
“Kamu tahu keluarga Amara?” tanya Imelda pada suaminya.
Pram hanya menggelengkan kepalanya, masih fokus dengan tablet di tangannya.
“Aku heran, bisa-bisanya kamu hanya diam. Randy sudah akan menikah dengan Hana tapi Randy dan kamu biasa saja mengatasi masalah ini.”
“Randy sudah dewasa, biarkan dia selesaikan masalahnya sendiri. Kita hanya bisa mendukung keputusannya, arahanku jelas agar kita segera menemui keluarga Hana,” tutur Pram.
“Tapi mana, Randy belum menyampaikan kapan kita akan menemui Hana.”
“Mungkin dia masih sibuk.”
“Sibuk dengan bocah itu. Bagaimana tidak tergoda kalau disuguhkan dengan gadis muda seperti Amara, Hana yang selalu tertutup sudah pasti kalah dengan gadis itu,” cetus Imelda.
Pram hanya diam, posisinya serba salah. Ada kekhawatiran jika istrinya tahu kalau Amara adalah putri dari mantan yang selama ini selalu mereka ributkan.
Tanpa diketahui oleh suaminya, Imelda menyuruh seseorang untuk mencari tahu keluarga Amara. Ada kekhawatiran pula kalau Randy akhirnya menikahi gadis itu secara resmi, tentu saja dia harus tahu siapa keluarga yang berbesan dengannya.
...***...
“Pak Randy, aku baik-baik saja. Ini hanya lecet dan memar,” ujar Amara.
Randy yang terlihat panik dan bersikap berlebihan karena langsung membawa Amara ke mobilnya dan meninggalkan lokasi acara menuju klinik atau praktek dokter terdekat.
“Lecet atau memar tidak akan membuatmu susah untuk berjalan. Aku harus pastikan kalau kakimu baik-baik saja.”
“Tapi ulah Pak Randy tadi bisa jadi isu tidak baik, mereka pasti menduga yang aneh-aneh tentang kita,” tutur Amara.
“Yang saat ini harus kamu pikirkan adalah kondisi kesehatan kamu bukan omongan orang.”
Sudah cukup lama berkendara, mereka belum menemukan tempat praktek dokter atau klinik. Randy bahkan harus turun dari mobil dan bertanya pada orang agar ditunjukkan di mana klinik terdekat.
“Jauh juga,” ujar Randy yang sudah mematikan mesin mobil lalu melepaskan seat belt yang dikenakan Amara setelah tiba di sebuah klinik.
Pria itu juga membantu istrinya turun dan masuk ke klinik, lagi-lagi dengan membopong di depan. Lecet dan memar di tubuh Amara sudah diobati dan pergelangan kaki yang terkilir dibalut dengan perban elastis.
“Obatnya dihabiskan ya, ada anti nyeri juga antibiotik agar lukanya tidak infeksi. Karena luka yang ini,” tunjuk dokter pada luka di siku lengan kiri Amara. “Cukup dalam dan jangan banyak gerak dan berjalan dulu.”
“Jadi hanya terkilir, bukan cedera serius ya?” tanya Randy memastikan lagi kondisi kaki Amara.
“Iya, tidak perlu khawatir. Selama tidak banyak aktivitas berat untuk beberapa hari ini, tidak ada yang perlu dikhawatirkan.”
Randy kembali menggendong Amara ala bridal, tidak membiarkan gadis itu berjalan.
__ADS_1
“Kamu tidak perlu kembali ke acara, aku sudah kirim pesan kalau kamu aku antar pulang.”
“Padahal acaranya besok akan seru,” keluh Amara sambil cemberut.
“Ck. Seru dari mana kalau kamu sudah mangkir dari acara dan malah ke sungai.”
Sudah mulai malam dan hujan lebat, Randy membawa Amara ke penginapan terdekat. Dia juga harus memastikan kondisi rekan-rekan Amara aman, jadi lebih baik kalau dia menunda kepulangannya.
“Pak Randy, tas aku masih di tenda.”
“Lalu?”
“Baju aku kotor, aku mau ganti,” keluh Amara setelah berada di kamar yang disewa oleh suaminya.
Randy kembali ke mobil untuk mengambil tas berisi perlengkapannya, kembali ke kamar dan mengambilkan baju miliknya yang bisa dipakai oleh Amara.
“Pakai ini saja,” ujar Randy meletakan kaos dan celana pendek di atas ranjang.
Amara berjalan tertatih menuju toilet.
“Mau aku bantu?”
“Maksudnya bantu aku mandi? Pak Randy mulai mesum deh,” cetus Amara lalu mendorong tubuh Randy agar menjauh dari pintu.
“Sepertinya kamu sengaja ya?”
“Sengaja apaan?”
Randy berdecak, bahkan sampai mengusap wajahnya. Amara mengenakan kaos tanpa celana pendek yang diberikan Randy, bahkan dia hanya mengenakan penutup segitiga dan melepaskan penutup berendanya. Sudah terbayang bagaimana penampilan gadis itu.
“Kaos Pak Randy ini longgar banget apalagi celananya, kalau aku pakai melorot,” sahut Amara.
Randy hanya menggelengkan kepalanya, dia pun membersihkan badan dan berganti pakaian lalu menunaikan ibadah maghrib.
“Pak, aku lapar,” rengek Amara.
Setelah makan malam dan meminum obatnya, Amara dibantu Randy mengoles obat pada luka yang tidak bisa dijangkau.
“Aku sudah bilang agar kamu tidak ceroboh, tapi lihat … malah seperti ini.”
“Ini musibah tidak ada dalam rencana hidup aku apalagi dalam rencana kegiatan,” ujar Amara membela diri.
“Tapi ini terjadi karena kamu berbohong dan mangkir dari acara.”
__ADS_1
Setelah berdebat, Randy menghela nafasnya karena kondisi Amara cukup menggoda imannya. Bahkan gadis itu tidak ingin diselimuti khawatir terkena luka di kulitnya. Randy tidak mungkin tidur di lantai karena cuaca dingin dan tidak ada soda di kamar itu.
Amara masih asyik dengan ponselnya, berbeda dengan Randy yang sudah lelah dan mengantuk.
“Menguap terus, kenapa nggak tidur?” tanya Amara tapi wajah dan tangannya masih dengan gadget
“Amara, aku tidur di sini … boleh?”
Amara menoleh, “Maksudnya seranjang dengan aku?”
“Hm.”
“Pak Randy nggak akan macam-macam ‘kan?”
“Aku macam-macam pun sudah halal, apalagi penampilan kamu seperti ini siapa yang tidak tergoda. Sejak tadi aku sudah menahan tapi … geserlah,” titah Randy.
Amara meletakkan guling di tengah ranjang.
“Ini pembatasnya ya, awas aja lewati ini. Aku tendang,” ancam Amara.
“Kaki kamu sedang terbalut begitu, mana bisa menendang. Simpan ponselmu dan tidur!”
Pasangan itu akhirnya terlelap, walaupun lebih dulu Randy yang terbuai mimpi. Karena masih berada di daerah pegunungan, suhu udara cukup dingin. Amara yang tidak memakai pakaian tertutup sempurna dan tidak mau berselimut tentu saja kedinginan tanpa sadar tubuhnya mencari kehangatan dan bergeser mendekati Randy.
Menjelang subuh, Randy terjaga karena tubuhnya terdesak dan hangat. Pria itu mengerjapkan matanya dan terkejut dengan tubuh Amara yang sudah menempel memeluk tubuhnya. Guling sebagai pembatas sudah tergeletak di lantai. Randy menepuk lengan Amara pelan dan membangunkan gadis itu.
“Amara.”
Amara bergeming, Randy semakin merasa tidak nyaman. Pagi hari adalah kondisi rawan dari seorang pria apalagi saat ini tubuh Amara menempel pada tubuhnya dan begitu terasa bagian depan tubuh Amara.
“Amara,” ujar Randy lagi sambil menggoyangkan pelan tubuh yang sedang menempel pada tubuhnya.
“Ehm, bentar lagi. Aku masih ngantuk,” gumam Amara.
“Amara, bangun. Kamu sudah membangunkan yang lain,” lirih Randy.
“Ish, Pak Randy berisik banget sih. Nggak bisa lihat orang senang, please lima menit lagi.”
“Lima menit lagi aku tidak tanggung jawab kalau sesuatu terjadi,” tutur Randy.
Amara membuka matanya dan menyadari kalau dia berada dalam pelukan suaminya.
“Aaaaa,” teriak Amara. “Pak Randy kenapa peluk-peluk aku?”
__ADS_1