
“Niat baik jangan ditunda-tunda. Buktinya rencana pernikahan kalian malah diuji dengan Nak Randy yang akhirnya harus menikahi perempuan lain,” tutur Kyai Amir. “Umi, bantu Hana bersiap. Nak Randy siapkan mahar seadanya. Untuk resepsi kita tetap laksanakan sesuai dengan kartu undangan yang sudah tercetak.”
“Tapi Abi … apa tidak terlalu mendadak,” cetus Hana.
“Tidak, segeralah bersiap.”
Diantara orang-orang yang hadir di sana, hanya Imelda yang wajahnya terlihat tersenyum. Hana dan Randy yang akan menikah malah berwajah sendu.
“Hana, ayo,” ajak Ibu Maya.
“Tapi Umi ….”
“Hana, dengar apa kata Abi.”
Amara rasanya tidak ingin berada di sana, kalau bisa menghilang mungkin sudah dia lakukan sejak tadi. Dirinya tahu kalau Randy sedang menatapnya, tapi Amara enggan untuk menoleh. Dia ingin marah dan berteriak tapi lagi-lagi dia tahan.
“Kalian akan menikah di masjid, mari kita berpindah ke sana,” ajak Kyai Amir pada Randy dan Pram.
“Randy, cepat ikuti Papi dan Pak Kyai,” titah Imelda lirih karena Randy belum beranjak dan masih menatap Amara.
“Mih, aku ….”
“Randy, jangan membuat malu keluarga kita,” ujar Imelda.
__ADS_1
Randy pun akhirnya beranjak dari sana dengan berat hati dan langkah gontai.
“Jangan buat drama, hapus air mata kamu,” titah Imelda pelan tapi penuh tekanan. “Aku bilang hapus!” bisik Imelda lagi bahkan kali ini sambil mencubit pinggang Amara.
“Ahhh.” Amara memekik karena merasakan sakit di pinggangnya lalu menghapus pipinya yang sudah basah dengan air mata dengan punggung tangannya. “Seharusnya Tante minta Pak Randy untuk talak saya, jadi saya tidak akan sesakit ini.”
“Justru aku sengaja, mendukung Randy menikahi Hana agar kamu merasakan sakitnya diduakan. Sama seperti yang Ibu kamu lakukan.”
“Tante salah, Bunda tidak menjadi wanita kedua di hubungan tante dan Om Pram.”
“Halah, kamu mana tahu kisah sebenarnya. Jadi, selamat menikmati neraka pernikahanmu,” tutur Imelda sambil tersenyum sinis.
“Ibu Imelda, Hana sudah siap.”
Imelda menoleh dan melihat Maya mengapit Hana yang sudah berganti gaun putih model gamis dan make up seadanya tapi Hana terlihat begitu cantik. Saat ini Hana dan Amara saling pandang, berbeda dengan sebelumnya mereka berwajah sendu kali ini wajah mereka tidak mencerminkan perasaan apapun membuat orang yang melihatnya tidak tahu bagaimana isi hati keduanya.
“Ayo Hana, jangan buat calon suamimu terlalu lama menunggu,” cetus Imelda lalu ikut menggandeng tangan Hana bersama Maya. “Kamu juga ikut,” titah Imelda yang ditujukan kepada Amara.
“Tunggu dulu.”
“Ada apa sayang?” tanya Imelda.
“Aku ingin tanya sekali lagi pada Amara, apa dia sungguh-sungguh mengizinkan Mas Randy menikahiku?”
__ADS_1
Maya dan Imelda menatap Amara dan menunggu jawaban dari perempuan itu.
“A-aku ….”
Raut wajah Imelda menatap tajam Amara, membuat menantunya menunduk karena tatapan itu sungguh membuatnya tertekan.
“Tentu saja dia serius sayang, dia ikhlas karena Amara ingin menjadi istri yang salihah. Kamu lebih paham mengenai agama, ajari dan bimbing dia agar lebih baik,” tutur Imelda agar Amara tidak menjawab pertanyaan itu apalagi sampai mengutarakan isi hatinya yang sudah pasti bertolak belakang dengan apa yang bibirnya ucapkan.
Hana menghela nafasnya, dia belum begitu yakin. Menurutnya, raut wajah dan gestur tubuh Amara bukan seperti wanita yang mengikhlaskan suaminya menikah lagi.
“Mari sayang, jangan sampai kamu yang ragu dengan keputusan ini.” Imelda kembali menggandeng tangan Hana.
“Apa boleh aku tidak menyaksikan pernikahan kalian?” pertanyaan Amara membuat langkah ketiga wanita di depannya kembali terhenti dan berbalik menatapnya.
“Tidak, kamu harus menyaksikannya.”
Amara hanya bisa menghela nafasnya, karena titah ibu mertuanya seperti titah raja yang tidak boleh diabaikan. Padahal Amara sudah berencana menunggu di mobil dan bersembunyi sementara di sana. Dengan langkah gontai jauh dari semangat, perempuan itu mengikuti langkah ketiga wanita di depannya.
Randy dan Kyai Amir sudah duduk berhadapan dan kebetulan Randy duduk menghadap pintu dan melihat kedatangan calon istri dan istrinya.
“Duduk sayang,” ujar Imelda mengarahkan Hana duduk agak jauh dari Randy.
Amara memilih duduk di samping Ibu Maya dibandingkan dekat dengan Ibu mertuanya. Saat Kyai Amir menanyakan mahar untuk Hana, Randy mengeluarkan kartu elektronik dan menyebutkan angka isi dari kartu tersebut sebagai mahar dan bukan hanya itu ternyata Imelda sudah memberikan cincin berlian miliknya untuk dijadikan mahar juga.
__ADS_1
Entah mengapa Amara malah ingin tertawa mendengar mahar yang diberikan untuk Hana dan teringat mahar yang diterima saat menikah.
“Amara, kamu memang menyedihkan.”