BUKAN KEKASIH GELAPKU

BUKAN KEKASIH GELAPKU
Mengantar Pulang


__ADS_3

"Loh Lef, inikan tempat foto copy. Mau apa kita kesini?" tanya Marva heran, mobil mereka berhenti di depan gedung percetakan foto copy.


"Ayo turun, nanti juga kalian tahu sendiri."


Mereka bertiga masuk melangkah menuju gedung tersebut, sementara Bibi Tanti tidak berniat untuk ikut.


Setelah beres dengan perlombaan Narra, Lefrando mengajak mereka makan siang terlebih dahulu kemudian mampir ketempat dimana saat ini mereka berada.


Mata terkagum kagum menelusuri seluruh isi gedung.


Sepertinya tempat ini bukan hanya foto copy saja. Di dalam etalase kaca, ada banyak perlengkapan alat tulis saling tertumpuk rapi didalam. Disamping sebelah kanan, ada lebih dari dua benda berukuran sebesar kulkas kecil terlihat gagah berdiri disana. Bundanya bilang itu bukan kulkas melainkan sebuah alat percetakan foto copy. Kesamping lagi, ada beberapa unit computer menyala. Bundanya tersenyum menjawab bahwa komputer itu digunakan untuk menyimpan data foto untuk di cetak atau berkas yang akan di print out. Sedangkan benda yang menempel didinding ada foto foto artis didalam, Bundanya mengatakan untuk menjual bingkai bermacam macam ukuran.


Narra sedikit tidak memahaminya, namun ia sangat suka melihat semua benda benda yang baru pertama kali di lihatnya.


Begitupun dengan Marva, ia merasa senang melihat perkembangan Narra bertanya tentang hal yang baru pertama kali di lihatnya. Dengan sabar ia menjawab pertanyaan dari Narra


"Marva, mana piagam penghargaan tadi?"


"Untuk apa Lef?"


"Lihat saja nanti", Lefrando memberikan sebuah kertas tebal piagam penghargaan dari lomba tadi kepada seorang karyawan didepan mereka.


Dengan cekatan gadis itu membingkai piagam di lapisi kaca indah menghindari piagam dari debu.


"Yeyy! Cantik sekali ka. Terima kasih ya, Kakak." Narra bertepuk tangan kecil kegirangan menerima piagam sudah terbingkai.


"Sama sama adik manis. Wahh ternyata kamu yah anak yang menang lomba mendongeng tadi?" puji gadis itu tersenyum ramah.


"Iya Kakak. Dari mana Kakak tahu?".


"Kan kaka bisa membaca piagammu tadi, terus kaka lihat kamu tadi di tv. hehehe." ucap wanita itu tersenyum sumringah.


"Wah terima kasih, Kakak." Narra tersenyum lucu yang mana membuat ia harus merasakan cubitan gemas dari kaka tadi, "Woo woo woo!!" ucap Narra mengikuti gelengan dari tangan kaka.


"Cukup cukup. Terima kasih banyak ya Mbak." ucap Marva menghentikan tingkah mereka.


"Sama sama, Mbak."

__ADS_1


Didalam mobil Narra tidak mau lepas dari piagam, memeluk benda itu, tidak mengizinkan bundanya untuk disimpan "Kalau kaka tadi saja melihatku di tv, apa ayah juga melihatku tadi?" Narra menggumam dalam hati.


Bagaimabapun juga ia hanyalah seorang gadis kecil yang ingin di perhatikan ayah kandungnya sendiri, harapan kecil ini ia simpan dalam hati.


"Cucuk nenek kenapa?" Bibi Tanti memperhatikan raut wajah Narra yang tiba tiba berubah menjadi murung. Di sudut mata gadis itu hampir saja dibasahi air mata, bibi Tanti mendekap tubuh Narra dalam rangkulannya kemudian mengelus lembut kepala Narra.


"Nenek, Nara mengantuk," lirih Narra. Untuk yang ini sepertinya ia kelekahan sehingga ia mengantuk. Perlahan lahan Narra memejamkan mata lalu tertidur di pelukan neneknya.


Bibi Tanti meraih piagam dari pelukan Narra,. Mudah saja karena gadis itu sudah lelap tertidur, jadi Narra tidak merasakan ada pergerakan dari tubuhnya.


Kemudian memberikan piagam itu kepada Marva yang duduk di depan tepatnya disamping pengemudi.


Sebelum menyimpan kedalam tas, Marva mengelus kaca pelindung piagam. Tangannya yang halus menelusuri setiap sisi bingkai "Apa tadi Mas Handi melihat penampilan Narra, ya?" Marva berharap kata hatinya terjadi. Namun tiba tiba saja ia teringat sesuatu, seketika pandangannya menoleh kesamping saat ini Lefrando sedang menyetir.


Merasa di perhatikan, Lefrando membalas tatapan Marva, wajah wanitanya terlihat seperti ketakutan.


"Ada apa?" lalu kembali fokus kearah jalan.


"Lef," bibir marva bergetar hebat "Kalau misalnya Mas Handi melihat Narra di tv, itu artinya dia mendengar wawancara Narra juga kan?"


"Ya, lalu?" jawab Lef ringan.


Sekali lagi, Marva bukanlah wanita pemberani yang bisa membela dirinya dihadapan suami. Ada ketakutan dimatanya, bukan takut di perlakukan kasar tetapi ada hal lain yang harus di jaganya.


"Ya bagus lah dia melihatnya. Dengan begitu, kau bisa mengetahui apakah dia cemburu atau justru dia tidak peduli seperti kemarin", Lefrando menjawab santai.


"Tidak peduli seperti kemarin?" Marva membeo ucapan Lefrando "Apa maksudmu?"


Lefrando tertawa sumbang "Kau tidak tahu ya. Waktu aku menjenguk kau sakit, suamimu itu melihat aku keluar dari rumahmu. Tapi kau lihatkan. Bahkan sampai sekarang ini, apa dia pernah bertanya akan hal itu padamu?, tidak kan. Lalu untuk masalah hari ini biar aku membantumu nanti."


"Tidak usah, Lef. Aku bisa menghadapinya sendirian." tolak Marva halus. Sesungguhnya ia berbohong dengan ucapannya.


"Tidak bisa. Aku sudah menyiapkan sesuatu untuk suamimu." jawab Lefrando tegas.


Dikabin penumpang, Bibi Tanti sudah merinding mendengar ucapan Dokter Lefrando. Sebentar lagi akan ada pertunjukan yang menegangkan.


🌹🌹🌹

__ADS_1


Perkiraan sudah tepat. Sengaja Lefrando menghabiskan waktu perjalanan menuju pulang kerumah Marva sampai jam menunjukan waktunya Handi sudah pulang dari kantor.


Ia nekat mengantarkan ketiga wanita ini harus sampai masuk kedalam rumah. Situasi mendukung pula, Narra tertidur, menjadi senjata agar Lefrando menggendong gadis itu sampai kedalam kamar Narra.


Benar saja, tanpa menunggu lama apa yang di takutkan Marva terjadi juga.


Handi muncul dengan muka marah dari kamarnya. Untung saja Narra sudah berada di kamarnya, sementara Bibi Tanti sudah lebih dulu pergi kekamarnya.


Kini tinggalah Marva dengan dua orang pria ini.


"Kau datang bersama pria asing, Marva?" tukas Handi sarkasme. Aura ruang tamu lebih mencekam.


"Aku bukan pria asing baginya, tapi bagi anda mungkin aku adalah pria asing." bukan Marva yang menjawab. Tentu, lefrando bisa memperhatikan tubuh Marva menegang pertanda wanita itu ketakutan.


"Ah supaya tidak merasa asing, bagaimana kita berkenalan dulu," Lefrando mengulurkan tangan penuh percaya diri "Nama saya Lefrando." senyum sinis terbersit dari bibir Lefrando.


"Singkirkan tangan kotormu itu. Saya tidak butuh mengenal anda." Handi tidak membalas uluran tangan Lefrando, ia menatap nyalang Lefrando.


"Ah, anda ini bercanda saja," dengan konyolnya Lefrando justru melapkan tangan tepat di bagian lengan baju Marva. Wanita itu tidak berkutik. "Ah, sudah tidak kotor lagi Tuan." Di hadapannya, Handi mengepalkan tangan, wajah itu memerah menahan amarah. "Sayang sekali anda tidak mau berkenalan dengan saya. Padahal istri dan anak anda sangat dekat dengan saya, kan jika sampai ada apa apa pada mereka anda bisa bertemu dengan saya." Lefrando melanjutkan ucapan menantang Handi.


"Lebih baik segera anda pergi dari sini!" usir Handi terang-terangan.


"Ah iya juga. Ini, aku hanya menyampaikan pada anda bahwa," tiba tiba Lefrando menyentuh pundak kiri kanan Marva lalu mengelusnya. Lagi lagi Handi kalah telak. Lefrando tersenyum indah, membuat perasaan Handi semakin jengkel. "Istri dan anak anda sudah saya antar pulang dengan selamat, tubuh mereka tidak ada yang lecet sedikit pun. Tapi hatinya saya tidak tahu" Lefrando berkata penuh maksud.


"Cepat pergi dari sini!"


"Ah baiklah. Tapi usahakan Marva atau Narra atau bibi Tanti, tidak luka seinci pun. Jika itu terjadi, sama saja anda memberi kesempatan pada saya untuk lebih dekat lagi pada mereka ini. Karena saya adalah dokter pribadi bagi mereka."


"Cepat pergi dari sini! Handi mengerti maksud perkataan Lefrando tadi.


Dokter itu sudah terang-terangan akan merebut Marva dan Narra dari kehidupannya.


Entah perasaan apa yang ada dalam hatinya, yang pasti ia tidak akan pernah mau melepaskan Marva dan Narra begitu saja. Jujur ia sendiri tidak tahu alasan apa sebenarnya sehingga ia berpikir begitu. Egois ia akan mempertahankan istri dan anaknya tetap berada disamping Handi.


Terlalu larat dalam lamunannya, ia tidak menyadari kapan Marva sudah tidak ada di depannya lagi.


Istrinya diam diam pergi dari hadapannya.

__ADS_1


👇👇👇


__ADS_2