
Imelda dan Pram saling tatap mendengar pertanyaan Mirna, rasanya tidak mungkin mereka menjawab kalau Randy sedang bersama istri mudanya. Situasi dan kondisi saat ini tidak memungkinkan.
“Hm, dia sedang sibuk,” ujar Pram. “Kami akan segera hubungi Randy.”
Interaksi mereka terhenti karena Dokter yang memeriksa Amara mengatakan kalau Amara terlambat sedikit lagi, kemungkinan tidak tertolong. Juga menyarankan agar selalu tersedia inhaler agar tidak kejadian seperti ini lagi. Perawat akhirnya memindahkan Amara ke kamar perawatan, Mirna berjalan di samping brankar dan menatap wajah pucat putrinya yang sedang tertidur.
“Mirna, ada yang perlu kami sampaikan mengenai pernikahan Randy dan Amara,” ungkap Pram. Imelda memberikan tatapan tidak biasa, sepertinya dia enggan menceritakan hal itu pada Mirna.
“Ada apa dengan mereka?”
“Kita bicara di luar,” ajak Pram.
Kedua wanita paruh baya itu mengekor langkah Pram ke luar kamar rawat Amara. Pram memilih kamar VIP agar Amara dan Mirna merasa nyaman dan saat ini mereka berada di beranda kamar.
“Randy sebelum menikahi Amara sudah dalam rencana pernikahan, surat undangan dan persiapan lainnya sudah dilakukan. Sampai kejadian yang membuat dia dan Amara menikah. Kami mendatangi keluarga calon istri Randy dan menyampaikan kondisi ini,” tutur Pram.
“Lalu?” tanya Mirna tidak sabar. Apalagi Pram terlihat berat menjelaskannya dan sempat menghela pelan.
“Randy mempertahankan pernikahan dengan Amara karena tidak ingin mempermainkan pernikahan tapi keluarga calon istrinya tidak ingin rencana pernikahan ini dianggap sebagai permainan juga.”
Mirna mengeraskan rahangnya, dia mulai mengerti yang dibicarakan oleh Pram. Hanya ada kemungkinan, Amara diceraikan atau Randy akan melakukan poligami.
__ADS_1
“Pihak mereka menyarankan … Randy tetap menikahi Hana.”
Mirna menarik nafasnya mendengar kemungkinan yang tidak ingin dia dengar. Rasanya dia ingin berteriak mendengar apa yang dialami oleh putrinya.
“Lalu di mana Randy, aku lebih setuju dia menceraikan putriku,” sahut Mirna.
“Mirna, Randy ….”
“Jangan ganggu Randy, dia sedang bersama istrinya. Amara selama ini sudah bersama Randy jadi wajar kalau dia harus berbagi waktu dengan madunya,” tutur Imelda tanpa menghargai perasaan besannya.
“Apa? Jadi Randy sudah menikah?”
Pram menganggukkan kepala, rasanya dia tidak sanggup untuk menjawab dengan kata-kata.
“Dia asma, jangan menyahkan siapapun,” elak Imelda.
“Hubungi putra kalian, minta dia datang dan menceraikan putriku,” teriak Mirna.
“Mirna, jangan begini. Kita bicarakan baik-baik, Amara sedang sakit. Perasaannya akan lebih hancur kalau dia mendapatkan talak dari suaminya. Aku tahu dia dan Randy saling mencintai.”
“Kalau Randy mencintai putriku dia tidak akan menikahi wanita lain meskipun rencana pernikahan itu sudah matang.”
__ADS_1
Terdengar suara benda pecah dari dalam kamar. Mirna bergegas masuk, khawatir dengan kondisi putrinya.
“Amara,” panggil Mirna. “Ada apa nak?”
Amara sudah terjaga dan dia menyenggol gelas saat akan mengambil air minum.
“Aku haus Bun,” sahut Amara masih dengan selang oksigen karena nafasnya belum stabil.
Mirna mengurus Amara mengabaikan kehadiran Pram dan Imelda yang sudah berada di kamar tersebut.
“Kenapa kamu lalai mengecek inhaler, Bunda nggak suka kamu ceroboh karena akan membahayakan nyawa kamu.” Mirna menasehati sambil membersihkan pecahan gelas di lantai.
“Aku mau pulang dan tinggal dengan Bunda,” rengek Amara.
“Bunda harus bertemu dengan suamimu,” sahut Mirna.
“Jangan sekarang, dia sedang sibuk,” ujar Imelda.
“Mami,” tegur Pram karena istrinya ikut bicara.
“Sibuk dengan istri muda dan mengabaikan istrinya yang sedang sakit?”
__ADS_1
“Amara sakit karena ulahnya dan memang dia penyakitan bukan salah Randy. Kalian harus sadar kalau pernikahan Randy dan Amara karena terpaksa bukan karena cinta. Jadi jangan ganggu Randy, Amara kamu sudah berjanji dan mengikhlaskan suamimu menikah lag. Ingat itu!”
“Aku ingat, tentu saja aku ingat tapi … bisakah kalian pergi dari sini. Tinggalkan aku, biar aku bersama Bunda dan aku tidak akan menghubungi Pak Randy.”