
Berpisah dengan orang yang kita cintai hal tersulit yang kita hadapi, tetapi bukankah semua orang memang harus berpisah? Tak menampik bahwa terkadang seseorang membutuhkan waktu cukup panjang untuk berlari dari rasa kehilangan.
Begitu juga dengan Handi.
Sudah lima tahun ini ia berusaha bersabar untuk tidak di pertemukan dengan Franda wanita yang masih ia anggap sebagai kekasih, segala upaya cara di lakukan untuk mencari informasi tentang keberadaan Franda.
Menyewa detektif terhandal, membuat akun fake kemudian menambahkan teman teman Franda sebagai list kontak sosial media, dengan harapan postingan foto Franda bisa di lihat dari sana, tetapi semua berakhir sia sia, justru akun itu dia tutup menghilangkan jejak. aktifitas di dalamnya.
Darwin benar benar menutup cela bagi Handi untuk mendapat informasi tentang Franda.
Sampai suatu hari tanpa tidak di sengaja, Handi menemui Dokter Lisa di ruangannya. Karena sudah bosan menunggu Dokter Lisa kebetulan sedang mengoperasi pasien, tangannya sangat gatal membuka laci meja berniat ingin mencari secarik kertas untuk menulis pesan ia akan pulang tiba tiba ada pekerjaan mendadak. Tanpa sengaja matanya menelisik map berwarna kuning nama Elfranda tertulis disana, menarik map dari tumpukan map lainnya. Kemudian membuka membaca data catatan medias yang cukup mengejutkan bagi Handi.
Franda tidak dalam keadaan baik tetapi wanita itu masih hidup. Handi sedikit merasa lega, suatu saat nanti ia akan berusaha menemui Franda.
Dokter sialan ini ternyata sama saja. Bekerja sama menyembunyikan Franda darinya, bahkan dokter wanita ini masih tercatat sebagai dokter yang menangani Franda. Ahhh, Handi merasa bodoh karena itu.
Tok tok tok!!!.
Suara ketukan pintu dari luar membuyarkan lamunan Handi. Segera ia merapikan foto foto Franda yang baru di terimanya dari detektif yang ia sewa diam diam menyusul ke tempat keluarga Franda tinggal. Tumben sekali malam malam ini ada orang berkunjung ke ruang kerjanya
"Masuk".
Pintu terbuka lebar, sesosok anak kecil muncul dari balik pintu sambil membawa secangkir susu coklat panas tersenyum manis kepada Handi. Tangan gadis kecil itu mengemgam erat gelas dengan kedua tangannya yang mungil karena takut jatuh. Biarkah ia merasa sedikit melepuh akibat pantulan panas dari dalam gelas.
Anak kecil saja sudah tahu berkorban.
"Ayah. Narra membuat susu coklat hangat untuk ayah." Narra mengangkat gelas berisi susu kearah Handi yang masih duduk di kursi kerja.
"Siapa yang menyurumu?" jawab Handi dingin. Ia merasa terkejut melihat kedatangan Narra yang tumben sekali.
__ADS_1
"Tidak ada, Narra yang buat sendiri susu ini. cobalah ayah." Narra berucap pelan. Ada harapan ayahnya mau menerima.
Tidak ada sedikt pun pergerakan dari Handi melihat sang putri mengantarkan susu kepadanya. Pria ini tidak menyukai susu, tetapi tidakkah hatinya bergejolak sebab gadis kecil ini sudah susah payah membawa segelas susu untuknya? Ya, memang bukan atas permintaannya, tetapi Handi melihat jelas langkah kecil Narra bergetar karena takut gelas itu jatuh. Sekedar menoleh saja pun tidak.
"Ayah, tidak suka susu?" Narra tidak gentar tetap berdiri kokoh di samping kursi kerja sang ayah. Tangannya mengepal gelas erat erat.
"Cepat katakan apa yang ingin kau sampaikan? Ini sudah larut anak kecil tidak baik menunda tidur terlalu lama."
"Narra, ingin ayah menjemputku besok pulang sekolah. Apa ayah punya waktu?" tanya Narra polos tidak tahu berbasa basi.
Handi menghela nafas lelah "Tidak ada, aku banyak pekerjaan" untuk saat ini ia tidak berbohong. Posisi sebagai penanggung jawab terbesar di perusahaan keluarga, menuntut pria ini harus ekstra bertenaga menghendel pekerjaannya.
"Ya sudah." Narra kecewa "Susu ini untuk ayah, agar ayah semangat kerjanya Minumlah ayah,"
"Tidak. Minum saja sendiri." jawab Handi. Tidak sadar, ada kandungan yang tidak boleh di konsumsi oleh anak anak pada susu itu.
Dengan polosnya Narra meminum susu itu sampai habis dalam satu tegukan saja. Bundanya pernah berpesan agar tidak membuang makanan baik minuman secara sia sia. Jadilah susu yang di haruskan di konsumsi oleh orang dewasa terlanjur masuk meyatu dengan darah usia dini seperti Narra.
"Nanti kalau aku sudah punya waktu, aku akan mengantar menjemputmu suatu hari nanti. Sekarang pergilah ke kamarmu lalu tidur."
Mendengar itu Narra merasa senang, matanya meyimpan sebuah harapan disana.
Disaat anak seusianya berharap di belikan mainan oleh sang ayah, Narra berharap hal sederhana dari pria di hadapannya saat ini. Sekedar mengantar menjemput saja, agar ia bisa menceritakan seperti apa sang ayah kepada teman-temannya.
Selama ini Narra banyak diam jika teman-temannya saling bercerita tentang ayah mereka.
"Ayah janji, ya?" Ucap Narra girang.
"Hum, sudah sana keluar. Aku masih punya pekerjaan." jawab Handi tetap dingin.
__ADS_1
"Baiklah. Ayah jangan lupa juga istirahat. Nanti ada hitam hitam di dekat mata ayah, bunda bilang itu tandanya ayah kurang tidur." Narra menasihati sang ayah dengan kemampuannya.
"Iya, kau bawel sekali."
Tanpa banyak menuntut lagi Narra berjalan memeluk gelas kosong di perutnya "Selamat malam ayah."
Pintu tertutup, Handi berjalan menghampas tubuh kesofa yang tersedia di ujung ruangan.
"Franda. Hanya karena aku begitu merindukanmu, aku tidak pernah memikirkan anakku sama sekali. Aku menyibukkan waktu dengan bekerja bekerja terus demi mencoba mengurangi rasa rinduku ini, aku bahkan tidak pernah meluangkan waktu untuk anakku." gumam Handi bermonolog sendiri.
Darah lebih kental dari air. Bagaimana pun Narra adalah darah daging Handi, ia masih memiliki rasa sayang walaupun terbilang tidak cukup untuk ukuran kasih sayang seorang ayah pada anaknya.
"Hahh, lebih baik aku tidur disini saja Rasanya malas sekali harus satu ranjang dengan dia." Handi berjalan mengambil bantal dan selimut dari dalam lemari kemudian membaringkan badan diatas sofa besar cukup untuk menampung satu orang dewasa.
Menerawang langit langit atap, sampai sekarang ini pun tidak ada cinta di hati Handi untuk Marva.
Pernikahan mereka terasa kosong. Handi tidak berbuat semena mena kepada perempuan ibu dari anaknya, hanya saja sikap cuek dingin dan ketidak peduliannya membentengi cinta diantara mereka.
Handi tidak mempermasalahkan pekerjaan Marva, biarlah dia membiayai hidupnya sendiri. Yang terpenting Handi selalu tepat waktu membayar uang sekolah Narra, tanpa pernah melihat bintang bernilai di buku tugas Narra. Membeli segala kebutuhan untuk Narra, itupun bukan ia yang repot repot membeli melainkan sudah tugas tetap sang asisten. Membayar uang rumah sakit jika anak itu di larikan kerumah sakit tanpa pernah ia menjenguk atau bergantian menjaga Narra. Membelikan sepeda, tetapi ia tidak pernah meluangkan waktu untuk mengajari Narra bermain sepeda.
Handi mengukur kasih sayangnya dengan materi, itu saja.
"Ahh." Handi berdecak kesal. Bukannya tertidur justru bayangan Marva dan Narra melintas di kepalanya.
Merasa tidak mengantuk sama sekali, Handi mengambil obat tidur yang ia simpan didalam kotak obat lalu menelannya.
Semoga sosok Franda lah yang datang menghampiri alam mimpinya, bukan Marva ataupun Narra.
👇👇👇
__ADS_1
Terimakasih untuk yang sudah mampir. Maaf jika ceritaku kurang memuaskan..