BOSSKU CANDUKU

BOSSKU CANDUKU
Terpuruk


__ADS_3

"Awsss," ringisnya saat perutnya kram. Renata bangkit dari ranjang lalu berjalan ke arah laci dekat lemari untuk mengambil obat penguat kandungan. Sudah bebera6 hari iya tidak meminum obat itu. Sering aktivitas membuatnya sering kram perut. Renata mengelus perutnya sambil bergumam agar anaknya di dalam perut tidak rewel. Renata memang sudah menyayangi anaknya. Iya tidak akan menggugurkan anaknya. Tega jika iya tetap melakukan itu karena bisa kena dosa besar.


"Kamu tahu dek, Mamah sayang kamu. Mamah akan bodoamat jika semua orang menghina kamu di kemudian hari. Kamu harta berharga Mamah, Mamah sayang banget sama kamu. Mamah tidak akan menyakiti kamu lagi. Kita akan bahagia dek, kita akan mendapatkan apa yang menjadi milik kita." Ucapnya


Renata menatap pantulannya di cermin lalu melihat perutnya sudah mulai membuncit. Kandungan Renata sudah memasuki bulan ketiga. Sudah mulai terlihat jelas benjolan di perutnya. Tubuh Renata sudah mulai mengembang alias berisi. Belum ada yang tahu dirinya hamil dari pihak keluarga. Renata masih belum siap jujur dengan mereka. Iya hamil, betapa malunya mereka saat tahu iya hamil di luar nikah.


Minggu lalu iya bertemu Mamahnya Daniel. Malu melihat Mamahnya Daniel judge berat badannya yang meningkat. Sebenarnya tidak judge hanya berkata biasa saja. Iya malah tersinggung maklumi Ibu hamil. Mamah Daniel menanyakan kabar keluarganya lalu bertanya kapan siap menikah dengan Daniel. Berarti Daniel belum mengatakan ke orang tuanya sekaligus keluarganya bahwa hubungan mereka sudah putus. Renata hanya menggeleng saja waktu iya karena bingung mau jawab apa.


"Ini semua karena Amora. Andai Amora tidak menghancurkan hubungan aku dan Daniel. Hidup aku tidak begini dan menderita. Aku tidak menyalahkan kehadiran anak aku. Aku hanya menyalahkan Amora karena perbuatan kejamnya. Tidak tahu sifat asli aku di masa lalu tanpa aku beritahu dia. Benar kata laki-laki brengsek itu! aku memang mempunyai sebuah rahasia besar di belakang Daniel dan kamu Amora. Rahasia itu yang akan membuat kamu sedih Amora."


"Kamu tahu bagaimana ya...hancur itu lah. Aku tergoda saat itu makanya aku melakukan itu semua. Bukan hanya laki-laki brengsek itu yang tahu tapi kak Kenan juga tahu. Aku sengaja meminta kak Kenan agar tidak pernah membahas rahasia itu. Aku juga menyimpan sebuah fakta kematian orang tua kamu Amora. Kenapa mereka mengalami kematian mendadak? aku tahu itu. Apa aku menyesal? yah aku menyesal tapi untuk sekarang tidak. Karena kamu berhasil membuat hidup aku hancur dan aku tidak pernah menyedal lagi melakukan kejahatan di masa lalu. Setimpal mungkin karena aku mendapatkan karma seperti ini. Aku tetap akan membalas dendam sama kamu Amora."


Tok


Tok


Tok


"Renata ini aku Kenan."


Suara Kenan di balik pintu kamarnya.


"Masuk aja kak. Pintunya gak aku kunci kok." Suruhnya


Ceklek


"Ada Amora di lantai bawah mau ketemu kamu." Amora di sini mau apa lagi tuh orang. Belum cukup menghancurkan hidup terus tiba-tiba datang ke sini.


"Mau ngapain Amora ke sini." Kenan menggeleng tidak tahu kenapa Amora datang ke sini. Mungkin mau ajak adiknya jalan-jalan atau ghibah. Tabiat mereka memang begitu ketika bertemu.


"Ya udah yuk temui dia." Mereka keluar kamar lalu berjalan ke arah lantai bawah atau lantai satu untuk menemui tamu tidak di undang tiba-tiba datang ke rumah mereka.


Renata melihat Amora sedang mengobrol bersama kedua orang tuanya. Senyumnya yang membuat iya makin tidak suka.


"Kenapa ke sini?" tanyanya to the point.


"Kamu gak sopan banget, dek. Amora ke sini mau ajak kamu jalan-jalan. Mamah gak mau ya kamu begitu lagi sama Amora. Kalian itu saudari," Renata terkekeh.

__ADS_1


"Gak punya saudari kecuali saudara." Balasnya sengit bahkan tatapannya menajam ke arah Amora. Jangan sampai kamu mengambil perhatian dan kasih sayang orang tua aku. Awas saja jika itu terjadi! akan ku buat kamu hancur bahkan melebihi saat aku berhasil menyakiti kamu di apartemen Daniel.


"Aku mau jalan sama Daniel nanti siang."


Amora meremas jarinya saat mendengar ucapan Renata. Suaminya baru saja ke kantor mana mungkin meladeni Renata meminta jalan. Iya ajak saja tidak mau karena kerjaannya menumpuk. Iya yakin suaminya menolak ajakam Renata.


"Jangan berkata seperti itu, dek." Tegur Kenan


"Kamu ada masalah sama Amora."


"Iya." Singkatnya


"Jangan berlarut perang dingin seperti ini. Ingat kalian sudah bertahun-tahun bersahabat dan kalian mau persahabatan kalian merenggang lagi."


'Persahabatan itu sudah tidak ada lagi, kak. Bahkan aku tidak mau lagi berdekatan dengan dia. Dia yang membuat adik kamu berpisah dengan calon suaminya. Perempuan yang kamu cintai tega menikung aku. Perempuan itu tidak baik dia terlalu murahan. Dia tidak pantas untuk kamu, kak.'


"Kalau kamu gak mau jalan-jalan sama aku gak papa kok. Aku mohon jangan blokir sosial media aku. Aku memang membuat salah sama kamu. Aku minta maaf Renata, hanya kamu yang aku punya. Kamu tahu aku tidak diinginkan keluarga aku." Renata terkekeh


Renata mengangkat dagunya. "Bagus itu...memang seharusnya mereka begitu sama kamu." Sewot Renata


"Wa'alaikumsalam amora." Balas mereka


Amora keluar dari rumah mereka lalu menaiki taksi yang masih menunggunya. Tadinya ke sini mau memberikan sebuah video syur Renata bersama laki-laki itu untuk menjadi bahan ancaman tapi malah kedatangannya di tolak mentah-mentah oleh Renata.


Plak


Mamah menampar anak bungsunya.


"Kenapa kamu berubah?! sejak kapan kamu jadi kurang ajar seperti itu. Mamah tidak pernah mengajarkan kamu menjadi orang yang angkuh." Marah Mamahnya melihat sikap anaknya yang berubah lebih angkuh bahkan cuek ke sahabatnya sendiri.


Renata memegang pipinya yang di tampar Mamahnya untuk membela Amora. Mamah tidak tahu apa yang aku alami karena Amora, batinnya. Renata menahan perih pipinya lalu iya di tarik oleh Kakaknya.


"Jangan kasar sama Renata, mah. Mungkin mereka sedang ada masalah jangan terlalu kasar sama Renata. Renata anak Mamah bukan orang lain. Jangan ada di pihak yang lain."


"Maaf sayang... Mamah ta-di."


"AKU ANAK MAMAH BUKAN ANAK ORANG LAIN. MAMAH TEGA NAMPAR AKU UNTUK MEMBELA WANITA MURAHAN SEPERTI AMORA." Renaya lari ke arah kamarnya.

__ADS_1


"Instrospeksi diri kamu saja." Ucap suaminya lalu pergi meninggalkan istri dan anak sulungnya.


Wanita murahan seperti Amora. Apa maksudnya? Mamahnya dan Kenan saling pandang lalu menggeleng tidak tahu. Mereka tidak tahu permasalahan antara Renata dan Amora.


"Aku akan cari tahu tentang mereka."


***


Plak


Plak


Sret


Daniel terus saja menyiksa tubuh Amora. Daniel baru saja mendapatkan kabar dari Renata tentang Amora yang datang ke rumahnya lalu membuat Mamahnya tega menampar Renata. Renata membuat cerita bohongan seolah Amora salah lalu Renata pura-pura menangis. Sungguh antagonis yang sebenarnya adalah Renata. Dari cover memang begitu baik bahkan lemah lebut tidak tahu aslinya. Sifat dan sikap di masa lalu kembali lagi dalam diri Renata. Sudah playing victim, dulu sangat bermasalah dengan rekan kerjanya atau teman magangnya.


Amora jatuh tersungkur ke lantai.


"Apa salah aku hah?!!"


"Salah kamu apa...salah kamu membuat masalah sama Renata. Buat apa kamu datang ke rumahnya mau mencari perkara apa lagi kamu. Kamu mengatakan Renata bertingkah tidak baik sama kamu lalu kamu memberitahukan itu ke orang tuanya." Amora membulatkan matanya iya tidak pernah mengatakan apapun ke Renata. Tadi iya juga di cuekin oleh Renata.


"Aku gak salah..."


"Mana ada penjahat ngaku begitu saja tanpa di siksa."


Plak


Brug


Daniel menyeret Amora ke kamar mandi lalu membenturkan kepalanya ke pinggir bathub berulang kali. Tidak peduli kesakitan di kepala Amora. Darah terus keluar membasahi wajah cantiknya. Amora menahan sakit luar biasa sambil memegang kepalanya agar tidak terlalu sakit.


"JANGAN MEMBUAT SAYA MAKIN BENCI SAMA KAMU AMORA. KAMU ITU BENALU!!! INI BALASAN DARI SAYA UNTUK KAMU. BERANI BERBUAT JAHAT MAKA KAMU SIAP MENDAPATKAN KARMA."


Dugh


To be continued

__ADS_1


__ADS_2