
“Bu Mirna, ada Pak Pram. Beliau sudah naik,” ujar salah satu pegawai butik pada Mirna melalui sambungan telepon.
Mirna menghela nafasnya mendengar Pram datang lagi. Baru saja gagang telepon diletakkan, pria yang dimaksud sudah membuka pintu ruang kerja Mirna.
“Kenapa aku merasa kamu semakin sering kemari dan tidak santun. Oke, kamu memang pemilik modal dari butik ini tapi aku butuh privacy,” tutur Mirna pada Pram yang sudah duduk di salah satu sofa.
“Duduklah Mirna, kita harus bicara!”
“Aku memang sedang bicara,” ujar Mirna.
Akhirnya Pram dan Mirna duduk berhadapan walaupun pandangan wanita itu tidak tertuju pada pria dihadapannya. Semenjak Amara meninggalkan Randy dalam keadaan hamil, hubungan Mirna dan Pram yang sebelumnya baik agak renggang.
Mirna kecewa karena Pram yang pernah ada masa lalu dengannya dan sekaligus sahabat, tidak bisa menjaga Amara yang menjadi menantunya.
“Mirna, kita perlu bantu Randy dan Amara untuk memperbaiki hubungan mereka. Mau berapa lama lagi kamu akan menghukum Randy dan membiarkan Amara menjalani kehamilannya sendirian. Kamu merasakan sendiri bagaimana sulitnya menjadi ibu tunggal, apa kamu ingin Amara merasakan hal yang sama?”
Mirna masih bungkam, dengan kedua tangan dilipat di dada. Dia ingin Amara bahagia tapi yang dilakukan Randy dan keluarganya bukan hanya menyakiti Amara tapi Mirna sebagai ibu dan besan keluarga itu.
“Aku mewakili Randy juga atas nama keluarga, mohon maaf padamu dan Amara. Okelah kamu kecewa tapi apa pernah kamu tanya Amara, apa yang dia inginkan dan apakah Randy bisa memenuhinya? Kalau dua hal itu sudah dilakukan, kita sebagai orang tua hanya bisa mendukung apapun keputusan mereka,” tutur Randy.
Mirna menundukan wajahnya, dia merasa gagal menjaga Amara. Hatinya hancur dan sedih melihat Amara yang menjalani kehamilan tanpa didampingi suami. Yang disampaikan Pram ada benarnya, bisa jadi saat ini justru ego dirinya dibandingkan kemarahan Amara pada Randy.
“Mirna ….”
Mirna mengusap air matanya.
“Aku akan tanya Amara, apa dia mau bertemu dengan Randy untuk bicara atau tidak dan aku tidak akan memaksa dia atau memfasilitasi agar hubungan mereka membaik.”
“Di mana kamu menyembunyikan dia, sampai aku tidak bisa melacaknya?” tanya Pram.
Mirna hanya mengedikkan bahunya.
...***...
Randy baru tiba di terminal Giwangan Yogyakarta, bersama keenam mahasiswa yang akan melaksanakan KKN.
__ADS_1
“Masih jauh?” tanya Randy pada ketua kelompok.
“Lumayan Pak. Sekitar satu jam perjalanan, agak sedikit ke pelosok tapi nggak pelosok banget kok.”
“Kita naik apa ke sana?”
“Angkutan umum ada, Pak. Rencananya kita akan carter saja, biar nggak kelamaan ngetem.”
Akhirnya Randy dan kelompok bimbingannya sudah berada di angkutan umum menuju desa di mana KKN dilaksanakan. Tiada hari di mana Randy akan lupa pada Amara, bahkan wanita itu seharusnya ikut KKN semester kemarin.
Pemandangan alam dan suasana pedesaan yang dilewati cukup mengusir kejenuhan selama perjalanan sampai akhirnya mereka tiba di sebuah desa yang benar kata ketua kelompok kalau desa itu bukan benar-benar pelosok apalagi desa tertinggal.
“Kita temui tokoh masyarakat di sini, untuk sampaikan kalau kalian sudah datang. untuk izin sudah dilakukan sebelumnya,” jelas Randy. “Kalau dilihat, kondisi di sini sudah memadai. Listrik, saluran air dan sarana pendidikan sudah ada, kalian akan buat program kerja apa?”
“Ada Pak, nanti kamu akan banyak komunikasi dengan Bapak setelah memastikan memang program kami dibutuhkan.”
Randy bersama ketua kelompok mendatangi rumah yang dituakan sebagai tokoh masyarakat juga pemangku adat setempat, di mana tidak jauh dari jalan utama. Rumah yang cukup luas, baik bangunan dan fasilitas lainnya. bisa dipastikan kalau pemilik rumah tersebut bukan orang sembarangan.
Randy disambut oleh seorang pelayan dan diminta untuk menunggu.
“Mungkin.”
Akhirnya pemilik rumah pun menemui Randy. Saling memperkenalkan diri dan Randy menyampaikan kembali maksud kedatangannya.
“Silahkan saja. Untuk urusan pendidikan dan pengembangan diri, desa ini selalu memberikan kesempatan. Namun, harus selalu diingat untuk tidak berbuat hal yang melanggar norma atau mengajak dan memberikan pengaruh buruk pada masyarakat di sini.”
“Saya akan pastikan itu tidak terjadi, Pak. Saya akan dampingi sampai dua hari ke depan dan akan kembali lagi saat kegiatan akan berakhir,” tutur Randy.
“Nak Randy, bisa tinggal di sini. Masih ada kamar tamu yang bisa digunakan. Untuk kelompoknya sudah disiapkan rumah di sebelah kantor desa. Boleh langsung ke sana dan atur saja penggunaannya.”
Pria paruh baya itu memanggil memanggil pelayan yang sejak tadi memang mendampingi.
“Minta pelayan antarkan Nak Randy ke kamar tamu untuk istirahat. Para mahasiswa ini antarkan ke rumah yang akan mereka tempati. Kalau sudah, cari Darmi dan cucuku. Tadi pamit mau ke sungai, aku jadi khawatir. Sedang hamil malah main ke sungai, dasar orang kota.”
Pendopo rumah itu kembali sepi, tapi pria tua pemiliknya masih berdiri sambil sesekali berjalan hilir mudik seperti menunggu seseorang. Sampai akhirnya yang ditunggu pun datang.
__ADS_1
“Dasar cucu nakal, kamu senang buat Eyang jantungan ya?”
“Eyang lebay, aku cuma jalan-jalan sebentar kayak yang ikut perang aja.”
“Jalan-jalan kok ke sungai, kalau kamu kepleset atau jatuh dimana? Ibumu pasti akan menghujat Eyang karena menjaga kamu saja nggak bisa, padahal pelayan di sini banyak. Kamu sedang hamil tua, jangan aneh-aneh,” tutur Wilaga pada cucunya.
“Aku lihat ada beberapa orang, sepertinya bukan penduduk sini? Mereka siapa?”
“Mahasiswa yang KKN, baru datang tadi. Dosen pembimbingnya, Eyang minta tinggal di sini. sedang istirahat di kamar tamu. Sudah sana, kamu juga istirahat.”
Baru saja sang cucu melangkah pergi, Wilaga kembali memanggilnya.
“Amara, minta ibumu hubungi Eyang.”
“Siap, Eyang. Jangan emosi dan marah-marah terus, nanti darah tinggi lalu stroke.”
“Dasar cucu nakal.”
Amara terkekeh mendengar Wilaga yang masih mengoceh karena ulahnya lalu mendesis pelan sambil memegang perutnya.
“Mbak Amara, kenapa mbak?” tanya Mbok Darmi.
“Nggak apa-apa, hanya kram biasa. Sudah hilang lagi,” jawab Amara. “Mbok, makan siang aku tolong antar ke kamar saja ya.”
Mbok Darmi pelayan yang bertugas mendampingi Amara pun mengangguk dan bergegas ke dapur untuk menyiapkan makan siang majikannya.
Saat akan masuk ke kamarnya, Amara menatap kamar tamu yang berhadapan dengan kamarnya. Pintu kamar itu terbuka dengan sepasang sepatu berada di rak di bawah jendela.
“Dosen pembimbing KKN, dari kampus mana ya?” gumam Amara kemudian masuk ke kamarnya.
Sedangkan penghuni kamar tamu menatap punggung wanita yang baru saja menutup pintu.
“Sepertinya wanita itu cucu Pak Wilaga yang sedang hamil,” gumam Randy.
__ADS_1