
“Bunda, apa mereka akan terima aku?” tanya Amara ragu untuk memenuhi permintaan Bundanya tinggal di kediaman yang cukup luas, megah dan dengan gaya klasik sederhana.
Pria yang menyambut mereka sepertinya asisten rumah tangga, setelah mempersilahkan duduk pria itu pergi. Ruang tamu yang cukup luas bahkan penampilan ruangan itu bergaya jawa tradisional. Saat ini mereka berada di kediaman keluarga Ayah Amara.
Terdengar langkah mendekat, Amara dan Mirna menoleh saat pria yang sudah sepuh tapi terlihat masih sehat walaupun tangan kanannya menggunakan tongkat untuk bantu berjalan. Mirna mengajak Amara berdiri.
Ketiga orang itu saling bertatapan sampai akhirnya Mirna membuka suara.
“Apa kabar Pak Wilaga?” tanya Mirna.
Pria bernama Wilaga itu mendengus pelan kemudian duduk di sofa tunggal yang bentuk beda dengan sofa lainnya.
“Duduklah, tidak usah terlalu formal,” titah pria itu.
Mirna dan Amara kembali duduk.
Amara menundukkan wajahnya saat pria tua bernama Wilaga itu menatapnya. Dia tidak tahu siapa dan rumah siapa saat ini berada. Mirna hanya menjelaskan kalau dirinya akan aman berada di sini.
“Amara, pria itu kakekmu,” ujar Mirna. “Ayah dari Ayahmu.”
Amara mengangkat wajahnya, selama ini dia memang tidak pernah dikenalkan dengan keluarga Ayahnya.
“Sudah sebesar ini baru kamu bawa dia kemari. Kemarin-kemarin ke mana saja?”
“Maaf Pak, sebelumnya saya memang dilarang oleh Ayah Amara, apalagi setelah dia tinggal dengan keluarga barunya,” jelas Mirna.
“Justru itu, makanya aku ingin dia ini kemari. Kalian butuh dukunganku untuk mengusir pelakor itu, tapi malah mengalah. Sekarang ada masalah apa? “ tanya Wilaga to the point.
Mirna menghela nafasnya sebelum dia menjelaskan tujuan kedatangannya juga Amara.
“Saya akan titip Amara pada Bapak.”
Wilaga menatap Amara lekat lalu mengernyitkan dahinya. Amara sebenarnya menolak untuk tinggal di tempatnya saat ini tapi Mirna akan lebih tenang kalau Amara berada di tempat yang akan melindunginya dibandingkan harus tinggal sendiri.
Mirna menjelaskan singkat kondisi pernikahan Amara termasuk alasan kenapa dia menghindari suaminya, padahal kondisi Amara sedang hamil.
“Keluarga suamimu tidak tahu kamu keturunan siapa, makanya dia sombong tapi Eyang bangga dengan Ibumu, tidak pernah meminta dan berharap dukungan dan bantuan apapun dia bisa besarkan kamu. Walaupun sekarang malah ditindas,” tutur Wilaga.
“Teja,” panggil Wilaga lalu pria yang tadi menyambut Mirna dan Amara pun datang menghampiri dengan tergopoh-gopoh bersama seorang wanita seumuran Mirna.
“Mereka ini kepala pelayan di sini, kamu bisa tanya atau minta apapun ke mereka,” ujar Wilaga pada Amra. “Antarkan cucuku ini ke kamar yang sudah disiapkan.”
“Amara, Bunda akan datang sesekali. Jangan sedih, jaga kesehatanmu.”
Amara hanya menganggukkan kepala, hatinya sakit karena harus terpisah dari Bundanya karena masalah yang sedang dihadapi. Wanita itu enggan membuka suara, khawatir tangisnya pecah.
“Tenang saja, dia akan aman di sini,” ujar Wilaga meyakinkan Mirna yang sepertinya berat melepas Amara.
__ADS_1
...***...
Pagi ini Randy bangun dengan begitu semangat, dia berniat menjemput Amara. Setelah membersihkan diri dan mengenakan pakaian casual karena rencana hari ini khusus untuk Amara. Sejak semalam sebenarnya Randy sudah menghubungi Amara tapi kontak wanita itu tidak aktif, menduga kalau ponsel Amara mungkin saja lowbat.
“Amara, aku datang. Kita akan tinggal di sini berdua juga dengan anak-anak kita nanti,” gumam Randy saat menuruni anak tangga.
Randy mengendarai mobilnya dengan pelan dan hampir enam puluh menit akhirnya tiba di kediaman Ibu mertuanya. Kediaman itu terlihat sepi bahkan mobil Mirna pun tidak ada di sana. Kedatangan Randy disambut oleh salah satu asisten rumah tangga.
“Bik, Amara sudah bangun?” tanya Randy.
“Neng Amara … nggak ada Pak.”
“Nggak ada ke mana? ke kampus?” Randy bertanya lagi.
Si Bibi terlihat bingung menjawab pertanyaan Randy. Walaupun dia tahu kalau majikannya sudah membawa putrinya pergi beberapa hari lalu.
“Nggak ada di rumah, Ibu yang bawa neng Amara pergi.”
“Iya, pergi ke mana?” Randy masih bertanya dengan sabar.
“Nah itu, Bibi nggak tahu. Bibi pikir dibawa ke rumah sakit, karena neng Amara sedang kurang sehat tapi bawaannya banyak pake koper segala dan Ibu pulang hanya sendiri. Sepertinya pergi jauh Pak,” terang Bibi membuat Randy khawatir kalau Amara memang meninggalkannya.
“Ibu Mirna di mana?”
“Sudah berangkat tadi pagi, mungkin ke butik.”
“Aku harap yang aku dengar tadi tidak benar,” gumam Randy.
Berbeda dengan suasana hati Randy yang tadi terlihat sabar dan semangat kali ini dia begitu emosi bahkan rasanya ingin menghantamkan mobilnya menabrak segala yang ada di depan saat berada dalam kemacetan.
“Amara, kita baik-baik saja. Aku minta maaf, karena harus fokus menyelesaikan urusan Hana.” Randy kembali bergumam seakan apa yang disampaikan memang didengar oleh Amara.
Akhirnya mobil berbelok ke butik milik Ibu mertuanya, Randy bergegas turun dan masuk ke dalam butik padahal saat itu masih pagi dan butik belum buka.
“Maaf, Pak. Kami belum buka,” ujar salah satu pegawai butik.
“Di mana Ibu Mirna?”
“Ibu Mirna sedang sibuk dan … eh, pak .”
Randy bergegas menuju lantai dua, ruangan Mirna. Dia yakin Ibu mertuanya ada di dalam karena mobil milik wanita itu terparkir di luar.
Brak.
Mirna dan salah seorang pegawainya menoleh saat pintu dibuka dengan kencang oleh Randy.
“Kamu keluar dulu, kita bicara lagi nanti.”
__ADS_1
“Baik Bu.”
Mirna menatap Randy yang masih berdiri di tengah pintu.
“Ada apa, kenapa Bapak Dosen yang tampan dan berwibawa ini datang dan bersikap tidak sopan begini?’ tanya Mirna.
“Langsung saja Bun, di mana Amara?”
“Amara? Kamu tanya di mana Amara?”
Randy hanya diam saat Mirna terkekeh, dia tahu dirinya salah maka dia akan terima apa yang akan disampaikan oleh ibu mertuanya meskipun itu makian dan umpatan.
“Untuk apa cari Amara?”
“Dia istriku, wajar kalau aku mencarinya,” jawab Randy.
Mirna menganggukkan kepalanya lalu berdiri dan menghampiri Randy yang masih berada di tengah pintu.
“Iya, Amara memang istrimu tapi kemana kamu selama ini. Sudah buat putriku hancur dan terpuruk. Belum cukup derita yang harus dia rasakan ketika mengizinkan kamu menikah lagi dan sekarang kamu abaikan dia juga … sudahlah, itu semua sudah lewat. Aku tidak peduli, yang jelas Amara saat ini sedang berada di tempat yang aman karena denganmu tidak aman untuk kesehatan jiwa dan raganya.”
“Aku suaminya, aku akan jemput Amara dan kami akan hidup bahagia. di mana Amara?”
“Tidak usah urus Amara, urus saja istri mudamu yang salihah itu,” ejek Mirna.
“Hana akan aku ceraikan, setelah kondisinya lebih baik dari sekarang. Itulah kenapa selama ini aku mengabaikan dulu Amara, karena fokus pada Hana.”
“Ah, ini. Fokus pada Hana dan mengabaikan Amara. Kamu bilang akan menceraikan wanita itu kalau sudah lebih baik, bagaimana kalau tidak lebih baik? Bagaimana kalau kamu dan wanita itu semakin kuat rasa cinta kalian? Amara lagi yang akan tersakiti.”
Randy mengusap kasar wajahnya, dia sungguh tidak sabar mendengar di mana Amara dan akan menjelaskan situasi mengenai pernikahan ini.
“Amara akan menemui kamu, tapi nanti. Yah, beberapa bulan ke depan atau satu tahun ke depan, setelah dia siap dan diperbolehkan untuk meminta cerai.”
“Saya tidak akan menceraikan Amara.” Randy mengatakan dengan yakin.
“Harus, kamu harus menceraikannya. Nanti kamu berhadapan dengan Kakek Amara, bukan denganku. Tunggu saja,” ujar Mirna.
“Bunda ….”
“Ah, jangan panggil aku Bunda. Untuk menambah rasa bersalah dan merasakan kesedihan juga tersiksanya Amara kamu harus tahu kalau Amara sedang hamil.”
“Apa?”
“Dia akan menemui setelah melahirkan dan kalian bercerai.”
Tubuh Randy rasanya lemas tak bertulang mendengar Amara sedang hamil tapi tidak bisa ditemui. Mirna tidak ingin mengatakan di mana wanita itu berada.
“Pergi, sebelum aku minta security mengusirmu.”
__ADS_1
Amara, di mana kamu, batin Randy.