
“Kalian sudah datang,” sambut Imelda pada anak dan menantunya.
Setelah beberapa hari Randy dan Imelda tinggal di hotel, walaupun tidak ada yang terjadi dengan pasangannya itu setelah pernikahan dan setelah Randy mengetahui kondisi Hana.
Hana tersenyum lalu menyapa dan mencium tangan Ibu mertunya.
“Amara di mana Mih? Kami ke apartemen dia tidak ada, saya hubungi juga susah,” keluh Randy.
Imelda berdecak mendengar pertanyaan putranya lalu mengajak Hana masuk. Randy ikut masuk membawa koper milik Hana.
“Aku akan ke tempat Bunda, mungkin Amara ada di sana. Hana, kamu di sini saja,” ujar Randy yang dijawab dengan anggukan kepala oleh Hana.
“Randy, masa kamu tinggalkan istrimu sendiri.”
“Ada Mami di sini,” sahut Randy.
“Sudahlah kamu urus Hana saja, Amara biarkan saja dia lakukan apa yang dia mau,” ujar Imelda.
“Mih, Please. Sejak aku dan Hana ijab qabul dan tiba di Jakarta, dia tidak menghubungiku apalagi menjawab panggilanku. Aku harus bertemu dengannya.”
Randy meninggalkan Hana dan Imelda menuju kediaman Ibunda Amara. Sebenarnya Randy ingin ke butik menemui Ibu mertuanya, mungkin saja Amara ada di sana tapi dia ragu. Dia perlu bertemu dengan Amara sebelum mengakui kesalahannya sudah menikah lagi walaupun hal itu mungkin sudah diketahui oleh Ibu mertuanya.
Mobil yang dikendarai oleh Randy akhirnya memasuki area kediaman Mirna. Terlihat sepi, sudah pasti Ibu mertuanya tidak ada.
“Bik, Amara ada di dalam?” tanya Randy pada asisten rumah tangga yang kebetulan ada di beranda.
“Neng Amara ada di kamarnya.”
“Dia tidak kuliah?” tanya Randy lagi.
“Tidak Den, Neng Amara sedang sakit tadi turun hanya untuk sarapan lalu diantar lagi ke atas oleh Ibu.”
Amara sakit, batin Randy yang bergegas masuk ke dalam rumah dan menuju lantai dua di mana kamar Amara berada.
"Amara," panggil Randy saat membuka pintu kamar. Suasana kamar agak temaram karena lampu yang dipadamkan tapi gorden sepertinya sengaja tidak dibuka lebar.
Pria itu duduk di pinggir ranjang menatap wajah istrinya yang terlihat pucat. Tangannya terjulur menyentuh wajah itu dan kedua mata Amara perlahan terbuka. Mereka saling menatap sampai akhirnya Amara bersuara.
"Apa aku begitu merindukanmu sampai dalam mimpi pun wajahmu yang terlihat."
Amara kembali memejamkan matanya.
"Kamu tidak bermimpi," ungkap Randy kembali mengusap wajah istrinya.
Mata dengan bulu lentik itu kembali terbuka, "Pak Randy."
__ADS_1
Randy ikut merebahkan diri berhadapan dengan Amara, bahkan merengkuh tubuh mungil istrinya ke dalam dekapan. Terasa tubuh wanita itu bergetar dan isak tangis.
"Maafkan aku, Amara. Aku tidak tahu kalau akhirnya malah akan seperti ini,"
Amara tidak mengucapkan apapun, tangisannya sudah bisa mengungkapkan bagaimana perasaannya.
...***...
Amara bersandar pada head board ranjangnya dan menggelengkan kepala saat Randy kembali menyuapkan makanan ke depan mulut Amara.
"Sedikit lagi, kamu baru makan enam sendok."
"Nggak, aku sesak kalau kebanyakan makan," ujar Amara.
Randy menghela nafasnya, sejak tadi emosinya benar-benar diuji. Dia begitu khawatir dengan wanita itu apalagi asisten rumah tangga mengatakan kalau Amara sedang sakit tapi Amara bungkam ketika ditanya keluhan dan sakitnya.
Amara mengatakan tidak ada yang serius dengan keluhannya, hanya asma yang kumat. Padahal beberapa hari ini dia mendapat perawatan di rumah sakit.
"Kamu sudah datang?" Pasangan suami istri itu menoleh ke arah suara, ternyata Ibunda Amara yang datang. "Ikut Bunda!" titah Mirna pada Randy padahal pria itu belum sempat menjawab.
"Bukankah Bunda sudah bilang untuk tidak sakiti Amara, dari pada kamu menduakannya lebih baik kamu ceraikan." Mirna langsung bicara ketika sudah berada di ruang tamu duduk berhadapan dengan menantunya.
"Bunda, aku tidak tahu akan jadi begini. Sungguh ini situasi yang tidak terduga aku pun tidak berniat menikahi Hana juga."
Rasanya Mirna ingin menampar wajah menantunya, apalagi teringat pada Imelda yang mengatakan agar tidak menghubungi Randy padahal saat itu Amara masuk rumah sakit.
"Maaf Bun, tidak bisa. Amara akan tinggal denganku, aku yang harus bertanggung jawab akan hidupnya."
"Harus tersiksa dengan tinggal bersama madunya, begitu maksud kamu?"
"Bun, percayalah. Hanya Amara yang akan menjadi istriku dan berperan penuh sebagai seorang istri," jelas Randy.
"Amara masih muda, harusnya kamu lepaskan dia. Status janda pun tidak masalah dari pada harus berbagi suami."
Cukup lama Randy bicara dengan ibu mertuanya saat kembali ke kamar tidak ada Amara tapi terdengar gemericik air dari toilet.
Ponsel Randy berdering, ternyata panggilan dari Hana.
"Assalamu'alaikum, Mas," sapa Hana di ujung telepon.
"Waalaikumsalam."
"Mas Randy masih dengan Amara?" tanya Hana.
"Iya, dia sedang kurang sehat dan aku akan menemaninya. Kamu tinggal dengan Mami dulu," titah Randy.
"Ehm, aku paham Mas tapi Mami tanya terus kamu sudah pulang atau belum."
__ADS_1
"Hana, kamu sampaikan apa yang aku katakan tadi. Aku sedang berusaha bersikap adil, Amara membutuhkanku."
Tanpa Randy sadari, Amara sudah keluar dari toilet dan mendengarkan apa yang dikatakan oleh suaminya. Wanita itu menarik nafasnya, berusaha menahan rasa cemburu karena dari ucapan Randy terdengar kalau pria itu menolak untuk pulang.
Randy mengakhiri panggilan telepon lalu menoleh dan menatap Amara yang masih berdiri terpaku hanya memakai bathrobe.
“Amara, kenapa belum berpakaian?” tanya Randy menghampiri istrinya.
Sebenarnya penampilan Amara cukup menggoda bagi Randy, beberapa hari ini dia jauh dari Amara dan tidak bisa menuntaskan sesuatu yang sudah menjadi candu ketika bersama Amara. Dengan Hana dia hanya berjanji menutupi kekurangan wanita itu termasuk tidak menyentuhnya, sampai akhirnya dia memutuskan apakah akan berpisah atau menerima Hana.
“Tunggu di sini, aku akan ambilkan pakaian untukmu,” titah Randy sambil mengarahkan Amara untuk duduk di tepi ranjang.
Randy mengambilkan piyama berbahan satin termasuk pakaian da_lam untuk istrinya. Saat hendak membantu memakaikan, Amara menolak.
“Aku bisa sendiri.”
“Kamu sedang sakit, biar aku bantu,” usul Randy.
“Pak Randy …” Amara memekik saat tali bathrobenya di tarik hingga menampilkan tubuh polosnya.
Randy hanya tersenyum tapi interaksi keduanya terhenti saat ponsel Amara dan Randy berdering. Amara segera memakai pakaiannya lalu menuju nakas dan melihat layar ponselnya.
“Tante Imelda,” gumam Amara lalu menoleh ke arah Randy yang sudah menjawab panggilan telepon.
“Tidak bisa, urusan Mami biar aku yang urus.” Randy mengucap salam mengakhiri pembicaraannya dengan Hana.
“Halo,” ujar Amara.
“Amara, minta Randy segera pulang. Kamu sendiri yang mengizinkan dia menikah lagi jadi jangan miliki Randy untuk dirimu sendiri,” tutur Imelda di ujung telepon.
“Aku tidak menahannya, Pak Randy sendiri yang datang.”
“Kamu pasti pura-pura sakit ‘kan?”
Amara memijat dahinya yang terasa pening mendengar ocehan dari Ibu mertuanya. Randy yang menyadari kalau Amara menerima telepon dari Maminya merebut ponsel Amara.
“Mih, jangan sampai aku bersikap kurang ajar dengan Mami. Amara sedang butuh aku sekarang dan Hana baik-baik saja atau Mami ingin aku ceraikan Hana sekarang?”
Amara kembali merebut ponsel miliknya lalu mengakhiri panggilan dari Imelda. Dia berada dalam posisi tidak baik, karena Imelda akan semakin menekan karena Randy membelanya.
“Sebaiknya Pak Randy pulang, aku baik-baik saja.”
“Amara, jangan begini. Hubungan kita akan tidak baik kalau kamu ….”
Amara menghampiri suaminya mengusap dada bidang suaminya yang masih terbalut kemeja dan menepuknya pelan.
“Aku baik-baik saja, Tante Imelda hanya tidak ingin istri Pak Randy yang di sana kesepian. Kalian baru saja menikah.”
__ADS_1
Amara berusaha tersenyum walau hatinya menangis.