Bukan Istri Salihah

Bukan Istri Salihah
Bertemu Keluarga Hana


__ADS_3

Amara menatap lembaran uang kertas yang menjadi mahar pernikahannya dengan Randy. Saat itu memang kondisi dan situasi sangat mendesak dan mendadak, sehingga Randy hanya memberikan mahar seadanya.


Namun, saat ini Amara sudah menaruh hati pada pria itu. Dia sudah memberikan mahkotanya pada Randy sang suami tapi sampai saat ini pernikahan mereka belum didaftarkan secara resmi.


“Kalau begini ‘kan lebih bagus,” gumam Amara merangkai lembaran uang maharnya dan merapikan pada bingkai foto.


Amara teringat pertemuannya dengan Bunda siang tadi, wanita itu begitu mengkhawatirkan dirinya dan berharap Randy bisa menjadi suami yang baik. Sedangkan Amara sendiri tidak menyampaikan kegundahan hatinya, rasanya tidak karuan membayangkan hasil pembicaraan keluarga Randy dan keluarga Hana mengenai pernikahan mereka.


Tapi, kalau ternyata keputusannya aku diceraikan oleh Pak Randy, bagaimana ya? Batin Amara.


Jika sebelumnya dia begitu menggu dan meminta untuk ditalak tapi kali ini berbeda. Tidak bisa dibayangkan oleh Amara kalau harus berpisah dengan suaminya.


“Amara,” panggil Randy.


“Pak Randy,” sapa Amara yang tidak menyadari kehadiran suaminya. “Sudah pulang? Kenapa aku tidak tahu ya.”


Randy mengusap kepala istrinya.


“Kamu terlalu serius, sampai aku ucap salam juga tidak terdengar.”


Amara hanya tersenyum.


“Benarkah?”


“Hm.”


...***...


Amara duduk sambil memilin jemari tangannya yang berada di pangkuan. Pagi ini sesuai rencana Randy akan menuju ke kediaman keluarga Hana, tepatnya pondok pesantren di mana dia pernah mengenyam pendidikan.


Yang menjadi persoalan adalah Amara yang tidak ingin ikut tapi Mami Randy ingin Amara ikut serta.


“Ayo sayang, Mami dan Papi pasti sudah menunggu,” ajak Randy.


“Tanpa aku juga bisa, kenapa harus aku ikut serta,” sahut Amara masih dengan wajah cemberut.


“Untuk membuktikan kalau pernikahan kita benar adanya. Kamu bisa tunggu di mobil dan datang ketika dipanggil saja. Ayo,” ajak Randy lagi bahkan sudah mengulurkan tangannya.


Amara menatap wajah Randy lalu beralih pada uluran tangan suaminya. Meskipun berat, dia meraih uluran tangan suaminya dan melangkah bersama. Untungnya mereka pisah mobil dengan kedua orang tua Randy.

__ADS_1


Menyesuaikan dengan tempat yang akan dikunjungi, Amara mengenakan dress putih panjang dilengkapi dengan pashmina dengan warna senada.


Dua mobil beriringan menuju kediaman Hana, keduanya tidak banyak bicara selama perjalanan. Hingga akhirnya mereka tiba di lokasi setelah melakukan perjalanan kurang lebih satu jam setengah. Kedua mobil itu memasuki area pondok pesantren. Ayah Hana adalah pemilik pondok dan kediamannya berada di area asrama putri.


“Aku nggak mau ikut, tunggu di mobil aja ya,” rengek Amara yang belum siap mendengar keputusan hubungan mereka termasuk juga kelanjutan rencana pernikahan Randy dan Hana.


Randy menghela nafasnya pelan, memahami apa yang dirasakan oleh Amara. Pria itu akhir keluar dari mobil, lalu bicara dengan kedua orangtuanya.


Amara tidak tahu apa yang dibicarakan tapi Imelda sempat terlihat berang dan akan melangkah lalu ditahan oleh Pram.


“Mereka kenapa? Bukannya cepat masuk,” gumam Amara.


Keluarga Randy disambut baik oleh orangtua Hana, saling menyapa dan menanyakan kabar. Randy terlihat gugup, apalagi dia tidak melihat ada Hana di antara mereka.


“Nak Randy cari siapa?” tanya Maya, Umi dari Hana.


“Ehm, saya tidak melihat Hana,” jawab Randy.


Kedua orangtua Hana saling pandang lalu tersenyum.


“Sepertinya ada yang tidak sabar bertemu dengan calon istrinya. Tahan nak Randy, pernikahan kalian tidak lama lagi,” tutur Amir, Ayah Hana.


“Iya, Pak Kyai. Tapi ada yang ingin kami bicarakan,” ujar Randy membuka topik utama.


Randy menoleh ke arah Papinya, pria itu menganggukkan kepalanya seakan mendukung apa yang ingin disampaikan oleh Randy.


“Ini tentang rencana pernikahan saya dan Hana, sebelum saya jelaskan mohon Hana dihadirkan juga di sini.”


Semua yang hadir terdiam dan atensi tertuju pada Randy yang sedang bicara. Ibu Maya sempat menduga ada sesuatu melihat raut wajah Randy yang cukup serius termasuk Hana.


“Kita semua sangat menunggu waktu pernikahan saya dan Hana, tapi takdir bicara lain,” ujar Randy. “Ada hal yang terjadi dan itu tidak pernah saya duga bahkan terpikirkan pun tidak.”


Kyai Amir mengernyitkan dahinya mendengar penuturan Randy, begitupun dengan Maya yang belum mengerti apa yang dimaksud oleh calon menantunya itu.


“Nak Randy kami tidak mengerti, tolong diperjelas.”


Randy menarik nafasnya lalu menceritakan kronologis pernikahannya dengan Amara. Bahkan Ibu Maya sempat beristighfar mendengar kejadian yang mengharuskan Randy dan Amara akhirnya dinikahkan.


“Sungguh, saya bukan ingin menolak atau menggagalkan rencana dengan Hana tapi ….”

__ADS_1


“Nak Randy,” ucap Kyai Amir menjeda ucapan pria itu. “Apa alasan Nak Randy melanjutkan pernikahan kalian dan tidak menceraikan wanita itu?”


“Saya sudah melafazkan iqrar di mana saya berjanji untuk menanggung dosa-dosa mempelai saya dan gadis itu sudah menjadi tanggung jawab saya. Tidak mungkin saya langsung menceraikan istri saya, seakan pernikahan kami hanya main-main.”


Randy menjelaskan sambil menundukkan wajah, tidak berani mengangkat pandangannya apalagi menatap Hana yang jelas-jelas bukan muhrimnya.


“Maafkan kami, ini semua di luar rencana dan kehendak kita.” Pram menambahkan setelah Randy menjelaskan dengan rinci kejadian dan alasannya masih bersama Amara.


“Hana, kamu dengar apa yang disampaikan Nak Randy?” tanya Kyai Amir.


Ibu Maya sedang mengusap punggung Hana serasa menenangkan putrinya.


“Dengar Abi,” sahut Hana.


“Bagaimana menurut pendapatmu?”


Saat ini atensi beralih pada Hana, begitu penasaran dengan jawaban gadis itu.


“Aku akan ikut apapun keputusan Abi. Insya Allah akan aku terima dengan ikhlas,” tutur Hana yang masih menundukan wajahnya, bahkan air mata sudah jatuh dan membasahi pipinya. Bagaimana dia tidak sedih dan seakan meratapi kenyataan bahwa laki-laki yang akan menikah dengannya sudah menikah dengan wanita lain.


Selama ini dia yakin dengan teori dan ayat yang menjelaskan kalau jodoh memang sudah diatur, bagaimanapun manusia merencanakan kalau Allah tidak meridhoi maka tidak akan mereka berjodoh. Akhirnya Hana mengalaminya sendiri.


“Kamu tidak ingin menganggap pernikahan sebagai sebuah permainan, Abi juga tidak ingin menganggap rencana pernikahan kalian sebuah permainan,” tutur Kyai Amir.


Pram dan Randy tidak mengerti dengan ucapan pria di hadapannya. Ayah dan anak itu menatap pria paruh baya yang memandang ke depan menjeda pernyataannya.


“Maksud Pak Kyai?” tanya Pram.


“Apa wanita itu ikut serta?”


“Ada Pak Kyai, dia menunggu di mobil,” jawab Imelda.


“Apa keputusan Abi?” tanya istri Kyai Amir yang mana Hana pun memiliki pertanyaan yang sama.


“Dalam agama kita memperbolehkan seorang laki-laki menikahi lebih dari seorang wanita, selama dia bisa berusaha dan berlaku untuk adil.”


“Abi,” ujar Ibu Maya.


Randy menunduk dan menelan saliva bahkan kedua tangannya mengepal karena gugup dan tidak menyangka rekomendasi yang disampaikan oleh Kyai Amir.

__ADS_1


“Maksud Pak Kyai, Randy boleh berpoligami?” tanya Imelda yang sepertinya menyetujui dengan keputusan tersebut.


Hana refleks mengangkat wajahnya dan tatapannya bertemu dengan tatapan Randy walau hanya sekilas tapi raut kekecewaan terlintas di wajah mereka.


__ADS_2