
Amora mendatangi Renata di tempat kerjanya. Renata senang akhirnya persahabatannya bersama Amora kembali membaik. Bahkan Amora hari ini meluangkan waktu untuk Renata. Datang ke tempat kerjanya seperti sekarang.
"Mau ketemu aku, kenapa ya."
"Sebenarnya aku mau ajak kamu berlibur."
"Sayang sekali Amora aku sibuk. Mungkin lain waktu sehabis kontrak aku habis bulan depan."
"Kamu mau ajak liburan aku kemana?" tanyanya.
"Bali." Mata Renata berbinar
Sudah lama iya tidak liburan ke Bali bersama Amora. Dirinya tidak ada waktu liburan. Pekerjaannya bakal terbengkalai sama saja iya tidak profesional.
Amora mendengus. "Aku tunggu kamu ada waktu renggang." Putusnya
"Okay kalau gitu..." lirihnya. Sebenarnya ingin mengiyakan ajakan Amora. Kapan lagi ada kesempatan ajakan berlibur dari Amora.
Setelah pulang dari tempat kerja Renata. Amora memilih menemui seseorang di cafe dekat apartemen suaminya. Ada sesuatu yang harus mereka bahas bersama. Hanya pembahasan random berujung sebuah misi.
"Apa mau kamu?"
"Tidak mau apa-apa." Jawabnya
"Jangan bohong...lama mengenal kamu, aku jadi tahu siapa kamu sebenarnya Amora. Apa yang sedang kamu rencanakan sekarang."
"Tidak ada yang aku rencanakan sama sekali."
"Masih ada niatan menghancurkan hubungan Daniel dan Renata."
"Itu pengecualian. Kamu tahu sendiri tabiat aku bagaimana. Kamu katanya mengenal aku dengan baik tapi tidak paham dengan keinginan aku."
"Sama saja tidak ada bedanya. Aku tanya tadi kamu gak jawab malah mengalihkan pembahasan lain tapi maknanya sama." Sang lawan bicara memutar bola matanya malas.
"Aku bisa membantu kamu menyingkirkan Renata."
"Apa"
Dia membisikkan sesuatu ke Amora lalu Amora tersenyum licik setelah itu mengangguk. Rencana bagus yang harus iya lakukan untuk menjebak Renata.
Siang ini Amora memang janjian bertemu seseorang. Seseorang yang rahasia untuknya. Dia yang akan membantu Amora membuat hubungan Daniel dan Renata putus. Dia yang menawarkan diri ke Amora. Amora dengan senang hati menerima tawaran cuma-cuma dari dia. Tidak salah bukan? yang salah ketika iya melakukan itu semua tanpa berpikir terlebih dahulu.
Amora menggigit bibirnya. "Ini tempat yang bagus bukan...untuk menjebak Renata. Kamu ikut andil datang ke sana bersama aku." Ucap Amora dengan seringai liciknya.
__ADS_1
Maaf Renata, misi aku harus berhasil. Aku tidak mau mengalah lagi dari kamu. Cukup aku membebaskan kamu begitu saja. Setelah itu, kamu akan merasakan apa yang aku rasakan. Jalan satu-satunya memisahkan kamu dari suami aku ya ini. Tidak ada rencana lain lagi kecuali yang ini. Dia yang memberikan rencana untuk menjebak kamu. Tunggu tanggal mainnya tiba, Renata Pandu.
"Ini buat kamu. Ini kartu kredit buat kamu, hadiah dari aku." Amora menggeleng
"Aku udah punya banyak dari suami aku. Kamu simpan lalu kamu berikan untuk calon istri kamu."
Dia terkekeh. "Nyatanya aku belum mau menikah. Mau nunggu kamu janda itu tidak mungkin. Kamu saja.tidak mau menjadi janda. Kamu tahu...aku kaget saat kamu mengaku yang sebenarnya tentang hubungan kamu dengan Daniel. Tidak menyangka kamu berani menikung sahabat sendiri. Banyak orang tahu kamu dan Renata sahabat baik. Good job untuk kamu, baby girl's." Mereka berdua tertawa
Siapa yang bisa melawan dirinya. Daniel saja takut dengannya karena iya punya bukti kuat tentang perselingkuhan mereka. Oh bukan perselingkuhan tapi tentang aib mereka. Sebuah rekaman video syur mereka berdua. Daniel bahkan menyembunyikan video itu dengan baik. Jangan sampai Renata, keluarganya tahu tentang video itu. Malu! harga dirinya akan rusak karena kecerobohannya.
"Kapan-kapan aku ajak kamu makan malam. Kamu harus mau," Amora mengangguk.
"Urusan gratisan aku terdepan. Jangan khawatir..." kekehnya.
"Kalau begitu aku pamit duluan. Lihat dia sudah menelepon aku sadari tadi." Dia memperlihatkan panggilan masuk dari nomor laki-laki yang sangat Amora kenali.
***
Amora membuka pintu apartemen lalu rebahan. Iya lupa seharusnya iya datang ke kantor suaminya. Memberikan surat pengunduran diri, iya sudah bertekad mundur dari pekerjaan sebagai sekertaris kedua direktur. Menjadi pengangguran tapi tetap dapat uang bulanan.
Hari berlalu berganti bulan. Hubungan Amora dan Daniel tetap baik-baik saja. Simbiosis mutualisme di antara mereka berdua. Daniel menginginkan kepuasan darinya lalu Amora menginginkan harta sekaligus perhatian dari Daniel. Daniel juga sudah menyetujui pengunduran diri Amora bulan lalu.
Sebentar lagi misi itu akan terjadi di bulan ini. Bersiaplah Renata...sebuah kejutan indah untuk kamu.
Amora menelepon seseorang yang bekerja sama untuk menjebak Renata.
"Temui aku nanti di tempat biasa."
"Aku tunggu kehadiran kamu, Amora."
Telepon terputus lalu Amora meletakkan handphonenya ke dalam tas. Sebelum menjalankan misi Ita mandi dulu lalu datang ke tempat biasa iya bertemu seseorang itu. Cafs dekat apartemen ini.
Sementara Renata sedang berkunjung ke kantor Daniel.
"Sayang, kenapa aku merasa tidak enak ya. Seperti akan terjadi sesuatu sama aku."
"Itu hanya perasaan kamu saja." Balas Daniel
"Resah banget tahu...sejak pagi kepikiran gitu. Kamu kok gak mau nenangin aku."
Daniel membawa tubuh Renata ke pangkuannya. "Jangan khawatir kamu baik-baik saja. Siapa yang akan tega berbuat jahat sama kamu. Tidak ada, perasaan itu hanya sesaat nanti juga hilang." Jelas Daniel
"Jika perasaan yang aku rasakan benar-benar kejadian."
__ADS_1
"Perasaan apa dulu yang kejadian."
"Entah...aku merasa tidak enak dalam diri aku. Bukan berarti aku sakit, seperti akan terjadi musibah untuk aku." Dari pagi Renata memang sudah resah gelisah bahkan tidak fokus bekerja. Niatnya mau istirahat pulang ke rumah tapi iya sudah janji ke Daniel akan mampir ke kantornya.
Daniel mengecup kedua pipinya.
"Jangan khawatir ada aku di sini bersama kamu." Daniel kembali mengecup pipinya bahkan berulang kali.
Semoga tidak terjadi apa-apa sama aku, Tuhan. Aku takut...aku tidak tenang hari ini entah akan ada apa. Musibah? amit-amit semoga itu tidak terjadi.
Tok Tok Tok
"Masuk."
Sania masuk ke dalam lalu melirik tajam ke arah Renata. Tidak tahu malu duduk di pangkuan bos Daniel di saat dirinya masuk ke dalam. Terserah dia tapi tidak etis di lihat.
"Ini bos beberapa laporan yang bos minta kemarin. Ini laporan penting yang harus bos tanda tangani hari ini juga." Sania memberikan beberapa laporan penting ke bosnya. Renata tanpa inisiatif berdiri atau menjauh dari pangkuan Daniel eh malah santai saja dan menganggap tidak ada Sania di sini.
"Ini semua kamu yang mengerjakan."
"Iya, bos."
"Bagus. Saya kasih bonus buat kamu. Makasih sudah membantu saya membuat laporan penting ini." Sania mengangguk lalu pamit keluar.
Renata mencubit pinggang calon suaminya. "Jangan berterima kasih dengan dia. Kamu tadi lihat dia senyum-senyum seperti orang gila." Kesalnya
"Gak boleh gitu...dia orangnya baik loh aslinya." Tegur Daniel
Tring
Handphone Renata berbunyi lalu Renata membuka room chat. Ada nomor tidak dikenal mengirimkan chat untuknya.
0856xxxxxc
Sebuah kejutan untuk kamu Renata. Ada kejutan indah yang akan saya berikan untu kamu. Salah satu penggemar kamu, sudah lama mengagumi kamu. Ayok bertemu di alamat ini xxx.
0856xxxxxc
Datang sendirian jangan membawa orang terdekat kamu.
Seperti itu lah isi chat dari nomor tidak iya kenal.
Siapa dia? kenapa mengajaknya bertemu? penggemar yang mana? pertanyaan muncul di otaknya.
__ADS_1
To be continued