
“SAH”
Amara meremmas dress yang dia kenakan mendengar kata tersebut. Mungkin kata itu bisa menjadi kata keramat yang sangat dia benci. Bagaimana tidak, berada dalam situasi di mana Randy harus mengucapkan ikrar untuknya dan untuk wanita lain sampai para saksi mengatakan kalau pernikahan tersebut sudah sahih.
Kuat, kamu harus kuat Amara.
Perempuan itu berusaha untuk tidak menangis, dia mengangkat wajahnya.
Hana sedang dipeluk oleh Imelda, karena akhirnya menjadi menantu wanita itu. Sedangkan Maya, Ibu Hana mengusap punggung Amara sambil tersenyum.
“Maaf kalau kamu harus berada di situasi ini,” bisik wanita itu.
Amara tidak menjawab dan merespon dengan ucapan. Satu kata lolos dari mulutnya, akan membuat tangisnya pecah. Randy saat ini sedang menatap ke arahnya, seakan memohon untuk memaafkannya. Alih-alih menghindari tatapan suaminya, Amara membalas tatapan itu dan mengulas senyum seakan mengatakan kalau dia baik-baik saja.
Imelda sibuk mengabadikan momen tersebut, termasuk dia pun mengambil foto bersama anak dan menantunya. Amara perlahan keluar meninggalkan tempat itu dan ….
“Amara.”
Perempuan itu menoleh, ternyata Pram yang memanggil menantu pertamanya.
“Papi minta maaf, karena tidak berhasil melindungimu. Padahal Ibumu sudah menitipkan betul dan memohon agar kamu tidak tersakiti. Nyatanya ….”
“Om Pram, aku hanya ingin Bunda tidak kesulitan. Kalau aku menolak permintaan Pak Randy, entah apa yang akan dilakukan tante Imelda pada Bunda dan aku.”
“Amara ….”
“Cukup! Aku tidak inginn membahas ini lagi dan berharap Pak Randy segera menceraikan aku.”
__ADS_1
Ternyata Hana akan ikut Randy pulang bahkan sudah membawa koper dan tas berisi perlengkapan dan kebutuhannya.
“Kamu ikut mobil Randy ya,” ujar Imelda ketika sudah pamit dengan besannya. “Duduk di samping Randy,” ujar Imelda yang membuka pintu mobil dan mempersilahkan Hana untuk naik.
Amara duduk di kabin belakang tepat di belakang Hana sedangkan Randy sedang merapikan bawaan Hana di bagasi. Saat membuka pintu mobil, Randy terkejut karena ada Hana yang duduk di samping kemudi.
“Aku diminta Mami duduk di sini,” ujar Hana seakan tahu apa yang Randy pikirkan.
“Hm.”
Randy sudah menghidupkan mesin mobil, menoleh ke belakang di mana Amara berada tapi perempuan itu memandang ke luar jendela. Menyadari kalau sejak tadi Amara menghindarinya, bahkan sekedar bertatapan pun Amara tetap menghindar.
Sepanjang perjalanan ketiga orang yang berada dalam satu mobil itu hanya diam. Sampai akhirnya Hana membuka suaranya.
“Mas Randy, kita akan tinggal di mana?”
“Itu … aku belum memikirkan tapi tidak usah khawatir aku yang akan cari solusinya.”
“Untuk sementara biar aku tinggal dengan Bunda, kalian bisa tetap di apartemen,” usul Amara masih dengan pandangan keluar jendela.
“Apa kita tidak bisa tinggal bersama di apartemen Mas Randy? Kamu tidak ingin tinggal dengan kami?” tanya Hana pada Amara.
“Sudah, kita akan bicarakan ini nanti. Aku sedang mengemudi.”
Mobil Randy akhirnya tiba di Jakarta dan sudah memasuki area apartemen bahkan sudah terparkir di basement. Tanpa mereka ketahui ternyata mobil yang membawa Pram dan Imelda juga tiba di sana. Bahkan wanita itu sudah berada di depan pintu mobil Randy.
“Mami kenapa ke sini?” tanya Randy sambil membuka kaca jendela.
__ADS_1
“Rumah yang rencananya akan kamu tempati dengan Hana belum diisi perlengkapan. Untuk sementara kalian bisa tinggal dengan Mami.”
Randy dan Hana saling tatap.
“Amara juga akan tinggal denganku Mih.”
Imelda menghela nafasnya.
“Oke, tapi untuk beberapa hari ini tinggalah di hotel. Nikmati malam pernikahan kalian tanpa gangguan, tidak usah khawatir dengan Amara. Dia akan tinggal dengan Mami. Amara, apa kamu keberatan kalau mereka meluangkan waktu berdua?”
Hana dan Randy menoleh ke arah Amara.
“Tidak, silahkan saja.”
Lagi-lagi Randy kecewa, padahal dia berharap Amara menolak ide itu.
“Kalian dengar sendiri, dia tidak keberatan. Amara ayo turun, Mami temani ambil perlengkapan kamu lalu ikut mami pulang.”
Amara membuka pintu mobil dan turun. Berjalan ke arah pintu masuk apartemen tanpa menyapa atau meminta izin pada Randy.
“Kamu lihat itu, tidak ada santunnya pada suami. Dia bukan istri salihah seperti Hana,” ujar Imelda pada putranya.
Sedangkan Amara bergegas bukan karena dia marah tapi dia tidak ingin terlihat lemah, padahal hatinya hancur bahkan saat ini dia sedang menangis.
“Aku memang bukan istri salihah.”
__ADS_1