Bukan Istri Salihah

Bukan Istri Salihah
Sentuhan ....


__ADS_3

Randy mengantarkan Hana sampai ke parkiran, gadis itu diantar oleh supir keluarganya. Membawakan kartu undangan pernikahan jatah keluarga Randy. Setelah memastikan mobil yang mengantar Hana sudah meninggalkan kampus dan kartu undangan dia simpan di mobil, Randy mengeluarkan ponsel dan menghubungi Amara.


Panggilan tersambung tapi tidak dijawab.


“Kenapa dia tidak jawab, ada di mana dia?” gumam Randy. “Atau di ruanganku.”


Dengan langkah agak cepat, Randy menuju ruang  kerjanya berharap ada Amara di sana. Sempat berpapasan dengan beberapa mahasiswi yang seperti biasa menggoda dan memujanya. Randy pun ingat kalau Amara cemburu hanya karena para perempuan menggodanya apalagi tadi dia bertemu Hana.


Walaupun pernikahan yang terjadi antara mereka bukan karena cinta, tapi Randy yakin diantara mereka sudah ada perasaan dan sebagai suami dirinya harus menjaga perasaan istrinya. Apa yang Amara lihat tadi tentunya akan membuat kecewa atau sakit hati.


“Amara,” panggil Randy ketika membuka pintu ruang kerjanya, ternyata tidak ada Amara di sana. “Kemana kamu,” gumam pria itu sambil duduk di sofa dan kembali membuka ponselnya.


“Huftt.”


Amara dan Hana, memiliki tempat sendiri di hati Randy. Bukan dia tidak bisa memberikan keputusan tapi dia merasa harus bertanggung jawab dengan kedua perempuan itu. Pernikahannya dengan Amara bukan sebuah permainan dan hubungannya dengan Hana juga tidak bisa diputuskan sepihak. Oleh karena itu, dia perlu bertemu dengan keluarga Hana untuk menyelesaikan semuanya.


[Amara, di mana kamu?]


Randy mengirimkan pesan pada Amara. Kalau bukan karena tanggung jawab profesinya, Randy pasti sudah pergi mencari Amara. Berharap Amara segera membalas pesannya, sambil menunggu jam mengajar dan rapat dosen yang akan diadakan sore ini Randy menunaikan ibadah dzuhur.


Ternyata Amara pulang ke apartemen menggunakan ojek online, ponselnya berada di tas. Bahkan saat tiba dia langsung melemparkan tas ke atas sofa sedangkan dirinya menuju kamar. Berganti dengan pakaian yang lebih santai  dan hendak mengistirahatkan tubuh serta pikirannya karena sempat cemburu menyaksikan suaminya berinteraksi dengan wanita lain.


Pantas saja Pak Randy ingin aku menjadi istri salihah, rival aku terlihat begitu salihah, batin Amara.


Akhirnya Amara menunaikan sholat sebelum dia tidur siang seperti rencananya.

__ADS_1


Sampai dengan sore, Amara belum membuka ponsel dan menjawab pesan dari Randy apalagi mengetahui kalau suaminya telah menghubungi.


...***...


Randy sudah tiba di apartemen, melihat Amara berbaring di sofa sambil meninton TV. Paling tidak dia lega karena Amara ada di rumah.


"Amara."


"Hm."


"Suamimu sudah pulang, kenapa masih asyik dengan kegiatanmu."


Amara beranjak dari posisinya lalu menghampiri Randy dan mencium tangan pria itu, wajahnya menunduk karena banyak sekali yang ingin dia tanyakan mengenai Hana tapi tidak berani dia ungkapkan.


"Sudah mandi?"


"Sholat?"


Amara kembali mengangguk pelan.


"Kenapa mengabaikan telepon dan pesan dariku?"


"Ponselku ...." Amara menggaruk kepalanya, menyadari kalau sejak tadi dia tidak melihat ponselnya. "Aku lupa menyimpan ponselku," sahut Amara.


Amara mencari ponselnya di kamar diikuti oleh Randy yang menatap Amara yang ke sana ke mari mencari ponselnya juga menghindar dari tatapan suaminya.

__ADS_1


"Amara, hentikan!" titah Randy sambil meraih tangan istrinya agar diam lalu menangkup wajah yang sejak tadi siang sangat dia khawatirkan dan mendudukan tubuh istrinya pada tepi ranjang.


"Aku tahu kamu marah dan kamu cemburu. Jangan hanya diam, tolong katakan dan aku minta maaf. Aku tidak tahu kalau Hana datang dan minta kamu juga datang ke ruanganku."


"Apa dia sudah tahu kalau Pak Randy sudah menikah?"


Randy menggelengkan kepalanya.


"Pak Randy akan pilih dia atau aku?"


"Amara, kalian bukan pilihan dan aku tidak berhak memilih. Allah yang sudah menjadikan kamu takdir hidupku."


"Lalu Hana?"


"Aku akan menemui keluarganya dan mencari solusi kondisi ini."


"Seharusnya Pak Randy talak aku, wanita itu begitu cantik dan tentu saja lebih salihah dibandingkan aku."


"Kamu cantik, aku hanya boleh memuji istriku bukan perempuan lain."


"Gombal," gumam Amara.


Randy tersenyum kemudian keduanya saling menatap dan pandangan tersebut membuat keduanya terlena. Amara tidak menyadari kalau Randy semakin memajukan wajahnya dan semakin dekat. Tujuannya tentu saja bibir Amara yang semerah cerri dan selalu menggoda ketika gadis itu bicara.


Amara sudah halal untuk aku sentuh, dia istriku dan aku berhak atasnya, batin Randy.

__ADS_1


Akhirnya bibir keduanya bertemu, Amara membulatkan matanya apalagi tubuhnya serasa tersengat sesuatu padahal hanya bibir mereka yang bertemu.


Keduanya masih amatir, bahkan saat Randy semakin memperdalam ciummannya Amara hanya diam. Namun, berbeda dengan Randy merasakan bibir lembut dan manis milik istrinya. Sudah pasti akan membuatnya candu bahkan berharap lebih dari sekedar pagutan bibir.


__ADS_2