
"Kalian sedang apa," suara itu kembali terdengar oleh mereka berdua.
Daniel menyingkirkan tubuh Amora dari tubuhnya lalu menggeleng.
"Tadi Amora pusing terus jatuh ke tubuh saya. Jangan mengira saya dan Amora melakukan iya iya." Jelas Daniel dengan tentangnya.
James memicingkan matanya ke arah mereka berdua lalu mengangguk. James percaya atau tidak yang penting Daniel sudah menjelaskan. Takutnya James salah paham dan menganggap dirinya orang yang tidak setia. Ini semua salah Amora, menyesal sudah memperkerjakan Amora di kantornya.
"Maaf ya bos. Saya tidak sengaja menimpali tubuh bos. Kepala saya pusing banget tadi."
"Istirahat itu penting Amora."
"Kalau begitu saya keluar dulu. Maaf menganggu penglihatan kamu James." James tersenyum
Setelah Amora keluar dari ruangannya. James mendekati Daniel lalu membisikkan sesuatu ke Daniel.
"Jangan sampai kamu terjebak sama dia. Aku lihat dia licik dan suka sama kamu." Bisiknya
Dugaan kamu benar Amora wanita licik yang suka menggoda saya. Bahkan Renata saja tidak tahu siapa sebenarnya Amora itu. Wanita membahayakan yang berani menjajakkan tubuhnya ke laki-laki banyak harta seperti saya. Mulai sekarang saya harus lebih waspada lagi. Jangan sampai saya tergoda sama Amora.
Jam pulang kerja, Amora dan Sania berjalan beriringan menuju lantai bawah. Mereka bercengkerama seperti biasa sambil terbahak.
"Hem, apakah kamu punya kekasih."
"Iya."
"Kekasih kamu single atau sudah punya pasangan."
"Kamu akan tahu sendirilah."
Kok mencurigakan ya kisah cintanya Sania. Apa jangan-jangan Sania seperti dirinya. Lebih suka suami orang eh maksudnya lebih suka milik orang.
Mereka segera masuk ke mobil masing-masing.
Sementara Daniel sudah pulang sejak beberapa menit yang lalu bersama James. Iya langsung disambut kedua orang tuanya serta sepupunya. Mungkin setiap harinya dirinya akan pulang ke rumah bukan ke apartemen. Sesekali akan menginap di apartemennya.
"Mamah senang kamu pulang lagi ke rumah. Tempat kamu pulang rumah bukan lagi apartemen. Kita kumpul bersama lagi." Ucap Mamah
"Iya mah. Aku mandi dulu ya nanti kita berbincang lagi." Pamitnya sebelum ditanya ini itu sama Mamahnya.
Daniel sudah ngacir ke arah kamarnya. Mamah Daniel sudah mencak-mencak tidak karuan tadinya mau bertanya soal Daniel kapan menikahi Renata. Dirinya itu ingin menyaksikan mereka menikah. Masa tunangan terus tidak menikah.
Daniel membuka pintu kamarnya. Betapa terkejutnya melihat seorang gadis cantik sedang meringkuk di ranjang kamarnya.
"Sayang," sapa Renata.
__ADS_1
"Kamu sejak kapan di sini Renata."
"Kamu jangan kaget gitu dong. Aku udah di sini sejak 1 jam yang lalu terus aku bantu Mamah buat kue. Aku lelah makanya istirahat di kamar kamu." Renata di kamarnya sekarang terus mau apa lagi Renata sekarang.
"Oh gitu tapi jangan sampai mereka salah paham kita berdua di dalam kamar. Kamu sebaiknya menemui Mamah. Aku mau mandi dulu nanti aku menyusul kamu ke lantai bawah." Renata mengerucutkan bibirnya ke depan.
"Sayang, kamu aneh tahu gak. Aku merasa akhir-akhir ini kamu aneh. Kamu menyembunyikan apa sama aku. Biasanya aja kamu nggak begini sama aku. Kamu udah mulai bosan ya sama aku."
"Renata apa yang kamu katakan hah! mana mungkin aku bosan sama aku. Aku hanya lelah karena banyak kerjaan di kantor."
"Awas aja kalau kamu membuat aku sedih. Oh iya aku senang deh Amora jadi sekertaris kamu. Amora itu cekatan banget harusnya kamu beruntung ada Amora. Pekerjaan kamu akan cepat selesai jika dibantu Amora atau sekertaris kamu yang satunya." Renata kamu memuji orang yang salah. Betapa bodohnya diri kamu bisa percaya dengan Amora. Jika kamu tahu mungkin kamu tidak mau berteman dengan Amora lagi.
Renata, dia ingin merebut aku dari kamu. Beribu cara yang dia lakukan untuk membuat aku tergoda lalu memutuskan hubungan dengan kamu. Kamu terlalu baik untuk si Amora. Aku tidak tega melihat keluguan kamu ketika bersama Amora.
"Potensi kerjanya memang bagus tapi aku tidak suka dengan tingkahnya. Obrolan dilanjutkan nanti aku mau mandi udah gerah." Daniel berjalan ke arah kamar mandinya.
"Apa kamu tidak menyukai tingkah Amora. Emang kenapa dengan tingkah Amora? tingkahnya baik-baik saja atau karena Amora barbar." Gumamnya
Renata menggelengkan kepalanya. "Kamu harus berpikir positif sama Amora." Lanjutnya
Renata memilih keluar dari kamar tunangannya. Menemui calon mertuanya saja di kantin bawah.
"Sini sayang. Mamah mau ajak kamu membuat kue." Renata mengangguk lalu menghampiri Mamah Daniel di dapur.
"Mau membuat kue apa?"
"Kenapa gak buka toko kue aja mah. "
"Gak lah nanti malah sibuk di toko kue." Mamah Daniel menolak jika dirinya membuat toko kue. Nanti siapa yang akan mengurusi suaminya jika dirinya sibuk bekerja. Waktu dengan keluarganya juga berkurang.
"Mah, aku juga mau mahir membuat kue." Pintanya
"Ayok makanya kamu lihat dan bantu Mamah ya."
Renata kadang iri melihat Amora bisa membuat berbagai kue. Renata tahu Amora itu ingin memiliki toko kue. Jadi pengin ketemu Amora. Mereka sudah jarang bertemu karena Amora sibuk dieinya juga sibuk. Walaupun sudah bertemu tetap saja. Bertemu ramai-ramai bukan berdua saja. Renata membuat kue bersama calon Mamah mertuanya. Dengan cepat iya tahu apa aja bahan-bahan untuk membuat kue. Renata tahu jika tunangannya suka dengan berbagai kue.
Malam harinya keluarga Mahendra berkumpul di ruang tengah. Mereka sedang membahas persiapan pernikahan Daniel dan Renata. Kedua orang yang bersangkutan belum memutuskan kapan mereka menikah tapi mereka sudah mempersiapkan semuanya.
Bunyi handphone membuat mereka menoleh satu sama lain.
"Maaf, saya angkat telepon dulu." Daniel meminta izin mereka mengangkat teleponnya.
"...kamu bisa datang ke sini bos. Aku takut hiks aku bingung harus minta bantuan siapa."
Amora. Yeah yang meneleponnya adalah Amora.
__ADS_1
"Kamu dimana sekarang?" tanya Daniel.
Entah kenapa dirinya merasa khawatir.
"Di apartemen bos. Ada orang tidak dikenal mengikuti aku." Tangisnya pecah
"Saya akan ke sana." Telepon terputus
Daniel kembali ke ruang tengah lalu pamit ke mereka untuk keluar sebentar. Daniel Beralibi ada pekerjaan yang harus iya selesaikan.
Daniel langsung on the way ke apartemen Amora.
Ting Tong
Suara bel berbunyi lalu Amora membuka pintu apartemen. Amora tersenyum samar melihat kedatangan Daniel. Amora berpura-pura menangis lagi seperti di telepon tadi.
"Makasih kamu udah datang. Silahkan masuk ke dal dulu." Daniel masuk ke dalam apartemen. Tidak ada yang mencurigakan sama sekali.
"Kamu tidak apa-apa kenapa kamu mengatakan kamu dalam bahaya."
"Tadi ada orang jahat mengikuti aku lalu beberapa mengetuk pintu apartemen aku terus memencet bel." Bohongnya
"Silahkan minum dulu maaf sudah membuat kamu datang ke sini malam-malam." Amora membuat minuman yang iya campur dengan obat perangsang.
Tanpa curiga Daniel meminum minuman yang Amora buat tadi. Obat perangsang itu belum bereaksi sama sekali. Tubuhnya belum merasa gerah atau panas.
Menunggu beberapa menit untuk Daniel merasakan panas di tubuhnya. Amora keluar dari kamarnya sudah memakai lingerie super seksi bahkan asetnya terlihat jelas. Tiba-tiba Amora berjalan ke arah Daniel dan duduk di pangkuan Daniel. Daniel melotot melihat penampilan Amora saat ini.
Cup
Amora mengecup bibirnya berulang kali lalu memaksa Daniel mengelus aset berharganya. Harga dirinya sudah jatuh dan ulat malunya sudah putus. Tidak peduli tanggapan Daniel yang penting dirinya puas. Malam ini akan menjadi malam yang indah untuk mereka berdua.
Daniel sempat memberontak lalu menyingkirkan tubuh Amora di tubuhnya. Amora memegang aset berharga Daniel lalu membungkam bibir Daniel begitu ganas. Daniel mengerang hebat lalu mereka berdiri dan berjalan ke arah kamar.
"Ini yang aku mau dari kamu sayang. Memanjakan aku ya malam ini. Hanya aku ada aku dan kamu."
"Amora minggir jangan sampai saya berbuat kasar dengan kamu, arggh."
"Lupakan status kamu sebagai tunangan Renata. Mari melakukan hubungan intim bersama aku. Aku akan membuat kamu puas di ranjang." Bisiknya
To be continued
Amora Sandra
__ADS_1
Daniel Mahendra