Bukan Istri Salihah

Bukan Istri Salihah
Di mana Randy?


__ADS_3

Amara sudah tidak dapat membendung tangisnya, bukan hanya isakan tapi menangis meraung.


“Bunda, aku harus bagaimana?” gumamnya di sela tangis.


Terdengar bunyi bel apartemen berkali-kali, Amara beranjak dengan malas. Berharap bukan Randy dan Hana yang datang.


“Tante,” ujar wanita itu.


“Memang kamu berharap siapa yang datang? Jangan berharap Randy akan datang, dia akan menghabiskan malam pengantinnya dengan Hana.”


Terlintas di benak Amara, Randy yang menghabiskan malam bersama madunya. Rasanya semakin sesak membayangkan hal itu.


 “Cepat kemas barangmu!’ titah Imelda sambil melangkah masuk bahkan bahunya sengaja menabrak bahu Amara.


Ternyata Pram ikut serta, pria itu juga ikut masuk setelah Amara bergeser dan memberi jalan. Orangtua Randy sudah duduk nyaman di sofa, Amara mendekat dan berniat mengutarakan sesuatu tapi ragu.


Pram yang melihat wajah sembab menantunya, hanya bisa menghela nafas.


“Kalau menurutmu kamu aman tinggal sendiri untuk beberapa hari ini, kami tidak akan memaksa kamu ikut,” usul pria itu.


Tentu saja Amara menyambut baik usulan itu, dia sudah berada dalam situasi sangat menyedihkan dan sekarang harus tinggal bersama dengan Imelda. Rasanya seperti sudah jatuh malah tertimpa tangga.


“Benarkah?”


“Hm.”


“Eh, nanti dulu. Dia lebih baik ikut kita sambil bantu Mami melengkapi perlengkapan rumah yang akan ditempati Randy dan Hana.”


“Mami, urusan itu biar mereka yang urus. Kita jangan terlalu banyak ikut campur, mereka dalam hubungan tidak biasa. Bukan hanya rencana masa depan yang harus mereka pikirkan tapi juga bagaimana menata hati,” jelas Pram.


Imelda mendengus kesal mendengar penjelasan Pram, walaupun apa yang diucapkan suaminya ada benarnya tapi dia ada misi untuk membuat Amara dan Mirna menderita.

__ADS_1


“Ya sudah, rumah kita serahkan saja pada Randy tapi kamu ….” Imelda menjeda ucapannya sambil menunjuk Amara. “Ikut dengan kami. Kalau kamu di sini, yang ada kamu malah mengganggu Randy dengan menghubunginya dan merengek untuk mendapatkan perhatian.”


“Tante, tolong izinkan aku tetap tinggal di sini. Aku janji tidak akan menghubungi Pak Randy,” pinta Amara.


“Tidak bisa, kamu harus ikut.”


“Mih,” tegur Pram. Dia tidak habis pikir kalau istrinya benar-benar keras kepala.


Imelda kembali mengatakan titahnya untuk memaksa Amara ikut yang akhirnya malah berdebat dengan sang suami. Amara yang menyaksikan hal itu merasa tidak nyaman dengan tubuhnya, dadanya terasa sesak lalu ….


“Amara, kamu kenapa?” tanya Pram yang melihat menantunya sedang terengah dan terlihat kesulitan untuk menarik nafasnya.


“Aku … sesak,” jawab Amara.


“Asma?”


Amara mengangguk pelan, nafasnya sudah berbunyi. Tangannya meraba tas yang tadi dia kenakan lalu membukanya untuk mencari inhaler. Pram membantu membuka tas dan mencari inhaler yang dia ketahui memang wajah dimiliki oleh penderita asma.


Amara menghirup dalam-dalam tidak lama kemudian dia lepaskan.


“Ko-song.”


“Apa? Mami bantu Amara, Papi akan hubungi ambulance.”


Saat suaminya sibuk melakukan panggilan, Imelda malah menatap sinis menantu pertamanya. “Sepertinya kamu hanya pura-pura,” tuduh wanita itu. “Kamu sengaja ya, biar Randy datang dan mengurus kamu.”


Amara masih mencoba menghirup oksigen, berusaha mengabaikan wanita yang seperti tidak punya hati.


“Mami, kenapa diam saja. Amara, katakan apa yang harus kami lakukan?”


“Air hangat,” sahut Amara.

__ADS_1


Pram bergegas menuju dapur dan tidak lama kembali membawa gelas berisi air hangat dan memberikannya pada perempuan yang sudah berwajah pucat dan masih kesulitan dengan nafasnya.


“Ambulance dalam perjalanan, cobalah lebih rileks.”


“Pih, jangan macam-macam. Kamu khawatir karena dia putri simpananmu,” tuduh Imelda, tentu saja membuat Pram geram.


“Jaga mulutmu, siapa yang kamu maksud simpanan. Kamu tahu aku bukan laki-laki seperti itu,” tutur Pram.


Tidak sampai tiga puluh menit, ambulance datang. Amara pun dibawa ke rumah sakit, Pram dan Imelda menyusul menggunakan mobil sendiri. Sempat memutuskan untuk pulang saja dan mengabaikan Amara, tapi Pram menolak ajakan istrinya.


Ketika tiba di rumah sakit dan sudah berada di UGD, Amara segera dibawa masuk untuk dilakukan pemeriksaan observasi.


“Hubungi Ibunya, bagaimanapun wanita itu harus tahu kalau Amara dalam kondisi tidak baik,” titah Pram.


“kenapa harus Mami yang menghubungi atau Papi takut kalau pembicaraan kalian aku dengar apalagi kalian ada panggilan sayang.”


“Astaga, Imelda. Ini di rumah sakit, hentikan mulutmu pedasmu itu. Saat ini kondisi Amara belum jelas tapi kamu malah memancing emosiku.”


Pram akhirnya menghubungi Mirna dan menyampaikan kondisi Amara yang sedang berada di rumah sakit. Saat wanita itu datang, kondisi Amara sudah lebih baik walaupun sedang mengenakan selang oksigen dan tertidur yang mungkin saja pengaruh obat.


“Di mana Amara?” tanya Mirna yang panik dan dengan nafas terengah karena dia berlari dari parkiran sampai dengan UGD yang harus berjalan memutar.


“Amara harus rawat inap, aku sudah urus semuanya,” ujar Pram.


“Tapi di mana dia dan kenapa ini bisa terjadi?”


Pram dan Imelda saling tatap, salah satu dari mereka harus bicara dan menjelaskan kondisi Amara.


“Asmanya kambuh dan inhaler yang dia miliki sudah tidak aktif,” jelas Pram.


“Kalian yang membawa Amara ke sini? Lalu di mana Randy?” tanya Mirna sambil menatap sekeliling mencari keberadaan Randy.

__ADS_1


 


__ADS_2