
“Kamu tidak dengar apa yang aku sampaikan?” Randy bertanya lagi, dia berharap Amara akan bersikap lebih baik tidak kalah dengan kedewasaan Hana. Menurutnya Amara seperti tidak percaya diri berhadapan dengan Hana.
“Aku dengar, tentu saja dengar. Di mana kamarku, aku harus menata pakaian dan barang lainnya,” sahut Amara tanpa menatap suaminya.
“Mas Randy belum mengatur kamar untuk kami,” ujar Hana.
“Di mana kamar utama yang biasa lebih luas dibandingkan kamar lainnya?” Amara bertanya sambil menatap sekeliling.
“Di lantai dua,” jawab Hana.
“Ah, kalau begitu aku pakai kamar itu. aku istri pertama Pak Randy tentu saja lebih berhak dengan kamar itu, bukan begitu Pak?” tanya Amara meminta persetujuan.
Belum Randy menjawab tapi Hana sudah bicara.
“Tapi barang-barangku sudah ada di sana, Mami bilang aku boleh pakai kamar itu.”
“Ah, Pak Randy dengar itu? Sesuai janji Pak Randy kalau Mami tidak akan ikut campur di rumah ini, bukankah tadi kamu sendiri yang bilang kalau urusan kamar belum dibagi. Kenapa barang-barang kamu sudah ada di kamar itu. Pindahkan segera, sambil menunggu aku ingin melihat taman,” titah Amara.
Hana seakan meminta persetujuan Randy tapi pria itu tidak bicara, dia setuju apa yang dikatakan oleh Amara. Akhirnya Hana beranjak untuk membereskan barangnya dengan wajah merengut.
Amara duduk di gazebo menatap kolam renang di depannya. Rumah itu cukup luas dan bisa dikatakan sebagai rumah impian untuk pasangan yang baru menikah tapi bagi Amara tidak terasa menyenangkan karena dia harus berbagi bersama Hana.
“Amara.”
Ternyata Randy menyusul dan ikut duduk di samping istrinya.
“Bagaimana, kamu suka dengan rumah ini?” Randy memeluk pinggang istrinya.
“Suka, tentu saja aku suka. Yang aku tidak suka adalah takdir kalau suamiku menikah lagi,” sahut Amara.
“Amara, kamu tahu sendiri kondisi saat itu bagaimana. Bukan inginku, lagi pula kamu sudah memberi izin.” Randy kembali mengingatkan Amara kalau kondisi ini bukan murni kesalahannya.
“Aku memang mengizinkan Pak Randy tapi bukan berarti aku menyukai keputusan itu. Aku pegang janji Pak Randy untuk segera mendaftarkan pernikahan kita dan jangan biarkan Mami ikut campur di sini apalagi selalu memenangkan Hana. Ketika aku dirugikan oleh hal-hal tadi, bersiaplah kalau aku akan pergi dari Pak Randy. Menjadi janda rasanya tidak mengapa dari pada harus tersiksa di tekan oleh madu dan mertua,” tutur Amara mengeluarkan isi hatinya.
“Tenang saja, aku berusaha untuk selalu berlaku adil. Aku lihat kamu mulai berani dan mengeluarkan taringmu.”
Amara menoleh menatap suaminya.
“Di sini aku sendiri, tidak ada yang membela dan mendukung seperti Hana yang selalu didukung oleh Mami jadi aku harus bantu diriku sendiri. Kalau aku lemah, sudah pasti aku akan terinjak dan Pak Randy bisa apa untuk membelaku kalau yang bicara adalah Mami dan wanita yang Pak Randy cintai sejak dulu,” tutur Amara.
Sedangkan di ruangan lain, tepatnya di kamar utama yang akan ditempati oleh Amara.Hana merapikan kembali barangnya untuk dipindahkan dibantu oleh asisten rumah tangga.
“Kenapa dipindah Bu?”
__ADS_1
“Kamar ini milik Amara, aku pakai yang satunya,” jawab Hana.
“Ibu Amara terlihat masih sangat muda, pantas saja sampai dinikahi jadi istri muda.”
“Salah Bik, Pak Randy menikah dengan Amara baru setelah itu menikah dengan saya,” jelas Hana.
“Oalah, jadi Ibu Amara itu istri tua dan Bu Hana istri muda. Keliru saya,” ujar si Bibik.
Hana hanya bisa menghela nafasnya. Saat sedang sibuk memindahkan seluruh pakaiannya, ponsel Hana bergetar ternyata pesan masuk dari Umi Maya. Saat asyik berbalas pesan dengan Uminya, tiba-tiba ada panggilan masuk dari nomor baru.
Wanita itu ragu untuk menjawab tapi khawatir panggilan penting.
“Assalamu’alaikum,” sapa Hana.
Hening, tidak ada jawaban.
“Halo,” ujar Hana.
Masih hening.”
“Kenapa tidak ada suaranya.”
“Hana, jangan tutup teleponnya,” ujar seseorang di ujung telepon.
“Kita harus bertemu, aku akan kirimkan alamatnya. Jangan menolak atau aku akan sampaikan pada suaminya bagaimana malam itu aku menyentuhmu.”
Brak!
Ponsel yang menempel di telinga Hana terlepas setelah tahu yang menghubungi adalah Akbar. Apalagi pria itu kembali mengancam Hana.
“Halo, Hana. jangan macam-macam denganku,” ujar suara itu di ujung telepon.
Hana dengan tangan gemetar kembali mengambil ponselnya.
“Jangan ganggu aku,” ujar Hana dengan terbata.
“Aku tidak ada niat mengganggu. Tunggu saja, ketika aku sudah berada di Jakarta kita harus bertemu.”
“Tidak, jangan pernah menggangguku lagi.”
“Siapa yang mengganggumu?”
Hana menoleh dan mengakhiri panggilan telepon. Ternyata Amara yang sudah berada di kamar itu.
__ADS_1
“A-amara,” ujar Hana.
“Siapa yang mengganggumu?” Amara bertanya lagi.
“Ah, tidak ada. Tadi salah sambung, makanya aku bilang jangan menggangguku lagi karena penelepon malah mengajak aku kenalan.”
“Owh, sudah selesai belum? Aku ingin istirahat, nanti malam Pak Randy akan tidur di sini. Kamu pasti tahulah bagaimana Pak Randy kalau di atas ranjang,” ujar Amara.
Hana hanya bisa tersenyum getir, tentu saja dia tidak tahu bagaimana per_kasanya Randy karena setelah menikah mereka selalu tidur terpisah walau dalam satu kamar.
“Silahkan, aku sudah selesai,” ujar wanita dengan pakaian syar’inya lalu meninggalkan kamar Amara.
“Hm, luas juga kamarnya sama seperti kamarku di rumah Bunda. Enak saja dia ingin tempati yang ini, dia pikir dia siapa,” gumam Amara.
...***...
Amara duduk bersandar pada head board menatap Randy yang mengenakan dasi. Wajah wanita itu cemberut sedangkan suaminya terlihat ceria. Semalam Randy mengajak melakukan kegiatan menyenangkan di atas ranjang bahkan berkali-kali membuat Amara kelelahan dan pagi ini dia malas untuk beranjak.
Padahal kemarin Amara hanya menggoda Hana dengan mengatakan ulah Randy kalau berdua dengan dirinya, ternyata malah jadi kenyataan.
“Cepat mandi, kita sarapan bersama!” titah Randy.
“Duluan saja, aku tidak ada kuliah pagi,” sahut Amara yang akan kembali merebahkan tubuhnya.
“Amara, bangun dan mandi.”
Amara akhirnya beranjak dan melewati Randy sambil menyenggolkan bahunya. Padahal subuh tadi dia sudah mandi tapi setelah ibadah dua rakaat, suaminya kembali meminta haknya.
“Pak Randy menyebalkan,” ejek Amara.
Randy hanya terkekeh mendengar ejekan dari istrinya. Pria itu tidak beranjak, dia masih berada di kamar menunggu Amara.
Ternyata Hana sudah berada di meja makan, membantu Bibi menyiapkan sarapan. Melihat Amara dan Randy yang turun bersamaan tentu saja rasa iri. Walaupun mulai hari ini sampai dua hari ke depan, Randy akan tidur di kamar yang sama dengannya dia dan Randy tidak akan merasakan kebahagiaan yang Amara rasakan.
“Ini kopinya Mas.” Hana meletakan secangkir kopi ke hadapan Randy.
“Terima kasih.”
“Nanti siang, aku antar makan siang. Aku harap Mas Randy tidak menolak, hari ini sudah menjadi hakku sesuai jadwal.”
Randy dan Amara saling tatap.
“Hana, bukan aku melarang kamu datang tapi di kampus belum ada yang tahu kalau aku sudah menikah apalagi memiliki dua istri,” tutur Randy.
__ADS_1