
Aku tidak mungkin menikahi Hana juga, walaupun aku memang mencintainya dan kami sudah memiliki mimpi dan rencana berumah tangga. Poligami bukan solusi untuk masalah ini, batin Randy.
Jika Randy kecewa karena Kyai Amir menawarkan solusi poligami, beda lagi dengan Hana yang kecewa karena calon suaminya sudah menikah dengan wanita lain. Walaupun akhirnya mereka akan menikah, sama saja Hana bukan lagi satu-satunya wanita di hati dan hidup Randy.
“Bagaimana Nak Randy?” tanya kyai Amir.
“Maaf, Pak Kyai. Apa harus seperti ini?” Pram akhirnya angkat bicara, sebagai seorang pria rasanya kalau Randy harus memperistri Hana, hanya akan menyakiti kedua wanita itu.
“Pak Pram, saya juga harus melindungi hak dan nama baik putri saya. Hana menerima apapun keputusan saya. Selama nak Randy sanggup menafkahi dan mampu berlaku adil serta ada izin dari istri pertama, tidak ada yang perlu dikhawatirkan.”
Sesaat ruangan tersebut hening, sampai akhirnya Kyai Amir meminta Randy memanggil istrinya.
“Kamu bisa tanya langsung dan kami menjadi saksi jawaban darinya,” usul pria itu.
Randy beranjak dengan berat hati, melihat hal itu Imelda menahan putranya.
“Biar Mami yang panggil Amara.”
Pram sebenarnya khawatir dengan usulan istrinya memanggil Amara, mengingat sang istri tidak terlalu menyukai Amara dan Ibunya. Pria itu malah berprasangka kalau Imelda akan melakukan apapun agar Randy menikah dengan Hana.
“Amara,” panggil Imelda.
Amara yang sedang berdiri menyaksikan para santri beraktivitas dan hilir mudik, menoleh mendengar Ibu mertuanya memanggil.
“Iya, Tante,” jawab Amara yang berjalan mendekat.
“Ikut aku.”
“Maaf, tapi ke mana?”
“Ck, nggak usah sok kaya orang penting sampai menolak ajakan kami. Calon besanku ingin bertemu denganmu.” Imelda menarik tangan Amara agar mendekat. “Dengar, apapun yang ditanyakan oleh calon mertua Randy kamu harus jawab tanpa mempersulit suamimu. Apalagi kalau kamu sampai menolak, aku akan tarik modal yang ada di butik Ibumu dan jatuh miskin lah kalian,” ancam Imelda dengan berbisik.
__ADS_1
Amara menahan geram dengan mengepalkan kedua tangannya sambil meremmas dress yang dia kenakan, tapi dia bisa apa selain hanya diam.
“Tapi, Tante ….”
“Jangan membantah dan ingat pesanku tadi. Ah, jangan pula ancamanku ini sampai diketahui oleh Randy dan suamiku atau Ibumu yang akan merasakan akibatnya.” Imelda kembali mengancam Amara.
“Tidak usah menangis dan jangan pasang wajah memelas apalagi tertekan, ayo,” ajak wanita paruh baya itu sambil memeluk lengan Amara seakan mereka dalam hubungan yang baik.
“Duduklah,” titah Imelda pada Amara dengan lembut dan wajah tersenyum.
Amara yang berada di tengah dua keluarga menundukkan wajahnya lalu duduk tepat di samping Imelda. Randy yang duduk berbeda sofa hanya bisa menatap dan tahu kalau Amara saat ini sedang risau dan takut. Andai dia ada di samping Amara, rasanya ingin memberikan pelukan agar istrinya bisa lebih tenang.
Hana menatap wajah istri dari calon suaminya, entah apa yang ada di benaknya karena tatapan itu cukup lama sampai kedua matanya berembun.
Dia masih sangat muda sekali dan begitu cantik, wajar saja Mas Randy enggan menceraikan wanita itu. Mungkin dia sudah jatuh cinta pada istrinya, batin Hana.
“Siapa namamu Nak?” tanya Ibu Maya.
Ibu Maya tersenyum, “Tidak usah takut, kami hanya akan bertanya. Aku Umi Maya ibu dari Hana dan ini Kyai Amir ayah Hana,” ujar wanita itu mengenalkan dirinya juga sang suami.
Amara mengangguk pelan lalu menatap Ibu Maya
“Nak Amara, kami sudah dengar bagaimana kejadian pernikahanmu dengan Randy.”
Amara menelan salivanya, dia menoleh pada Hana yang duduk tepat di samping ibu Maya. Tatapan mereka bertemu, walaupun bukan tatapan marah dan cemburu tapi tatapan sendu dan sedih baik itu Amara ataupun Hana.
“Kami sudah putuskan kalau rencana pernikahan Randy dan putri kami juga bukan bercandaan dan membatalkannya hanya akan membuat kami sekeluarga malu. Dalam agama kita diperbolehkan seorang pria memiliki lebih dari satu orang istri.”
Amara tiba-tiba merasa sesak mendengar penjelasan tersebut, bisa menduga arah pembicaraan ini. Ibu Maya belum menjelaskan sampai selesai tapi dia sudah bisa menduga muara dari diskusi yang sedang terjadi.
“Selama Nak Randy mampu menafkahi dan berlaku adil, tidak masalah kalau dia juga menikahi Hana. Hana sendiri menyerahkan semua keputusan pada kami dan kami perlu jawabanmu. Silahkan Nak Randy, mintalah izin dari istrimu,” tutur Ibu Maya kepada Randy dan Amara.
__ADS_1
Randy menunduk dia belum berani menatap wajah istrinya apalagi bersuara. Pram tidak bisa menolak keputusan yang memang ada di tangan Randy dan Amara. Namun, jika Amara benar akan dimadu entah bagaimana reaksi dari Mirna.
Amara belum percaya dengan apa yang dia dengar, kalau suaminya akan meminta izin untuk menikahi calon istrinya.
“Pak Randy,” panggil Amara yang sudah menoleh dan menatap suaminya.
Randy pun mengangkat wajahnya, menatap wajah wanita yang akan dia sakiti. Seharusnya dia menuruti permintaan Amara dengan menceraikannya dari pada saat ini mereka sudah terikat dan memiliki perasaan tapi harus ada yang tersakiti.
“Amara … aku ….” Pria itu tidak sanggup meneruskan kalimatnya, sedangkan Amara masih menatap dan menunggu apa yang akan disampaikan oleh suaminya.
“Randy,” tegur Imelda.
Randy pun membuka kembali suaranya dan menanyakan kesediaan Amara untuk mengizinkannya menikahi Hana.
Air mata akhirnya menetes dan membasahi pipi Amara, wanita itu menangis tanpa suara masih bertatapan dengan sang suami. Kalau boleh dia mengutarakan isi hatinya, dia tidak sanggup menyaksikan Randy menikahi wanita lain, dia tidak sanggup membuka mulutnya mengijinkan pria itu untuk mendua. Lebih baik dia menerima ikrar talak dari suaminya dari pada mendengar iqrab ijab qabul yang kembali diucapkan oleh Randy untuk wanita lain.
“Amara,” tegur Imelda sambil mengusap kepala menantunya.
Amara teringat ancaman ibu mertuanya, agar tidak menolak dan mempersulit suaminya. Dia ingin egois dan mementingkan kebahagiaannya tapi wajah sang Bunda terlintas di benaknya. Wajah tersenyum Bunda yang akhir-akhir ini begitu mengkhawatirkannya.
Bunda, maafkan aku. Mungkin ini yang terbaik, aku rela Pak Randy menikah lagi. Aku harap Bunda mengerti akan situasi ini, batin Amara.
“Amara, kami menunggu jawabanmu,” ujar Ibu Maya menyadarkan lamunan Amara.
“A-aku … mengizinkan Pak Randy menikah lagi dan sama sekali tidak keberatan,” ungkap Amara lalu menunduk dan mengusap pipinya yang basah.
Randy tidak percaya Amara akan mengatakan hal itu, perempuan yang dia kenal ceroboh dan sedikit bar bar malah mengizinkannya untuk menikah lagi. Pria itu mendug Amara akan dengan lantang menolak permintaannya.
Bukan hanya Amara yang merasakan sakit, Ibu Maya sebagai seorang perempuan mengerti betul dengan apa yang dirasakan oleh Amara.
“Karena Randy sudah mendapatkan izin dari istrinya, sebaiknya kalian menikah sekarang agar tidak ada keraguan atau hal lain yang bisa membatalkan keputusan ini,” tutur Kyai Amir dan tentu saja mengejutkan semua yang hadir.
__ADS_1