
“Pak Randy, aku nggak ngerti. Hana malah mengamuk,” ujar Amara saat Randy datang.
Hana membuang semua barang yang ada di meja rias termasuk juga lampu di atas nakas sambil terisak dan sesekali berteriak.
“Hana, istighfar,” teriak Randy sambil meraih kedua lengan wanita itu.
Hana masih berontak tapi Randy segera memeluknya.
“Istighfar Hana,” ujar Randy.
“Lepas, lepaskan aku. Antarkan aku pulang dan ceraikan aku.” Hana berteriak karena pasrah dengan kondisinya.
Hidupnya sudah hancur bahkan memaksa Randy menikahinya tidak bisa mengembalikan semua kembali ke semula termasuk rasa. Mungkin pernikahan bisa menutupi aibnya tapi hati tidak bisa dibohongi. Randy kecewa dan sedih juga bersimpati dengan apa yang terjadi pada Hana. Sedangkan Hana terlalu percaya diri dengan kesalahannya.
Akbar berdiri di tengah pintu menyaksikan wanita yang sudah hancur olehnya. Penyesalan pun tiada guna, saat ini dia akan lakukan apapun demi Hana dan masa depan mereka. Pria itu tidak berani melangkah masuk karena bukan ranahnya.
Cemburu melihat wanitanya dalam pelukan pria lain, sudah pasti tapi pria lain itu suami dari wanita yang dia cintai. Akbar hanya bisa menatap dan menahan gejolak rasa marah dan cemburunya.
Semua fokus pada Hana dan tidak menyadari kedatangan seseorang.
“Ada apa ini? Siapa kamu?”
Semua orang menoleh ke arah suara. Imelda datang dan melihat kekacauan di kamar dan menantu tersayangnya sedang dalam pelukan Randy dan kondisinya … kacau.
“Hana, kamu kenapa sayang?” tanya Imelda menghampiri Hana dan Randy.
Hana tidak lagi berontak tapi masih dengan tangis dan wajah dibenamkan di dada suaminya. Mendengar panggilan dari Imelda, dia pun menolehkan kepala.
“Mami, tolong aku.”
__ADS_1
“Sabar sayang. Sabar yah, ada Mami di sini.” Imelda mengusap kepala Hana yang masih tertutup kain, lalu menatap Randy dan Amara bergantian.
“Randy ada apa dengan Hana? Apa kalian bersikap kasar dan macam-macam padanya?” Imelda menatap Amara dengan cecaran pertanyaan.
“Akbar, sebaiknya kamu pergi. Ini urusan keluarga kami, keberadaanmu hanya memperkeruh suasana,” titah Randy.
Akbar masih menatap Hana dan ragu untuk meninggalkan tempat itu. dia ingin pergi tentu saja bersama wanitanya. Namun, kondisi Hana tidak memungkin untuk dirinya tetap di sana dan bertahan. Pria itu berharap Hana membuka hatinya untuk menyadari bahwa pernikahannya dengan Randy hanya ilusi dan mau menerima Akbar.
“Mami, tolong aku Mih.”
Imelda meraih Hana ke dalam pelukannya. Setelah wanita itu lebih tenang, lalu mengajaknya duduk di ranjang.
“Ada yang bisa jelaskan ada apa dengan menantuku? Atau jangan-jangan kamu yang berulah.” Imelda menatap Amara dengan tuduhannya.
“Bukan Mih, ini bukan karena Amara atau aku, ini karena ….”
“Mih, aku ingin pulang. Biarkan aku kembali ke pondok dan orangtuaku. Mas Randy bisa talak aku sekarang,” tutur Hana mencegah Randy mengatakan hal yang akan membuat Imelda menjadi tidak simpati lagi. Padahal Randy bukan ingin membuka aib istrinya.
Amara meninggalkan kamar itu, dia tidak tahu apa permasalahan Hana termasuk siapa Akbar tapi Imelda datang dan memojokkannya.
“Terserah, aku tidak peduli siapa pria itu. Biar saja Pak Randy yang urus. Kenapa pula dia harus mengamuk,” gumam Amara.
Amara merasakan kepalanya semakin berdenyut nyeri, sambil memijat dahinya Amara duduk di sofa kamarnya.
Brak.
“Mih, ini urusanku. Mami jangan ikut campur terlalu jauh kalau tidak tahu apa yang terjadi.”
Pintu terbuka karena dorongan dari Imelda diikuti oleh Randy.
__ADS_1
“Hana menantu Mami, tentu saja akan menjadi urusan Mami.”
“Tapi Amara juga menantu Mami,” ujar Randy mengingatkan ibunya.
Amara menatap Ibu dan anak yang sedang berdebat di pintu kamarnya. Merasa heran kenapa harus memilih kamarnya hanya untuk berdebat.
“Amara, ini semua pasti karena kamu,” tuduh Imelda sambil berjalan menghampiri Amara.
“Mamih,” tegur Randy.
“Kamu ya, dasar tidak tahu diri. Sudah baik kami tidak membuangmu. Hana seperti itu pasti karena ulahmu yang memojokkannya dan kamu ingin menguasai Randy termasuk rumah ini.”
“Mami, bukan begitu kenyataannya. Mami sebaiknya pulang, ini akan menjadi urusanku,” tutur Randy. Bagaimanapun wanita itu adalah Ibunya, ketika salah tidak elok kalau Randy harus menghardiknya.
“Aku tidak mengerti maksud Tante?”
“Sebaiknya kalian tinggal dengan Mami lagi, terpisah begini yang ada Hana tersiksa dan tertekan karena kamu,” tunjuk Imelda ke wajah Amara.
“Mereka tetap di sini, aku kepala rumah tangga dan aku putuskan Amara dan Hana tetap tinggal di sini.”
“Randy ….
“Cukup!” teriak Amara menghentikan perdebatan mertua dan suaminya. “Aku tidak mengerti kenapa Tante menuduhku, Hana seperti itu pun aku tidak tahu alasannya. Malah kalian berdebat di hadapanku di kamarku. Pak Randy, sesuai dengan kesepakatan kita kalau aku setuju tinggal bersama Hana selama tidak ada pihak lain yang mencampuri urusan rumah tangga kita.” Amara bertutur masih dengan pandangan menatap suaminya.
“Ini semua salah paham,”ujar Randy.
“Kenapa, kamu mau pergi? Pergilah!” teriak Imelda tentu saja untuk Amara.
Randy akhirnya berhasil mengajak ibunya meninggalkan kamar Amara.
__ADS_1
“Kenapa wanita itu menuduh aku. Lihat saja, aku akan pergi kalau Pak Randy masih saja tidak tegas."