Bukan Istri Salihah

Bukan Istri Salihah
Kamu Di Mana?


__ADS_3

Randy menanyakan keberadaan Amara pada Juan dan Melly para sahabat istrinya tapi tak ada informasi didapat. Bahkan Melly dan Juan juga kehilangan kontak dengan Amara. Setelah dicek status Amara di kampus ternyata wanita itu sudah mengajukan cuti untuk dua semester.


Rasanya Randy putus asa dan merasa bersalah mengingat tidak mengenal istrinya sendiri. Bahkan makanan kesukaan Amara pun dia tidak tahu. Saat ini Randy berada di kamar yang sebelumnya ditempati Amara.


Ada foto di atas nakas, foto istrinya yang sedang tersenyum. Wajah itu begitu dia rindukan dan Randy hanya bisa memeluk foto istrinya. Satu persatu laci nakas dibuka, berharap menemukan informasi atau kunci untuk menemukan keberadaan istrinya.


Pandangan Randy tertuju pada buku harian bergambar smile. Ada banyak goresan pena istrinya. Membaca lembar demi lembar curahan hati istrinya, bukan hanya berisi tentang kegembiraan tapi lebih banyak guratan kesedihan.


“Amara, maafkan aku.”


Pandangan Randy tertuju pada pigura di dalam laci. Berisi lembaran uang yang dilipat dan dihias.


“Ini mahar pernikahanku dengan Amara.”


...***...


“Buntu Pih, aku tidak bisa temukan Amara. Bahkan Ibu Mirna tidak mau membuka suaranya,” ungkap Randy pada Pram – ayahnya.


“Sombong sekali keluarga itu. Padahal kamu sudah siap menceraikan Hana tapi malah pergi. Sudahlah, kamu kabulkan permintaan Amara. Ceraikan dia,” titah Imelda.


“Mih, jangan buat keadaan semakin rumit. Ini semua salah kita, kalau kamu tidak mengumumkan pernikahan Randy dan Hana semua tidak akan begini,” ujar Pram.


“Randy, sebaiknya kalau Hana sudah sembuh kalian kembali bersama lagi saja. Pasti akan bahagia seperti rencana kalian dulu, punya anak dan ….”


“Mih, Amara sudah tersakiti olehku. Aku sudah berjanji untuk menceraikan Hana dan kembali dengan Amara.”


Imelda masih belum tahu keadaan Hana sebenarnya, dia hanya tahu Hana terluka dan trauma yang kemungkinan karena harus hidup dengan berbagi suami.

__ADS_1


“Imelda, sebaiknya kamu diam jika tidak tahu masalah sebenarnya. Masalah Hana dan Randy lebih rumit dari yang kamu kira,” tutur Pram.


Pram sudah tahu kondisi Hana, bukan dari keluarga besannya tapi dari orang suruhannya. Sudah melihat gelagat aneh terutama ketika Hana mencoba bunuh diri dan kedatangan pria bernama Akbar.


“Apa maksud kamu, Mas?”


“Hana tidak seperti yang kamu banggakan, walaupun yang dialami bukan kesalahannya.”


“Pih, jangan,” ujar Randy.


“Mungkin kamu berjanji tidak akan merahasiakan hal ini tapi Papi tidak berjanji apapun dan Mami kamu perlu tahu agar tidak terus menerus menghujat Amara dan menganggap Hana seakan malaikat.”


Pram akhirnya membongkar alasan pernikahan Hana dan Randy yang hanya berkedok untuk menyelamatkan status dan kehormatan wanita itu. Wanita yang sudah cacat dan disentuh oleh pria lain.


“Jadi, jangan lagi bahas mengenai Hana. Kita turut prihatin akan kondisinya, tapi membela Hana bukan hal baik untuknya. Dia harus bisa melawan traumanya bukan selalu mendapatkan lindungan dan pembelaan dari kamu,” tutur Pram bahkan sambil menunjuk Imelda.


“Setelah dokter menyatakan Hana sudah stabil dan sembuh, segera ucapkan talak. Papi akan sebar orang untuk mencari Amara, kamu terus bujuk Mirna dan sampaikan penyesalan serta rasa bersalahmu.”


“Aku khawatir Pih, karena Amara sedang … hamil.”


“Apa?” tanya Imelda dan Pram berbarengan.


Sedangkan di tempat berbeda, di mana Amara berada. Wanita itu berada di beranda kamarnya yang mengarah ke sebuah taman. Ada seorang pelayan yang khusus menemani Amara, bahkan tidak beranjak selama Amara belum terlelap.


“Mbak Amara sudah mengantuk?”


“Belum.”

__ADS_1


“Baiknya mbak istirahat, ini sudah malam. Tidak baik untuk kesehatan Mbak, mari mbak.”


Amara pun mengalah dan menuruti apa yang diminta pelayan itu demi kebaikannya. Setelah mengganti pakaian dengan piyama. Pelayan itu masih ada dan memastikan suasana kamar nyaman dan aman.


Amara berbaring miring setelah pelayannya pergi. Setiap malam dia akan kembali dengan kesedihannya mengingat Randy juga masa depan anaknya nanti. Terkadang Amara menangis, mungkin pengaruh hormon kehamilannya tapi dia sudah berjanji untuk kuat.


Malam ini Amara tidak bisa memejamkan mata, dia baru bisa terlelap menjelang subuh dan saat pagi terbangun karena gejolak mual yang dia rasakan. Sama seperti pagi-pagi sebelumnya, Amara mengalami morning sickness.


“Sayang, jangan begini dong, kita harus kuat dan buktikan kalau kita bisa tanpa Papamu dan keluarganya.”


...***...


Beberapa bulan berlalu, Randy masih belum bisa menemukan Amara. Mirna tetap bungkam bahkan Pram yang meminta informasi pun tetap tidak ada jawaban. Saat ini Randy sedang berada di kampus, tetap profesional tugasnya dan tetap mencari keberadaan Amara.


Pria itu membaca surat tugas sebagai pembimbing KKN untuk beberapa kelompok, sebagian sudah berjalan dan ini kelompok terakhir yang harus diantar ke lokasi.


“Berkasnya sudah siap?” tanya Randy pada perwakilan kelompok yang ada di hadapannya.


“Sudah pak.”


“Ya sudah, kita berangkat sesuai jadwal. Sampaikan pada kelompok kamu, jangan terlambat.”


Menjelang sore, pria itu kembali ke rumah dan menghabiskan waktu lebih banyak di kamarnya. Setelah membersihkan diri, Randy akan berbaring di ranjang dan menatap dinding kamar yang banyak tergantung pigura foto Amara.


“Kamu di mana sayang? Aku rindu, sangat rindu. Bagaimana anak kita, apakah sudah lahir?”


 

__ADS_1


__ADS_2