BUKAN KEKASIH GELAPKU

BUKAN KEKASIH GELAPKU
Sekilas Tentang Mereka


__ADS_3

Siapa yang tahu cerita hidup orang lain, wajah hanyalah sampul yang menutupi catatan isi hati setiap orang.


Lefrando duduk termenung dagunya berpangku tangan menatap sendu daun pintu yang tertutup. Map berisi berkas berkas pasienya tertata rapi diatas meja kerja menumpuk merangkai hasil usahanya.


Ia tidak berniat pulang padahal jam prakteknya sudah selesai beberapa menit yang lalu, juga suster perawat yang menjadi teman tugas sudah pulang bergantiah shif.


"Hahh!" mendesah nafas lelah bersandar pada kursi kerja memijit pelipis,


"Apa yang harus kulakukan untukmu, Marva?" ucapnya lirih.


Bertahun-tahun lamanya memendam perasaan cinta kepada wanita berstatus istri orang lain, menjadi dilema besar dalam hidupnya.


Ia bisa mengemgam tangan Marva, melihat senyuman Marva, mencium aroma tubuh itu, bahkan mengetahui seluk beluk hidup wanita itu, menghibur wanita itu.


Apa yang dicintai dari Marva. Ia juga tidak tahu bagaimana rasa itu hadir dengan sendirinya. Wanita itu datang bersama perut buncit dengan kerapuhan.


Cerita cerita kesedihan Marva adalah awal mula semuanya. Ia berniat awalnya hanya ingin menolong dan menghibur wanita itu, tetapi seiring berjawalannya waktu pertemuan mereka, Lefrando sadar ada hal yang membuat ia tertarik pada wanita itu.


Hati yang rapuh itu.


Jika Lefrando bisa dengan mudah menambal sesuatu anggota tubuh, mengapa ia tidak bisa menjadi sosok penambal membalut luka hati Marva? Jika perban bisa menempel menghalangi debu luka itu, maka ia akan jadi seperti perban putih yang menghalangi Marva dari debu yang bisa saja memperlebar luka hati Marva.


Tapi itu beda Lefrando. Darah Marva terkurung didalam seperti ada daging tumbuh yang menghambat darah kotor itu keluar.


Memberi waktu untuk Marva, mengirim hadiah hadiah untuk Marva, ia bisa seperti bunglon dengan cepat beradaptasi dengan situasi Marva. Ia akan berusaha sekuat mungkin menjadi sandaran wanita satu anak itu. Ahh membayangkan anak, mungkin karena dari awal ia yang menemani Marva selama kehamilan gadis kecil itu, maka rasa kasih sayang juga tumbuh untuk Narra.


Jika suatu saat nanti misalnya Marva ditakdirkan untuknya, Lefrando juga sudah menganggap gadis kecil itu layaknya anak sendiri.


"Aihh, Lefrandoo. Uuhh!" ucapnya bermonolog sendiri mengacak rambutnya frustasi.


Apakah bisa ia berharap lebih pada Tuhan agar mereka bisa di persatukan?


Apakah penantian selama bertahun-tahun akan sia sia begitu saja?


Apakah ia hanya menyia-nyiakan waktu?

__ADS_1


Apakah ia termasuk lelaki bodoh yang bertahan memendam cinta pada perempuan yang sulit di gapai?


Marva. Ibarat langit terlihat dekat, namun sulit untuk di gapai.


mengingat sesuatu, Lefrando merogoh saku celana meraih benda dari dalam. Lefrando tersenyum simpul memperhatikan sapu tangan itu lalu menggemgamnya begitu erat. Menelusuri huruf demi huruf bertulis namanya di jahit sendiri oleh Marva.


Beberapa tahun lalu Lefrando mendapat hadiah ulang tahun dari Marva, menerima sapu tangan untuk selalu di pakainya.


Kemudian ia membuka kotak rahasia yang tersimpan diantara kumpulan kumpulan dokumen berjejer rapi di dalam lemari. Berjalan kemudian menemukan kotak tersebut lalu kembali duduk di kursinya


Banyak foto foto tercetak didalam kotak. Tanpa Marva sadari, sebenarnya Lefrando diam diam memotret wanitanya lalu mencetak jadi. Untuk menghilangkan jejak digital kemudian mengoleksi di dalam kotak rahasia tergembok yang kuncinya selalu ia jaga ketat.


Meraih foto Marva yang sedang tersenyum di ayunan saat Lefrando mengajaknya berjalan jalan, Marva sedang memasak, sedang menggendong bayi Narra. Dan ada satu yang membuat Lefrando terkagum pada wanita itu.


Waktu lalu Lefrando mengajak Marva kesebuah bukit untuk menghibur wanita itu karena kesedihan. Tepat matahari terbenan menunjukkan jingga yang indah, Lefrando seperti fotografer propesional langsung mengabadikan Marva dari belakang.


"Cantik." bibir Lefrando berucap memuji tulus. Ia menatap lamat lamat foto itu, sesekali senyum mengembang dari bibir Lefrando.


Sunggug Marva adalah pemandangan indah ciptaan Tuhan.


Sesosok perempuan berseragam dokter masuk dari balik daun pintu setelah mendengar sahutan dari dalam. Perempuan itu tersenyum kala ia melihat sang kaka kembar sedang sibuk merapikan sesuatu dari atas meja kerja kakaknya. Ia sudah tau apa itu.


"Kaka, kenapa belum pulang?" ia duduk di depan kakaknya.


"Kau juga belum pulang Lisa," jawab Lefrando. Tidak ada senyum-senyuman, padahal adik kembarnya ada di hadapannya. Kotak yang tadi sudah ia masukkan kedalam laci meja.


"Aku harus kejar target di rumah sakit ini ka," tiba tiba wajah Lisa menekuk "Beberapa hari terakhir ini aku lembur ka, harus menulis data data praktek ku dan opserpasi ini itu. Hahh."


"Kejar target, untuk apa?" tanyanya bingung.


"Aku mau ke desa tempat Franda kak."


"Loh, kau masih jadi dokter dia?"


"Iya kak. Franda tidak bisa ditolong lagi ka," air mata lolos begitu saja, dengan kasar Lisa menyeka dengar sikunya.

__ADS_1


"Jangan menangis,. Sehebat hebatnya seorang dokter, yang menentukan hidup tetap milik Tuhan. Kau sudah berusaha untuk menyembuhkan." Lefrando mencoba menasihati adiknya


"Kak, aku merasa ikut sedih melihat kondisi keluarga Franda. Dann, " kalimat Lisa menggantung. Ia masih ragu untuk mencerotakan tentang Handi yang menumui Franda waktu itu,


"Dan apa, Lisa?" Lefrando penasaran.


"Handi, sudah menemui Franda." jawabnya ragu.


"Cepat ceritakan."


Lefrando menarik nafas kasar setelah Lisa bercerita. Hatinya merasakan sakit. Ya sakit melihat orang yang di cintainya pasti merasa sakit karena ulah suaminya. Tetapi bukan itu yang akan di sampaikan untuk. Lisa.


"Lisa," panggilnya melihat wajah adiknya begitu menyedihkan. Mengemgam pergelangan tangan Lisa menyalurkan kekuatan "Jangan takut, Tuhan mengirimkan penyembuhannya melaului kau sebagai dokter. Tetapi Tuhan lebih tahu cara mengangkat penyakit Franda."


Lisa menatap sendu. Entah mengapa harapannya sebagai seorang dokter ingin Ftanda bisa sembuh. Namun, mendengar sang kaka yang sudah berpengalan banyak menghadapi pasien, ucapan Lefrando juga ada benarnya.


Tetapi mengingat betapa sayangnya keluarga kepada Franda, juga betapa besar harapan itu terpancar dari mereka semua membuat Lisa ikut menaruh Franda agar bisa pulih kembali.


"Lisa jangan Melamun", Lisa tersentak.


"Maaf kak. Oh ya kak aku ingin menyampaikan kemungkinan ini,"


"Apa?"


"Jika Franda, ummm pergi,, aku bisa menduga betapa Handi sangat hancur nantinya. Apa yang akan terjadi lagi kepada rumah tangga Handi dan Marva, kaka mengerti maksudku?"


"Ia."


"Aku tidak kehilangan harapan pada Franda meskipun kita tahu gadis itu tidak mungkin tertolong lagi. Aku harap kaka juga begitu, tidak kehilangan harapan mendapatkan Marva, meskipun Marva masih menyandang status. Kakak bisa menggunakan kesempatan dalam kesempitan nantinya. Saat Handi sibuk memikirkan Franda, kakak bisa mengambil hati Marva lagi."


Seolah Lefrando bosa membaca pikiran Lisa, ia mengerti kemana maksud arah ucapan Lisa. Hanya saja ia masih ragu.


Bisa saja Handi mempertahankan Marva, kemungkinan itu sangat besar.


👇👇👇

__ADS_1


__ADS_2