
Randy berada di balkon kamar, tepatnya di rumah orangtuanya. Dia teringat pertanyaan Amara, mengenai tinggal bersama.
“Huft.”
Aku tidak mungkin tinggal terpisah dengan Amara, hubungan dengan Hana belum tentu lebih baik. Pernikahan yang akan aku pertahankan adalah dengan Amara, batin Randy.
“Mas Randy, sudah pulang?” tanya Hana yang sudah berada di tengah pintu balkon.
“Hm.”
Hana sejak siang tadi pergi bersama Imelda, mengisi perlengkapan dan perabotan untuk rumah yang akan mereka tempati. Sebenarnya Randy sudah memiliki ide akan membagi mana yang harus Hana dan Amara pilih tapi Imelda seakan tidak memberikan kesempatan pada Amara.
Entah apa yang akan dilakukan oleh wanita itu ketika tahu, menantu kesayangannya ternyata tidak sempurna seperti yang terlihat.
“Maaf, aku baru datang dengan Mami. Mas Randy sudah makan?”
“Belum, aku mandi dulu,” jawab Randy lalu melewati Hana.
“Mas,” panggil Hana membuat pria itu berhenti dan menoleh. “Tadi siang, Mas Randy bersama Amara?”
“Iya, tadinya aku ajak dia makan siang tapi telepon darimu membuatnya pergi.”
“Maaf Mas, bukan maksudku begitu tapi Mami ....”
__ADS_1
“Justru karena itu, menurutku Amara pergi karena khawatir Mami atau kamu menuduhnya sengaja menahan aku,” tutur Randy. “Aku harap kamu mengerti situasi kita akan selalu begini, serba salah duga. Besok kita akan duduk bersama dan bicara, aku harap kamu jangan terlalu menuruti apa yang Mami minta yang akan menyudutkan Amara atau aku. Kamu lebih paham masalah agama dibandingkan Amara, termasuk bagaimana harus bersikap sebagai seorang istri yang berbagi suami.”
Penuturan Randy cukup jelas untuk dimengerti oleh Hana, kecuali wanita itu memang sengaja berencana menyingkirkan Amara. Namun, Randy percaya Hana tidak seperti itu.
Mas Randy berubah, cintanya sudah berubah tapi aku bisa apa. Mas Randy sudah terjebak dengan rencana Abi untuk menjaga kehormatan dan nama baikku, batin Hana.
Wanita itu duduk di tepi ranjang melamunkan apa yang terjadi dalam hidupnya. Ponsel yang dia pegang berdering, ternyata panggilan dari nomor baru.
“Assalamu’alaikum,” sapa Hana.
“Hana, kenapa kamu malah menikah dan pergi,” ujar seorang pria di ujung telepon.
Hana mengernyitkan dahinya, menjauh ponsel dari telinga untuk mengecek nomor ponsel yang menghubunginya. Dia tidak mengenal kontak tersebut.
“Ini siapa?” tanya Hana.
Hana mengakhiri panggilan lalu memblokir kontak yang baru saja menghubunginya.
Kenapa laki-laki itu terus menggangguku setelah dia menghancurkan masa depanku. Pernikahanku dengan Mas Randy berubah menjadi bencana karena ulahnya, batin Hana sambil mencengkram ponselnya.
“Hana,” ujar Randy sambil menyentuh bahu wanita itu.
“Pergi!” teriak Hana sambil beranjak dan menjauh bahkan ponselnya terbanting ke lantai.
__ADS_1
“Hana, ada apa denganmu?” tanya Randy yang khawatir melihat sikap Hana.
Wanita itu tersadar di mana dia berada dan ada Randy di hadapannya. Setelah mengucap beberapa kali istighfar, Hana mengusap dada sambil mengatur nafasnya. Randy akan menuntun wanita itu untuk duduk tapi Hana menggerakan tubuhnya menjauh tanda kalau dia tidak ingin disentuh.
“Apa ada hubungannya dengan ….”
“Tolong jangan bicarakan itu,” pinta Hana sambil menunduk.
“Oke, aku tidak akan bicarakan itu tapi kamu harus menemui psikiater. Sembuhkan trauma yang kamu alami.”
Hana mengangkat wajahnya menatap sang suami. Dia tersinggung dengan perintah Randy, kondisinya saat ini membuat hatinya mudah tersinggung.
“Psikiater? Menurut Mas Randy aku mengalami gangguan jiwa?”
“Hana, mengkonsultasikan apa yang kamu rasakan bukan berarti kamu sakit jiwa tapi berusaha untuk menyembuhkan luka di hati dan pikiran kamu.” Randy menghela nafasnya, percuma bicara dengan Hana yang emosinya sedang tidak baik. “Istirahatlah, kita bicarakan lain kali.”
“Apa Amara akan diberi tahu tentang kondisiku?”
Randy berdecak mendengar pertanyaan Hana. bagaimana bisa wanita itu menanyakan hal yang sudah disepakati bersama orangtuanya.
“Kamu tahu kenapa aku mempertahankan pernikahan dengan Amara? Kamu tahu kenapa aku tetap menikahimu? Karena tanggung jawab dan janjiku, termasuk janjiku pada Pak Kyai Amir dan Umi Maya aku akan rahasiakan kondisi kamu dan hubungan kita termasuk pada Amara walaupun dia merasakan sakit karena harus berbagi suami.”
“Maaf,” ucap Hana sambil menunduk.
__ADS_1
“Tidurlah!” titah Randy lalu menuju sofa dan berbaring di sana.