Bukan Istri Salihah

Bukan Istri Salihah
Suami Idaman


__ADS_3

Amara menjerit pelan dengan kedua tangannya meremmas sprei, terlihat tubuhnya bergetar menahan sesuatu yang memasukinya. Randy menyadari kalau tubuh istrinya berusaha menyesuaikan diri, dia pun kembali membuat Amara lebih rileks dengan meraup bibirnya sedangkan yang di bawah kembali menghentak.


Keduanya seakan tidak bisa dipisahkan, seakan melayang dengan gair@h yang sama dan berpetualang menciptakan ruangan yang menjadi saksi kegiatan panas mereka. Tubuh keduanya sudah berpeluh, Randy semakin bersemangat.


“Pak … pelan-pelan,” lirih Amara.


“Apa aku menyakitimu?” Randy merubah ritmenya dan menatap wajah Amara yang sedang terpejam karena menikmati. Wanita itu menggelengkan kepalanya yang dibalas senyuman oleh suaminya.


Saat merasa hampir selesai dan siap meraih puncaknya kenikmatannya, kedua tangan mereka saling bertaut. Amara mendessah dan mengerang karena lebih dulu telah mendapatkan pelepasannya. Sedangkan Randy yang sudah hampir siap, mempercepat gerakannya lalu melepaskan benih dan ****** ***** di bawah sana.


Nafas keduanya masih menderu, Amara masih menikmati sensasi luar biasa yang baru dia rasakan. Randy masih berada di atas tubuh istrinya, dia berhasil menjadikan Amara seorang wanita. Mengecup dahi setelah mengusap keringat wanitanya.


“Terima kasih, sayang. Terima kasih sudah menjaganya dan menyerahkannya untukku,” bisik Randy.


“Pak Randy, lepas … dan geser,” pinta Amara.


Randy pun melepaskan tubuhnya dan merebah tepat di samping istrinya. 


“Huft.”


Amara menarik selimut dan menyelimuti tubuh mereka, bahkan untuk tubuhnya diselimuti sampai leher. Sudah pilihan dan keputusan yang tepat untuk memejamkan mata, Amara pun menggeser tubuhnya untuk berbaring miring.


“Ehh.” Wanita itu terkejut dengan tangan yang menahan pinggangnya, tentu saja tangan Randy. “Pak Randy, tangannya … aku mau tidur.”


Wajah Randy sepertinya sedang tersenyum tapi matanya terpejam.


“Jangan tidur dulu, aku masih ingin.”


Pria itu beranjak, lalu membuka selimut dan kembali mengungkung tubuh istrinya.


“Pak Randy ….”

__ADS_1


“Sttt, tubuh kamu sepertinya bikin candu. Aku mau lagi  … setelah ini kita istirahat.”


Amara tidak bisa menolak, walaupun ada bagian tubuhnya yang tidak biasa dan tidak nyaman tapi saat menerima sentuhan suaminya bagian tubuh lainnya merespon dan menyambut. Pengulangan adegan membuat durasi kegiatan mereka lebih lama dari sebelumnya.


Suara mereka seakan bersahutan. Erangan dan dessahan membuat titik-titik keringat semakin banyak membasahi tubuh keduanya. Sampai akhirnya kembali pada pusaran dan puncak kenikmatan. Amara sudah yang sudah didera kelelahan akhirnya mulai terlelap, Randy masih memeluk dan menciumi wajah istrinya.


“Amara Kalina, aku mencintaimu … sangat mencintaimu,” bisik Randy.


Amara yang memang sudah terbuai mimpi hanya merespon dengan gumaman tidak jelas.


...***...


Randy sudah terjaga bahkan sebelum waktu biasanya dan sudah membersihkan diri. Kembali ke ranjang untuk membangunkan istrinya dengan berbisik dan mendaratkan bibirnya pada wajah Amara.


“Ehm, bentar lagi. Lima menit lagi,” gumam Amara tanpa membuka matanya.


“Amara, bangunlah. Sudah hampir subuh.”


Amara menggeser tubuhnya membuat selimut yang dia pakai ikut bergeser dan menunjukkan bahu sempit nan putih dan halus. Randy tersenyum karena sebagian jejak yang ditinggalkan ada pula di sana.


Wanita itu akhirnya terjaga dan mengerjapkan kedua matanya pelan dan menyadari bahwa tubuhnya polos dan hanya berselimut. Bahkan suaminya ada di sana dengan wajah tersenyum dan rambut basahnya.


“Pak Randy … semalam kita?”


“Ada apa dengan semalam?” Randy balik bertanya sambil mengusap bahu istrinya. “Mau kita lakukan lagi?”


Amara menggelengkan kepalanya.


“Mandi lalu kita subuh bersama.”


Amara menganggukan kepalanya. Mulutnya terasa kelu untuk dibuka, mengingat apa yang mereka lakukan semalam. Bukan hanya sekali tapi mengulanginya lagi, dirinya juga mengingat rasa sakit yang mendera walaupun perlahan berganti menjadi nikmat.

__ADS_1


“Ayo, aku sudah siapkan air hangat di bathtub.”


Amara agak kesulitan beranjak bangun dan mencari pakaiannya.


“Baju aku … perasaan semalam di sini.”


“Tidak perlu, semalam aku sudah telusuri semua. Jadi, tidak usah malu,” ungkap Randy lalu mendekat dan meraih tubuh Amara.


Wanita itu membenamkan wajahnya di dada bidang suaminya, malu karena saat ini tubuhnya masih polos.


“Jangan lama-lama, nanti habis waktu subuh,” ujar Randy setelah membaringkan tubuh Amara di bathub.


Tubuh Amara yang terasa remuk dan pegal sana sini, lebih baik ketika berendam.


“Ternyata Pak Randy memang suami idaman, ini nyaman banget. Padahal tubuh aku tadi rasanya tidak karuan,” gumam Amara sambil memejamkan mata.


Tidak sampai sepuluh menit, Amara sudah membilas tubuhnya dan mengenakan bathrobe keluar dari kamar mandi. Bahkan saat dia menuju ruang ganti, sudah disiapkan pakaian untuknya.


“So Sweet banget.”


“Amara, cepat!”


“Iya.” Amara bergegas mengenakan pakaiannya.


Setelah berjamaah dua rakaat, wanita itu menguap dan kembali merebahkan tubuhnya di atas sajadah sedangkan Randy masih berdzikir. Kegiatan semalam sungguh membuat tubuhnya lelah dan mengantuk.


“Eh, kenapa tidur lagi?”


Randy menggelengkan kepalanya melihat Amara yang sudah kembali terlelap bahkan masih mengenakan mukena. Untuk kali ini, pria itu memaklumi karena ulahnya juga Amara merasa lelah. Bahkan dia kembali menggendong istrinya dan membaringkan di ranjang.


“Saat tidur pun kamu menggemaskan,” gumam Randy sambil mencubit hidung istrinya.

__ADS_1


 


__ADS_2