amora tidak suka jika Kenan banyak tanya apa lagi banyak tahu. Harusnya aku ajak Javier bukan Kenan. Kenan dan Renata itu sama saja tidak bedanya. Sama-sama suka ingin tahu tentang aku mau melakukan apa.
Amora mengingat kejadian tadi bersama sang suami. Mereka memadu kasih di sebuah gubuk. Momen langka melakukan di tempat cukup terbuka. Andai hubungan mereka begitu dekat dan saling mencintai. Tidak masalah berhubungan badan di mana saja tanpa gengsi. Mengingat betapa liarnya sang suami tadi saat menggauli tubuhnya. Diam-diam dirinya juga merekam pergulatan mereka. Untuk kenangan atau untuk keuntungan.
"Ingat Amora...jangan sampai Kenan tahu tentang kamu dan Daniel. Orang itu berbahaya untuk kamu. Dia bisa menjadi boomerang di hubungan kamu dan Daniel. Dia menginginkan adiknya bahagia bersama Daniel. Bahkan dia tidak akan membiarkan Renata tersakiti oleh perempuan yang berani mendekati calon suaminya. Kenan atau Renata bisa menjadi orang-orang sadis yang suka balas dendam. Lebih baik kamu mengalah jangan banyak omong sampai kedua orang itu curiga sama kamu." Gumamnya
Setalah berlibur selama 2 hari mereka akan pulang ke Jakarta besok siang. Renata belum tahu jika Amora berlibur ke tempat yang sama dengannya.
Bicarakan saja Renata tidak tahu.
Amora kembali memadu kasih tadi malam bersama sang suami di kamar Daniel. Sebelum itu Amora sudah memberikan obat tidur untuk Renata. Kelicikan yang tidak bisa ditandingi siapapun. Seperti sekarang iya baru saja mandi lalu sarapan setelah itu membereskan barang-barang. Amora keluar dari bila untuk jalan-jalan pagi seperti biasa.
"Amora kamu di sini."
Deg
Renata. Dia di belakang aku sekarang.
"Amora." Panggilnya sekali lagi
"Iya."
__ADS_1
Renata seketika memeluknya erat bahkan menumpahkan air matanya. "Kenapa aku baru tahu kamu di sini? harusnya kamu mengabari aku Amora. Kamu tahu aku khawatir sama kamu, kata James kamu tiba-tiba menghilang kembali." Serunya
Oh jadi...mereka satu circle saling mengabari satu sama lain. Baru tahu jika James di balik Renata suka memberitahu informasi dirinya ke Renata.
"Aku tidak tahu. Aku ingin berlibur saja mengajak kak Kenan juga."
"Amora kamu sudah memaafkan aku." Amora mengangguk
Renata berjingkrak begitu senang. Pelukan mereka terlepas lalu Renata menatap senang ke arahnya.
"Kita bersahabat lagi mau." Lagi-lagi Amora kembali mengangguk.
"Aku senang banget bisa bersahabat sama kamu. Aku kehilangan kamu Amora. Kamu tahu, aku merasa bersalah sama kamu. Aku jahat sama kamu sudah menuduh yang tidak-tidak tentang kamu."
"Jangan di ulangi lagi ya. Aku punya hati yang lemah. Akhir-akhir ini aku mudah tersinggung."
"Maaf ya sekali lagi. Aku tidak akan menyinggung atau menuduh kamu lagi. Aku berdosa menuduh sahabat dekat seperti kamu. Kamu tahu...aku hampa tanpa kamu Amora. Setiap saat aku bersaka kamu, jalan-jalan sama kamu, ghibah sama kamu tapi akhir-akhir tidak. Bahkan aku iri melihat kedekatan kamu dan Sania. Untung kamu mau memaafkan aku yang jahat sama kamu."
"Yang lalu biarlah berlalu jangan kamu ingat lagi."
Mereka kembali berpelukan tanl sadar ada yang melihat.
Betapa baiknya kamu Renata. Sudah dibohongi dan dikhianati kamu masih tetap baik hati. Andai kamu tahu yang sebenarnya? siapa dia, kenapa dia tahu Renata dikhianati? hanya Tuhan dan takdir yang tahu siapa dia.
Renata mengajak Amora main ke vila yang iya sewa bersama Daniel. Renata memberitahu Amora jika iya memang sedang berlibur bersama Daniel. Menceritakan Daniel yang perhatian bahkan memberikan kejutan spesial untuknya. Kejutan spesial dari Daniel tidak sebanding dengan kejutan memadu kasih di tempat cukup terbuka, batin Amora.
Pintu terbuka lalu masuklah mereka berdua. "Sayang. Lihat siapa yang datang." Daniel tidak kaget lagi melihat ada Amora bersama Renata.
"Amora." Amora mengangguk lalu tersenyum sopan. Jaga image lagi Amora di depan Renata.
"Mengambil cuti liburan lagi." Sindirnya
"Maaf bos, sebenarnya saya..." ucapannya terpotong saat mendengar suara Kenan memanggil namanya. Mereka menoleh ke asal suara lalu datanglah Kenan.
"Kak Kenan. Kamu di sini juga." Kenan mengangguk
"Iya aku di ajak liburan sama sahabat baik kamu. Baik banget sampai aku tidak menduga dia mengajak aku liburan." Mata Kenan mengarah ke Amora lalu Daniel secara bergantian tanpa dilihat oleh Renata.
Betul apa katanya jika Kenan sudah mulai curiga tentang dirinya dan juga sang suami. Lihat kenapa menatap dirinya dan sang suami penuh intimidasi. Tidak aneh tapi risih. Amora menetralkan wajahnya lalu mengajak mereka main game di PS yang tersedia di vila ini.
"Kalian berdua aneh membuat saya curiga." Bisiknya ke Amora dan Daniel.
"Heem...jangan curiga nanti menimbulkan kesalahpahaman seperti Renata dan Amora."
"Awas saja jika kamu berkhianat di belakang adik saya. Bukan kamu saja yang akan saya bunuh tapi selingkuhan kamu."
"Jangan mulai Kenan! saya tidak mungkin berselingkuh di belakang Renata. Saya masih waras agar tidak melakukan itu."
__ADS_1
Kenan terkekeh. "Apakah saya harus percaya atau hanya mengiyakan agar rahasia kamu tidak terbongkar." Menyebalkan sekali Kenan ini.
"Terserah apa katamu saya tidak peduli."
***
Amora memasang sabuk pengaman. Siang ini mereka sudah harus kembali ke Jakarta. Tidak ada obrolan antara Amora atau pun Kenan. Jujur saja Kenan meragukan Amora dari kemarin. Tingkahnya berubah-ubah seperti orang yang menyembunyikan sebuah rahasia besar. Gugup dan khawatir terlihat jelas di wajah Amora saat melihat kedekatan Daniel dan Renata.
Kenan tahu Amora mulai tidak nyaman dengannya yang banyak tanya. Bahkan dirinya tidak hubungan apapun dengan Amora tapi pengin tahu apa yang baru Amora lakukan atau Amora habis dari mana.
5 jam kemudian mobil berhenti tepat di depan apartemen lama Amora. Amora berterima kasih lalu pamit langsung. Tubuhnya butuh istirahat setalah itu mobil Kenan melaju meninggalkan sekitar gedung apartemen. Melihat Kenan pergi iya langsung masuk ke dalam mobilnya dan pulang ke apartemen barunya. Memutar arah lagi demi Kenan tidak tahu dirinya tinggal di apartemen berbeda.
Setelah sampai di apartemen barunya yang iya huni tanpa orang tahu kecuali Javier. Iya langsung masuk ke dalam apartemen dan merebahkan tubuhnya di sofa. Memijat lengan, lutut, sekaligus pelipisnya. Pusing, kepala berdenyut selama perjalanan pulang. Sepertinya iya akan demam atau sakit.
"Kamu baru pulang liburan, nak." Daniel mengangguk
"Besok kamu ajak Renata ke rumah ya. Mamah besok mengadakan acara makan malam bersama dengan keluarga besar."
"Iya nanti aku sampaikan ke Renata."
"Nak, minggu lalu Mamah melihat perempuan cantik loh. Cantiknya itu alami terus perempuan itu bantu Mamah menyebrang. Sepertinya perempuan itu tidak asing bagi Mamah. Wajahnya itu loh mirip sama teman kuliah Mamah dulu."
"Mungkin memang kebetulan saja, mah. Aku mau mandi dulu nanti aku ke sini lagi." Mamah mengangguk
"Sebenarnya kenapa kamu belum juga menikah. Kalian sudah lama bertunangan lalu kapan nikahnya. Semua orang sudah menanyakan Mamah, kapan anaknya menikah." Gumamnya
"Jangan melamun Mamah." Seru Alina salah satu adik Daniel baru saja pulang dari Belanda.
"Eh adek...kamu bikin kaget Mamah." Alina nyengir tanpa dosa
"Kak Daniel udah pulang liburan." Mamah mengangguk
"Mah, aku kok rada gak respect sama kak Renata. Waktu aku masih di Belanda terus aku mau menanyakan kabar kak Daniel lewat kak Renata. Eh kak Renata marah-marah sama kau terus jangan hubungi Kaka Renata lagi." Curhat sang anak ke Mamahnya mengenai dirinya agak tidak respect dengan Renata calon Kakak iparnya.
"Positif thinking saja mungkin kak Renata lagi banyak kerjaan."
"Mungkin..." lirihnya.
"Ya udah kamu mandi sana tuh bau asem banget badan kamu."
"Ih Mamah...aku baru selesai mandi tadi." Rengek Renata seperti anak kecil. Mamahnya selalu saja begitu meledek dirinya.
Alina berjalan ke arah dapur.
"Cari tahu ah sebenarnya kak Renata kenapa." Si kecil mulai bertindak ya.
To be continued
__ADS_1