
Randy mengusap bibir Amara yang basah karena ulahnya, wajah gadis itu merona dan menunduk karena malu.
“Masih marah?” tanya Randy menyentuh dagu Amara dan menaikkannya membuat wajah gadis itu sejajar dengan wajahnya.
“Masihlah, iya kali marah aku bisa hilang karena dicium doang,” gumam Amara memandang ke arah lain.
“Lalu aku harus lakukan lebih dari mencium kamu, agar tidak marah lagi. Begitu?”
“Ish, ya nggak gitu juga. Kayak yang gatel aja, Pak Randy ayo dong bujuk aku dan rayu aku juga sentuh aku. Udah kayak pelac*r aja,” tutur Amara.
“Tidak boleh bilang begitu, tapi memuaskan pasangan bukan berarti dia seorang pelac*r. Memang kamu sudah siap, kalau aku minta hakku malam ini?”
Amara menelan salivanya, karena dilema dengan situasi dan pertanyaan suaminya. Di satu sisi dia ingin menjadi istri yang baik dengan menunaikan kewajibannya tapi di sisi lain rasanya dia belum siap karena Randy sendiri masih dalam status calon suami Hana.
“Kenapa diam?”
“Ehm, harus sekarang?”
__ADS_1
Randy tersenyum dan mengacak rambut Amara lalu beranjak ke kamarnya.
“Ini serius, Pak Randy mau ambil keperawan*n aku. Aduh gimana dong,” gumam Amara.
Cukup lama Randy berada di kamar, Amara akhirnya memberanikan diri menuju kamar mereka. Sepertinya Randy sudah selesai membersihkan diri bahkan sudah mengenakan pakaian rumahnya. Menyadari ada Amara yang membuka pintu, pria itu memanggil istrinya agar masuk dan menepuk sisi ranjang kosong yang dia duduki.
Amara melangkah pelan menghampiri suaminya dan memekik karena terkejut tangannya ditarik membuatnya mendarat di pangkuan pria itu. detak jantung Amara sudah tidak karuan apalagi saat tangan suaminya membelai pipinya.
“Kamu cantik, Amara. Aku suka,” ujar Randy.
“Ck, kamu sudah berubah dan tahu itu memang niat dari hatimu yang paling dalam.”
Keduanya bungkam, Randy kembali membelai pipi lalu menyentuh bibir Amara.
“Boleh aku lakukan sekarang? Aku janji akan pelan dan maaf kalau nanti akan menyakitimu,” ungkap Randy. Amara sebenarnya tidak paham dengan maksud Randy menyakitinya. Bukankah penyatuan diri akan memberikan kenikmatan pada setiap pasangan, itu yang dia tahu. Gadis itu menganggukkan kepalanya bahkan memejamkan mata saat Randy bergumam membaca doa lalu kembali memagut lembut bibirnya yang perlahan berubah menjadi lebih dalam. Bahkan tangan pria itu sudah mulai tidak terkondisikan karena menyentuh area-area lain.
Nafas Amara terengah karena pagutan bibir yang dilakukan Randy lebih dari yang sebelumnya dilakukan. Tubuh gadis itu terasa melayang karena digendong oleh suaminya dan dibaringkan ke atas ranjang. Tangan Randy kembali menyentuh bagian tubuh Amara sambil melepaskan penutup tubuh gadis itu hingga membuatnya polos dan melepaskan juga penutup tubuhnya sendiri.
__ADS_1
Amara menggigit bibirnya karena malu sedangkan Randy tersenyum dan mendaratkan bibir di kening, pipi dan bibir istrinya bahkan turun ke leher jenjang gadis yang saat mulai melenguuh pelan. Sentuhan bibir Randy di kulit tubuh Amara bahkan meninggalkan banyak jejak menjadikan tubuh gadis itu berdesir bahkan terasa banyak kupu-kupu di perutnya.
“Rileks sayang,” ujar Randy yang menyadari kalau Amara begitu gugup, takut dan tegang.
Baik Randy dan Amara hal yang akan mereka lakukan adalah pengalaman pertama. Belum pernah belajar atau mencari tahu hal itu dan Randy hanya menggunakan insting dan hasrat halalnya. Walaupun Amara pernah melihat sekilas video dewasa pada ponsel Juan bukan berarti tubuhnya sudah siap.
Randy menyentuh, meraba dan membelai bagian yang ingin dia sentuh, raba dan juga belai. Bahkan sentuhan pria itu siap menjadikan Amara dari seorang gadis menjadi seorang wanita. Sentuhan yang sudah merambat turun ke bagian depan tubuh Amara bahkan terus ke bawah perut dan bermuara di pusat tubuh gadis itu.
Rasanya Amara ingin menjerit nikmat ketika sesuatu menyentuh dan bermain di pusat tubuhnya. Sesuatu yang lembut dan hangat yang mana adalah indra perasa suaminya. Melihat istrinya mulai kepayahan karena didera rasa nikmat, Randy menghentikan aksinya dan kembali mengungkung tubuh Amara.
Memagut bibir itu dengan lebih liar lalu turun menyesap bergantian bagian depan tubuh Amara yang terasa kenyal bahkan memilin ujungnya membuat gadis itu mendessah.
“Pak Randy ….”
“Hm.”
Amara mulai mengeluarkan suara yang membuat Randy semakin semangat untuk membuat mereka bersatu.
__ADS_1