Bukan Istri Salihah

Bukan Istri Salihah
Cemburu (2)


__ADS_3

Hana terlihat tidak suka dengan jawaban Randy yang tidak memperbolehkannya datang ke kampus. Mungkin wanita itu ingin kesibukan lain karena saat ini dia hanya fokus sebagai ibu rumah tangga walau tidak sepenuhnya. Randy yang paham dengan keinginan Hana untuk mengisi waktu luangnya, memberikan solusi lain.


“Kamu bisa bantu di salah satu café milikku kalau memang ingin ada kesibukan,” ujar Randy.


“Benarkah?” tanya Hana.


Randy hanya menganggukkan kepalanya.


“Pak Randy punya café?” tanya Amara pelan.


“Amara, kamu tidak tahu kalau suami kita ini bukan hanya berprofesi sebagai dosen. Masih ada beberapa usaha sampingan lainnya, juga saham di perusahaan Papi.”


Suami kita? Kenapa aku tidak suka dengan istilah itu. Jadi maduku ini sudah punya list sumber kekayaan SUAMI KITA sedangkan aku tidak tahu apapun, batin Amara.


“Tentu saja aku tidak tahu, aku memang pernah dengar Pak Randy buka usaha tapi belum pernah di ajak ke tempat itu. Lagi pula pernikahan kami tidak direncanakan, jadi mana aku sempat list daftar kekayaannya. Mungkin kalau dalam rencana, aku sudah mendaftar sampai detail sampai semua rekening dan nominal isinya serta aset lainnya.”


Penuturan Amara membuat Randy tersenyum simpul, sedangkan Hana malah cemberut karena dia tersinggung seakan dia adalah wanita matre yang tahu apa saja yang dimiliki Randy.


“Aku berangkat dulu, kamu ingin bareng?” Randy bertanya pada Amara.


Tadinya Amara akan berangkat agak siang karena tidak ada jadwal pagi, tapi dia sengaja untuk membuat Hana cemburu dengan berangkat bersama Randy.


Hana sempat mencium tangan Randy sebelum pria itu berangkat dan Amara menyaksikan momen itu.


Jangan cium, awas saja kalau dia berani cium Hana di depanku, batin Amara.


Ternyata Randy langsung melangkah dan tidak melakukan apa yang dibayangkan oleh Amara, membuat wanita itu menghela lega.


Setelah kepergian Randy dan Amara, Hana mengarahkan asisten rumah tangga mengurus rumah. Lagi-lagi dia mendapatkan telepon dari nomor tidak dikenal. Sudah tahu kalau yang menghubunginya adalah Akbar, Hana memilih mengabaikan panggilan itu.


Menjelang siang, Hana membuka ponselnya dan terkejut karena salah satu pesan yang dikirim Akbar adalah foto dirinya yang tertidur hanya mengenakan selimut.


“Ya Tuhan, cobaan apalagi ini. Kenapa pria ini tidak puas menggangguku,” gumam Hana yang kecewa dengan nasib hidupnya. Wanita itu membenamkan wajahnya di atas bantal dan menangis di sana.

__ADS_1


Akbar sebenarnya adalah sahabat Hana bahkan kalau ditelusuri masih ada hubungan sebagai kerabat jauh. Pria itu menyukai Hana tapi Hana hanya menganggapnya sebagai teman apalagi Hana sudah menerima lamaran dari Randy.


Tidak terima dengan keputusan Hana, Akbar gelap mata dan memilih jalan pintas untuk mendapatkan gadis itu dengan menyentuhnya. Berharap Hana membatalkan pernikahan dan memintanya untuk bertanggung jawab.


Namun, kenyataan Hana tetap menikah bahkan dipercepat dari yang sudah direncanakan.


...***...


Amara disibukkan dengan urusan kuliah bahkan ada informasi kalau semester berikutnya akan ada program KKN.


“Kita bisa satu kelompok nggak?” tanya Melly.


Amara hanya mengedikkan bahunya.


“Mudah-mudahan kita nggak dapat daerah yang aneh-aneh ya, macam di film KKN Desa Kenari,” sahut Juan yang langsung mendapat pukulan di lengannya dari Melly.


“Kalian kebanyakan nonton film, jadi begitu.” Amara membuka suaranya.


Masa iya aku hamil, tapi aku dan Pak Randy memang sering … ya begitulah dan dia tidak menggunakan pengaman. Bagaimana kalau aku hamil? batin Amara.


“Woy, malah bengong,” tegur Juan karena Amara terdiam padahal Melly terus mengoceh dan bertanya pada wanita itu.


Setelah percakapan itu, Amara terus kepikiran tentang kondisinya. Kalau memang tubuhnya sehat dan tidak ada masalah, kemungkinan dia hamil sangat besar. Namun, kalau dipikir tidak masalah dia hamil toh sudah bersuami.


Ah tidak bisa, aku baru menikah siri. Kalau aku punya anak … aku harus segera melegalkan pernikahan dengan Pak Randy, batin Amara.


Amara tiba di rumah cukup sore bahkan tubuhnya sudah lelah. Setelah membersihkan diri, Amara mengerjakan tugas kuliahnya yang memang sedang padat menjelang ujian akhir semester. Dia melewatkan makan malam karena ketiduran.


Sedangkan di lantai bawah, Randy baru saja tiba hanya disambut oleh Hana. sempat menanyakan Amara tapi Hana mengatakan kalau hari ini adalah jadwal Randy bersamanya. Walaupun keduanya tidak melakukan apapun, tapi Randy tetap melaksanakan janjinya dengan berada dalam satu kamar bersama Hana. Hal itu mereka lakukan agar orang lain menganggap kalau Hana dan Randy memang seperti suami istri pada umumnya.


Esok hari.


Suasana di meja makan terasa aneh. Hana yang tampak ceria sedangkan Amara dengan wajah datar cenderung cemberut. Wanita itu menduga kalau semalam suaminya berbagi kemesraan dengan istri mudanya. Padahal Randy hanya tidur di sofa yang ada di kamar.

__ADS_1


Hana sengaja bersikap begitu untuk membuat Amara cemburu dan berhasil.


“Aku sudah selesai,” ujar Amara lalu berdiri dan pamit untuk berangkat lebih awal.


“Amara, kita bisa berangkat bersama. Ini masih pagi dan ….”


“Aku ada tugas yang belum selesai, harus segera ke perpustakaan,” sahut Amara berdusta.


Randy akhirnya mengizinkan Amara berangkat dan Hana tersenyum karena dia berhasil membalas apa yang Amara banggakan kemarin.


“Mas, Mami tadi hubungi aku. dia mengundang kita makan malam di rumahnya,” ujar Hana.


Randy heran karena Maminya tidak menyampaikan kepadanya hanya mengatakan pada Hana.


“Lihat nanti, di kampus sedang sibuk,” sahut Randy.


Hana dan Randy masih berada di meja makan saat ponsel Hana berdering. Wanita itu mengernyitkan dahinya melihat nomor tidak dikenal lainnya yang menghubungi. Khawatir jika itu adalah Akbar, Hana tidak menjawab panggilan tersebut.


“Kenapa tidak dijawab?” tanya Randy.


“Hm, nanti saja Mas. Ini dari santri yang mau pinjam buku dan kitab,” jawab Hana berbohong.


Tidak lama ada pesan masuk, Hana bisa lihat isinya melalui jendela Pop Up.


[Hana, aku sudah tiba di Jakarta]


“Tidak!” teriak Hana sambil menggebrak meja.


Randy yang sedang menyesap kopinya terkejut bahkan sampai menoleh karena terkejut.


“Hana, ada apa denganmu?"


 

__ADS_1


__ADS_2