
Hana berdiri saat melihat kedatangan Akbar, “Akbar, tolong jangan ganggu aku. Biarkan aku hidup bahagia dengan Mas Randy,” ujar Hana sambil melangkah mundur.
Amara menutupi wajahnya dengan buku menu dan mendengarkan interaksi antara Hana dengan pria itu.
“Akbar, siapa Akbar?” gumam Amara.
“Tidak bisa Hana, kamu milikku tapi malah menikah dengan pria lain. Aku akan temui suamimu dan sampaikan apa yang sudah terjadi dengan kita.” Ucapan pria itu mengandung ancaman dan membuat Hana panik.
“Akbar, mengapa kamu begitu jahat.”
“Aku tidak jahat, aku sayang kamu Hana. Aku melihat perempuan lain di rumah itu, sepertinya dia istri suamimu juga. Mengapa kamu malah rela berbagi suami,” tutur Akbar.
“Itu bukan urusanmu, aku minta kamu jangan ganggu aku lagi.”
“Kembali padaku Hana, kita menikah dan punya banyak anak. Aku tidak akan tinggal diam kalau kamu tetap mempertahankan rumah tanggamu,” tutur Akbar.
“Akbar, please!"
Amara terenyuh mendengar suara Hana yang bergetar dan terdengar isakan.
“Hei, siapa kamu dan apa hubungan kalian?” tanya Amara sambil melangkah menghampiri Akbar dan Hana.
“Amara. A-aku bisa jelaskan, ini tidak seperti yang kamu bayangkan,” tutur Hana panik sambil mengusap air matanya.
“Memang apa yang aku pikirkan? Kalian ikut pulang ke rumah, aku akan hubungi Pak Randy dan kamu … sepertinya aku tidak asing dengan wajahmu,” tutur Amara pada Hana dan Akbar.
Akbar menatap Amara.
“Ah, kamu yang pernah berdiri di depan rumah, jadi selama ini kamu menguntit?” Amara menunjuk wajah Akbar.
“Amara, sudah. Sebaiknya kita pulang.” Hana mencengkram lengan Amara dan mengajak madunya pulang meninggalkan Akbar.
“Eh, nanti dulu. Kamu ikut kami, kita selesaikan ini. Aku tidak mungkin biarkan Pak Randy dibohongi, kamu sudah menikah tapi menemui pria lain. Menurut Mami kamu adalah istri salihah, seharusnya tahu hal ini tidak boleh kamu lakukan,” tutur Amara dengan wajah serius.
__ADS_1
“Amara,” bujuk Hana.
“Aku bersedia bertemu suami kamu, Hana. Kita selesaikan masalah ini,” ujar Akbar.
Akhirnya Amara menghubungi Randy agar segera pulang karena ada masalah serius lalu mengajak Hana pulang membonceng motor Amara dan Akbar menyusul dengan mobilnya.
Amara, Hana dan Akbar sudah berada di ruang tamu menunggu kedatangan Randy. Ketiganya tidak ada yang bersuara, tapi Amara menyaksikan sendiri Akbar terus menatap Hana yang menunduk sambil memilin jemarinya.
“Hei,” tegur Amara pada Akbar membuat pria itu menoleh. “Aku tidak tahu hubungan apa antara kamu dengan Hana, tapi di sini kamu hanya tamu dan Hana sudah menjadi istri pria lain. Bersikap sopanlah,” tutur Amara.
Akbar berdecak mendengar penuturan Amara yang sok bijak dan dewasa, padahal dari umurnya jelas wanita itu masih muda.
“Jangan sok menceramahiku, aku tahu kamu dan Hana tidak akur,” ujar Akbar sinis.
Terdengar deru mesin mobil, sepertinya Randy yang datang dan tidak lama kemudian terdengar salam.
Amara yang paling dekat dengan pintu berhambur menghampiri dan mencium tangan pria itu. sedangkan Hana masih menunduk, Randy menatap bergantian Akbar dan Hana lalu duduk di salah satu sofa.
“Randy.” Sambil mengulurkan tangan pada Akbar, Randy mengenalkan dirinya.
Akbar menyambut uluran tangan dan menyebutkan namanya.
“Mau aku yang jelaskan atau kamu?” tanya Amara pada Hana.
“Biar saya yang menjelaskan.” Akbar merasa ini adalah kesempatan yang baik untuk mengatakan kebenaran pada pria yang menikahi Hana.
“Jangan,” pekik Hana. “Mas Randy, kamu sudah berjanji saat menikah denganku akan menutupi dan melindungi apapun yang terjadi. Aku harap kamu tidak mengingkarinya,” ungkap Hana dengan suara parau.
“Apa aku terlihat akan mengatakan sesuatu tentangmu. Aku di sini bertanya karena tidak tahu apa yang terjadi?”
“Aku Akbar dan aku ….”
“DIAM!”
Hana sudah berdiri, nafasnya terengah dan kedua tangannya meremmas dress yang dia kenakan.
__ADS_1
“Kalian semua jahat,” teriak Hana.
“Hana, ada apa denganmu? Tenanglah!” Amara meraih lengan Hana dan mengusap punggung wanita itu. Hana terlihat kacau, pandangannya tidak tentu arah dan air mata sudah membasahi pipinya.
“Kamu senang bisa menjadi wanita terbaik untuk Mas Randy?” tanya Hana.
“Maksudnya? Kita berdua adalah wanita terbaik untuk Pak Randy, kalau tidak mana mungkin dia mempertahankan pernikahan denganku dan juga menikahimu?”
Hana menggelengkan kepalanya sambil terisak.
“Hana, ada apa ini?” tanya Randy yang sudah ikut berdiri.
“Biar aku yang jelaskan, bisa kita bicara berdua?” tanya Akbar pada Randy.
“Jangan Mas, tolong jangan.”
“Kita ke kamar, kondisimu tidak baik.” Amara mengajak Hana ke kamarnya meninggalkan Randy dan Akbar.
Randy kembali mempersilahkan tamunya untuk duduk dan meminta penjelasan sesuai dengan usulan Akbar.
“Entah Anda sudah tahu atau belum, yang jelas aku dan Hana ada hubungan di masa lalu,” terang Akbar membuka suara.
Randy menatap Akbar menunggu kelanjutan cerita pria itu.
“Aku mencintai Hana dan dia malah menerima pinangan dari pria lain. Demi mendapatkan Hana seutuhnya aku sudah … menyentuhnya.”
“Bajing4n,” teriak Randy lalu melayangkan pukulan di wajah Akbar. “Caramu keji dan pengecut. Apa tidak terpikir olehmu Hana akan mengingat kejadian itu menjadi sebuah trauma.” Randy masih mencengkram kerah kemeja yang dikenakan Akbar.
“Aku tahu aku salah, aku hanya berharap Hana akan meminta pertanggung jawabanku lalu kami bisa bersama. Nyatanya dia menikah dan pergi, aku tidak yakin dia bahagia dengan pernikahan ini. Apalagi dia harus berbagi suami dengan wanita lain,” tutur Akbar.
Randy menghempaskan tubuh Akbar dengan melepas cengkramannya.
“Tahu apa kamu dengan Hana tidak bahagia. Kalau kamu sendiri sudah memberikan neraka untuknya.”
“Ceraikan Hana, aku akan menikahinya. Aku ingin membahagiakan dia,” ujar Akbar lagi.
__ADS_1
Prang.
“Pak Randy!” teriak Amara dari kamar.