Bukan Istri Salihah

Bukan Istri Salihah
Penjelasan Bunda


__ADS_3

Malam ini Randy kembali pulang telat, walaupun sudah mengabari Amara lewat pesan. Perannya di kampus bukan hanya sebagai dosen tapi merangkap sebagai jajaran rektorat, karena yayasan kampus di mana dia bekerja adalah milik keluarga besar Kalingga. Tepatnya sang Kakek dari papi Randy adalah ketua yayasan pemilik Kampus.


Mengetahui Randy pulang agak telat, Amara agak lega. Dirinya merasa malu dan canggung bertemu dengan suaminya setelah kegiatan semalam yang cukup menguras tenaganya. Bahkan wanita itu tertidur sebelum suaminya pulang.


Randy yang baru saja tiba dan tidak melihat Amara di ruang tamu juga di dapur.


“Apa dia sudah tidur?” gumam Randy lalu menuju kamarnya.


Melihat sosok yang dia cari berbaring di ranjang dengan begitu damai, pria itu menghampiri  dan duduk di tepi ranjang lalu mengusap pipi Amara.


“Masih lelahkah, sampai aku pulang tiada sambutan,” ujar Randy.


Menatap lekat mulai dari wajah sampai dengan kaki, ternyata mampu membangkitkan kembali rasa yang semalam dia dapatkan dan tubuh yang seakan dia selami begitu dalam. Kebetulan Amara mengenakan piyama pendek berbahan satin berwarna merah cukup kontras di kulitnya dan terlihat seksi.


“Sepertinya aku harus segera mandi,” gumam Randy lalu beranjak dari ranjang.


Entah jam berapa Randy terjaga karena tubuhnya agak tertekan dan tidak bebas bergerak. Saat dia membuka mata, ternyata Amara memeluknya bahkan kaki wanita itu menindih dan kakinya.


“Amara, posisimu sangat berbahaya aku bisa ….”


“Hm,” Amara bergumam dan semakin mengeratkan pelukannya. Sepertinya wanita itu mengira sedang memeluk guling bahkan wajahnya dia benamkan pada dada kekar Randy dan lututnya dia gerakan membuat Randy terkejut.


“Amara, jangan bergerak di situ. Kamu … membuatnya tegang.”


“Hm.” Lagi-lagi Amara bergumam.


Perlahan Randy mulai menggeser tubuh Amara agar menjauh, tiba-tiba wanita mengerjapkan matanya. Mereka saling pandang dan Amara bergerak menjauh.


“Pak Randy ….”

__ADS_1


“Kamu yang memelukku,” sahut Randy.


Amara beranjak duduk lalu menggaruk kepalanya, menyadari memang dia yang merangsek berpindah dari sisi di mana dia belum tertidur.


“Ini jam berapa? Aku semalam ketiduran, nggak tahu Pak Randy pulang.”


Randy beranjak duduk dan berhadapan dengan istrinya.


“Seperti yang aku sampaikan, untuk kali ini aku memaklumi tapi tidak untuk selanjutnya,” ungkap Randy. “Biar terbiasa bagaimana kalau kita ….”


“Apa?” tanya Amara menyela ucapan suaminya.


“Jangan dibiasakan memotong pembicaraan. Tidak ada waktu yang percuma termasuk kita terjaga saat ini, bisa kita manfaatkan untuk olahraga sekaligus ibadah.”


“Mana ada olahraga sekaligus ibadah?” tanya Amara heran.


“Tentu saja ada, seperti yang kita lakukan semalam.”


Akhirnya Randy dan Amara mengulang kembali apa yang malam lalu mereka lakukan. Selain karena kewajiban dan kebutuhan suaminya, keduanya merasakan kegiatan menyenangkan tersebut menjadi candu yang membuat mereka menginginkan lagi dan lagi.


Bukan hanya sekali, Randy mulai mahir bak seorang player yang membuat Amara melayang dan terbuai hingga keduanya sampai pada puncak kenikmatan dan meraih pelepasannya.


...***...


“Bunda,” sapa Amara yang baru saja tiba di sebuah café sesuai pesan dari Mirna. Setelah mencium tangan Mirna juga memeluk wanita itu, Amara duduk di kursi berhadapan dengan Bundanya.


“Apa kabarmu sayang? Setelah menikah jarang sekali kita bertemu,” keluh wanita paruh baya yang masih terlihat cantik.


Jika dilihat dengan teliti, kedua wanita itu memang begitu mirip. Amara mungkin perwujudan Mirna ketika muda.

__ADS_1


“Aku baik Bun, Bunda sendiri?”


Mirna tersenyum, “Seperti yang kamu lihat sayang.”


Mirna sengaja mengajak Amara bertemu saat makan siang dan wanita itu tahu putrinya sedang berada di kampus. Café di mana mereka berada tidak jauh dari kampus Amara.


“Kamu sudah izin Randy akan bertemu Bunda?”


Amara menganggukkan kepalanya. Tentu saja dia sudah sampaikan pada suaminya, jika tidak Randy pasti akan marah. Hampir setiap hari, Amara makan siang di ruang kerja suaminya bahkan Juan dan Melly sempat protes karena mereka jarang bersama-sama lagi setelah Amara menikah.


“Bunda harus jelaskan mengenai Mas Pram agar kamu tidak salah paham dengan Bunda.”


Mirna akhirnya menjelaskan situasi saat Amara menyaksikan dirinya dan Pram dalam keadaan saling memeluk termasuk juga siapa Pram di kehidupan Mirna dulu juga saat ini yang ada kaitannya dengan butik.


“Bunda dan Mas Pram tidak pernah mengkhianati pasangan masing-masing walaupun Ayah kamu sudah tiada, Bunda tidak menggunakan kesempatan ini untuk kembali dengannya. Namun, saat Bunda tahu dia adalah orang tua Randy tentu saja Bunda khawatir.”


“Karena Tante Imelda tidak menyukai Bunda?” tanya Amara.


Mirna tertegun, bagaimana bisa Amara mengetahui hal itu.


“Bunda tidak usah khawatir, sepertinya sikap wanita itu tidak baik pada kita berdua. Apapun akan salah dimatanya.”


Mirna menghela nafasnya pelan.


“Pak Randy baik, dia serius berumah tangga denganku. Padahal sebelumnya selalu aku paksa untuk mengucap talak,” tutur Amara dan tidak menyampaikan kalau ada Hana diantara hubungannya dengan Randy. Apalagi besok Randy dan kedua orangtuanya akan menemui keluarga wanita itu.


“Kalau memang begitu, Bunda bahagia mendengarnya.”


Amara tersenyum walaupun sejak tadi pagi saat Randy mengatakan akan menemui Hana membuat fokus dan perasaannya tidak karuan.

__ADS_1


 


__ADS_2