Bukan Istri Salihah

Bukan Istri Salihah
Kamu Baik-baik Saja ?


__ADS_3

Pasangan itu akhirnya keluar dari kamar perawatan Amara. Imelda terus mengoceh mengeluhkan masalah Amara dan Mirna.


“Ga tahu diri, rumah sakit sudah kita yang bayar malah ngusir. Dasar menantu kurang ajar,” keluh Imelda ketika sudah berada di mobil.


Pram yang mulai melaju hanya menggelengkan kepalanya mendengar keluhan sang istri.


“Yang tidak tahu diri itu kita, bukan Amara. Kamu perempuan, harusnya bisa berempati dengan kondisi Amara saat ini. Dia menyaksikan suaminya menikah lagi dan kamu paksa suaminya menghabiskan malam pernikahan mereka tanpa gangguan dia. Urusan rumah sakit memang tanggung jawab kita selaku orang tua. Amara itu putri kita juga, dia istrinya Randy,” jelas Pram.


“Aku hanya mengakui Hana sebagai menantuku. Sudah cantik, salihah, santun … yang jelas wanita itu punya segalanya yang Amara tidak punya. Terutama, Amara bukan putri dari mantan kamu.”


Pram sempat menoleh sekilas tapi kembali fokus dengan kemudinya.


“Jadi masih saja kamu kaitkan dengan Amara adalah putri Mirna?”


“Ya jelas dong, ini memang ulah kalian berdua.”


Sepertinya menghadapi Imelda harus dengan sabar dan mengembalikan semua ke sang pencipta. Wanita itu tidak percaya penjelasan suaminya sendiri, harus menunggu campur tangan Tuhan mungkin dia baru percaya.


“Biarkan Amara bersama Bundanya, kesehatannya bisa semakin buruk kalau kamu sakiti dia terus.”


“Tidak bisa begitu, bagaimana kalau dia hubungi Randy?” Imelda kembali emosi dan memekik saat membicarakan Amara dan Randy.


“Memang kenapa kalau Amara menghubungi Randy, dia masih istrinya,” sahut Pram masih berusaha fokus dengan kemudi dan jalan di depan.


“Jangan sampai malam pengantin Randy dan Hana batal karena ulah Amara dan aku gagal dapat cucu.”


Pram berdecak mendengar alasan Imelda, benar-benar tidak percaya kalau sang istri selain arogan juga kejam. Kalau boleh mundur, dia sebenarnya sudah lelah tapi apa harus mereka berpisah dan menjadi contoh pada anak-anaknya.


“Aku tidak menyakiti Amara, dia aja yang merasa begitu. Hahh, yang jelas sekarang aku lega karena Hana sudah menjadi bagian dari keluarga kita. Tinggal urus pernikahan mereka dan resepsi,” tutur Imelda dengan bangga.


“Urus juga pernikahan Randy dan Amara, jangan buat statusnya menggantung seperti ini. Mereka menikah lebih dulu jadi jangan sampai tidak adil. Randy sudah berjanji akan berlaku adil.”


“Halahh, biarkan saja pernikahan Amara dan Randy juga hanya siri. Bentar lagi juga mereka cerai, karena Randy kembali dengan cintanya dan hidup bahagia dengan banyak anak yang lucu-lucu. Kalau perlu setelah Randy dan Hana pulang langsung saja ceraikan Amara.”


“Astagfirullah, Imelda kamu ….”


“Apa?”


 ***


Randy dan Hana sudah tiba di kamar salah satu hotel berbintang. Sambil menyeret koper milik Hana dan juga tas miliknya yang hanya berisi pakaian seadanya yang tersedia di mobil untuk keadaan darurat. Keduanya terlihat canggung saat duduk di sofa. 


“Hana.”


“Mas Randy.”

__ADS_1


Keduanya memanggil serempak.


“Kamu duluan, silahkan," ujar Randy.


“Ehm, ini sudah lewat waktu ashar. Sebaiknya kita bersihkan diri dan sholat berjamaah.”


Randy mengangguk pelan lalu beranjak lebih dulu menuju toilet.


“Mas Randy, sikapnya acuh dan dingin. Apa dia sangat mencintai istri pertamanya?” gumam Hana.


Saat keluar dari toilet, sudah ada dua sajadah terbentang, giliran Hana yang ke toilet. Keduanya melaksanakan shalat berjamaah dengan begitu khusyuk bahkan doa dan dzikir lebih panjang dari biasanya.


Hana kembali mencium tangan Randy dengan begitu takzim lalu dibalas dengan kecup4n di kening oleh suaminya.


“Hana, ini masih sore sepertinya ritual kita ....”


“Aku mengerti Mas, lagi pula rasanya aku belum siap. Aku hanya ingin kita lebih saling mengenal lagi dan bicarakan bagaimana rencana ke depan untuk kita bertiga,” usul Hana.


“Ah, betul juga. Kita harus bicarakan hal itu, tapi detailnya kita harus tanya Amara. Jangan sampai dia merasa tidak dilibatkan."


“Hm.”


Bicara tentang Amara, Randy akhirnya menghubungi perempuan itu. Hana mengatakan tidak keberatan jika suaminya menghubungi Amara walaupun ada dirinya.


“Kenapa Mas?” tanya Hana yang ikut duduk di samping suaminya.


“Amara, aku hubungi berkali-kali tapi tidak dijawab,” sahut Randy yang akhirnya mengirimkan pesan.


[Amara, jawab teleponku]


[Amara, aku harap kamu sabar dan mengerti dengan situasi ini. Aku akan selalu tetap ada dan adil untuk kalian]


Randy mengernyitkan dahinya karena pesan yang dikirimkan belum terbaca padahal sudah beberapa menit berlalu.


“Gimana Mas?”


“Pesanku juga belum dibaca.”


“Coba hubungi Mami, katanya Amara sementara akan tinggal bersamanya,” usul Hana.


“Ah, betul juga.”


Randy akhirnya menghubungi Imelda.


“Halo, Randy. Apa sudah berhasil?” tanya Imelda di ujung telepon.

__ADS_1


Randy mengernyitkan dahinya dan menoleh ke arah Hana.


“Assalamu’alaikum, Mih. Apanya yang berhasil?”


“Kamu dan Hana, masa nggak paham sih?”


“Ck. Mih, Amara ada dengan Mami? Aku hubungi dia tidak dijawab, pesan juga tidak dibaca.”


“Itu … dia ada dengan Mami. Sudahlah kamu tidak usah risaukan Amara. Ini mami sedang di Mall, istrimu asyik berbelanja.sekarang dia sedang pilih perhiasan,” tutur Imelda bohong.


“Belanja?”


“Iya, sudahlah. Fokus saja dengan usaha kalian memberikan cucu untuk Mami. Salam untuk Hana, ingat jangan main kasar,” ujar Imelda lalu terkekeh.


“Mamih aneh banget,” ujar Randy setelah panggilan berakhir.


“Aneh bagaimana?”


Randy hanya mengedikkan bahunya, dia memikirkan ucapan Mami tentang Amara yang sibuk berbelanja bahkan sedang asyik memilih perhiasan. Rasanya aneh, karena selama mereka menikah Amara tidak terlihat sebagai wanita konsumtif. Perempuan itu cenderung sederhana dan apa adanya.


“Apa karena sedang bersama Mami jadi dia terpengaruh.”


“Terpengaruh gimana? Mas Randy buat aku bingung.”


Randy menghela nafasnya lalu berniat fokus pada Hana, dia harus bersikap adil dan saat ini adalah waktu bersama dengan Hana.


“Mas aku mau tanya, boleh?”


“Silahkan, tanyalah?”


“Ehm, apa Mas Randy dengan Amara sudah melakukan apa yang harus kalian lakukan sebagai suami istri?”


Randy tidak menyangka kalau Hana akan menanyakan hal itu, bukankah jawaban yang disampaikan hanya akan membuat hatinya terluka mungkin.


“Kenapa kamu tanya tentang hal itu?”


“Aku ingin tahu Mas, hanya khawatir kalau aku tidak bisa sesempurna Amara atau bahkan kalah jauh dengannya,” sahut Hana dengan wajah menunduk.


“Hana, bagaimanapun aku seorang pria normal. Awalnya aku dan Amara memang tidak saling mencintai tapi kebersamaan kami membuat rasa itu muncul dan aku tidak bisa menahan gelora yang ada apalagi Amara halal untukku.”


Hana masih menunduk dengan memilin jemari dan tubuh gemetar.


“Hana, kamu baik-baik saja?”


 

__ADS_1


__ADS_2