
Saat ini dua keluarga itu masih dalam pembicaraan. Amara sudah diminta ke kamar ditemani Randy. Tidak baik dia berada di tengah pembicaraan ini yang bisa mempermainkan emosinya.
“Aku sudah mendengar apa yang Amara alami selama dia menikah dengan Randy. Kalau memang kalian tidak menyukai Amara karena ketidakjelasan silsilah keluarganya, seharusnya pisahkan dia dari Randy jangan malah mempertahankan tapi memperlakukannya tidak baik. Bahkan sampai mengancamnya untuk mengizinkan Randy menikah lagi,” tutur Wilaga.
“Maaf, saya potong. Mengancam Amara? Sepertinya kami tidak lakukan itu, Amara sendiri yang mengizinkan Randy untuk menikah dengan Hana dan saya juga tidak setuju dengan keputusan itu tapi Amara mengizinkannya,” tutur Pram membela diri.
“Tanya saja pada istrimu.”
Pram menoleh, Imelda hanya menghela nafasnya.
“Itu dulu, waktu aku belum tahu ….”
“Amara adalah cucuku, yang akan mewarisi banyak usaha dan peninggalan keluarga kami,” ujar Wilaga menyela ucapan Imelda.
“Bukan begitu, aku pikir Hana memang gadis yang terbaik untuk Randy jadi aku tetap mendukung mereka menikah.”
“Setelah ini aku tidak ingin mendengar kalian semena-mena, walaupun Amara bungkam tapi kebusukan-kebusukan ini tetap sampai ke telingaku,” tutur Wilaga dengan sedikit ancaman.
“Saya paham dengan maksud Pak Wilaga, sebagai orang tua Amara dan sebagai orangtua dari Randy kami pun ingin yang terbaik untuk mereka,” tutur Pram.
Cukup lama pembicaraan itu, sampai akhirnya mereka makan siang bersama dan orangtua Pram dipersilahkan istirahat.
Sedangkan di kamar berbeda, Randy masih membujuk Amara yang merajuk.
“Ngapain Pak Randy masih di sini, aku mau istirahat jadi jangan ganggu aku,” ujar Amara.
Randy tidak menjawab apapun, semakin menggeser duduknya dan mengusap perut Amara. Kalau boleh berteriak, mungkin pria itu akan berteriak dan berjingkrak karena bahagia. Walaupun Amara masih memasang wajah jutek dan selalu mengusir Randy, wanita itu tidak memutuskan hubungan pernikahan mereka.
“Jangan marah-marah, kasihan anak kita.”
“Anak kita? Ini anakku,” cetus Amara.
“Anak kita sayang, bikinnya berdua masa mau diklaim sendirian,” tutur Randy yang sukses mendapatkan cubitan di pinggangnya. Pria itu terkekeh pelan lalu mendekat dan mencium pipi Amara.
“ish, apaan sih dekat-dekat. Pake cium segala.”
“Kangen, aku kangen kamu Amara,” bisik Randy.
Amara mendengus kesal, dia masih hafal dengan sikap Randy yang mulai menjurus ke arah lain. Perlahan Amara berdiri dan refleks membuat Randy terkejut.
Lidia dan Mirna mendatangi kamar Amara.
“Kamu mau ke mana?”
“Baringan, pegal pinggang aku,” jawab Amara.
Randy harus sabar dan menjaga jaraknya, karena ada Mirna dan Lidia. Apalagi Amara mengeluhkan sakit pinggang dan kedua telapak kakinya yang bengkak.
__ADS_1
“Diusap aja, punggungnya. Randy pasti maulah usapin kamu,” goda Lidia sambil terkekeh. Sedangkan Mirna sedang mengoleskan minyak pada kaki Amara yang bengkak.
“Jangan banyak jalan, rebahan dulu. Lagipula dokter minta kamu bedrest ‘kan?” tanya Mirna yang mendapatkan anggukan kepala dari Amara.
“Ayo Mbak, ikut saya keliling desa. Ada duda ganteng loh, siapa tahu kecantol,” ujar Lidia menggoda Mirna dan membiarkan Amara bersama Randy untuk memperbaiki hubungan mereka.
“Duda apaan sih, enggak ah.”
“Ayo.”
...***...
Pembicaraan dua keluarga itu membuahkan hasil, kalau Imelda tidak akan mencampuri urusan rumah tangga Randy dan Amara. Sebagai orangtua, Pram, Imelda dan Mirna hanya akan mengawasi dan mendukung pasangan Randy dan Amara.
Pram mengusulkan Amara tetap bersama Wilaga sampai dia siap kembali tinggal bersama Randy, apalagi kondisi Amara sedang hamil tua sangat beresiko untuk perjalanan jauh kalau harus pulang ke Jakarta.
Kebetulan saat ini sedang libur semester dan Randy akan mengajukan cuti, agar bisa menemani Amara sampai melahirkan.
“Geser dikit lagi,” titah Amara.
Randy menggeser box bayi yang baru saja datang. Saat ini pasangan itu sedang sibuk mempersiapkan perlengkapan bayi mereka. Sebenarnya hanya sibuk merapikan, karena yang berbelanja malah Lidia diantar Dayu.
“Ada lagi nggak yang kurang? Jangan aja lagi mengejan malah inget belum beli perlak atau minyak telon,” ejek Dayu yang bersandar pada sofa.
“Berisik, ini sudah lengkap sesuai catatan yang Bunda kasih ke aku,” sahut Amara.
“Tante!” teriak Amara.
“Dayu, mending kamu ke mana gitu daripada gangguin Amara terus. Ayo,” ajak Lidia sambil menarik tangan anaknya.
“Mas, kalau ada mahasiswi yang cantik bolehlah dikenalin sama saya. Yang lagi KKN, pake jilbab itu juga manis. Kenalin yak,” pinta Dayu.
Amara mendorong tubuh Dayu agar segera keluar dari kamarnya kemudian menutup pintu bahkan menguncinya.
“Kok di kunci?” tanya Randy.
“Biarin, nanti si rese masuk lagi,” jawab Amara lalu menaiki ranjang.
Randy pun mengikuti jejak Amara bahkan sudah berbaring rapi di samping istrinya.
“Sayang, perut kamu sakit nggak?” tanya Randy sambil mengusap perut istrinya tapi usapan itu perahan naik ke atas.
Amara mendelikkan mata karena ulah suaminya. Berbulan-bulan ditinggal oleh Amara sudah pasti Randy begitu merindukan istrinya. Akhirnya dia hanya diam saat Randy perlahan memeluk dan meraih tengkuknya lalu menyatukan bibir mereka.
“Pak Randy,” ucap Amara saat pagutan mereka berakhir.
“Maaf sayang, aku begitu rindu. Tenang saja, aku tidak akan menyentuhmu apalagi melukai anak kita,” ujar Randy.
__ADS_1
“Hm, sabar ya. Kita konsultasi dulu ke dokter.”
...*** ...
Dua tahun kemudian.
“Sudah siap?” tanya Randy yang sudah rapi dan menggendong Bisma.
Amara baru saja selesai di make up dan menata penutup kepalanya. Semenjak memutuskan untuk menata kembali pernikahan bersama Randy, wanita itu sudah yakin menutup kepalanya dengan hijab.
Mengenakan kebaya berbentuk gaun panjang menyesuaikan dengan bentuk perutnya yang sudah membuncit. Saat ini Amara akan melaksanakan wisuda, setelah satu tahun cuti. Melahirkan putra pertamanya yang diberi nama Bisma Kalingga dan saat ini sedang hamil anak kedua yang lagi-lagi berjenis kelamin laki-laki.
“Sudah, ayo berangkat. keburu macet,” sahut Amara.
Mirna baru saja datang dan langsung meraih Bisma, sedangkan Randy merangkul Amara sampai ke mobil.
Tiga bulan setelah melahirkan Bisma, Amara baru kembali ke Jakarta. Randy datang dua minggu sekali untuk menjumpai istri dan anak mereka. Pram mengawasi benar istrinya agar tidak mengintimidasi Amara atau mencampuri urusan rumah tangga Randy dan Amara.
"Perlengkapan Bisma sudah dibaw?" tanya Mirna.
“Sudah Bun, ada di bagasi,” jawab Randy.
“Papi jadi ikut?” Amara bertanya saat mobil yang dikemudikan Randy sudah melaju.
“Jadi, langsung ke lokasi dengan Mami,” jawab Randy masih fokus dengan kemudi dan jalanan.
Mirna tidak ikut ke dalam ballroom untuk menghadiri wisuda Amara, dia menjaga Bisma bersama Imelda. Hanya Pram dan Randy yang masuk ke ballroom.
“Bagaimana dengan tawaran, Pak Wilaga?” tanya Pram di sela acara.
“Amara tidak mau, dia tidak ingin para kerabatnya berpikir kalau dia akan menguasai harta Eyang. Kami sepakat akan pulang tiga bulan sekali. Usaha-usaha itu sudah diurus oleh ahlinya, ada Dayu dan tante Lidia yang akan memastikan semua berjalan lancar.
Akhirnya Amara berhasil di wisuda, sempat berpikir dia akan gagal dalam pendidikannya karena menikah dan hamil juga masalah yang dihadapinya dulu. Namun, dia bisa menyelesaikan pendidikannya bahkan sedang hamil anak kedua.
“Selamat sayang,” bisik Randy ketika memeluk istrinya. Amara tersenyum dan mengeratkan pelukannya. “Terima kasih sudah sabar menghadapiku dan menjadi istri salihah.”
...~~ TAMAT ~~...
Hai gaesss, thanks ya sudah ikuti kisah Amara dan Randy sampai akhir. Terima kasih juga untuk yang sering meninggalkan jejaknya, terutama untuk : Dian, Reyhan, Mariammarife, Defi, Khalisa, Es Cendol, Sri Ayuderisya46, Udin, Nung Ella, Pahri, Merry, Omy BangOen, Ila latifah, Marlinda Linda, Ahmad Suryadi dan yang tidak bisa disebutkan satu persatu.
Sehat selalu untuk kalian dan mampir juga ke karya aku yang lain. 🥰🥰
__ADS_1