Bukan Istri Salihah

Bukan Istri Salihah
Aku Benci Pak Randy


__ADS_3

Randy meninggalkan kamar Amara, setelah menemani wanita itu makan malam dan memastikan mengkonsumsi juga vitamin sebelum tidur. Amara tidak banyak bicara, malah memasang wajah cemberut dan bibir manyun. Namun, Randy pasrah dan sabar menghadapinya.


Apapun yang Amara responkan, harus ditelan bulat-bulat tanpa protes. Amara melewati masa-masa kemarin dengan berat dan sakit hati, mungkin saat ini masih sakit hati tapi tidak sebesar sebelumnya.


Kalau Tante Lidia tidak minta Randy kembali ke kamarnya sendiri, mungkin Randy akan tidur di kamar Amara. Walau harus berbaring di lantai dan sofa yang tidak terlihat nyaman, asalkan bisa bersama Amara.


“Huftt.” Randy berbaring, lalu menghela nafasnya. Dia menatap langit-langit kamar di mana dia berada.


Paling tidak sebagian hatinya sudah lega, bisa melihat dan bertemu dengan Amara lagi.


“Kamu tidak berubah sayang, tetap cantik. Apalagi dengan kehamilan kamu, makin cantik,” gumam Randy.


...***...


Pagi ini kembali ada drama di kediaman Wilaga. Kalau kemarin karena Amara yang merintih sakit, sekarang kedatangan Mirna.


“Kenapa bisa Randy ada di sini dan diterima dengan baik?”


“Saya tidak tahu kalau pria itu suaminya Amara,” jawab Wilaga. Mirna diam, dia tidak bisa menyalahkan Wilaga karena saat Amara menikah dengan Randy memang tidak melibatkan keluarga, bahkan dirinya juga tidak ada di sana. Wajar kalau keluarga itu tidak mengenal Randy.


“Bagaimana dengan Amara?”


“Kamu tidak usah khawatir, Amara baik-baik saja. Kemarin sempat ada kontraksi tapi hanya kontraksi palsu. Mungkin di mulut Amara kecewa dan mengusir suaminya tapi hati mana kita tahu. Sebaiknya kita berikan kesempatan untuk pasangan itu memilih dan menentukan masa depan mereka. Jangan dukung dengan mencondong ke salah satu arah, apalagi untuk berpisah.” Lidia bertutur pada Mirna dan Wilaga.


“Orangtua Randy akan datang hari ini,” ujar Wilaga.


“Apa?”


“Justru itu baik, Mbak. Kita duduk bersama dan bicara, aku dengan Ibu mertua Amara berat sebelah. Biar  Bapak yang atasi itu, kita cukup mengarahkan Randy dan Amara yang terbaik untuk pernikahan mereka.”


Mirna menemui Amara di kamarnya, wanita itu masih terlelap. Kalau di rumah sendiri, mungkin Mirna akan kalap karena ini sudah siang dan Amara masih asyik dengan bantal-bantalnya.


“Sayang, kamu mau tidur sampai kapan. Walaupun harus bed rest, bukan begini caranya.”


“Bentar Bun, aku nggak bisa tidur. Baru tidur subuh, lima menit lagi ya,” gumam Amara kemudian kembali terlelap.


Mirna mengalah, mungkin karena kehamilan dan perut yang sudah membesar makanya Amara sulit tidur. Randy sendiri sudah pergi, sepertinya menemui kelompok mahasiswa bimbingannya.

__ADS_1


Sekitar pukul sepuluh, Randy datang menemui Wilaga juga Mirna. Mengatakan kalau orangtuanya sudah dekat dan akan segera tiba. Wilaga bersama Mirna dan Lidia menunggu di ruang keluarga, pendopo hanya digunakan menerima dan melayani masyarakat.


Ruang keluarga memang cukup luas, mesti tidak seluas pendopo. Namun, barang-barang yang ada cukup modern walaupun interior tetap mengusung gaya tradisional. Randy menyambut kedatangan orang tuanya.


“Ini rumah siapa?” tanya Imelda.


“Kakeknya Amara.”


“Hahh, nggak salah?” tanya Imelda lagi.


Randy hanya mengedikkan bahu, dia memang belum menanyakan lebih jauh kebenaran hubungan Amara dan Pak Wilaga tapi itu bukan urusannya. Tujuannya adalah dia dan Amara kembali bersama.


Teja, pelayan dan orang kepercayaan Wilaga mengantar keluarga itu menuju ruangan di mana Wilaga berada. Saling sapa dan berkenalan kemudian duduk bersama.


“Langsung saja, panggilkan Amara,” titah Wilaga.


“Mohon maaf mengganggu kesibukan Bapak dan Ibu, yang jelas ini untuk kebaikan Amara. Kalau mengikuti emosi, rasanya saya enggan melakukan hal ini,” tutur Wilaga.


Pram menganggukkan kepala, mengerti dengan perasaan keluarga Amara.


“Sepertinya Ibu belum mengenal Amara dengan baik,” sahut Lidia.


Imelda terlihat terkejut, saat Lidia menjelaskan bahwa bapaknya – Wilaga—adalah tokoh masyarakat di daerah itu. Termasuk menjelaskan usaha keluarga baik itu, kerajinan tangan, pertanian, industri rumahan dan fasilitas wisata yang merupakan usaha turun temurun keluarga.


“Amara cucu dari Pak Wilaga, keponakan saya. Mendengar dia ingin tinggal di sini, tentu saja kami senang tapi ada masalah di belakangnya rasanya kami tidak akan tinggal diam.”


Amara datang ditemani Mbok Darmi, dia terkejut karena sudah ada kedua mertuanya.


“Amara, Eyang tahu kamu anak baik. Mereka masih mertuamu,” tegur Wilaga.


Amara pun menghampiri Pram dan Imelda, mencium tangan pasangan itu.


“Duduk sini,” ujar Randy menepuk sofa di sampingnya.


Amara ingin menolak tapi saat ini dirinya sedang berada dalam perhatian semua mata. Mau tidak mau, wanita itu duduk di samping Randy.


Mirna senang melihat raut wajah Imelda yang tegang, sepertinya wanita itu menyesal. Menyesal menyia-nyiakan Amara dan ternyata Amara didukung oleh keluarga yang bukan main-main.

__ADS_1


“Saya tidak akan minta Amara untuk berpisah dengan suaminya, tapi semua keputusan ada di tangan Amara dan Randy. Hanya saja sebagai orangtua sebaiknya kita dukung apapun keputusan mereka. Mereka yang akan menjalani biduk rumah tangga, tapi saya sebagai orang yang dituakan di keluarga tidak suka jika Amara sampai disia-siakan, dijahati bahkan diabaikan.”


Pram akhirnya bersuara, diawali dengan permohonan maafnya lalu menjelaskan kondisi Randy termasuk pernikahannya dengan Hana yang sudah berakhir. Pria itu juga menyampaikan kalau pernikahan dengan Amara sudah terdaftar secara negara dan dia paling tahu bagaimana Randy selama ini kehilangan dan berusaha mencari istrinya.


“Dari pihak kami pun menginginkan yang terbaik untuk mereka,” tutur Pram.


“Bagaimana dengan Anda, Ibu Imelda?” tanya Mirna.


Atensi mengarah pada wanita yang sejak tadi tidak bisa berkata-kata.


“Kalaupun Randy dan Amara kembali bersama, saya ingin kepastian kalau dia memang diterima oleh keluarga kalian,” ujar Mirna.


“Benar itu, banyak sekali pernikahan gagal karena hubungan menantu dan Ibu mertua yang tidak baik,” ungkap Lidia.


“Bagaimana Pak Pram dan Ibu Imelda?” tanya Mirna memastikan kalau Amara akan benar-benar diterima. Kalau urusan hubungan Randy dan Amara dia yakin dan sadar kalau pasangan itu masih saling mencintai.


Atensi masih tertuju pada Pram dan Imelda. Wanita itu akhirnya membuka suara.


“Hm, saya akan dukung siapapun yang dipilih Randy. Bagi saya kebahagiaan Randy, kebahagiaan saya juga,” ungkap Imelda.


“Randy, Amara, apa keputusan kalian?” tanya Wilaga.


Randy menatap istrinya yang menatap meja di hadapannya. Wanita itu enggan menatap balik suaminya. Randy memberanikan diri merangkul bahu istrinya.


“Maafkan aku sayang, kita mulai lagi dari awal ya.”


Amara menggerakan bahunya seakan mengatakan, singkirkan tanganmu. Randy tetap sabar, bahkan kali ini dia mengusap kepala Amara.


“Aku benci Pak Randy.”


“Iya, aku paham.”


“Pak Randy jahat,” ujar Amara bahkan kedua matanya sudah mengembun.


Alih-alih menjawab, Randy berangsur mendekat dan memeluk Amara. Mulut Amara boleh saja terus memaki suaminya tapi dia tidak menoleh berada dalam rengkuhan Randy, malah menuangkan tangis di dada pelukable dosen sekaligus suaminya.


 

__ADS_1


__ADS_2