BUKAN KEKASIH GELAPKU

BUKAN KEKASIH GELAPKU
Penyesalan


__ADS_3

Membujuk anak kecil seperti Narra, terbilang susah gampang. Sepertinya gadis kecil itu belum bersedia menerima permintaan maaf dari Omahnya, Narra tetap bertahan dengan wajah datarnya. Persis seperti Handi saat marah, dulu sewaktu kecil.


Bahkan Narra tidak mau terlepas dari rangkulan Nenek Tantinya, gadis itu mencengkram ujung baju yang di pakai Nenek Tanti saat ini. Mulutnya tertutup rapat, wajahnya menekuk melihat arah lantai rumah sakit.


Opah melangkah mendekati Narra yaag masih setia berdiri di ceruk pinggang Nenek Tanti, berjongkok mensejajarkan tinggi badan. Nenek Tanti perlahan melepaskan cengkraman tangan Narra, kemudian berjalan memberikan mereka ruang untuk berinteraksi. Keluar dari ruangan menemui Marva yang sudah dari tadi menunggu mereka acara maaf-maafan. Memberi waktu sepasang Opah dan Omah yang sedang membujuk cucunya yang sedang merajuk.


Opah menangkup wajah Narra, mengelusanya lembut, "Narra, masih marah ya, sama Omah?" tanya pada Narra.


Gadis itu diam menatap sendu Opahnya, "Omahnya nakal. Opah. Omah tarik tarik rambut Bunda," Narra mulai terisak "Bunda dimarahi sama Omah." Narra tidak ingin menangis lagi, gadis itu mengusap wajahnya.


"Cucunya Opah, adalah gadis yang baik, bukan?" Opah menggendong Nara lalu mendekatkan tubuh Nara pada Omahnya. Omah tersenyum lembut.


"Lihat wajah Omahnya, sayang." Opah mengarahkan wajah Nara.


"Nara," sapa omahnya lirih.


"O-omah, hiks hiks," Narra tiba tiba menangis lagi disamping omahnya.


"Sayang. Jangan nangis," Omahnya mengusap air mata Narra, kemudian mendekapnya. Tangannya di lepas paksa dari jarum infus. Omah mendekap erat Narra dalam pelukannya, mengusap kepala Narra penuh rasa sayang. "Maafkan Omah, sayang. Pukul saja Omah, supaya marahnya Narra hilang. Ya." Omah ikut terisak membenamkan wajah di kepala Narra.


Narra mencengkeram lengan baju rumah sakit yang sedang di pakai Omahnya. Ia semakin terisak di pelukan itu. "Jangan marahi Bunda. Omah,," suaranya tenggelam dalam dada Omahnya "Ayah, Omah juga. Selalu membuat Bunda menangis." adu Narra masih terisak.


"Maaf," ujar Mami. Kata kata itu ditujukan kepada dua orang yang sudah di sakitinya.


Sungguh ia merasa adalah, nenek sekaligus mertua yang paling jahat di muka bumi ini. Dirinya lepas kendali mengetahui putra kesayangannya merasa sakit. Ternyata, itu semua justru ulah dari putranya sendiri.


Marva. Adalah menantu terbaik yang sudah ia punya. Tapi, mengapa ia justru menganggap sebaliknya, ia selalu salah sangka pada Marva. Wanita pilihan takdir. Ya, pada dasarnya dulu, ia juga tidak merestui pernikahan mereka, karena melihat Marva hanyalah gadis pengambil keuntungan dalam keluarga mereka. Sekarang, ia baru memahami sifat wanita itu sebenarnya.


Menantunya sangat menjaga nama baik Handi, putranya. Rumah tangga mereka terbilang tidak harmonis, tapi justru Marva tahan menutupi semuanya dari pihak luar, termasuk mertuanya sendiri.


Marva menghadapi masalahnya seorang diri, tanpa harus membebani martuanya.

__ADS_1


Mami, begitu bodohnya memandang menantu terhebatnya ini.


Ia akan memohon dengan cara adapun, agar tidak berpaling dari putranya. Marva akan tetap harus menjadi bagian dari keluarga Hutama, suami Handi.


Ia harus mempertahankan Marva. Walaupun ia tahu, Marva sudah menyerah menghadapi mereka. Harus.


"Maafkan Mami, Marva. Lagi lagi Mami harus egois padamu. Tolong pertahanan Handi. Jangan menyerah dulu, beri kami kesempatan untuk memperbaiki kesalahan kami." Ia membatin. Air mata itu mengalir deras menghiasi wajah pucatnya.


Membayangkan Marva, meninggalkan Handi, membuat ia merasa ketakutan. Tiba-tiba dadanya terasanya nyeri, keringat menjalar dari tubuhnya, Mami meringis kecil.


"Omah, kenapa!" Narra panik merasakan tubuh Omahnya berkeringat.


Pagi meraih tubuh Narra dari pelukan istrinya. "Dokter,, dokter!" teriaknya merasa cemas.


Tidak lama, dokter yang menangani istrinya datang. Membaringkan pasiennya, kemudian memasang infus dan oksigen, di bantu salah seorang suster perawat.


"Pak. Saya sudah memberi penenang pada istri anda. Sekarang, bisakah kita bicara?" ucap dokter itu, setelah merasa pasiennya sudah tidak merasakan kesakitan lagi. "Sebaiknya, kita bicara diluar saja. Mari, Pak."


"Bagaimana keadaan Mami, Pi?" tanya Marva, setelah ia melihat dokter itu keluar bersama Papi mertuanya.


"Jangan terlalu cemas begitu, Nak. Lebih baik, kau ikut kami sekarang keruangan dokter ini. Ada hal yang perlu kita bicarakan." Papi menurunkan Narra dari gendongannya. Narra melangkah lunglai kerah Bundanya.


"A-aku ikut?" tanyanya bingung.


"Iya." jawab Papi.


"Sayang." Marva mensejajarkan tinggi badannya dengan Narra "Pulangnya dengan Nenek Tanti, dulu ya. Bunda, belum bisa pulang Nak. Setelah itu langsung istirahat siang di rumah ya."


Narra mengangguk pelan sambil mengusap sisa air matanya.


🌹RUANGAN DOKTER🌹

__ADS_1


"Maaf, sebelumnya. Begini, penyakit jantung yang di derita pasien sudah di kategorikan waspada. Jadi saya sebagai dokter memberi saran, agar tidak membiarkan pasien merasa stres, apalagi memberi kabar kabar yang akan membuat pasien terkejut. Itu sangat berbahaya pada kondisi pasien." ucap Dokter itu memberi keterangan tentang kondisi pasiennya


"Mungkin, pasien sedang memikirkan sesuatu. Itu sebabnya, tadi jantungnya kambuh lagi. Nah, jadi kira kira begitulah kondisi pasien apa bila sedang memikirkan sesuatu yang menjadi beban kepada pasien." lanjutnya lagi. "Jangan membuat pasien merasa tertekan." tegasnya sekali lagi.


"Baiklah, Dokter. Kami akan berusaha." jawab Papi. Lalu, menoleh kesamping menatap. Marva, meminta wanita itu ikut bersuara.


Yang di tatap menunduk ragu. Mulutnya tidak bisa sembarangan berjanji, agar tidak membuat perasaan martuanya tidak tertekan. Ada hal yang harus ia langgar, sudah pasti itu akan membuat Mami sakit lagi. Marva merenung.


"Marva, kau juga bisa kan, berusaha agar Mami tidak tertekan, atau sejenisnya. Papi harap kau bisa." Papi berucap tegas.


"Akan Marva usahakan, Pi. Tapi, aku tidak berjani. Maaf." jawaban yang ambigu.


"Ya. Mungkin itu saja yang harus saya perjelas untuk hari ini. Untuk urusan selanjutnya, kita bicarakan juga, di hari selanjutnya." Dokter itu Sumringah.


"Terima kasih Dokter. Kami permisi dulu." ujar Papi berlalu pergi.


"Saya juga." ucap Marva lirih. Ia melangkah tak bersemangat mengikuti Papi mertua ikut keluar.


Sepeninggalan keluarga pasien. Dokter Lando, yang tidak lain, ayah dari Lefrando dan Lisa, menghembuskan nafas kasar.


Jelas ia tahu siapa wanita yang tadi. Perempuan yang telah mencuri hati putranya, Lefrando.


"Mengapa nasib cintamu seperti ini, Lef." gumam dokter Nando.


👇👇👇


Burung cendrawasih makan pasir,


Terima kasih sudah mampir.


Muahhh

__ADS_1


__ADS_2