
Pagi ini Randy datang menjemput Amara untuk tinggal di rumah yang memang pria itu sudah siapkan sebelum menikah. Kebetulan hari ini weekend, Mirna masih berada di rumah dan sengaja menunggu kedatangan menantunya.
“Duduk, Bunda ingin bicara!”
Kalau di awal pernikahan Amara dan Randy, Mirna yakin menantunya adalah pria yang baik dan bisa dipercaya untuk membimbing dan membahagiakan Amara tapi tidak untuk saat ini. Kenyataan putrinya memiliki madu dalam pernikahan tentu saja hal yang tidak diinginkan baik oleh Amara atau wanita manapun.
“Entah Bunda harus menggunakan kalimat dan bahasa apa lagi agar kamu mengerti. Lepaskan Amara, Ibumu tidak menyukai Amara dan sekarang kalian putriku akan tinggal satu atap dengan istri muda suaminya.” Mirna menghela nafas setelah bertutur kata.
“Maafkan saya, ini bukan dalam rencana tapi saya yakin ada rencana dan campur tangan Tuhan di balik pernikahan saya dengan Amara begitu juga dengan pernikahan saya dan Hana.” Randy mencoba menjelaskan menurut pendapatnya.
“Tapi tidak dengan ….”
“Bunda.” Ucapan Mirna disela oleh panggilan Amara yang entah sejak kapan sudah berada di sana. “Aku baik-baik saja.”
“Itu di mulutmu tapi tidak di hatimu,” ujar Mirna.
Amara duduk di samping Bundanya dan menggenggam erat kedua tangan Mirna. “Aku baik-baik saja Bun, percayalah. Kalaupun aku dan Pak Randy harus terpisah, itu akan terjadi kalau beliau yang mengucapkan kata talak untukku tapi bukan karena permintaanku.”
“Mana ada janji seperti itu. Bunda tidak yakin kamu akan bahagia, kalaupun istri mudanya baik terhadapmu belum tentu Ibu mertuamu akan memperlakukanmu dengan baik juga.”
“Bunda, aku tidak bisa berjanji hati Amara akan terus terjaga tanpa sakit hati tapi aku berjanji Mami tidak akan banyak terlibat di urusan pernikahanku,” janji Randy pada Mirna.
__ADS_1
“Bunda dengarkan?” tanya Amara. “Pak Randy tidak mungkin membiarkan aku tersiksa hati.”
Dengan perdebatan yang cukup alot akhirnya, Amara dan Randy meninggalkan Mirna yang masih berat hati melepas putrinya tinggal bersama madunya.
Dalam perjalanan Amara hanya diam dengan pandangan ke luar jendela dan Randy fokus pada kemudi. Wanita itu tidak membawa banyak perlengkapannya hanya memindahkan pakaian dan kebutuhan lain dari apartemen yang sebelumnya ditempati bersama Randy.
Amara yang menyadari dia belum dewasa dan belum memahami konsep rumah tangga di mana harus berbagi suami. Mungkin saja kedepannya dia tidak sanggup atau bahkan dia akan di depak dari kehidupan Randy jadi dia harus bersiap dengan situasi itu.
“Selamat datang di rumah kita,” ujar Randy ketika mereka tiba. Amara menatap bangunan di hadapannya. Hunian dua lantai dengan desain modern, dilengkapi dengan penataan taman yang cukup baik.
Amara hanya tersenyum lalu beranjak masuk.
Senyum di wajah Amara langsung hilang menatap wanita yang menyambutnya. Wanita itu terlihat cantik dengan penampilannya yang syar'I berbeda dengan dirinya yang masih membiarkan kepala dan rambutnya terlihat.
“Ayo masuk,” ajak Randy sambil merangkul bahu Amara. “Ada yang harus kita bicarakan.”
Ketiganya sudah berada di ruang tamu, di mana Randy duduk di sofa tunggal dan Amara serta Hana duduk bersisian di sofa panjang. Randy memanggil para pekerja di rumah itu dan memperkenalkan Amara dan Hana sebagai istrinya. Dua orang asisten rumah tangga dan seorang tukang kebun.
“Ada beberapa hal yang harus kita sepakati bersama karena kita tinggal di bawah atap yang sama. Jangan sampai ada hal yang mengganjal dan akhirnya membuat masalah di kemudian hari. Aku akan minta Mami tidak terlalu ikut campur di rumah ini. Masalah tagihan dan operasional rumah biar aku yang tangani langsung. Urusan rumah bisa kalian jadwal. Senin sampai dengan rabu jadwal Hana, jumat sampai dengan minggu milik Amara. Termasuk aku akan tidur di kamar kalian sesuai dengan jadwal itu,” tutur Randy.
Hana menganggukan kepalanya tanda dia paham dengan apa yang dia dengar sedangkan Amara hanya diam.
__ADS_1
Sejak tadi Amara hanya mendengarkan tanpa menatap Randy berbeda dengan Hana yang memperhatikan dengan baik apa yang diucapkan oleh Randy.
Kamu ingin tidur dengannya tiap malam pun aku tidak peduli, batin Amara.
“Amara, apa kamu paham?” Randy merasa Amara hanya melamun dan saat pria itu bertanya Amara masih saja diam.
“Amara!”
Hana menyentuh punggung tangan Amara, membuatnya tersadar dan menoleh.
“Ada apa?”
“Kamu melamun?” tanya Hana.
“Kamu tidak dengar apa yang aku sampaikan?” tanya Randy.
Merasa dicecar Amara membela diri dengan mengatakan dia sedang mengagumi rumah itu.
“Jadi, apa yang sudah aku lewatkan?”
__ADS_1