
“Sebentar,” teriak Amara sambil berjalan tertatih menuju pintu.
Terdengar bunyi bel saat dia baru selesai mandi, bahkan belum sempat mengoleskan obat luka. Dua kali berteriak agar orang yang menekan bel sabar menunggu, padahal usahanya percuma karena orang itu tidak bisa mendengar dia berteriak.
“Tante ….”
Imelda dengan tangan bersedekap di dada memandang gadis dihadapannya dari kepala sampai kaki. Amara yang seakan ditelanj*ngi oleh tatapan wanita itu menjadi salah tingkah, apalagi saat ini dia mengenakan kaos kedodoran dan hot pants.
Bakat menggoda yang dia dapatkan dari Ibunya, batin Imelda.
“Sampai kapan kamu akan biarkan aku berdiri di sini?”
Amara menepuk dahinya, dia lupa untuk mempersilahkan Ibu mertuanya masuk.
“Silahkan Tante,” ujar Amara sambil membuka pintu lebih lebar.
“Kemana Randy?” tanya Imelda ketika sudah duduk di salah satu sofa. Pandangannya tidak lepas dari mangkuk kotor bekas bubur sarapan Amara dan beberapa lembar obat.
“Pak Randy sudah berangkat ke kampus.
Amara yang menyadari pandangan wanita itu segera meraih mangkuk kotor dan lembaran obat lalu membawanya ke dapur.
“Ada apa dengan kakimu?”
__ADS_1
Amara yang sudah duduk berhadapan dengan ibu mertuanya menjelaskan penyebab luka dan kaki yang terkilir.
“Jadi, di kampus sudah tahu kalian menikah?”
“Be-lum tante. Pak Randy mengatakan untuk tidak mempublish selama kami belum menikah resmi.”
Wanita itu menarik sudut bibirnya seakan menyeringai saat mendengar keputusan Randy mengenai pernikahan rahasianya dengan Amara.
Amara sendiri heran dengan sikap ibu mertuanya, entah apa yang ada dipikiran wanita paruh baya itu sampai dia memperlihatkan wajah yang sepertinya senang dengan keputusan Randy atau memang keputusan tersebut akan bermuara pada perceraian.
Seharusnya Amara gembira dengan dugaannya tapi serasa ada yang aneh saat membayangkan dia dan Randy akhirnya mengakhiri hubungan pernikahan yang dilakukan karena terpaksa.
“Hei … kamu dengar tidak? Malah melamun,” omel Imelda menyadarkan lamunan Amara.
Imelda menghela nafasnya, menghadapi menantu yang ternyata memang masih bocah dan mengesalkan seperti Ibunya.
“Aku tanya apa Randy sudah bercerita kalau dia ….”
“Akan menikah,” sahut Amara menyela ucapan Imelda.
Lagi-lagi Imelda rasanya akan meledak karena ketidaksopanan Amara yang menyela ucapannya, tapi dia penasaran dengan perasaan gadis itu yang sudah mengetahui Randy siap menikah.
“Hm.”
__ADS_1
“Aku sudah tahu dan Pak Randy sendiri yang menjelaskan. Karena hal itulah aku minta segera ditalak.”
“Lalu?”
“Tante tahulah alasan Pak Randy tidak ingin mentalak aku.”
Ah, sepertinya menarik kalau melihat gadis ini menyaksikan Randy menikah dengan Hana. Semoga saja terjadi, batin Imelda.
“Dengar! Kami akan segera menemui keluarga Hana untuk membicarakan lagi rencana pernikahan mereka, bahkan kalau perlu disegerakan. Jadi kamu jangan berharap Randy akan mempertahankan posis kamu, sebaiknya kamu kembali pada Ibumu dan cari laki-laki lain untuk kalian manfaatkan.”
“Tunggu! Apa maksud Tante laki-laki untuk dimanfaatkan?”
Imelda mengabaikan pertanyaan Amara, dia beranjak berdiri dengan hand bag di tangannya.
“Sampaikan pada Randy kalau aku kemari,” titah wanita itu.
“Tapi Tante, aku tidak paham apa yang tadi tante katakan,” tutur Amara sambil mengekor langkah ibu mertuanya.
“Tanya Ibumu dia pasti tahu maksudku.”
Amara berdecak saat Imelda sudah pergi dan menutup pintu unit apartemennya. Menyadari kalau dia bukan hanya menghadapi Randy yang perfeksionis dan menyebalkan di matanya juga harus menghadapi Ibu mertua yang menunjukan ketidaksukaannya.
“Tanya Ibumu dia pasti tahu maksudku,” gumam Amara meniru ucapan Imelda. “Gimana bisa tahu, memang kalian saling kenal. Eh, tunggu dulu. Om Pram dan Bunda pernah … berpelukan, bisa jadi mereka ada hubungan dan Tante Imelda … bisa jadi tahu hubugan itu,” tutur Amara menduga cinta segitiga yang terjadi antara Bundanya juga orangtua Randy.
__ADS_1
“Ternyata dunia memang sempit,” batin Amara.