Bukan Istri Salihah

Bukan Istri Salihah
Menggoda Randy


__ADS_3

Setelah kepergian Imelda, Mirna termenung di kursi kerjanya. Semua sungguh mengejutkan dan tidak pernah terlintas sedikitpun dalam benaknya. Amara yang harus menikah terpaksa dengan lelaki yang tidak dicintai, bahkan ternyata menantunya adalah putra dari sahabat juga laki-laki dari masa lalunya.


Melihat karakter Randy walaupun baru dua kali bertemu, Mirna yakin kalau menantunya adalah pria yang baik dan bisa diandalkan untuk membimbing putrinya. Namun, harapannya pupus saat menyadari siapa orangtua Randy yang juga besannya.


Bahkan Imelda menduga kalau semua yang terjadi adalah rencana Mirna dan ancaman wanita itu cukup membuatnya khawatir.


“Sebaiknya Amara bercerai dari Randy, itu yang terbaik,” gumam Mirna.


Wanita itu membuka ponselnya menghubungi Amara.


“Nggak aktif, akhir-akhir ini susah sekali menghubungi Amara.”


...***...


“Habiskan sarapanmu dan minum obatnya!” titah Randy.


Amara yang menikmati bubur ayam dengan duduk berselonjor di sofa karena pergelangan kakinya belum pulih benar. Randy sudah rapi dan siap berangkat meletakan plastik berisi obat yang harus dikonsumsi oleh istrinya.


“Aku sudah boleh mandi belum ya?” tanya Amara.


Randy duduk  di samping Amara dan melihat luka-luka yang ada di tubuh gadis itu.


“Hanya ini saja yang lukanya yang dijahit. Mungkin tidak masalah yang penting area ini tidak basah.”


“Mandiin dong!”


Randy menatap wajah Amara yang malah terkekeh.


“Bercanda kali pak, siapa juga yang mau dimandiin Bapak. Pasti pikirannya udah traveling ke mana-mana,” ejek Amara.


Randy menekan dahi Amara dengan telunjuknya.

__ADS_1


“Kamu yang sudah buat pikiran aku traveling, jangan menggodaku atau mancing-mancing untuk aku … jangan salahkan aku kalau aku nekat atau minta sesuatu yang memang sudah menjadi hakku,” tutur Randy dengan raut wajah serius.


Amara hanya diam dan tidak merespon apa yang disampaikan oleh pria di hadapannya. Kalau diingat memang dirinya sering sekali menggoda Randy bukan karena Amara sengaja tapi memang karakter dan kebiasaan dia bercanda dengan Juan dan Melly.


Dia tidak ingin berpura-pura baik, hanya ingin berlaku apa adanya yang memang kelakuannya tidak disukai oleh Randy.


Dasar beg*, Pak Randy pikir gue pasti gatel. Udah kayak jal*ng yang minta disentuh, tapi bukannya ilfeel lalu ceraikan gue kenapa dia malah nantangin, batin Amara.


Amara berdehem membuat Randy menjauhkan wajahnya.


“Sudah siang Pak, nanti telat. Jangan kasih contoh buruk untuk mahasiswanya,” tutur Amara sok bijak.


“Tumben kalimat kamu ada isinya,” ejek Randy.


“Eh jangan salah ya ….”


“Nanti saya pulang telat, ada ….”


Randy yang sudah berdiri kembali menatap Amara tajam karena dugaan keterlambatannya.


“Hana itu calon istri Bapak ‘kan?”


Alih-alih menjawab, pria itu menghela nafasnya.


“Saya mau berkunjung ke usaha saya bukan seperti yang kamu tuduhkan,” ungkap Randy.


“Pak Randy punya usaha juga selain jadi dosen?”


“Hm.”


“Kapan-kapan ajak saya ya Pak? Kalaupun Pak Randy mau bertemu Hana juga nggak masalah,” ujar Amara lagi.

__ADS_1


Randy tidak menyahut, langsung menuju pintu dan pergi.


“Hm, sepertinya dia tidak suka kalau membahas Hana. Oke, nanti malam kita bahas lagi biar dia marah bahkan emosi terus pulangin gue ke Bunda.”


...***...


Pram dan Imelda sedang sarapan tapi keduanya hanya diam, fokus pada menu di hadapannya. Jika Pram yang memang jarang bersuara yang tidak penting, berbeda dengan Imelda yang malah banyak bicara.


Namun, kebungkaman wanita itu pagi ini cukup membuat Pram merasa aneh. Apalagi dirinya sudah tahu kalau Imelda datang ke kantor dan menanyakan tentang butik Mirna pada sekretarisnya.


“Kamu sudah hubungi Randy untuk kita silaturahmi ke keluarga Hana?” tanya Pram sambil menyeka bibirnya dengan tisu.


“Untuk apa?”


Pram mengernyitkan dahinya mendengar jawaban istrinya. Padahal sebelumnya, wanita itu antusias untuk menyelesaikan urusan dengan Amara dan segera menemui keluarga Hana.


“Bukannya kamu senang kalau Amara menjadi istri Randy atau jangan-jangan ini adalah rencanamu?”


“Imelda, singkirkan pikiran negatif dari kepalamu. Jangan sampai hal itu meracuni pikiran dan tubuhmu.”


Imelda tersenyum sinis. “Bagaimana kalau dugaan aku benar? Kamu sengaja membuat Amara dan Randy menikah agar bisa selalu dekat dengan mantan kamu atau memang kalian masih berhubungan? Salim Butik, tempat perselingkuhan kalian,” ungkap Imelda.


“Imelda,” pekik Pram. “Jaga mulutmu. Hampir tiga puluh tahun kita berumah tangga aku selalu sabar dan menjalani dengan baik walau tidak ada cinta diantara kita. Hubunganku dengan Mirna hanya masa lalu, walaupun kami masih terlibat di butik itu murni karena urusan bisnis. Aku terkejut saat Randy membawa Amara dan mengenalkan sebagai istrinya, saat itu adalah pertemuan kedua dengan Amara,” jelas Pram.


Raut wajahnya tegas dan intonasi suara saat menjelaskan sungguh tidak biasa, bahkan cukup membuat Imelda tercengang.


“Tidak pernah terbesit dalam pikiranku untuk mengkhianati rumah tangga ini.” Pram beranjak dari kursinya lalu pergi.


Imelda melempar serbet ke atas meja.


“Apa menurutmu aku percaya?” gumam wanita itu.

__ADS_1


__ADS_2