
“Cukup aku dan Hana yang tahu. Mami hanya perlu mendukung kami tanpa mengabaikan Amara dan menyalahkannya. Setelah kondisi Hana tenang aku akan paksa dia untuk konsultasi dengan psikolog. Setelah itu kami akan bicarakan bagaimana kelanjutan pernikahan ini dan aku harap Mami tidak ikut campur apapun keputusan yang akan kami ambil.”
“Mami nggak ngerti, ada masalah apa dengan Hana?”
“Cukup Mih, aku sudah berjanji bahwa hal ini tidak akan keluar dari mulutku.”
Imelda menghela nafasnya. Dia masih belum mengerti dengan masalah yang terjadi dengan rumah tangga putranya.
“Mami tetap ajak Hana pulang, kamu ikut Mami. Istri sedang tidak baik masa kamu mau abaikan.”
Imelda meninggalkan Randy menuju kamar Hana.
“Mih, tidak bisa. Biarkan Hana di sini, aku bisa mengawasinya sekaligus aku mengawasi Amara. Senin Amara ujian, dia pasti ingin tetap tinggal.”
“Biarkan saja dia tetap di sini, yang jelas Hana sedang butuh perhatian. Kamu tidak mau mengatakan masalahnya jadi ini masalahmu.” Imelda sukses membuat Randy serba salah karena keputusannya adalah mutlak.
Tidak ada dua puluh menit, Hana keluar dari kamar bersama Imelda dengan menyeret koper kecil. Randy yang masih duduk di sofa menoleh.
“Mih, aku tidak bisa tinggalkan Amara.”
“Tidak usah bingung Pak, saya yang akan pergi.”
Semua menoleh ke arah suara. Amara yang sedang menuruni anak tangga, dengan tas laptop dan ransel kuliahnya.
“Saya perlu fokus mempersiapkan ujian. Terserah Pak Randy akan tetap di sini atau ikut tante Imelda. Aku juga tidak peduli masalah yang dihadapi Hana termasuk laki-laki yang dia temui tadi,” tutur Amara membuat Hana menunduk.
“Amara, jangan begini. Hana bersama Mami untuk kebaikan nya dan kamu ….”
“Akan pergi pergi demi kebaikanku juga. Sudahlah Pak, tidak usah khawatir. Lagi pula aku pulang ke tempat Bunda bukan melarikan diri dan masalah.”
Ucapan Amara sebenarnya menyinggung Hana yang malah mengamuk dan bersembunyi di ketiak Imelda. Amara pun yakin ada sesuatu antara Hana dan pria bernama Akbar, tapi dia tidak peduli karena Randy sudah mengingkari janjinya dengan keterlibatan Imelda di rumah tangga ini.
Amara menghampiri Randy untuk mencium tangan pria itu.
“Amara jangan begini, kamu tahu aku harus bersikap adil. Jadi tolong pahami situasi ini,” ujar Randy.
__ADS_1
“Biarkan saja dia pergi, dari awal Mami sudah duga kalau dia bukan yang terbaik untuk kamu. Bukan istri salihah seperti Hana,” ujar Imelda menghina Amara dan memuji menantu kesayangannya.
“Mamih,” ucap Hana yang merasa tidak enak karena dia menyadari ucapan Imelda justru kebalikannya.
Amara melempar pandangannya mendengar hinaan dari Ibu mertuanya. Dia merasa seperti berada dalam drama televisi ikan terbang. Dimana menantu dan mertua tidak akur dan hadir wanita lain yang terlihat lebih baik untuk dijadikan menantu.
“Pak Randy, Mamih, asal kalian tahu. Aku tidak ingin menjadi istri salihah karena aku tidak ingin berbagi suami. Aku bukan istri salihah karena tidak patuh pada suami yang memilih mengurus istri mudanya dan ….” Amara menelan salivanya dan berusaha menahan air mata yang sudah siap mengalir.
Dari pada melanjutkan berdebat, Amara menghampiri Randy dan mencium tangannya.
“Amara, tunggu.”
Randy berjalan mensejajari Amara bahkan berusaha merebut koper yang dibawa istrinya.
“Hentikan Pak. Biarkan aku pergi, aku mau pulang ke Bunda.”
“Tidak begini, kamu boleh pulang ke Bunda tapi tidak dengan kondisi emosi dan amarah seperti ini,” tutur Randy masih menahan tangan Amara.
“Aku sudah bilang agar segera daftarkan pernikahan kita, tapi itu tidak dilakukan oleh Bapak. Aku juga minta agar Tante Imelda tidak ikut campur dengan pernikahan kita, tapi dia masih saja terlibat dan selalu membela menantu shalihahnya itu.”
Amara menggigit bibirnya, menahan tangis. Dadanya terasa sesak, mendengar pernyataan suaminya. Dia merasa seperti wanita yang hanya dibutuhkan untuk memenuhi kebutuhan pria di hadapannya dengan status istri siri.
“Maaf Pak, sebaiknya Bapak urus saja istri Bapak yang lain.”
Amara melepaskan tangan Randy yang masih menahan kepergiannya lalu melangkah meninggalkan rumah itu. Sedangkan Randy hanya bisa mengusap kasar wajahnya, setelah punggung Amara perlahan menjauh dan melewati gerbang lalu tertutup kembali.
“Amara, aku janji akan segera selesaikan urusan ini dan menjemputmu. Setelah itu kita akan bahagia, hanya aku dan kamu.”
...***...
Mirna tiba di rumah hampir larut dan salah satu ART menyampaikan kalau ada Amara di kamarnya. Bergegas menuju lantai dua di mana kamar Amara berada.
“Sayang,” panggil Mirna ketika membuka pintu.
Amara yang sudah berbaring dengan piyama menoleh dan beranjak duduk lalu memeluk Bundanya. Pelukan sang Bunda setidaknya bisa menenangkan hatinya yang gundah dan akhirnya tangis pun pecah.
__ADS_1
Mirna yang sudah menduga ada masalah dengan putrinya yang pulang tanpa ditemani sang suami pun hanya bisa menenangkan dengan mengusap kepala dan punggung putrinya.
“Aku tidak akan kembali ke rumah itu selama masih ada wanita lain dan aku tidak ingin bertemu dengan tante Imelda. Biarkan aku di sini Bun, aku janji tidak akan menyusahkan Bunda.”
“Hei, kamu putri Bunda. Sudah tugas Bunda menjagamu dan memberikan kamu kenyamanan. Tidak perlu berjanji apapun, cukup menjadi Amara Kalina yang ceria seperti biasanya.”
Setelah meninggalkan Randy, Amara berharap suaminya akan mempertahankan atau memberikan solusi untuk hubungan mereka tapi nyatanya tidak ada. Bahkan panggilan telepon atau berkirim pesan pun tidak dilakukan oleh Randy.
“Bunda nggak mau kamu beralasan lagi, pulang kuliah ikut Bunda ke rumah sakit,” titah Mirna yang melihat kondisi Amara beberapa hari ini tidak baik. Putrinya mengeluh sakit kepala, bahkan tidak jarang apa yang dimakan kembali dimuntahkan. Kalau bukan karena sedang ujian akhir semester, tentu saja Mirna akan melarang Amara ke kampus.
“Aku hanya kurang sehat Bun, nggak usah berlebihan sampai ke rumah sakit segala.”
“Wajah kamu pucat, udah kayak vampir. Mirip keluarga Cullen di film twilight,” seru Mirna karena Amara selalu saja menolak untuk ke dokter.
Mirna khawatir Amara tertekan dengan masalah pernikahannya lalu berimbas pada kesehatan. Amara hanya pasrah, bahkan Mirna mengantarkannya ke kampus tidak bisa dia tolak.
Akhirnya ujian pun berakhir, tinggal tunggu hasil study lalu libur semester dan siap mengikuti KKN. Melly dan Juan keluar ruang ujian dengan ceria, berbeda dengan Amara yang biasa saja. Ketiganya masih duduk di kursi panjang yang ada di koridor.
“Lo sakit apa sih, pucat banget.”
“Entah, ini aku tunggu Bunda. Dia mau ajak aku ke dokter,” sahut Amara sambil menatap layar ponsel, baru saja mengirimkan pesan pada Bundanya kalau dia sudah selesai dengan ujiannya.
“Eh, kalian lihat ini deh. Ini berita hoax ‘kan?” tanya Juan sambil fokus pada layar ponselnya.
“Berita apaan?” tanya Melly.
“Coba buka situs kampus, di rubrik informasi. Ada berita tentang pernikahan Pak Randy tapi bukan sama Amara, fotonya beda deh. Namanya Hana, ini pasti hoax,” ujar Juan lalu menatap Amara berharap penjelasan dari wanita itu.
Melly merebut ponsel Juan, kemudian menatap Amara juga.
“Amara, ini nggak benar ‘kan?” tanya Melly.
\=\=\=\=\=
Hai sambil tunggu kelanjutannya mampir ke karya teman aku ya .....
__ADS_1