
"Bagaimana keadaan Renata, dok?"
"Siapa suaminya." Amora menunjuk ke arah Daniel.
"Amora," tegur yang lainnya.
"Saya dok, suami Renata." Maaf aku melakukan itu demi Renata dan anaknya.
"Bisa kita bicara berdua." Daniel mengangguk lalu mengikuti sang dokter masuk ke kamar tamu. Sedangkan yang lainnya memilih menunggu di tuah tengah.
Mereka tidak mau membuka suara. Di antara mereka saling diam, masih syok melihat keadaan Renata yang lemah. Semakin membuat Amora yakin berpisah dengan sang suami. Merelakan untuk Renata dan anaknya. Iya tidak akan mengganggu hubungan mereka lagi. Daniel harus bahagia bersama Renata.
Di sini yang benalu adalah didinya bukan Renata. Kesalahan terhadap karena dirinya, iya harus bertanggung jawab. Bertanggung jawab membuat mereka kembali bersatu lalu iya pergi.
Menunggu 30 menit berlalu akhirnya Daniel keluar dari kamar tamu bersama sang dokter. Dokter perempuan itu pamit pulang lalu diantarkan Diandra ke teras. Dini hari mereka memanggil dokter kandungan. Kejadian ini siapa yang tahu kecuali takdir Tuhan.
"Apa yang dokter katakan tadi?"
"Kandungan Renata lemah. Saya di suruh menjaga kondisi Renata lebih baik lagi. Dokter bilang, Ibu hamil tidak boleh banyak pikiran dan stress. Dokter juga memberikan obat penguat kandungan untuk Renata." Jelas Daniel
"Syukurlah Renata tidak terjadi kontraksi hebat."
"Jangan sampai itu terjadi. Anak saya akan kuat di dalam perut Mamahnya."
"Iya."
"Sebaiknya kalian tidur saja ya. Biarkan saya yang menjaga Renata, kalian butuh istirahat."
"Hem, aku pulang ya." Daniel mendelik
"Gak! mulai hari ini kamu tinggal di sini lagi." Tolak sang suami marah ketika mendengar istrinya mau pulang. Ini sudah dini hari, rawan perempuan pulang di jama seperti ini.
Mana tega iya membiarkan istrinya pulang sendirian. "Aku gak mau merepotkan semua orang. Harusnya aku tidak datang ke sini." Amora semakin merasa bersalah
"Jangan merasa bersalah, kak. Apapun yang terjadi bukan salam kamu." Ucap Alina menenangkan Alina yang mulai tidak enak dengan mereka semua terutama dia.
"Renata tidak sadarkan diri karena tidak terima mendengar jawaban suami kamu tadi bukan karena kamu. Sebaiknya kamu istirahat saja, tidur di sini jangan pulang. Gak baik pulang sendirian! Daniel juga tidak mungkin tega membiarkan kamu pulang sendirian."
"Maaf ya,"
"Kamu tidak salah jangan lagi mengucapkan maaf. Selamat malam untuk kalian semua."
Pria itu membawa sang wanitanya ke kamar mereka di lantai 2. Orang tua suakinya juga sudah kembali ke kamar lagi. Semoga Renata dan anaknya tetap baik-baik saja. Jangan membuat Ibu dan anak itu terluka seperti tadi lagi.
Amora sudah mengikhlaskan smeuanya, mengikhlaskan suaminya dan juga balas dendamnya.
__ADS_1
"Kamu pakai ini buat tidur jangan pakai itu." Amora mengangguk lalu mengambil kaos oversize milik sang suami. Iya melepaskan semua pakaiannya di hadapan sang suami. Tidak sengaja tapi iya malas berganti ke kamar mandi.
Daniel meneguk ludahnya kasar melihat tubuh membahana sang istri. Indah itu yang iya lihat saat ini. Iya tidak mungkin menerjang tubuh itu malam ini. Melihat wajah kelelahan Amora iya tidak tega. Iya menyuruh Amora membaringkan tubuhnya di ranjang.
Daniel sudah mengganti pakaiannya lalu bertelanjang da*a. Memeluk tubuh sang istri dari belakang lalu mengucapkan kalimat selamat malam dengan romantis.
'Besok pagi aku harus cepat pergi dari sini lalu meletakkan sesuatu di nakas itu. Aku tidak mau memperkeruh keadaan lagi. Sudah cukup iya mengganggu ketenangan mereka. Kehadirannya membuat mereka terusik karena masalah yang selalu datang lalu membawa-bawa mereka semua, terutama sang suami.'
Untung iya sudah pesan tiket pesawat jauh-jauh hari. Memilih meninggalkan negara ini adalah tujuannya. Terniat bukan, iya harus pergi dari tempat yang jauh agar mereka tidak menemukannya. Tidak tahu jika iya dan sang suami jodoh. Suami yang akan sebentar lagi menjadi mantan suami.
"Selamat malam untuk diri aku dan kamu, Daniel. Semoga mimpi indah ya, semoga kamu bahagia ya di masa mendatang tanpa aku." Iya menutup matanya untuk tidur.
Dini hari berlalu, sudah pukul 04.00 pagi. Amora membuka kedua matanya lalu bergegas turun dari ranjang. Dengan pelan menyingkirkan tangan sang suami di pinggangnya. Mengendap-endap mengganti pakaian tadi malam. Mandi terlebih dahulu, mengeluarkan kertas gugatan cerai dan beberapa surat untuk Daniel.
Menonaktifkan handphone serta sosial medianya. Meletakan kedua kertas itu di nakas yang satu sudah di masukan ke amplop berwarna putih.
Setelah dari sini iya pergi ke apartemen mengambil barang-barang yang akan iya bawa lalu pergi ke bandara pukul 05.00 pagi WIB.
Cup
"Maaf, aku ikhlaskan kamu buat Renata dan anaknya. Kalian harus bahagia tanpa ada benalu seperti aku. Aku salah dulu menikung Renata lalu menjebak kamu. Sampai hari ini aku masih merasa bersalah. Semoga kamu bahagia ya, jangan sedih karena kehilangan aku di hidup kamu. Daniel kamu harus mencintai Renata dan anaknya." Bisik wanita yang menjadi istri dari Daniel Mahendra.
Pergi menuju lantai bawah yang masih sepi.
'Makasih sudah baik sama aku selama ini. Aku senang di terima baik sama kalian semua. Entah kita bertemu lagi atau tidak, aku berdoa kita bertemu di saat aku sudah bahagia tidak memikirkan tentang ini semua.'
"Jaga diri kamu ya di sana. Aku janji akan menyelesaikan semuanya, aku tidak akan ikhlas mereka bersatu."
"Gak boleh gitu, kebahagiaan Renata itu Daniel."
"Tidak! kamu salah Amora. Mereka tidak akan pernah bahagia. Kebahagiaan Daniel adalah kamu, intinya kamu harus kembali ketika semuanya sudah berhasil saya selesaikan."
"Jaga diri itu penting jangan gampang percaya sama orang." Amora mengangguk
"Makasih dan maaf ya."
"It's okay. See you Amora Sandra."
Keduanya melambaikan tangan tanda perpisahan.
"Your journey begins with a new day, Amora."
"There will be happiness in your life. Goodbye Indonesia, I am happy that I was born and raised in this country."
"I'm going home but don't know when?"
__ADS_1
"Goodbye my homeland."
Langkahnya cepat menuju ke dalam pesawat. Awal baru untuk hidupnya tanpa orang terdekat dan suami. Suami akan menjadi mantan suami.
Di rumah Daniel mengerjapkan matanya beberapa kali. Menoleh ke samping tidak ada sang istri. Terkejut melihat ada hal aneh di kamarnya, lalu iya menemukan kertas dan satu amplop berisi surat.
Deghhh
Jantungnya berdebar membaca surat di tangannya serta kertas gugatan perceraian.
Iya linglung lalu beranjak dari ranjang. Mengecek ke penjuru kamarnya tidak ada Amora.
Dear suamiku yang akan menjadi mantan suami.
Makasih selama ini sudah mau menerima aku di hidup kamu. Aku udah janji mengatakan ini sama kamu jauh-jauh hari. Akhirnya aku berhasil pergi dari hidup kamu. Aku sudah mengikhlaskan hubungan kita yang tidak akan bertahan lama. Awalanya aku bahagia saat mendapatkan kamu. Menjebak kamu itu yang aku lakukan sama kamu. Kamu menikahi aku dan menjadikan aku prioritas kamu, aku senang Daniel. Tapi...tapi semuanya hampa kembali ketika kamu mengajak Renata balikan. Kalian menjalin hubungan lagi tanpa aku tahu. Aku sakit hati, apa aku tidak boleh bahagia sama kamu? aku tertekan juga selama ini. James orang yang membantu aku selama ini terus memanfaatkan aku agar tetap bertahan sama kamu dan membalas dendam sama Renata.
Tidak untuk sekarang ini. Aku sudah ikhlas jika kamu dan Renata bersatu. Sayangi dan cintai Renata seperti dulu lagi. Jangan ingat atau cari aku dimana. Intinya aku melepaskan kamu untuk Renata. Mulai saat ini hidup bahagia kamu ada sama Renata bukan aku. Lupakan aku ya, maaf aku belum sempurna jadi istri yang baik buat kamu.
Amora Sandra, istri tidak diharapkan.
Daniel meremas surat itu lalu melipatnya ke tong sampah.
"ARGHHSSS AKU TIDAK MAU KEHILANGAN KAMU AMORA. AKU GAK MAU PISAH SAMA KAMU!!" Daniel merobek kertas gugatan cerai itu.
Daniel mengambil baju lalu kunci mobilnya. Iya harus cepat untuk membatalkan kepergian sang istri.
Sudah usai kamu terlambat Daniel.
Grepp
"Good morning, baby."
"Ini semua karena kamu! bentak Daniel.
"Ada apa Daniel? dimana Amora?" tanya sang Mamah.
Mamahnya terkejut melihat sang anak menangis. "Aku hancur hiks mah, istri aku pergi karena dia. Aku kehilangan istri aku! Amora meninggalkan aku mah." Hancur hati dan raganya.
Mamah syok luar biasa.
"Itu tidak mungkin kan, nak."
"Amora pergi dari sini mah lalu meninggalkan surat cerai untuk aku. Aku yakin dia yang membuat Amora pergi dari hidup aku. BENALU!!! AKU UDAH PILIH AMORA BUKAN KAMU." Histeris Daniel
Amora pergi mereka syok bukan main. Mereka langsung menyalahkan Renata kecuali dia. Dia memilih duduk santai menikmati sarapan pagi ini.
__ADS_1
To be continued