
Daniel memandangi wajah sendu sang istri lalu mengecup keningnya berulang kali. Mereka masih berada di tengah-tengah dapur saling bertatapan satu sama lain. Mengabaikan keberadaan orang-orang di ruang tengah. Amora menundukkan wajahnya saat melihat tatapan suaminya ke arah manik matanya.
"Marah."
"Tidak. Buat apa aku marah sama kamu. Kamu mau mau menikah sama Renata. Itu kemauan kamu bukan aku. Merelakan kamu tidak masalah buat aku. Lepaskan aku...aku juga ingin bahagia. Jujur aku tidak mau kita berpisah tapi, tapi keadaan yang membuat kita harus berpisah. Tidak ada lagi hubungan yang harus kita pertahankan lagi. Kamu tidak mencintai aku. Kamu mencintai Renata, aku capek mencintai kamu sendirian. Aku membutuhkan perhatian, kasih sayang, dan rasa cinta dari laki-laki yang tulus dari aku. Maaf aku pernah menjebak kamu dan membuat perangkap agar kamu masuk ke dalam hidup aku. Lebih baik aku memilih mundur dari sekarang. Aku membebaskan kamu kembali ke pelukan Renata. Aku ikhlas...tidak akan ada dendam kecuali karma dari Tuhan."
Deg
Daniel mengusap lengannya berulang kali. "Rasa cinta kamu buat saya tetap ada." Amora mengangguk
"Kenapa memilih menyerah begitu saja."
"Aku capek...aku capek mencintai kamu sendirian. Terserah kamu mau menikah sama Renata atau gak. Itu hak kamu, aku mohon jangan sakiti Renata dan sayangi anak Renata."
'Aku yakin setelah ini kamu akan baik sama aku lalu memperlakukan aku di atas Renata. Kamu akan simpati sama aku, Daniel. Itu yang aku mau sekarang dari kamu.'
Iya melepaskan cincin pernikahannya dengan sang suami lalu memberikan cincin itu kr suaminya. "Aku gak pantas terus-terusan memakai cincin ini." Ujar Amora dengan senyuman hambar.
Grep
Daniel memeluk erat Amora lalu menumpahkan air matanya.
"Kenapa kamu menyerah begitu saja? kamu marah akhir-akhir ini aku lebih perhatian sama Renata. Kamu kecewa sama aku, kamu tidak terima aku menikah lagi. Kamu kenapa?! dimana Amora yang gigih mempertahankan hubungannya dengan sang suami."
"Aku capek..."
"Lalu bagaimana dengan aku Amora. Aku gimana! tanpa kamu tahu, aku udah cinta sama kamu. Aku gengsi mengungkapkan perasaan aku buat kamu. Aku cinta kamu dan Renata. Aku boleh egois, aku egois juga ada sebab."
Amora memukul da*a bidang suaminya.
"Stop! kita akhiri hubungan ini lalu kamu bahagiakan Renata. Hidup baru kamu ada sama Renata. Aku, aku juga bakal mencari hidup baru berdama laki-laki yang tulus sama aku." Daniel menggeleng tidak mau melepaskan Amora.
Gantian Daniel yang tidak mau melepaskan Amora. Amora sudah membuatnya berubah lebih baik. Kedatangan Amora di hidupnya membuat Daniel merasa nyaman. Walaupun Amora licik tapi Daniel sudah menaruh rasa cinta untuk Amora.
"Kamu udah putus sama Renata terus kamu sama Renata kembali dekat. Kalian bermesraan di depan aku, aku istri kamu jelas aku cemburu. Tidak ada istri yang cemburu melihat suaminya bermesraan dengan perempuan yang bukan istrinya. Itu yang aku rasakan saat ini dan sebelumnya. Aku udah pernah egois bahkan jahat sama kalian berdua. Aku tega membiarkan hubungan kalian rusak. Sebabnya karena aku suka sama kamu dan ingin memiliki kamu. Makanya aku tega mengkhianati Renata bahkan menjadi benalu di hubungan kamu dan Renata. Kamu mau bertanya aku merada bersalaha atau tidak? aku merasa bersalah, rasa bersalah itu hilang ketika aku mendapatkan fakta menyakitkan saat aku tahu semuanya. Suatu saat kamu juga akan tahu fakta itu. Antara marah dan kecewa menjadi satu tapi lebih parah aku." Daniel memicingkan matanya ke arah istrinya.
"Sebuah masa lalu." Amora mengangguk
Tap
__ADS_1
Tap
Tap
Suara langkah seseorang membuat mereka menjaga jarak. Daniel lebih dulu membawa Amora ke kamar mandi di dekat dapur lalu mengunci pintu kamar mandi. Daniel mendekap Amora sambil membisikkan kata-kata romantis berulang kali. Mau membuat Amora takluk lagi, tidak mempan untuk Amora.
"Siapa yang datang ke dapur." Bisiknya ke sang suami
"Aku gak tahu siapa yang ke dapur." Balasnya
"Kamu yakin itu anak dia."
"Iya."
"Lucu banget ya kamu, kak. Putus sama kak Daniel terus hamil sama sepupunya. Memalukan juga karena hamil di luar nikah." Daniel dan Amora saling berpandangan saat mendengar suara Renata bersama Alina, sepupu dekat Daniel. Amora menutup mulutnya...Alina tahu tentang Renata hamil di luar nikah.
"Itu urusan aku bukan urusan kamu."
"Hamil sama sepupu aku dari Surabaya."
Daniel tertegun mendengar fakta itu. Daniel melirik istrinya yang terdiam. Alina tahu semuanya? dari mana Alina tahu semua itu.
"Kamu kaget kan aku tahu tentang kamu. Aku tahu karena aku mencaritahu tentang kehidupan kamu akhir-akhir ini. Aku pernah menguntit kamu pergi ke dokter kandungan beberapa kali. Menggelikan menurut aku, kok mau kak Daniel menikahi kamu lalu menerima anak haram kamu."
"Aku tahu dan paham. Kak, jangan memanfaatkan kak Daniel. Menikah sama kak Daniel lalu hidup kamu dan anak kamu bakal bahagia. Gak! kehidupan kamu dan anak kamu semakin tertekan."
Alina menarik paksa Renata untuk ikut dengannya ke ruang tengah untuk bergabung dengan yang lainnya.
"ADA YANG HARUS AKU BERITAHU KALIAN SEMUA." Seru Alina
Tubuh Renata bergetar hebat bahkan menahan tangisnya. Daniel dan Amora memelih keluar dari kamar mandi lalu bergabung dengan mereka. Daniel masih menggenggam tangan sang istri.
"Mereka suami istri sudah 7 bulan lebih." Alina menunjuk ke arah Daniel dan Amora. Tatapan merdka mengarah ke Daniel dan Amora. Napas Amora tercekat sebentar lalu memejamkan matanya.
"KITA SEMUA SUDAH TAHU." Balas mereka
Mereka sudah tahu tapi tidak marah.
"Sudah berbulan-bulan kita tahu. Kita semua marah karena tindakan kejam Amora tapi kita tahu alasan kenapa Amora melakukan itu. Saya pribadi tidak akan naif, saya akan bertindak seperti itu saat tahu aib orang yang sudah dipercaya menjadi calon istrinya tega berkhianat bahkan membunuh nyawa manusia." Ucap lantang Papah Daniel, sang pemimpin keluarga.
__ADS_1
"Ada kabar mengejutkan lagi. Daniel mau menikahi Renata, kita awalnya sudah menduga ini akan terjadi. Mereka saling mencintai dari lama. Renata berubah drastis seperti bukan Renata yang lemah lembut. Kita akan pikirkan mereka akan tetap menikah atau tidak."
Renata seketika gelagapan. "Aku tidak pernah berubah. Aku sakit hati, aku yang menjadi korban dari kesalahan mereka berdua." Mamah Daniel tetap diam saja belum mau membuka suaranya.
"Aku dikhianati sahabat sekaligus calon suami aku. Mereka menjalin hubungan haram di belakang aku. Aku begitu baik dan sabar menghadapi mereka berdua. Mereka tetap tega mengkhianati aku, apa aku salah." Lirihnya
"AMORA YANG SALAH BUKAN AKU! AKU KORBAN DARI KELICIKAN AMORA. AKU TIDAK TAHU SAHABAT AKU BERKHIANAT DI BELAKANG AKU. AMORA MENIKUNG AKU BAHKAN MENJEBAK DANIEL. SAMPAI AKHIRNYA DANIEL MENIKAHI AMORA. AKU SAKIT HATI! SELAMA INI AKU YANG BERJUANG MENDAPATKAN DANIEL TAPI AMORA YANG BERHASIL DI NIKAHI DANIEL. AWALNYA AKU MENGIKHLASKAN HUBUNGAN AKU DAN DANIEL YANG BERAKHIR. HARI-HARI BERLALU AKU IRI DENGAN MEREKA BAHKAN BERNIAT DEKAT SAMA DANIEL LALU MENERIMA AJAKAN DANIEL KE JENJANG PERNIKAHAN. KALIAN SEHARUSNYA MENYALAHKAN AMORA BUKAN AKU." Marah Renata
"James tahu semuanya...bukan cuman aku saja yang tahu cerita dari awal. Ada James, Javier juga tahu. Mereka saksi kelicikan Amora selama ini di belakang aku. Aku terlalu bodoh percaya sama Amora atau Daniel. Aku pikir mereka baik tapi hiks mereka jahat. Sampai dimana aku mendapatkan ujian besar yang merenggut harga diri aku. Aku di jebak sama orang yang mengirim chat sama aku. Aku dijebak, dilecehkan, bahkan diperkosa sama laki-laki asing. Laki-laki asing itu tega menghamili aku. Aku hamil anak laki-laki brengsek itu! Daniel tahu bahkan mau menerima anak aku. Anak haram yang baru saja Alina sebut tadi. Anak aku bukan anak haram, walaupun anak aku hadir karena musibah." Aira matanya terus keluar dari pelupuk matanya
Mamah Daniel memeluk Renata yang histeris. "Mau menyalahkan aku apa lagi. Aku korban bukan tersangka! jika mau menyalahkan ya ke Amora bukan ke aku." Daniel melepaskan genggamannya di tangan Amora lalu mendekati Renata dan memeluk Renata erat. Renata menumpahkan air matanya di pelukan Daniel, pujaan hatinya.
Hati mereka teriris mendengar cerita Renata tentang dirinya yang dikhianati oleh Amora dan Daniel. Sementara Amora berjalan mundur ke arah pintu keluar.
"Maaf..."
Daniel mendongakkan kepalanya lalu menggeleng. Satu tetesan Amora meluncur bebas. Daniel ingin memwlum Amora sekarang juga. Amora sedang dipojokkan di sini. Semua orang yang tadinya care dan menarik Amora jadi menyalahkan Amora setelah mendengar cerita dari Renata.
"Kak jangan pergi aku mohon." Pinta Alina
"Aku gak pantas di keluarga ini." Amora berlari meninggalkan rumah ini. Menumpahkan air matanya, iya kalah telak malam ini. Iya kalah bukan menang. Iya kalah karena Renata. Semua aibnya terbongkar karena Renata.
Skip
Tengah malam hujan deras Amora masih berjalan di pinggir jalan. Berjalan tanpa arah dan tujuan. Di lain tempat Daniel khawatir dengan keadaan istrinya. Mau meemui Amora tidak bisa karena Renata malah menginap di rumah ini. Daniel menjambak rambutnya beberapa kali lalu mengecek handphonenya tidak ada notifikasi atau telepon dari sang istri. Di tengah malam hujan deras bahkan iya baru mendapatkan kabar terjadi musibah di jalan yang sering Amora lewati ketika pulang ke apartemen. Jalanan macet karena pohon besar tumbang.
"Aku bingung mau kemana."
Tin Tin Tin
"Masuk."
"Kamu,"
"Kita bahas di dalam mobil." Amora masuk ke mobil James.
"Bodoh! kamu itu seperti orang hidup sendirian. Masih ada saya dan dia yang akan membantu kamu. Tenang saja saya atau dia tidak akan meminta imbalan apapun sama kamu. Kita real membantu kamu tanpa pamrih. Lihat tadi di rumah ini, Renata menang melawan kamu. Kamu sudah kalah telak bahkan hanya mengucapkan kata maaf saya lalu berlari meninggalkan rumah ini."
"Aku pusing jangan memarahi aku dulu."
__ADS_1
James berdecak lalu membaawa Amora ke rumahnya.
To be continued