Bukan Istri Salihah

Bukan Istri Salihah
Wilaga VS Randy


__ADS_3

Willaga sudah berada di meja makan, termasuk anak bungsu dan dua orang cucu selain Amara. Beruntungnya, Amara diterima dengan baik di keluarga mendiang Ayahnya. Apalagi Amara memang cucu yang sengaja dipisahkan dari keluarga besar Wilaga, atas pengaruh wanita simpanan Ayahnya.


“Ibu kamu hubungi Ayah, ada yang ingin dibicarakan katanya serius. Mungkin akhir minggu dia datang,” ujar  Wilaga pada Amara.


“Ehm. Kalau ternyata Bunda titipkan aku di sini lebih lama, gimana? Eyang nggak akan usir aku ‘kan?”


“Dasar cucu aneh, mana mungkin Eyang usir kamu,” ujar Wilaga. Amara hanya terkekeh melihat kakeknya lagi-lagi emosi karena ulahnya.


“Sudah, ini kita sedang makan loh. Jangan sambil bercanda, tidak baik,” tegur Lidia, anak bungsu Wilaga. “Katanya ada yang KKN, tapi nggak kelihatan?”


“Yang tinggal di sini hanya pembimbingnya, kalau kelompok mahasiswanya tinggal di rumah dekat kantor desa." Wilaga menjelaskan.


“Dek, aku sudah lihat loh dosen pembimbingnya. Ganteng banget,” ujar salah satu anak tante Lidia pada Amara.


“Masa?” tanya Amara tidak minat.


Masih ganteng mana dengan Pak Randy, batin Amara.


“Hati-hati kamu naksir, bisa jadi suami kamu kalah gantengnya.”


“Dayu, jangan menggoda Amara,” tegur Lidia pada putranya.


Terdengar percakapan dari pendopo depan, sepertinya pria yang sedang menjadi topik pembicaraan. Wilaga menyudahi makannya karena ada hal yang akan dibicarakan dengan pria itu.


“Kalian lanjutkan makannya, Eyah mau temui pria itu.”


“Ajak Amara Eyang, dia mau kenalan,” pekik Dayu yang mendapat tatapan tajam dari Amara.


Setelah makan malam, Amara berjalan mendekat ke pendopo. Sebenarnya dia penasaran dengan pria yang dibicarakan oleh keluarga itu. Berdiri di balik tembok yang membatasi pendopo dan ruang keluarga, Amara mendengarkan pembicaraan Eyang dengan seorang pria.


“Suaranya, mirip … tapi bukan. Pasti hanya perasaan aku saja,” gumam Amara lalu kembali ke kamarnya.


...***...


Pagi ini dihebohkan dengan Amara yang merasakan tidak nyaman di perutnya. Bahkan Tante Lidia dan Eyang sudah sejak tadi berada di kamar wanita itu.


“Aku baik-baik saja, sakitnya sudah hilang,” ujar Amara.


“Kita periksa ke rumah sakit ya, Tante khawatir. USG terakhir posisi plasenta masih ada di bawah, bisa jadi karena hal itu yang menyebabkan sakit.”


“Ayo, Amara. Eyang juga khawatir.”


“Sudahlah, Eyang dan tante Lidia kembali ke kamar. aku baik-baik saja, mungkin hanya kontraksi palsu,” ujar Amara berusaha menenangkan keluarganya. “Aku hanya perlu baringan saja, janji deh hari ini aku nggak  kemana-mana,” ujar Amara lagi.


Amara akhirnya kembali berbaring dan terlelap, karena sejak tadi malam tidurnya tidak lelap merasakan sakit dan tidak nyaman dengan perutnya.


Menjelang siang, kondisi rumah itu sepi karena anak cucu Wilaga yang masih tinggal di sana sedang beraktifitas.

__ADS_1


Saat ini hanya ada Lidia dan para pelayan. Wilaga sedang ada pertemuan dengan para tokoh masyarakat lainnya.


Amara kembali didera rasa nyeri, Darmi pelayan wanita yang menemani terlihat panik dan berteriak memanggil Lidia.


“Darmi, ada apa teriak-teriak?”


“Mbak Amara Bu, dia kesakitan.”


“Hahh, Amara ….”


Kedua wanita itu bergegas menuju kamar Amara dan berpapasan dengan Randy yang baru saja keluar dari kamar.


“Selamat siang Bu,” sapa pria itu.


“Siang, maaf Mas saya buru-buru. Keponakan saya sakit,” ujar Lidia.


“Amara,” panggil Lidia saat masuk ke dalam kamar wanita itu.


Deg.


Randy terpaku mendengar nama yang sama, nama istrinya. Pria itu menoleh, ada pelayan yang tergopoh-gopoh memasuki kamar itu. terdengar rintihan dan ….


“Amara,” gumam Randy yang meyakini suara rintihan itu mirip dengan suara istrinya. “Suaranya mirip dengan ….”


Pria itu melangkah mendekat ke arah kamar yang sedang menyita perhatiannya.


“Tante apaan sih, orang sakit dimarahi.”


“Permisi ….”


Atensi para wanita mengarah ke pintu dan ….


“Amara, kamu ….”


“Pak Randy! Kok dia ada di sini sih?” tanya Amara pada Lidia.


Lidia menatap bergantian Amara dan Randy dengan tatapan penuh tanya. Sedangkan Randy langsung menghampiri Amara.


“Kamu kenapa sayang? Sudah waktunya melahirkan?” tanya Randy panik sambil memeluk Amara.


Lidia dan kedua pelayan yang menyaksikan interaksi itu hanya bisa terdiam dan terperangah.


“Ishh, lepas. Ngapain Pak Randy ada di sini, pergi … aku sengaja pergi untuk menghindar dari Pak Randy.”


“Ah, kamu suami Amara?” tanya Lidia.


“Iya, saya suaminya,” jawab Randy yang sudah melepas pelukannya karena Amara mendorong tubuhnya. “Kita ke rumah sakit,” ajak Randy.

__ADS_1


“Nggak, Pak Randy sebaiknya pergi. Nggak usah ikut campur dengan kondisi aku.”


“Kamu istriku Amara dan ini anak aku,” ujar Randy sambil mengusap perut Amara.


Lidia terlihat bingung harus bagaimana, Amara menolak suaminya tapi pria itu tidak bergeser sedikitpun. Sampai akhirnya Amara kembali mendesis, merasakan nyeri.


“Kita ke rumah sakit ya,” ajak Randy.


Amara menggelengkan kepalanya sambil  menahan sakit. Randy mengusap perut Amara, wajahnya juga terlihat khawatir.


“Kamu kesakitan sejak tadi pagi, tidak usah membantah daripada terjadi hal yang tidak diinginkan,” ujar Lidia. “Tante siapkan mobil,” ujar Lidia lagi.


“Darmi, panggil Teja,” titah Lidia di luar kamar.


“Teja ikut Pak Wilaga, Bu.”


Amara memalingkan wajahnya, Randy mendekat dan mencium kening lalu memeluk tubuh wanita yang selama ini dia rindukan. Wanita yang sudah dia sakiti hatinya dan wanita yang sudah membuat hidup seorang Randy jungkir balik karena ditinggalkan.


“Jangan pergi lagi, maafkan aku Amara,” ujar Randy.


“Pergilah, masih ada keluargaku yang peduli dengan aku dibandingkan suami yang tidak memprioritaskan aku.”


“Maafkan aku Amara, aku fokus menyelesaikan urusan Hana dan saat kembali kamu sudah pergi. Bahkan Bunda merahasiakan keberadaanmu,” jelas Randy.


“AKu sudah tidak peduli, mau Pak Randy sama Hana atau tidak bukan urusanku lagi.”


“Jangan begitu sayang, aku sudah menceraikannya. Sekarang hanya ada kita, pernikahan kita sudah didaftarkan sebelum aku tahu kamu pergi,” jelas Randy lagi.


“Baguslah, jadi kalau kita cerai ada surat resminya.”


“Amara, aku tidak akan menceraikan kamu. Kita akan kembali bersama, hidup bahagia dengan anak-anak kita, nanti,” bujuk Randy.


Amara kembali merintih, membuat Randy kembali panik dan ….


“Amara, kamu kenapa nak?” tanya Wilaga yang baru datang. “Loh, Nak Randy kenapa dekat-dekat dengan cucu saya?”


“Randy itu suami Amara,” bisik Lidia yang berdiri di belakang Wilaga.


“Apa? Jadi kamu suami Amara. Kalau aku tahu kamu pria yang sudah menyia-nyiakan cucuku, sudah ku seret kamu di jalan dan aku minta semua pelayan pukuli kamu,” teriak Wilaga.


“Pak, nggak boleh begitu,” tegur Lidia.


“Eyang, perut aku sakit,” keluh Amara.


“Eh, cucuku kamu sakit lagi Nak?” wilaga mendekat dan mengusap kening Amara menyingkirkan tangan Randy yang menyentuh tubuh cucunya.


Amara hanya mengerang pelan bahkan matanya terpejam menahan nyeri.

__ADS_1


“Kamu jangan diam saja, bawa Amara ke rumah sakit. Awas saja, kalau sampai kenapa-napa dengan cucuku dan anaknya,” pekik Wilaga pada Randy.


__ADS_2