
“Ti-tdak apa-apa Mas. Aku hanya ….”
“Kamu yakin?” tanya Randy menyela ucapan Hana yang terbata.
Hana mengangguk sambil menundukkan wajah. Khawatir, dia benar-benar khawatir jika Akbar nekat menemuinya bahkan bertemu Randy.
“Hana,” panggil Randy tapi yang dipanggil masih dalam lamunannya. “Hana,” panggil Randy lagi dengan nada agak tinggi.
“Iya, Mas.”
“Ada apa denganmu? Kalau memang ini ada kaitannya dengan musibah yang kamu alami, sebaiknya kamu konsultasi dengan psikolog. Ada temanku sesama dosen tapi dia psikolog juga, biar aku buatkan janji dengannya.”
“Jangan Mas, tidak perlu.”
Randy menatap Hana sambil mengernyitkan dahinya.
“Hana, konsultasi dengan psikolog bukan berarti kamu menderita penyakit kejiwaan tapi kamu bisa sampaikan apa yang menjadi beban pikiranmu selama ini dan ….”
“Mas, please. Aku tidak butuh psikolog. Kalau Mas Randy tidak bisa menolongku dengan pernikahan ini, silahkan ucapkan talak.”
Randy memijat dahinya, tidak menduga kedua istrinya selalu dengan mudah meminta talak.
“Ya sudah, aku berangkat. Baik-baik di rumah, mungkin besok kamu akan aku kenalkan dengan salah satu pengurus café.”
“Iya, Mas.” Hana mengantarkan Randy sampai ke mobil, setelah memastikan mobil yang dikendarai suaminya sudah melewati pagar dia segera masuk ke rumah. Membuka ponselnya dan membaca pesan yang sekilas sudah dibaca.
“Tidak, untuk apa dia ke Jakarta.”
...***...
“Ada apaan sih, minta gue cepat datang. Jadwal kita tuh jam sebelas Ra.”
Melly yang baru saja datang sudah mengoceh. Bagaimana tidak, Amara menghubunginya untuk segera datang ke perpustakaan kampus.
“Udah kayak mahasiswa cerdas aja, pagi-pagi udah nongkrong di perpustakaan,” cetus Melly.
“Temenin aku Mel, aku bete sendirian.”
“Ya ngapain juga datang pagi bener. Ada masalah ya? Masalah rumah tangga, urusan ranjang atau … eh jangan bilang suami lo selingkuh.” Melly bicara ceplas ceplos bahkan dengan suara agak berteriak.
“Kamu ih, ngomong asal aja. kalau didengar orang gimana?”
“Terus masalah lo apa?”
“Nggak ada masalah, temani aja bentar sampai dengan kelas kita mulai. Please, ya.”
Melly bahkan menghubungi Juan, dia tidak ingin merasakan kesialan dalam solidaritas dalam pertemanan sendiri. Keduanya lalu meninggalkan perpustakaan menuju kantin, menunggu di sana sampai kelas dimulai.
Saat istirahat, Randy menghubungi Amara tapi diabaikan oleh wanita itu.
[Kita pulang bersama, tunggu aku]
Randy mengirimkan pesan dan lagi-lagi diabaikan oleh Amara.
__ADS_1
“Lebih baik aku pulang sendiri,” gumam Amara.
Rekan-rekan Amara kembali membahas mengenai program KKN yang akan diadakan setelah ujian semester.
“Bisa nggak kalau kita minta di daerah perkotaan aja, kayaknya gue nggak bisa kalau jauh dari keramaian dan mall. Apalagi kalau daerahnya susah sinyal,” keluh Melly.
Akhirnya kelas hari ini berakhir, Amara pulang menggunakan ojek online. Sampai di depan rumah, dia melihat ada seorang pria yang memperhatikan kondisi rumah.
“Maaf Mas, cari siapa?” tanya Amara setelah ojeg yang dinaiki sudah pergi.
“Oh, tidak Mbak. Saya sedang cari alamat, tapi sepertinya salah. Mari Mbak,” ujar pria itu lalu meninggalkan Amara yang masih menatap aneh.
Pria itu ternyata mengendarai mobil yang diparkir agak jauh.
“Aneh, siapa sih?”
Amara meminta pekerja di rumahnya untuk memastikan pagar tetap terkunci, dia khawatir kalau pria yang tadi berniat jahat.
“Amara, kamu sudah pulang?” tanya Hana ketika Amara berada di dapur untuk mengambil air dingin.
“Hm.”
“Aku sedang masak gulai kambing, kamu suka nggak?” tanya Hana sambil mengaduk masakannya.
Dari aromanya sungguh menggugah selera, apalagi aku memang sedang lapar, batin Amara.
“Sengaja masak ini untuk mas Randy. Katanya daging kambing bisa membuat vitalitas pria semakin baik.”
Vitalitas dia bilang, aku pikir dia wanita alim taunya mesum. Amara kembali membatin mendengar ucapan Hana
“Aku tidak suka kambing, takut bau kambing,” sahut Amara. “Bik, buatkan aku mie instan dong. Antar ke kamar ya Bik.”
“Amara, kamu tidak makan malam dengan kami?” tanya Hana.
“Nggak.” Amara bergegas meninggalkan dapur.
Brak.
Amara membanting pintu kamarnya. Entah kenapa kepalanya membayangkan bagaimana Randy dengan begitu agresif bersama Hana.
“Tenang Amara, ngapain juga kamu mikirin hal itu. Sudah jadi konsekuensinya harus berbagi suami ya begini,” gumam Amara.
Amara benar-benar menghindar dari Randy. Sengaja tidur lebih awal dan bangun serta berangkat ke kampus juga lebih awal. Tentu saja Randy bertanya-tanya dengan sikap istrinya, ketika dihubungi pun Amara hanya menjawab seperlunya saja.
“Huahh.” Amara menguap karena kantuk. Setelah bangun lebih pagi dan bergegas berangkat ke kampus padahal tidak ada jadwal kuliah dan minggu depan sudah ujian semester.
Wanita itu berjalan melewati parkiran yang masih sepi. Tiba-tiba ada tangan yang menariknya dan memaksa masuk ke dalam mobil.
“Pak Randy, apa-apaan sih.” Randy memasang seatbelt pada tubuh Amara.
“Diam!”
Pria itu memutar lalu masuk melalui pintu lain.
__ADS_1
“Ini mau ke mana? Aku ada kuliah,” ujar Amara ketika mobil mulai melaju meninggalkan kampus.
“Diamlah, aku tahu kamu bohong. Untuk apa kamu menghindari ku terus?”
Amara enggan menjawab, memilih memandang keluar jendela.
“Kita mau ke mana?” tanya Amara ketika mobil semakin menjauh dari kampus dan berbelok ke area apartemen Randy yang sebelumnya mereka tempati.
Randy masih bungkam, fokus pada kemudinya yang sedang memarkirkan mobil di basement.
“Untuk apa kita ke sini?”
Mesin mobil sudah dalam keadaan mati, Randy melepaskan seat belt dan mengajak Amara turun.
“Pak Randy,” panggil Amara sambil mengikuti langkah suaminya.
Bahkan di dalam lift pun, Randy masih saja bungkam dengan segala pertanyaan dan ocehan Amara. Tentu saja mereka menuju apartemen milik Randy, tapi yang tidak dipahami oleh Amara untuk apa mereka ke sana.
“Kalau Pak Randy masih diam, aku pergi,” ancam Amara.
Setelah menekan kode akses untuk membuka pintu, Randy meraih tangan Amara dan mengajaknya masuk bahkan mendudukan wanita itu di sofa sedangkan dirinya masih berdiri di hadapan Amara.
“Katakan, kenapa beberapa hari ini kamu menghindariku?”
“Siapa yang menghindar, aku sibuk persiapkan ujian,” jawab Amara lalu melayangkan pandangannya ke arah lain.
“Bohong, aku tahu kamu bohog.”
“Ck, aku hanya berikan kesempatan untuk Pak Randy dan Hana bersama. Daripada aku mikir yang aneh-aneh lebih baik aku ….”
“Menghindar?”
Amara mengedikkan bahunya.
“Hana sampai masak gulai kambing untuk Pak Randy agar begini di ranjang,” ujar Amara sambil memberikan kedua ibu jarinya ke hadapan Randy.
Randy mengernyitkan dahinya, memang dirinya menikmati masakan yang Amara katakan dua hari yang lalu tapi tidak ada yang terjadi dengan dirinya dan Hana karena memang sudah sepakat seperti itu. Yang ada malah, dirinya memikirkan Amara yang selalu menghindar.
Randy tertawa membuat Amara geram dan beranjak berdiri.
“Aku mau pulang. Jadwal aku dengan Pak Randy itu besok.”
“Dan hari ini, adalah hari bebas aku. Yang aku inginkan adalah kamu,” bisik Randy lalu memeluk Amara.
“Pak Randy ….”
“Sttt.”
Randy membawa istrinya ke kamar yang sebelumnya mereka tempati. Pria itu membalas apa yang dilakukan Amara karena mengabaikan dan menghindarinya. Amara hanya bisa pasrah dan menerima hukuman, hukuman melakukan kegiatan menyenangkan.
__ADS_1