
Malam itu Randy akhirnya pulang tanpa Amara dan mengizinkan istrinya tetap tinggal dengan Bunda untuk sementara waktu. Tinggal bersama madu dan juga dengan Ibu mertua yang terlihat tidak mendukungnya tentu saja hanya akan membuat emosi Amara tidak baik. Ditambah, saat ini wanita itu sedang sakit.
Sudah beberapa hari berlalu walaupun komunikasi Randy dan Amara lebih baik dibandingkan sebelumnya karena Amara menolak menghubungi atau dihubungi oleh Randy sesuai permintaan Imelda.
Saat ini Amara sedang berada di kampus, mengikuti perkuliahan seperti biasa bersama dua sahabatnya dan kebetulan Randy yang sedang mengajar.
“Stt, Amara,” bisik Juan sambil menyikut lengan wanita itu.
Amara menoleh dan mengalihkan pandangannya ke depan sesuai petunjuk Juan. Randy sedang menatap ke arahnya, karena sejak tadi Amara hanya mencorat coret halaman bukunya bukan mendengarkan dan menyimak materi.
“Sejak tadi kamu hanya melamun, ikut ke ruangan saya untuk dapat tugas tambahan dan bawakan tugas teman-temanmu,” titah Randy lalu menutup pertemuannya.
“Huftt.”
“Halah, nggak usah bete gitu. Sampai di sana lo pasti dapat hukuman enak kok,” ejek Melly.
“Idihh,” sahut Amara.
“Palingan juga lo di makan,” seloroh Juan lalu meninggalkan Amara sambil merangkul Melly.
“Dasar sahabat lakn4t,” teriak Amara.
Dengan berjalan gontai menuju ruang kerja suaminya, bahkan pria itu mengirimkan pesan agar segera datang ke ruangannya.
“Nggak sabar amat,” gumam Amara saat membaca pesan Randy.
Amara menarik nafasnya saat berdiri di depan pintu lalu mengetuk.
“Selamat siang Pak,” sapa Amara khawatir jika Randy saat ini sedang menerima tamu.
“Lama banget sih,” ujar Randy menghampiri lalu memeluk Amara.
Amara tidak langsung menyambut pelukan suaminya tapi dia sangat merindukan perhatian dan sentuhan pria itu. Akhirnya kedua tangan Amara mengalung di tubuh suaminya.
“Aku rindu, sangat rindu,” ujar Randy masih memeluk istrinya.
“Tiap hari juga ketemu, rindu apaan kali.”
“Ck. Bedalah, aku rindu macam-macam dengan kamu,” canda pria itu lalu keduanya duduk di sofa masih dengan Amara dalam rangkuln suaminya.
“Katanya mau kasih tugas, mana? Aku masih ada jam setelah istirahat.”
__ADS_1
Randy mengusap rambut istrinya dan mencium kening wanita itu. Entah Amara sadari atau tidak, kalau pria itu sudah menatap sendu dan diliputi gairah.
“Serius mau kerjakan sekarang tugas kamu?”
“Susah nggak?” tanya Amara masih belum memahami kalau maksud suaminya adalah tugas yang berbeda.
“Mudah, mudah sekali bahkan nikmat,” jawab Randy yang disambut oleh Amara dengan wajah merengut.
“Mana ada tugas kuliah Pak Randy macam begitu,” keluh Amara yang sudah beranjak duduk lepas dari pelukan suaminya.
“Sayang, aku kangen. Bolehkah di sini?”
Amara menatap wajah suaminya. Bagaimana bisa pria itu meminta haknya di sini, di ruang kerjanya. Bahkan terlihat sekali wajah Randy yang memang sedang menginginkan penyatuan diri. Padahal pria itu memiliki dua istri dan dia baru saja menikah lagi, apa iya mereka tidak menikmati malam-malam mereka. Apalagi Randy dan Hana memang saling mencintai dan sudah dalam rencana pernikahan sebelum ada pernikahan dengan Amara.
“Ehm, memang Pak Randy tidak ….”
“Aku ingin denganmu, sekarang!”
Rasanya Amara ingin sekali memaki pria di hadapannya tapi dia berusaha sabar. Bukan karena dia tidak ingin memberikan hak suaminya tapi Amara membayangkan kalau suaminya melakukan penyatuan diri dengan wanita lain meskipun wanita itu adalah madunya.
Amara teringat lagi izin yang sudah dia berikan pada suaminya, sudah hak pria itu menggauli kedua istrinya walaupun tanpa Amara ketahui Randy dan Hana menikah hanya kesepakatan karena ingin melindungi kehormatan Hana.
“Bagaimana kalau ada yang masuk?”
Pria itu beranjak menuju pintu dan benar menguncinya. Amara tidak bisa menolak apa yang dilakukan Randy dengan langsung merebahkan tubuhnya di atas sofa. Melepaskan satu persatu penutup tubuh Amara dan menatap nyalang lalu membisikan doa sebelum mereka bersatu.
Amara dipeluk dan disentuh dengan lembut seperti yang biasa dilakukan oleh Randy meskipun terlihat pria itu seakan tidak sabar ingin menyatukan tubuhnya. Entah berapa lama Amara pasrah dalam rengkuhan dan penyatuan diri dengan suaminya.
Nafas keduanya masih terengah setelah berhasil mencapai pelepasan dan terdengar dering ponsel milik Randy yang tadi diletakan di meja sofa.
“Pak Randy, lepas dulu,” pinta Amara.
“Rasanya sekali tidak cukup, kamu begitu melenakan dan candu untukku,” tutur Randy sambil mengusap keringat di dahi Amara.
Dering ponsel getarannya cukup mengganggu, Amara kembali mengeluhkan hal itu dan meminta suaminya segera beranjak.
“Setelah ini aku masih ada kelas dan nggak mungkin aku ikut kelas tanpa mandi,” ujar Amara masih dengan wajah cemberut.
Randy pun melepaskan tubuhnya dan menghela pelan.
“Mandi saja di sini,” usul Randy.
__ADS_1
Sambil memunguti pakaiannya dan mengenakan kembali, Amara menolak karena perempuan tidak semudah laki-laki. Dering ponsel kembali terdengar, Randy sedang mengenakan boxernya dan masih acuh.
Siapa sih dari tadi hubungi Pak Randy terus, batin Amara akhirnya meraih ponsel tersebut.
“Hana,” gumam wanita itu.
“Siapa?”
Amara menoleh dan memberikan ponsel suaminya. “Istri Pak Randy,” ujarnya.
“Istriku ya kamu,” sahut Randy walaupun paham yang dimaksud oleh wanita itu. Randy akhirnya menjawab dengan memberikan salam tidak lama dia terdiam dan memijat dahinya.
“Tidak perlu, aku biasa makan siang di kampus. Lagi pula, di sini belum ada yang tahu dengan pernikahanku dan aku tidak ingin menjadi bahan gosip ketika kamu datang membawakan makan siang,” tutur Randy.
Amara yang sedang merapikan blouse yang dia kenakan merasa tidak nyaman. Madunya ingin bersikap layaknya seorang istri dengan membawakan makan siang juga makan bersama. Padahal sang madu tahu kalau di kampus juga ada Amara. Sarapan dan makan malam mereka sudah bersama tapi makan siang pun ingin dimonopoli.
“Pak Randy, aku pulang,” pamit Amara.
“Eh, Amara tunggu dulu.” Randy akhirnya mengakhiri panggilan telepon.
“Kenapa diputus, nanti dikira aku yang minta Pak Randy mengabaikan dia.”
“Kamu mau pulang? Bukannya masih ada kelas dan kita belum makan,” cegah Randy kembali merengkuh istrinya.
“Aku harus mandi, sholat dan … sudahlah lebih baik pulang aja. Lagian Pak Randy kenapa sih nggak tahu waktu dan nggak tahu tempat,” keluh Amara.
Randy hanya terkekeh.
“Sudah lama aku tidak merasakannya, wajar kalau aku tidak sabar. Lagi pula menyenangkan suami itu pahala, istri salihah harus nurut apa kata suami,” tutur Randy tanpa direspon oleh Amara. “Besok aku jemput, kita pindah ke rumah milik kita,” ajak Randy.
“Besok?”
Randy menganggukkan kepalanya.
“Kita itu termasuk … Hana?” tanya Amara lirih.
Lagi-lagi Randy menganggukan kepalanya.
“Jangan minta izin untuk kamu tetap tinggal dengan Bunda, aku tidak setuju.”
“Tapi satu atap ada dua cinta, apa rumah tangga ini akan tetap baik-baik saja?”
__ADS_1