Bukan Istri Salihah

Bukan Istri Salihah
Maafkan Aku


__ADS_3

“Hana, kamu baik-baik saja?”


Wajah Hana masih menunduk bahkan perempuan itu tidak menjawab pertanyaan Randy yang penasaran dan bingung dengan sikap istrinya. Randy mengulurkan tangannya menyentuh bahu perempuan itu.


Tanpa diduga, Hana terperanjat dan menggeser duduknya.


“Maaf, Mas. Maafkan aku,” tutur Hana lalu menangis dengan kedua tangan menutupi wajahnya.


Jelas bukan isakan tapi tangisan. Randy semakin dibuat bingung dengan tingkah Hana padahal dia hanya menyentuh bahunya. Lagi pula mereka sudah sah suami dan istri, tentu saja Randy sudah boleh lebih dari menyentuh.


“Hana, ada apa? Kamu semakin membuatku bingung,” ungkap Randy.


“Maaf Mas, aku begitu mengharapkan pernikahan ini dan saat mengetahui Mas Randy malah sudah menikahi wanita lain aku begitu kecewa dan cemburu. Namun, aku belum siap menjadi istri sepenuhnya untuk Mas Randy,” tutur Hana.


“Aku masih belum mengerti Hana. Ada apa ini?”


“Jangan ceraikan aku, biarkan kita tetap dalam pernikahan ini walaupun Mas Randy ingin kita berpisah, paling tidak biarkan pernikahan kita berjalan satu atau dua tahun,” pinta Hana dengan wajah sembab.


“Hana, aku sungguh tidak mengerti apa maksudmu? Kenapa pula kita harus membicarakan masalah perceraian saat kita baru saja menikah dan kamu tahu kita menikah karena persetujuan Amara yang aku yakin izin yang dia berikan bukan murni dari hatinya. Jadi jelaskan ada apa?” Randy bicara dengan nada agak tinggi.


“Sekali lagi aku minta maaf Mas, aku tidak sempurna. Sungguh maafkan aku kalau memanfaatkan Mas Randy dan pernikahan kita.”


Randy menyugar rambutnya, berusaha tetap sabar.


“Hana, aku tidak bisa memaafkan dan tidak bisa membantumu kalau kamu tidak menceritakan dengan jelas.”


Hana hanya menggelengkan kepalanya, masih dengan tangisan.


“Kita kembali ke orang tuamu, aku perlu penjelasan,” ajak Randy.


“Mas,” ujar Hana berusaha menghentikan.

__ADS_1


“Jelaskan!”


“Aku tidak sanggup Mas, tolong mengerti.”


Entah dengan bahasa apa untuk meyakinkan Hana kalau Randy Butuh penjelasan untuk memahami kondisinya. Pria itu sudah beranjak dari sofa dan sudah berada di pintu seakan serius dengan ancamannya.


“Mas,” ujar Hana sambil menghapus air matanya.


“Kita temui orang tuamu, aku harus tanya langsung pada mereka ada apa denganmu.”


“Tapi ….”


“Sekarang, Hana!” Randy bertitah lagi, akhirnya Hana pun beranjak walau langkahnya terasa berat.


Ketika sampai di lobby, Randy mendapatkan panggilan dari Ayah mertuanya. Sebuah kebetulan bagi Randy tapi memang direncanakan oleh orangtua Hana yang juga sudah tiba di Jakarta dan menanyakan keberadaan mereka.


“Kami tunggu Pak Kyai,” ujar Randy lalu mengucap salam dan mengakhiri panggilan. “Ayahmu sudah di Jakarta, dia akan menemui kita. Kenapa aku menduga ini memang rencana kalian?”


Hana yang memang tidak tahu niat orangtuanya menyusul dirinya hanya menggelengkan kepala tanpa bersuara.


...***...


Akhirnya orang tua Hana juga pasangan suami istri yang baru saja menikah itu duduk bersama. Hana yang duduk di samping Ibu Maya, sedangkan Kyai Amir terpisah di sofa tunggal begitupun dengan Randy.


Dalam benak Randy begitu banyak pertanyaan tentang situasi saat ini. Dimulai dengan sikap Hana lalu kedua mertuanya yang ternyata menyusul mereka ke Jakarta di saat Randy akan mengunjungi untuk menanyakan ada apa dengan sikap Hana.


“Kamu pasti bertanya-tanya dengan kehadiran kami di sini,” ujar Kyai Amir. “Sampaikan apa yang kamu ingin tanyakan maka akan kami jelaskan. Karena kalau kami yang mulai, kami sendiri bingung harus memulai dari mana,” terang Kyai Amir dengan suara lemah dan sedih.


Randy menatap Hana yang duduk bersebrangan dengannya dan saat ini sedang dirangkul oleh Ibu Maya.


“Aku tidak mengerti ada apa dengan Hana, tiba-tiba dia ketakutan dan menangis tapi tidak menjelaskan penyebabnya.” Randy menceritakan kembali apa yang disampaikan oleh Hana.

__ADS_1


“Aku tetap mempertahankan pernikahan dengan Amara, mengkhianati hubungan dan rencana pernikahan dengan Hana karena tidak ingin mempermainkan pernikahan. Namun, Hana malah minta aku menceraikannya satu atau dua tahun lagi. Untuk apa Pak Kyai meminta saya harus menikahi Hana kalau dia merencanakan untuk berpisah.”


“Paling tidak dengan status Hana sebagai janda sudah sesuai dengan kondisi fisiknya,” ujar ayah mertua Randy membuat pria itu semakin tidak mengerti.


“Abi, sebaiknya ceritakan saja apa yang terjadi dan kondisi Hana.  Randy suami Hana dan sudah sepatutnya tidak ada rahasia diantara mereka,” sela Ibu Maya.


“Sebenarnya ada apa?” tanya Randy sambil menatap bergantian Hana dan kedua orangtuanya.


“Biar Umi yang menyampaikan,” ujar Ibu Maya. “Sebelumnya kami minta maaf karena sudah merahasiakan tentang kondisi Hana sebelum kalian menikah. Setelah Nak Randy melamar Hana dan kalian mulai mempersiapkan pernikahan, ada musibah menimpa Hana. Dia mendapatkan pelecehan, kami dilema saat itu. Kalau kami laporkan, masyarakat akan tahu kondisi Hana dan saat itu Hana mengalami trauma. Kami memilih fokus pada kondisi Hana, dokter sudah menyatakan kondisi kejiwaan dan psikis Hana dinyatakan sudah sembuh dari trauma.”  


Randy tidak bisa berkomentar, dia hanya menundukkan wajahnya. terdengar isakan tangis Hana yang berada dalam pelukan Ibunya.


“Itulah mengapa Abi minta kamu menikahkan Hana hari ini juga, meskipun salah karena kami tidak menceritakan kondisi Hana. Jika Hana baik-baik saja, tidak akan aku biarkan kalian menikah. Nak Randy bisa teruskan rumah tangga dengan Amara dan Hana akan menemukan jodohnya tapi kondisinya lain. Abi minta tolong untuk selamatkan kehormatan Hana. Walaupun kamu tidak rela beristrikan Hana dengan segala kekurangannya, tolong bersabar paling tidak sampai satu tahun,” tutur Ibu Maya dengan suara parau karena menahan tangis.


Randy mengusap wajahnya, bukan hanya dia merasa dibohongi tapi dia sudah menyakiti perasaan Amara demi menolong perempuan di hadapannya.


“Apa Nak Randy mau menolong Hana untuk meneruskan pernikahan kalian?” tanya Kyai Amir.


“Pak Kyai tahu sendiri kalau aku tidak ingin mempermainkan pernikahan, tidak mungkin aku mengatakan batal menikahi Hana karena kondisinya.”


“Satu hal lagi, Nak Randy,” ujar Kyai Amir. “Kalau kalian akan tetap menjalankan pernikahan tolong rahasiakan kondisi Hana dari siapapun, termasuk istri pertamamu,” pinta Kyai Amir.


Randy menghela nafasnya, baginya dua pernikahan yang dijalankan adalah cobaan hidup yang cukup berat untuknya. Walaupun dengan Amara akhirnya dia bisa menerima begitu pun sebaliknya bahkan sudah ada rasa cinta.


“Bagaimana Nak Randy? Kalaupun tidak siap, kami akan bawa Hana kembali,” cetus Ibu Maya


Randy mengangkat wajahnya menatap Hana yang masih terisak dan ditenangkan ibunya. Bukan salah perempuan itu, bukan juga salahnya apalagi salah Amara. Namun, mereka bertiga memang disuratkan untuk berada dalam situasi tersebut.


“Aku  mengerti dengan kondisi Hana, apa yang terjadi ke depannya tidak ada yang tahu tapi untuk saat ini aku akan berusaha menjaga kehormatan Hana untuk merahasiakan kondisinya.”


“Alhamdulillah,” ucap Ibu Maya dan Kyai Amir berbarengan.

__ADS_1


Maafkan aku Amara, kalian harus berdampingan sebagai istriku.


 


__ADS_2