
Sepanjang hari setelah kedatangan Imelda, Amara melamun memikirkan apa yang diucapkan oleh Ibu mertuanya. Berniat menghubungi sang Bunda, Amara mencari ponselnya.
“Ternyata habis daya, pantesan nggak ada suaranya.”
Gadis itu mencharger ponselnya di kamar lalu berbaring di ranjang sambil menunggu daya ponselnya terisi.
“Kira-kira Pak Randy akan lakukan apa setelah bertemu keluarga calon istrinya?”
“Kalau dia talak aku berarti aku jadi janda. Jadi janda bahkan umurku belum genap dua puluh tahun, sungguh bukan sebuah prestasi.”
Amara terus bergumam mengeluarkan isi pikirannya. Sejak remaja sampai dengan saat ini dia belum pernah mengenal dekat seorang pria bahkan sampai jatuh cinta. Sekalinya terkait hubungan langsung menikah dan itu pun dengan pria yang tidak dia sukai.
Saat ini hidup Amara sudah terbiasa dengan perhatian dan kehadiran Randy, membayangkan dia akan ditalak dan diusir oleh Randy menjadi adegan menyeramkan dalam benaknya.
“Kuatlah Amara, sudah takdir hidupmu harus seperti ini,” gumam Amara menyemangati diri sendiri.
Melihat ponselnya sudah terisi daya, dia pun menghidupkan ponsel tersebut dan ada beberapa panggilan tidak terjawab dari Bunda.
“Halo, Bunda,” ujar Amara ketika panggilannya terjawab.
“Amara, bagaimana keadaanmu? Kenapa sekarang Bunda sulit menghubungimu?” tanya Mirna di ujung telepon.
“Ponselku mati, kemarin-kemarin aku ada kegiatan kampus di daerah pegunungan dan susah sinyal,” terang Amara tanpa menyampaikan insiden yang dia alami karena tidak ingin membuat Bundanya khawatir.
Cukup lama keduanya saling menyapa dan berbicara, Mirna meminta Amara untuk menemuinya karena ada hal yang akan dibicarakan. Setelah itu panggilan berakhir.
...***...
Seperti biasa, Randy selalu bangun pagi lebih awal dan siap lebih dulu dibandingkan Amara. Apalagi kondisi Amara sedang tidak bebas bergerak tentu saja membuatnya lebih lama bersiap.
“Kita berangkat bersama, kondisi kamu begini tidak memungkinkan naik motor,” ajak Randy saat Amara baru keluar dari toilet dan hanya mengenakan bathrobe.
“Aku bisa naik taksi.”
“Jangan membantah,” ujar Randy.
Semalam Amara sudah menceritakan mengenai kedatangan Ibu mertuanya, tentu saja kalimat tuduhan atau yang menyakitkan bagi Amara tidak dia sampaikan. Amara tidak tahu apa Randy akan membelanya atau hanya diam dan rasanya tidak baik kalau akhirnya hubungan Randy dengan maminya malah menjadi buruk.
Mengenakan dress selutut dan menggendong ranselnya, Amara berjalan tertatih mengekor langkah Randy.
__ADS_1
“Mau sarapan dulu, ada bubur ayam enak di ….”
“Tidak usah Pak, aku bisa telat kalau kita mampir untuk makan. Pagi ini ‘kan jadwal pak Randy di kelas aku.”
Randy kembali fokus dengan kemudi walaupun dalam benaknya memikirkan pertemuan dengan keluarga Hana untuk menjelaskan kondisinya yang sudah menikah.
“Pak, aku turun di depan aja kalau sampai dalam nanti ada yang lihat dan kita digosipkan macam-macam,” pinta Amara yang ingin turun sebelum gerbang kampus.
“Kaki kamu masih belum pulih, lalu kamu berjalan tertatih sampai ke kelas? Atau mau ikut motor teman kamu dengan pakaian seperti ini?”
Amara hanya menelan salivanya mendengar pertanyaan Randy yang khawatir juga marah, mungkin.
“Aku akan turunkan kamu bukan di tempat yang ramai, jadi jangan khawatir,” ujar Randy mencoba menenangkan istrinya.
Benar saja, Randy berhenti dan membiarkan Amara keluar dari mobil di parkiran khusus dosen dan tidak ada yang melihat dia datang bersama Randy. Berjalan pelan di koridor kampus, akhirnya tersusul oleh langkah suaminya.
“Eh, itu Pak Randy. Gila gagah bener sih, beruntung banget yang jadi istrinya,” ujar seorang mahasiswi yang ucapannya jelas didengar oleh Amara.
“Idaman banget sih, rela gue jadi simpanannya karena nggak mungkin dia nggak punya pacar atau calon istri.”
Gue istrinya, batin Amara kesal dengan pujian para mahasiswi untuk suaminya.
Randy hanya senyum dan mengangguk saat disapa. Amara memasang wajah cemberut saat Randy melewatinya.
“Amara, ya ampun parah juga ya,” ujar Melly saat melihat Amara memasuki kelas.
“Lo jalan dari parkiran ke sini?”
“Ya iyalah masa terbang,” sahut Melly menjawab pertanyaan Juan.
“Pengennya sih digendong tapi apa daya.”
“Eh. Lo digendong Pak Randy ‘kan,” bisik Melly. “Gimana rasanya? Ih, gue mau banget ada di posisi lo,” ujar Melly lagi.
Amara hanya menggelengkan kepalanya, lagi-lagi sang suami dikagumi oleh para perempuan termasuk sahabatnya sendiri.
“Tapi gue curiga, kenapa Pak Randy segitu perhatiannya sama lo? Bukannya kalian nggak akur?” Juan bertanya sambil memicingkan matanya.
“Iya juga, kenapa coba?”
__ADS_1
“Mungkin karena dia merasa bertanggung jawab,” sahut Amara.
“Bertanggung jawab apa, memang Pak Randy ngehamilin kamu?” tanya Melly yang langsung mendapat pekikan dari Amara.
“Mulut parah bener, kalau didengar oleh orangnya gimana?”
Perdebatan ketiga sahabat itu pun berakhir karena dosen mereka sudah hadir, tentu saja dosen tersebut adalah Randy. Selama kelas berlangsung, Amara tidak memandang ke depan. Hanya menunduk dengan wajah cemberut dan hal ini menjadi perhatian Randy.
Pria itu khawatir kalau Amara merasakan sakit atau tidak nyaman dengan kondisi tubuhnya. Kelas pun berakhir, hampir sebagian mahasiswa di kelas menghela lega karena Randy tidak memberikan tugas.
“Amara, kamu ikut saya. Tugas kamu sebelumnya salah, saya akan berikan tugas pengganti,” titah Randy.
“Apa?”
Amara hendak menolak tapi tatapan Randy seakan mengatakan agar dia tidak membantah.
“Baik, Pak,” jawab Amara.
“Sabar ya,” ujar Melly saat Amara melangkah gontai meninggalkan kelas.
Akhirnya Amara tiba di ruang kerja Randy.
“Tugas apaan sih Pak yang salah?” tanya Amara setelah Randy mempersilahkannya untuk masuk.
“Duduk!”
Amara berdecak lalu duduk di sofa, begitupun Randy yang duduk di samping gadis itu.
“Apa ada yang sakit?” tanya Randy khawatir.
“Ada, sakit banget malah.”
“Di mana?”
“Di sini.” Amara menunjuk dadanya.
“Hahh.”
__ADS_1