Bukan Istri Salihah

Bukan Istri Salihah
Siapa Pria Itu?


__ADS_3

Randy dan Amara pulang bersama dan tidak ada penyambutan dari Hana seperti biasanya.


“Hana, kemana Bik?” tanya Randy.


Amara memilih langsung ke kamar saat mendengar suaminya menanyakan keberadaan Hana.


“Belum keluar kamar sejak tadi siang, Pak,” jawab Bibi.


Randy khawatir terjadi sesuatu, dia bergegas menuju kamar Hana.


“Hana,” panggil Randy saat membuka pintu. Tidak terlihat wanita itu di sudut manapun termasuk di kamar mandi. Tatapan Randy mengarah pada pintu balkon yang terbuka.


Ternyata Hana duduk di lantai dengan memeluk kedua kakinya dan membenamkan wajah di sana. Bahkan wanita itu tidak mengenakan penutup kepala, membuat rambutnya yang panjang terurai.


“Hana.” Randy kembali memanggilnya.


Hana mengangkat wajahnya, mereka bertatapan. Tampak mata yang sembab, Randy pun berjongkok dan berhadapan dengan Hana.


“Ada apa?” tanya Randy yang bingung dengan kondisi wanita itu.


“A-aku ….” Hana tidak melanjutkan ucapannya.


“Katakan, ada masalah apa?” tanya Randy lagi.


“Aku baik-baik saja,” jawab Hana. “Apa malam ini kita jadi bertemu Mami?”


“Ah, aku lupa tanya  Arama.”


“Tapi Mami hanya mengundang kita berdua,” ujar Hana.


Randy beranjak dari posisinya dan berdiri masih menatap Hana di bawahnya.


“Amara istriku juga, bahkan dia istri pertama. Dia berhak untuk tahu dan ikut menemaniku bahkan dia yang lebih berhak dari kamu.”


“Mas Randy berubah,” cetus Hana.


“Berubah?”


“Apa karena aku sudah cacat begini, jadi Mas Randy memperlakukan aku seperti ini.”


“Hana, apa maksudmu? Kamu lebih paham masalah agama kalau pria dengan dua istri harus bagaimana. Mana mungkin aku berat sebelah padamu dan aku sudah berjanji akan berlaku adil. Kalau aku mengabaikan Amara karena undangan dari Mami, itu salah. Karena kalian adalah istriku,” tutur Randy.


Randy akhirnya meninggalkan kamar Hana, lalu menuju kamar lain untuk membersihkan diri.


Menjelang malam, pria itu memanggil Hana dan Amara. Ketiganya sudah duduk di sofa ruang tamu, siap mendengarkan apa yang akan Randy sampaikan.


“Mami mengundang kita makan malam, kita akan datang,” ujar Randy. “Bersiaplah,” titah pria itu.


Hana tidak terlalu merespon. Dia kecewa karena harus datang bersama. Imelda begitu mendukungnya dan menyukainya, makanya Hana merasa mendapat dukungan sebagai istri Randy dibandingkan Amara.


“Aku tidak ikut,” ujar Amara.

__ADS_1


Randy yang akan beranjak berdiri, mengurungkan niatnya dan menatap Amara.


“Kenapa?” tanya Randy.


“Aku lelah dan beberapa hari lagi ujian. Jadi aku tidak ikut,” ujar Amara.


Randy sebenarnya tidak setuju dengan Amara yang tidak bisa ikut tapi mendebatnya akan membuat Hana merasa dirinya tidak adil karena tirinya terlalu peduli pada Amara.


“Sebaiknya kita bersiap, dari pada telat. Tidak enak dengan Mami,” ujar Hana.


...***...


“Akhirnya kalian jadi datang, ayo masuk,” ajak Mami.


Pram sepertinya kecewa karena Amara tidak ikut hadir, bukan karena apa tapi khawatir kalau Randy tidak bisa bersikap adil dan mengayomi pada kedua istrinya.


“Amara tidak ikut?” tanya Pram.


“Tidak, sebentar lagi ujian dia menolak ikut karena harus belajar.”


Imelda tidak terlalu peduli dengan pembahasan Amara. Karena dia hanya mengundang Randy juga Hana. Makan malam itu, didominasi perbincangan Imelda dengan Hana.


“Aku akan daftarkan pernikahanku dengan Amara, ini sudah janjiku sebelumnya,” ujar Randy.


“Segeralah, lama kelamaan orang akan tahu hubungan kalian,” seru Pram.


“Lalu bagaimana dengan Hana dan resepsi yang kita rencanakan?” tanya Imelda.


“Kita akan bicarakan itu nanti,” sahut Randy.


Randy dan Hana kembali ke rumah cukup larut dan selama perjalanan keduanya hanya diam. Saat memasuki komplek menuju rumahnya, terlihat mobil berhenti di depan rumah.


“Mobil siapa ya?” gumam Randy, Hana pun melihat kejadian itu.


Mobil yang dikendarai Randy semakin dekat, mobil yang dimaksud akhirnya melaju.


Apa  dia, Akbar? batin Hana.


“Mas Randy akan tidur di mana?”tanya Hana ketika dia dan Randy sudah berada di rumah.


“Di kamar tamu,” jawab Randy. Malam ini bukan jadwal Amara atau Hana, dia ingin sendiri walaupun sudah curang mengambil start dengan Amara tadi siang.


Hana memandang tubuh Randy yang sudah menaiki anak tangga.


“Kamar tamu, awas saja kalau aku lihat dia tidur bersama Amara?”


Hana bergegas ke kamarnya, dia tidak membawa ponsel dan ternyata banyak panggilan dan pesan dari Akbar. termasuk mengatakan kalau pria itu menunggu di depan rumah.


“Mobil tadi, benar Akbar,” gumam Hana. “Bagaimana ini, dia berani untuk datang.”


Esok hari.

__ADS_1


Randy keluar dari kamar dan ada Hana berdiri di sana.


“Ada apa?” tanya Randy.


“Hm, tidak Mas. Tadinya aku ingin bangunkan Mas Randy ternyata sudah bangun duluan.”


Randy hanya berdehem lalu meninggalkan Hana, menuju kamar Amara. Sebagian barang dan pakaian memang berada di kamar utama yaitu yang ditempati Amara.


Randy mengernyitkan dahinya melihat Amara masih bergelung selimut.


“Amara, bangun.” Randy sudah duduk di tepi ranjang lalu mengusap wajah istrinya. “Putri tidur, bangunlah!”


“Ish, Pak Randy ganggu aja. Aku tadi sudah bangun, sudah sholat tapi kepalaku pusing. Biarkan aku baringan dulu,” keluh Amara masih dengan mata terpejam.


Randy melihat wajah Amara agak pucat, akhirnya dia membiarkan Amara beristirahat.


“Jangan terlalu diforsir karena ujian, ingat kesehatan kamu,” nasihat Randy lalu beranjak menuju walk in closet.


Amara hanya berdehem mendengar nasihat suaminya.


Entah jam berapa Amara akhirnya terjaga, dia benar-benar bangun terlambat karena merasa tidak biasa dengan fisik.


“Sepertinya tubuhku tidak bisa diajak kompromi, baru belajar agak padat dari biasanya sudah ngedrop begini,” gumam Amara sambil menurunkan kedua kakinya lalu melangkah menuju kamar mandi.


Hari ini tidak ada kuliah, karena senin Amara harus mengikuti ujian. Mengenakan setelan rumahan, wanita itu menuruni anak tangga lalu menuju dapur.


“Loh, kamu baru bangun?” tanya Hana.


“Hm, aku kurang sehat,” jawab Amara lalu mengambil botol air mineral.


“Aku pikir kamu sudah berangkat tanpa sarapan, jadi sarapan sudah dibersihkan oleh Bibi.”


“Tidak masalah, perutku tidak nyaman jadi belum berselera untuk sarapan,” sahut Amara.


Yang terbayang di benak Amara adalah zuppa soup dari café langganannya dan hari ini masih cukup pagi, tentu saja belum ada café yang buka.


“Aku ingin zuppa soup, rasanya sudah terasa di ujung lidahku,” ujar Amara. Saat ini dia berada di gazebo dekat kolam renang.


Bahkan wanita itu membuka ponselnya mencari makanan yang diinginkan lewat aplikasi online.


“Ish, mana ada yang sudah buka,” keluh Amara. “Aku cari saja, siapa tahu ada makanan lain yang membuatku berselera.”


Amara mengenakan cardigan dan mengendarai motornya, tidak lupa dompet dan ponsel. Mengelilingi kompleks bahkan menyusuri ruko-ruko agak jauh dari kompleks perumahan di mana dia tinggal.


 “Loh, itu Hana. dia mau ke mana?” gumam Amara yang sudah memperlambat laju motornya saat melihat Hana turun dari taksi dan ragu-ragu memasuki salah satu restoran.


Amara memarkirkan motornya lalu memasuki restoran. Memilih meja agak sudut dan menperhatikan Hana yang terlihat sedang menunggu.


"Siapa pria itu?" gumam Amara saat seorang pria menghampiri meja di mana Hana berada.


 

__ADS_1


 


__ADS_2