Bukan Istri Salihah

Bukan Istri Salihah
Permintaan Mirna


__ADS_3

Amara mengerjapkan matanya lalu menatap keliling ruangan di mana dia berada, meregangkan otot tubuhnya dan terkejut.


“Ya ampun sudah siang,” pekik Amara menyadari hari sudah beranjak siang karena sinar matahari yang menerangi kamar di mana dia berada bahkan dia masih mengenakan mukena. “Pak Randy pasti marah aku tidur lagi setelah subuh.”


Setelah melepaskan mukena, wanita itu beranjak turun dari ranjang dan melangkah pelan karena masih merasakan tidak nyaman di bagian bawah tubuhnya. Tidak mendapati suaminya di sudut mana pun.


“Apa PAk Randy sudah berangkat ya?” Amara menatap jam dinding yang sudah menunjukan pukul sepuluh. “Ah, pantas aja. Terpaksa deh bolos kuliah untuk hari ini,” cetus Amara kemudian duduk di sofa dan bersandar.  


Wanita itu mengernyitkan dahi saat melihat tas kuliahnya di kolong meja sofa.


“Kemarin dicari ternyata ada di sini.” mengeluarkan ponsel yang sejak kemarin dia lupakan.


Ada banyak panggilan tak terjawab dari Randy saat kemarin dia meninggalkan kampus. Juga panggilan dari Melly tadi pagi.


[Aku izin ya, sedang kurang sehat]


Amara mengirimkan pesan pada Melly, tidak lama kemudian ada balasan pesan.


[Palingan habis begadang. Pak Randy ganas ya? Berapa ronde?]


“Dasar sahabat lakn4t, apa coba tanya yang kayak beginian.”


Amara mengabaikan pesan balasan dari Melly dan membuka pesan lainnya, salah satunya dari Randy.


[Untuk hari ini aku berikan toleransi, tapi tidak untuk hari berikutnya. Jangan lupa sarapan ya]


“Aku begini juga karena dia, enak banget ancam-ancam tidak jelas.”


Amara beranjak menuju dapur karena perutnya memang terasa lapar. Ternyata Randy sudah menyiapkan roti bakar selai coklat, walaupun sudah dingin tapi Amara menikmatinya.

__ADS_1


“Kalau tinggal makan, nikmatnya memang dobel,” ujar Amara.


Sedangkan di kampus, Randy tersenyum saat membuka pesan yang dikirimkan istrinya. Padahal hanya berisi foto piring kosong, piring yang tadi berisi roti untuk sarapan Amara.


...***...


Akhir-akhir ini Mirna sulit sekali fokus pada pekerjaan dan butiknya, apalagi setelah kedatangan Imelda yang menuduhnya sengaja mengatur pernikahan Randy dan Amara. Bagaimanapun dirinya menjelaskan pada Imelda bahwa pernikahan itu bukan atas campur tangannya melainkan murni darurat kondisi, wanita itu tidak akan percaya.


“Bagaimana nasibmu Amara? Kamu sudah menjadi tanggung jawab suamimu dan Bunda tidak bisa terlibat di rumah tanggamu.” Mirna menghela nafasnya, begitu khawatir dan bingung.


“Tunggu, aku bisa menemui Pram. Dia harus membantuku dengan memastikan Amara baik-baik saja,” cetus Mirna. Wanita itu langsung menghubungi Pram dan mengajaknya bertemu.


Saat makan siang, bertempat di sebuah café. Mirna menunggu kedatangan Pram dan dia sudah mengatakan tujuannya bertemu untuk membahas mengenai Amara bukan urusan lain apalagi tentang masa lalu mereka.


“Sudah lama?” tanya Pram yang baru saja tiba.


“Ehm, mungkin sepuluh menit.”


“Kamu pesan apa?”


“Samakan saja,” sahut Mirna.


Setelah memastikan pelayan pergi, Pram menatap Mirna dan meminta wanita itu bicara. Kebetulan Mirna memang memilih meja di sudut ruangan jadi mereka agak leluasa untuk bicara.


“Aku tidak tahu kalau Randy adalah putramu,” ujar Mirna membuka percakapan.


Pram menghela nafasnya, apa yang dikatakan Mirna sama dengan dirinya yang baru mengetahui kalau gadis yang dinikahi oleh putranya adalah putri dari Mirna.


“Tapi sungguh, aku tidak ada campur tangan pernikahan mereka apalagi sengaja menjebak Randy dan Amara agar mereka dinikahkan,” jelas Mirna.

__ADS_1


“Aku tidak pernah berpikir kalau kamu yang mengatur semua ini,” sahut Pram.


Mirna tidak mungkin mengatakan kalau Imelda yang menuduhnya, sudah cukup masalah yang dia hadapi. Menyampaikan tuduhan Imelda pada suaminya hanya akan menambah masalah. Akhirnya Mirna hanya bisa mengedikkan bahunya.


“Pram, aku sangat berharap kamu bisa melindungi Amara. Aku ingin yang terbaik untuk putriku dan pernikahan mereka sungguh memprihatinkan. Pada Randy aku sudah sampaikan agar jangan menyakiti  putriku bahkan bila perlu segera talak Amara dan kembalikan padaku tapi putramu tetap ingin menjalan rumah tangga mereka. Aku tahu Randy pria yang baik dan bertanggung jawab tapi aku tetap titip Amara kepadamu, jangan sakiti apalagi sampai terhina,” tutur Mirna yang membuat Pram merasa aneh.


Menantunya sudah pasti putrinya juga, apalagi Amara juga putri dari sahabatnya dan masa lalunya. Tanpa diminta oleh Mirna, Pram memang berjanji akan menyayangi Amara seperti putrinya sendiri.


“Tidak usah khawatir, Amara akan baik-baik saja.”


“Entah mengapa aku ragu dengan hal itu.”


Obrolan mereka terhenti karena pelayan mengantarkan pesanan mereka, sambil menikmati Pram tetap menyambung obrolan.


“Imelda menemuiku,” ujar Mirna tanpa menatap Pram yang saat ini terkejut bahkan sampai menghentikan kunyahnya lalu menatap Mirna.


“Apa yang dia katakan?”


“Ehm, hanya basa basi karena kita sekarang berbesan.”


Pram meletakan alat makannya dan bersandar tanpa melepaskan pandangan dari wanita di hadapannya.


“Tidak mungkin Imelda hanya berbasa basi bahkan mengatakan kalian berbesan. Jelas dia begitu menolak pernikahan Randy dan Amara, apalagi ….” Pram menjeda ucapannya. “Setelah tahu kalau Amara adalah putrimu. Dia sudah menduga yang macam-macam dan aku mengabaikan tuduhannya. Ternyata dia mendatangimu.”


“Sudahlah, wajar orang tua khawatir apalagi demi kebahagiaan anak-anaknya. Apa yang aku pinta padamu adalah bentuk kekhawatiranku,” tutur Mirna.


 


 

__ADS_1


 


__ADS_2