Bukan Istri Salihah

Bukan Istri Salihah
Beri Aku Kesempatan


__ADS_3

Randy mengemudi mobil milik Lidia, sesekali dia melihat ke belakang melalui rear view. Amara di kabin penumpang bersama Lidia. Wilaga sebenarnya ingin ikut ke rumah sakit tapi dilarang oleh Lidia. Amara sudah tidak merintih seperti tadi.


Entah karena apa sakit yang dirasakan, yang jelas bukan waktunya melahirkan. Apalagi HPLnya masih beberapa minggu ke depan.


“Rumah sakitnya di kanan, kamu putar balik dulu,” titah Lidia menunjukan arah pada Randy.


Mobil berhenti tepat di depan UGD, Randy memanggil petugas kesehatan yang membawa kursi roda.


“Biar Amara dengan tante, kamu parkirkan dulu mobilnya.”


Randy menganggukan kepala meskipun dia ingin sekali mendampingi Amara yang sudah dibawa ke UGD. Wanita itu masih dalam observasi saat Randy kembali, bahkan Lidia pun ikut menunggu di depan UGD.


“Tante nggak temani Amara?”                                                                                        


“Tidak boleh, sedang pemeriksaan. Diminta tunggu di luar,” jawab Lidia.


Jika Lidia menunggu sambil duduk di kursi stainless, berbeda dengan Randy yang berdiri sesekali dia akan berjalan mondar mandir menghilangkan rasa gugup dan khawatir nya.


Beberapa bulan ini terpisah dari Amara, bahkan pencariannya pun tidak berhasil. Ternyata Amara dititipkan di keluarga Ayahnya. Yang membuat Randy diliputi rasa bersalah adalah kehamilan Amara. Dia tidak berada di samping Amara yang menjalani kehamilannya. Tidak tahu bagaimana ngidamnya Amara dan disusahkan ketika Amara menginginkan sesuatu.


Pesan berisi kabar bahwa dirinya sudah bertemu Amara, telah dikirimkan oleh Randy pada Pram –papinya.


“Randy, duduklah!” titah Lidia.


“Keluarga Ibu Amara,” teriak salah satu perawat.


Randy dan Lidia bergerak menghampiri dan menanyakan kondisi Amara.


“Kita temui dokter, nanti dijelaskan bagaimana kondisi pasien,” ujar perawat itu.


Dokter menyampaikan tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Posisi plasenta yang sebelumnya menutupi jalan lahir sudah bergeser tapi bukan berarti Amara boleh bergerak dan melakukan aktivitas berlebihan.


“Rasa nyeri karena tekanan janin dan perkembangan yang semakin besar, membuat kerja otot dan yang lainnya meningkat. Rasa sakit bisa muncul karena dua hal tadi,” terang dokter.


“Apa yang harus dilakukan oleh istri saya Dok?”


“Untuk sementara bedrest di rumah. Yang perlu dikhawatirkan kalau sudah mulai keluar cairan dari bawah, demam tinggi atau si Ibu tidak sadarkan diri. Untuk saat ini kondisi Ibu Amara masih stabil, jadi aman untuk pulang.”


Randy menghela nafasnya lega, sempat kepikiran terjadi sesuatu pada Amara atau melahirkan prematur.

__ADS_1


“Aku urus administrasi dulu, tante temani Amara.” Lidia menepuk bahu Randy saat melewati pria itu untuk masuk ke UGD menemui Amara.


...***...


“Istirahat, nggak usah pikir hal yang aneh-aneh. Kamu nggak mau bayi kamu lahir prematur ‘kan?” tanya Lidia.


Saat ini Amara sudah kembali ke rumah Wilaga.


“Gimana bisa istirahat kalau ada Pak Randy,” keluh Amara.


“Bicarakan baik-baik, jangan menghindar. Beberapa bulan menepi, Tante pikir cukup untuk kalian bicara dari hati ke hati. Lagi pula, kalau Tante Lihat dia orang yang bertanggung jawab bahkan kelihatan sekali dia khawatir sama kamu.”


Amara berbaring di ranjangnya, wajahnya cemberut sambil menatap langit-langit kamar. Lidia meninggalkan wanita itu untuk mempertimbangkan masukan yang dia sampaikan.


“Bicara baik-baik? Aku nggak bisa bicara baik-baik dengan Pak Randy,” gumam Amara yang berpindah menjadi berbaring miring membelakangi pintu kamarnya.


Sedangkan di ruang keluarga,Randy sedang menghadapi Wilaga. Pria tua itu duduk bersedekap menatap cucu menantunya. Tidak terpikirkan kalau pria yang dia sambut dengan baik adalah pria yang dihindari oleh cucu kesayangannya.


“Kamu pikir bisa kembali dengan Amara dengan mudah?  Setelah apa yang dia lewati selama ini,” ujar Wilaga. “Mirna mendidik dan membesarkan Amara seorang diri, bukan berarti dia ingin Amara merasakan hal yang sama. Apa yang terjadi dengan pernikahan kalian bukan hanya menyakiti Amara, tapi juga Mirna dan kami.”


Randy hanya diam mendengarkan apa yang diucapkan Wilaga untuknya. Posisinya salah dan dia tidak akan membela diri atau membutuhkan pembelaan diri.


“Saya akan minta orang tua saya datang, yang jelas saya ingin diberikan kesempatan lagi untuk menjalani rumah tangga dengan Amara. Saya menyadari kesalahan saya dan tidak akan berkelit akan hal itu. Tolong izinkan saya menemui Amara,” pinta Randy.


“Silahkan saja kalau memang Amara mau menemui kamu, tapi jangan memaksa.”


Randy pun undur diri, saat hendak ke kamar Amara dia berpapasan dengan Lidia.


“Amara sedang istirahat, biarkan saja dulu. Yang penting kondisi kehamilannya baik-baik saja,” ujar Lidia yang melarang secara halus agar Randy tidak menemui keponakannya.


Sampai dengan malam, Randy belum bisa menemui Amara. Kamar wanita itu terlihat sepi tidak ada pergerakan apapun. Sejak tadi, Randy menunggu pelayan yang datang atau Amara keluar tapi tidak ada.


“Amara kenapa tidak keluar dari kamar ya?”


Pria itu berjalan mendekat lalu ….


“Mas.”


Randy menoleh.

__ADS_1


“Mau bertemu Amara?”


“Iya.”


“Jangan dulu deh, nanti Eyang marah. Lagi pula Amara masih bedrest. Saya Dayu, anaknya Ibu Lidia.”


“Ah, sepupu Amara. Saya Randy.”


Dayu terkekeh membuat Randy heran dan mengernyitkan dahinya.


“Sorry Mas. Saya kemarin menggoda Amara, kalau ada dosen KKN yang tampangnya guanteng tenan bahkan suami Amara pun kalah. Taunya Mas ini malah suaminya Amara beneran,” tutur Dayu.


Randy tersenyum. Atensinya beralih pada pintu kamar yang sejak tadi menjadi pusat perhatiannya. Pintu kamar itu terbuka dan munculah bidadari hatinya. Amara yang mengenakan maternity baby doll dress selutut, berdiri di tengah pintu.


“Dayu, panggilkan Mbok Darmi,” ujar Amara.


“Tuh orangnya, temuin aja Mas tapi kalau Amara menolak jangan maksa ya. Eyang lagi ada acara, aku tahu kalian sebenarnya saling merindukan.” Dayu beranjak meninggalkan Randy yang memandang Amara.


Amara berbalik dan melangkah masuk, Randy bergegas mengejarnya.


“Amara,” panggil Randy yang sudah berada di tengah pintu.


“Nggak usah ganggu, aku nggak mau bertemu Pak Randy,” sahut Amara.


Randy mendekat dan meletakan tangannya di kedua pundak Amara.


“Ih, ngapain pegang-pegang.”


“Duduk, aku mau bantu kamu duduk. Tidak baik berdiri terlalu lama dengan kondisi perut kamu seperti ini,” ujar Randy kemudian mengajak Amara duduk di tepi ranjang.


Amara menduga kalau Randy akan duduk di sampingnya, ternyata malah berjongkok di depannya.


“Aku tahu aku salah, aku tidak menyangkal akan hal itu tapi jangan usir aku dan jangan pergi lagi. Berikan aku kesempatan untuk memperbaiki semua, hanya ada kamu Amara hanya kamu.”


Berbeda dengan Randy yang memandang wajah Amara tapi Amara malah memandang ke arah lain. Wanita itu tidak ingin hatinya luluh dengan wajah dan tatapan suaminya. Diakui atau tidak dalam hatinya hanya ada Randy.


“Orangtuaku sudah dalam perjalanan, bukan hanya aku yang berharap kita kembali bersama. Mereka pun juga.”


“Apa? Tante Imelda mau ke sini?”

__ADS_1


 


__ADS_2